Sabtu, 15 Mei 2010

Radiasi Wi-Fi bikin anak jadi Autis ???

Radiasi Wi-Fi bikin anak jadi Autis ???
Rabu, 26 Maret 2008 10:08:48 - oleh : deshintia
London - Manfaat Wi-Fi (wireless fidelity) memang besar terutama untuk lalu lintas data. Namun bagaimana jika gara-gara Wi-Fi, penyakit autis yang menyerang otak bisa melanda?

Sinyal Wi-Fi disinyalir bisa mempercepat perkembangan penyakit autis pada anak-anak. Demikian diungkapkan dalam sebuah studi yang dibesut oleh lembaga Australasian Journal of Clinical Enviromental Medicine. Studi ini mengungkapkan hubungan antara teknologi wireless dengan autisme. Mereka melakukannya dengan mengadakan berbagai tes terhadap anak-anak autis pada tahun 2005 dan 2006.

"Radiasi elektromagnetis dari Wi-Fi kelihatannya menjebak unsur tertentu dalam otak dan menyebabkan gejala autisme pada anak makin meningkat," ungkap Dr. George Carlo, salah satu pembesut studi ini seperti dikutip detikINET dari EeTimes, Kamis (29/11/2007).

Sebelumnya, Dr George Carlo juga pernah meneliti bahwa penggunaan ponsel juga berpengaruh terhadap meningkatnya angka anak yang menderita autis. Gejala ini disebutnya mewabah di seluruh dunia.

UNESA DUTA INDONESIA DALAM KONTES ROBOT CERDAS INTERNASIONAL

UNESA DUTA INDONESIA DALAM KONTES ROBOT CERDAS INTERNASIONAL
[ 08 April 2010 | 541 pembaca | 3.418 byte ]

Siapa sangka Universitas Negeri Surabaya (Unesa), salah satu universitas eks-IKIP di Indonesia mampu menciptakan robot handal yang siap berlaga dalam Fire Fighting Home Robot Contest di Trinity College, Hartford Connecticut, Amerika Serikat. Tiket beraksi di negeri Paman Sam itu tak gampang diperoleh. Untuk bisa bersaing di kancah internasional, Unesa harus menyingkirkan lawan-lawannya pada ajang Kontes Robot Cerdas Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Hari ini (8/04) Tim Robot Unesa yang merupakan kolaborasi tim Jurusan Teknik Elektro dan Teknik Mesin itu siap terbang ke Amerika. Mereka yang didaftarkan adalah Samsul Huda, Januar Arief, R., M. Khamim Munir, Mustika Dewi Prihastuti, dan Della Sagita Husada. Mereka mendampingi dua robot baru andalannya, yaitu robot berkaki Barca dan robot beroda Kick Barca. Dua robot itu ialah dua robot yang sukses menjalani uji coba online oleh kepanitian internasional melalui video conference pada 12 Maret lalu.

Barca merupakan robot baru andalannya setelah Dewo. Nama itu sebenarnya berarti Berkah. “Sengaja dinamakan demikian karena menyesuaikan dengan logat orang-orang barat dan memudahkan para suporter untuk berteriak “Barca!!! Barca!!!” yang secara tidak langsung mereka turut mendoakan kami untuk memohon berkah kepada Tuhan,” ungkap Edy Sulistyo, Manager Tim Robot Unesa yang juga Ketua Jurusan Teknik Elektro Unesa itu.

Guna mendukung kinerja Tim Robot Unesa, rektorat telah memberikan bantuan finansial dan menyediakan laboratorium robotika sebagai pengganti laboratorium mekatronika Jurusan Teknis Mesin yang sebelumnya digunakan sebagai tempat pembuatan robot. “Fasilitas ini merupakan bentuk dukungan lain agar robot yang dihasilkan memiliki performa yang lebih baik. Dengan adanya laboratorium itu, diharapkan kerja tim robot bisa maksimal, meski sebenarnya masih terkendala ruangan untuk melakukan trial. Kami berharap, Unesa mampu mengharumkan bangsa Indonesia dan meraih prestasi terbaiknya,” papar Haris Supratno, Rektor Unesa.

Tidak ada keberhasilan dan kesuksesan yang lepas dari campur tangan Tuhan. Menyatukan teknologi dan religi, itulah konsep utama yang diterapkan Tim Robot Unesa. Konsep itu telah menumbuhkan motivasi dirinya dalam mengumpulkan segenap tenaga, waktu, dan pikiran untuk menggenggam kemenangan berikutnya.

Perjuangan Belum Berakhir
Di sela-sela kesibukannya menyiapkan Barca ke kancah internasional, Ketua Laboratorium Mekatronika Jurusan Teknik Mesin, Agung Prijo Budijono juga mengatakan bahwa tahun ini Tim Robot Unesa juga membuat robot untuk berlaga pada Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI), yakni Gen IT (baca genit, Red.) yang menampilkan Tari Pendet, ikon besar Indonesia di dunia internasional.

Nama robot-robot baru Unesa yang akan berlaga di tingkat regional tahun ini pun sudah disiapkan. Untuk robot beroda, bernama B-Mo dan Welling. B-Mo, Si Ksatria Bima merupakan robot beroda yang mirip Barca, sedangkan Welling yang berarti peringatan adalah robot berkaki serupa Kick Barca. Sementara itu, Dewo dengan penampilan barunya yang sudah mengalami modifikasi total juga tetap diikutkan pada Kontes Robot Cerdas Indonesia 2010.

Untuk menyukseskan Tim Robot Unesa dalam berbagai kompetisi baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional itu, sinergisitas catur sivitas akademika harus dijalin demi mewujudkan Unesa Road to World Class University.

Kamis, 06 Mei 2010

Bertengkar di Kantor

Bertengkar di Kantor
VIVAnews - Memiliki rekan kerja atau mitra dengan perilaku menyebalkan terkadang sangat tidak menyenangkan. Berkomunikasi atau bekerja sama dengan mitra kerja seperti itu menjadi pilihan terakhir dalam pikiran Anda.
Perkataan yang dilontarkan rekan atau atasan seringkali membuat tersinggung meski Anda telah melakukan tanggung jawab dan kewajiban. Kesalahan kecil saja, membuat atasan langsung menegur Anda. Atau, bisa juga rekan kerja meminta Anda melakukan sesuatu seperti layaknya seorang bos.
Seperti dikutip dari the Frisky, pakar kepemimpinan dan psikolog Sylvia LaFair membuka alasan di balik perilaku menjengkelkan rekan kerja. Menurutnya, perilaku menyebalkan di kantor berakar dari pengalaman yang dialami pada masa kanak-kanak.
Sylvia menawarkan teknik baru untuk mengidentifikasi asal-usul perilaku kerja yang buruk dan meredakan kebiasaan berbahaya tersebut. Langkah pertama mengidentifikasi pola kerja yang tak berfungsi di kantor. Setelah itu, lakukan perubahan secara menyeluruh.
Buku karangan Sylvia LaFair, 'Don’t Bring It To Work' menjelaskan beberapa jenis disfungsi prilaku dalam kerja serta penyebab luka dari masa kecil mereka.
1. Penganiaya (Persecutor)
Orang jenis ini tak segan mengatur hal-hal kecil dan memperhatikan pelanggaran-pelanggaran orang lain. Beberapa cirinya adalah email pasif-agresif yang cenderung menyalahkan orang lain.
Mengapa terjadi? Orang seperti ini tumbuh dengan pelecehan atau pengabaian dari orang tua.
2. Pura-pura (Denier)
Karyawan tipe ini tidak realistis dan berpura-pura tidak ada masalah dalam pekerjaan atau kondisi kantor. Saat keuangan kantor mengalami kerugian dan krisis berat, pendapat sebagian besar orang adalah "Perusahaan akan bangkrut". Mereka akan keukeuh dengan ucapan, "Akan ada bonus untuk semua orang!"
Kemungkinan terbesar dari tipe orang ini adalah mereka berasal dari keluarga yang takut membicarakan hal-hal tidak menyenangkan.
3. Penghindar (Avoider)
Dia adalah orang pertama yang menghindari atau keluar kantor setiap kali akan berlangsung rapat yang akan menyampaikan 'berita buruk' atau menjelang deadline. Sebabnya, di masa kanak-kanak, orangtua mereka terlalu menghakimi atau tidak memiliki hubungan kuat dengan orang tua.
4. Si Berprestasi (Super Achiever)
Orang seperti ini mendorong diri agar terus unggul dalam segala hal. Mereka memimpikan untuk selalu meraih keuntungan bagi dirinya. Orang seperti ini akan merasa gagal jika ada hal yang menyiratkan bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Jadi, sekuat tenaga, tipe seperti ini akan berusaha membuat orang lain terlihat buruk.
Di masa kecil, biasanya orang seperti ini memiliki pengalaman rasa malu atau tragedi dalam keluarga. Maka, mereka berusaha menebusnya dengan segala cara.
5. Martir
Orang ini melakukan pekerjaan semua orang. Mereka datang lebih awal setiap hari dan bekerja lembur setiap malam. Mereka juga bangga dan selalu menceritakannya kepada semua orang.
Alasan utama dari prilaku pekerja jenis ini adalah semasa kecil mereka mencoba untuk menyenangkan orangtua yang tidak menyukai impian mereka.
Apakah salah satu jenis terdengar akrab bagi Anda?
(umi)
Baca juga: Shakira Goyang Piala Dunia

Selasa, 04 Mei 2010

Membina Keterampilan Etika Berbahasa untuk Pribadi Suksesi

Membina Keterampilan Etika Berbahasa untuk Pribadi Suksesi
Pangesti Wiedartiii
1. Pengantar
Keterbiasaan kita menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari membuat bahasa
demikian menyatu dengan kehidupan kita. Rasa menyatu yang lekat itu kadangkala membuat kita
merasa bahasa tidak lebih merupakan bagian keseharian yang diperoleh secara alami karena
lingkungan kita menciptakan situasi tersebut. Tetapi, sesungguhnya bahasa bukan hanya bagian
dari keseharian kita, melainkan benar-benar suatu alat yang amat berperan dalam pengembangan
keilmuan dan pengembangan karir kita (Sakri, 1988; Bhatia, 1993).
Dalam sepanjang hidup kita, pengembangan ilmu dan karir amat terpadu, baik itu dalam
dunia kependidikan maupun karir non-kependidikan. Beda dari kedua bidang ini adalah bidang
kependidikan lebih menekankan kepada pengembangan dan eksplorasi teori, sedangkan bidang
nonkependidikan banyak berorientasi kepada keperluan praktis (tetapi dari keperluan praktis ini
dapat dilakukan uji teori di lapangan yang kemungkinan dapat menyempurnakan teori, membuat
suatu delicacy, atau bahkan melahirkan teori-teori baru). Kedua bidang ini melahirkan teks
(struktur dan penggunaan bahasa) yang sedikit berbeda dalam karakteristiknya.
Oleh karena bahasa amat berperan dalam pengembangan ilmu dan karir kita, mampu
memanfaatkan bahasa untuk mengembangkan keduanya menjadi mutlak diperlukan. Pertanyaan
yang muncul kemudian adalah bagaimana kita memanfaatkan bahasa secara maksimal bagi kedua
tujuan tersebut dengan sukses?
2. Negosiasi untuk Memenangkan Transaksi
Pada umumnya, semua komunikasi kita -baik dalam bidang kependidikan maupun
nonkependidikan- mengarah kepada kemampuan untuk bernegosiasi agar dapat memenangkan
transaksi. Dalam bidang kependidikan, salah satu contohnya adalah bagaimana para akademisi
berupaya mampu memenangkan proposal yang ditulisnya (Swales, 1990) agar mendapatkan dana
penelitian. Untuk keperluan ini, akademisi harus mampu menggunakan kemampuan berbahasa
tulisnya untuk menulis proposal sesuai tuntutan scheme (gaya selingkung) yang disyaratkan calon
pemberi dana (Bhatia, 1994), dan pada gilirannya ketika proposal tersebut lolos dalam desk
evaluation, mereka harus mampu menyajikan dan mempertahankan proposal tersebut di hadapan
para reviewer. Pada kedua tahap ini, kemampuan berkomunikasi tulis dan lisan (Halliday, 1985)
diperlukan dalam bernegosiasi untuk memenangkan transaksi. Komunitas wacana (discourse
community) dalam bidang kependidikan ini bervariasi, tetapi dapat diketahui bentuknya karena
bersifat senada dan ajeg. Karenanya, segala sesuatunya biasanya dapat diantisipasi. Kemampuan
mengantisipasi yang menghasilkan strategi itulah yang menjadi kekuatan tersendiri dalam
memenangkan transaksi.
Sementara itu, dalam bidang nonkependidikan, komunitas wacana yang muncul akan
bervariasi karena tuntutan masyarakat amat dinamis. Walaupun demikian, variasi itu dapat
diidentifikasi dengan cara mengamati fenomena yang muncul secara situasional (Eggins & Slade,
1997). Berikutnya, dapat dilihat pola wacana yang muncul untuk kemudian disikapi agar negosiasi
dapat dilakukan, dan transaksi pun pada gilirannya dapat dimenangkan.
Bagan komunikasi (Gambar 1, lihat halaman 4) menggambarkan bagaimana proses
negosiasi dan transaksi itu berlangsung dalam proses komunikasi (Wiedarti, 2006), baik tulis
maupun lisan.
3. Bahasa sebagai Sumber Pilihan dalam Kegiatan Berkomunikasi
Dalam melakukan negosiasi pada bagan proses komunikasi di atas, diperlukan
pemahaman terhadap konsep register dan genre (Wiedarti, 2004) yang digambarkan pada Gambar
2 di halaman 4.
Hal pokok yang perlu diperhatikan di sini adalah register yang terdiri dari field, tenor, dan
mode (Martin, 1992; Biber, 1995). Field berkaitan dengan bidang yang dibahas. Bidang ini akan
menjadi ciri khas komunitas wacana, misalnya teks dalam teknik mesin dan diknik teknik mesin
(Dudley-Evans & St John, 1998; Christie, F., & Martin, J. R. (Eds.), 1997; Rose, 1997). Tenor
berkaitan dengan pelibat wacana, yaitu siapa pembicara/penulis dan mitra bicara atau pembaca,
dan seberapa kedekatan hubungan personal di antara keduanya. Tenor akan mempengaruhi
pemilihan bahasa yang digunakan pelibat wacana dalam berkomunikasi.
Mode berkaitan dengan saluran komunikasi yang akan mempengaruhi karakter bahasa
yang digunakan, misalnya komunikasi via elektronik berbeda dengan komunikasi bahasa tulis
i Disampaikan pada “Pembinan Sukses Karir dan Bimbingan Klasikal Proyek Akhir Mahasiswa D3 dan S1 Angkatan
2004, Jurusan Diknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta”, 27 April 2007
i i Grad. Dipl & Master (applied lingusitics), Ph.D linguistics; dosen JPBSI FBS UNY
1


formal. Ketiganya ini dipengaruhi oleh konteks situasi yang berikutnya akan melahirkan penggu-
naan bahasa formal atau informal.
Pada tataran selanjutnya, yang perlu diketahui dan dikuasai adalah genre, yang
menyangkut struktur teks (tujuan sosial teks, struktur teks, dan unsur kebahasaan) . Menguasai
register dan genre menjadi penting agar komunikasi untuk memenangkan transaksi tercapai. Di
sinilah pelibat wacana harus tahu bahwa bahasa menawarkan berbagai bentuk dan makna yang
dapat dipilih sesuai konteks situasi dan konteks budaya (Fairclough, 1988; 1992).
4. Strategi Berkomunikasi:
a) Santun Berbahasa (Politeness)
Seorang pembicara harus tahu kepada siapa dia berbicara, dalam konteks situasi formal
atau informal, dalam latar budaya apa agar etika setempat dapat diterapkan sebagai bentuk dari
politeness (kesantunan berbahasa, termasuk paralinguistik/gestur), jenis saluran komunikasi
(elektronik: email, sms, telpon; lisan langsung, tertulis), dan tujuan berkomunikasi, langkah-langkah
berkomunikasi, dan unsur kebahasaan yang diperlukan dalam latar komunikasi terkait.
Politeness terdiri dua macam (Brown & Levinson, 1978). Pertama, negative politeness,
dilakukan ketika pembicara menyampaikan permohonan dengan cara negasi, misalnya: “Jika tidak
berkeberatan/merepotkan .......” yang dipilih pembicara untuk menghormati mitra bicara dalam
menentukan sikap. Dengan kata lain, paparan yang disampaikan adalah menggunakan teknik tidak
langsung. Kedua, positive politeness, dilakukan untuk memantapkan hubungan positif di antara
pelibat wacana, menghormati seseorang sesuai dengan konteks (status sosial dan atmosfir
hubungan). Misalnya, tindak tutur langsung seperti ungkapan “sumpah”, “sungguh” digunakan
dalam atmosfir hubungan dekat pelibat wacana karena ungkapan ini mengekspresikan kepedulian
terhadap nilai-nilai yang diyakini pembicara dapat diterima oleh mitra bicaranya.
Teknik politeness yang dapat digunakan antara lain:
i) ekspresi ketidakpastian dan ambiguitas melalui hedging, ungkapan tidak langsung, dan
eufemisme (kata-kata berkonotasi), contoh: “Kalau tidak salah, Ibu meletakkan flashdisk di laci
meja Ibu”
ii) tag question dalam pernyataan langsung: “Anda kemarin belanja ke pasar swalayan, bukan?”,
iii) menggunakan modal tags, misalnya ketika pembicara meminta informasi karena dia tidak yakin
“Anda belum transfer uang ke rekening bank saya, benar?”
iv) affective tags, misalnya: “Anda belum lama tinggal di sini, iya kan?
v) penghalus, untuk mengurangi tuntutan pembicara terhadap lawan bicara, misalnya: “Tolong
bawakan koperku, bisa kan/keberatan enggak?”
vi) facilitative tags, mengajak mitra bicara untuk memberikan komentar terhadap permintaan
pembicara, misalnya: “Anda dapat melakukan hal itu, iya kan?”
b) Teori Appraisal
Teori appraisal (Martin, 1996; Martin & Rose, 2003; White, 2001) dipahami sebagai
evaluative language. Bahwa, setiap seseorang berbahasa, sesungguhnya di baliknya terdapat
penilaian terhadap sesuatu yang dibicarakan. Penilai atau pembicara ini disebut appraiser, yang
dinilai disebut appraised, dapat berupa diri sendiri, orang lain, atau benda. Ihwal penilaian (negatif
atau positif) disebut affect (berkaitan dengan perasaan), appreciation (terhadap benda atau hal),
dan judgement (terhadap perilaku). Selain itu, terdapat aspek engagement yang berkaitan dengan
ekspresi ihwal setuju atau tidak setuju terhadap suatu pernyataan, dan graduation yang berkaitan
dengan bagaimana pernyataan itu diungkapkan, misalnya dengan tegas/langsung atau tidak
langsung.
Contoh:
(1) Direktur (Appraised) kita (Appraiser) prihatin (Affect) dengan masalah kemiskinan dan berkenan
memberikan (Judgement) beasiswa (Appreciation) bagi anak-anak kaum dhuafa.
(2) “Etos kerja karyawan perusahaaan Anda sangat bagus (Graduation:tegas). Saya puas (Affect)
dengan layanan yang diberikan (Appreciation).”
Jika seseorang memahami teori appraisal ini, dia dapat memanfaatkannya untuk memberikan
reward kepada orang lain, atau mengekspresikan opininya sesuai situasi dan karenanya dapat
merebut simpati banyak orang.
c) Instant Persuasion dan Healing Words
Di luar bidang bahasa, terdapat bidang lain yang memberi perhatian kepada pemakaian
bahasa bagi keperluan komunikasi secara umum di beberapa profesi dan hubungan interper-
sonal. Laurie Puhn (pembicara, mediator profesional, pembicara publik yang dinamis) dalam
bukunya Instant Persuasion (2005) menyampaikan pengalamannya tentang “Ucapan Anda adalah
Hidup Anda” menampilkan 35 aturan, yaitu: 1) tundukkan dengan senyum, 2) sebarkan gosip
positif, 3) keluhan yang berpengaruh, 4) mintalah maaf dengan dua cara, 5) jangan tawarkan
pepesan kosong, 6) perbaiki kesalahan, 7) jangan melihat sesuatu dari satu sisi, 8) cari solusi
faktual, 9) jaga lidahmu, 10) hati-hati dengan pujian bermakna ganda, 11) perbesar pujian, 12)
2







perjelas perjanjian, 13) simpan kritik Anda hingga waktu yang tepat, 14) jadikan orang lain sebagai
mitra Anda, 15) hargai orang lain dengan cara baru, 16) tunjukkan bahwa Anda peduli, 17) berikan
jawaban pasti, 18) siapkan bukti, 19) jangan terpancing, 20) hargai kritik, 21) dapatkan lampu hijau,
22) kendalikan amarah, 23) hindari janji kosong, 24) ciptakan kenyamanan di masa sulit, 25)
mintalah dan kamu akan menerimanya, 26) jangan manfaatkan orang lain, 27) tidak setuju tanpa
memusuhi, 28) jadilah tuan rumah yang bijak, 29) jangan menyerah di bawah tekanan, 30) jaga
privasi, 31) hati-hati ketika mengundang, 32) percakapan yang sehat, 33) katakan maksud Anda
dengan jelas, 34) hindari komentar yang tidak perlu, 35) bayar dengan perkataan.
Sementara itu, healing words (Dickson, 1993, Dossey, 1997) dikhususkan di bidang medis,
diharapkan dapat menimbulkan motivasi penyembuhan para pasien. Pasien tidak hanya
memerlukan obat dan perawatan melainkan juga memerlukan kata-kata yang menyembuhkan,
motivasi, dan dukungan yang menghibur dan menciptakan berpikir positif dalam berupaya kembali
sehat. Dalam keseharian kita healing words itu diperlukan dalam pemberian support.
5. Penutup
Komunikasi yang dilakukan seseorang didasarkan pada kemampuan berbahasanya (Halliday,
1979; Briggs & Bauman, 1992). Kemampuan berbahasa tidak lepas dari pilihan kata dan kalimat
yang sesuai konteks situasi serta budaya setempat ketika latar komunikasi terjadi.
Pada umumnya telah banyak orang menerapkan hal-hal di atas, tetapi banyak pula yang
menerapkannya tanpa menyadari betul strategi memanfaatkan penggunaan bahasa dalam latar
pengembangan ilmu dan karir. Dengan menerapkan semua “aturan” ini dan disertai kesadaran
akan kekuatan bahasa amat berpengaruh dalam kegiatan berkomunikasi, diharapkan akan ada
perubahan lebih baik dalam keterampilan berkomunikasi interpersonal.
PRO SES K O M U N I K ASI
transaksi-transaksi
negosiasi-negosiasi
E N C O D I N G
D E C O D I N G
TEXT
* tar ge t
P E MB AC A
P E NU LI S
* b i d a n g
pe mb ac a
TULI S
k e i l m u a n
* ke ter amp il an
* k e t e r a m p i la n
be rb ah a s a
b e r b a h a s a
* b id an g
L I SA N
P E ND E NG AR
P E MBI C AR A
* t i n g k a t
ke ilmu a n
p e n d i d ik an
e ncod ing – de codi ng e nc odin g - de codi ng
Gambar 1: Bagan Komunikasi
Gambar 2 Register dan Genre

Penelitian pada Kegiatan Pengembangan Profesi Guru

Penelitian pada Kegiatan Pengembangan Profesi Guru
Suhardjono

1. Apa Arti Penelitian?
Penelitian (riset, research) dapat didfeinisikan kegiatan kajian suatu masalah dengan menggunakan metode ilmiah, secara sistematis, kritis, ilmiah, dan lebih formal dan yang umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, menguji kebenaran, atau evaluasi suatu pengetahuan yang memiliki kemampuan deskripsi dan/atau prediksi.
Ringkasnya, penelitian merupakan upaya pemecahan atau pemaparan masalah dengan menggunakan metode ilmiah, dan terdiri dari tiga elemen utama, yaitu (1) masalah, (2) teori, dan (3) pengumpulan dan analisis fakta empirik.
Apapun jenis penelitiannya, kegiatan penelitian memiliki tahapan kerja sebagai berikut (a) mendapatkan dan merumuskan masalah, (b) mengaji teori untuk merumuskan hipotesis atau menetapkan kriteria variabel dalam pengembangan / perancangan / pendiskripsian, (c) mengumpulkan fakta empirik, baik dengan menggunakan berbagai intrumen, melakukan perlakuan, atau dengan membuat produk tertentu, (d) menganalisis temuan fakta atau produk dengan kriteria teoritik untuk pengambilan kesimpulan, dan (e) menyimpulkan hasil dan mempublikasi hasil penelitiannnya.
Kegiatan penelitian timbul karena adanya sifat manusia yang selalu ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut membawa permasalahan. Penelitian dilakukan untuk memperoleh jawaban terhadap permasalahan yang membutuhkan jawaban ilmiah. Permasalahan penelitian dapat berupa pencarian teori, pengujian teori ataupun untuk mengasilkan suatu produk guna pemecahan masalah praktis yang berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.

2. Apakah masalah itu?
Definisi ‘masalah’ bermacam-macam. Di antaranya menyatakan bahwa ‘masalah’ terjadi bila ada ketidak-sesuaian atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan, antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan.
Di kehidupan sering dijumpai masalah-masalah yang memerlukan jawaban dengan kriteria kebenaran tertentu. Sumber pengetahuan tidak hanya pikiran, tetapi juga intuisi, perasaan, dan juga wahyu. Dalam kehidupan sangat sering dijumpai masalah-masalah yang memerlukan jawaban dengan kriteria kebenaran tertentu. Hanya bila masalah tersebut membutuhkan kebenaran berkriteria keilmuan, maka masalah ini disebut masalah keilmuan. Masalah seperti itulah yang semestinya memerlukan jawaban dengan kerangka berpikir tertentu, yaitu digunakannya metode keilmuan, atau memerlukan kegiatan penelitian (ilmiah) dalam mencari jawaban dan pemecahannya.
Meskipun diketahui bahwa masalah keilmuan cukup banyak terdapat di lingkungan kita, namun sering dirasakan betapa sulitnya mengidentifikasikan, memilih dan merumuskan masalah. Kesulitan pertama adalah, darimana kita mendapatkan masalah untuk penelitian kita?
Terdapat berbagai sumber untuk “mendapatkan” masalah. Masalah-masalah keilmuan sangat banyak dijumpai melalui bacaan. Bacaan yang berupa laporan hasil penelitian, majalah ilmiah, jurnal umumnya sarat dengan informasi yang mengungkapkan pula berbagai masalah keilmuan yang menarik.
Seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah juga merupakan ladang masalah penelitian yang subur. Melalui kegiatan tersebut, acapkali terlontar berbagai masalah penelitian yang sudah jadi yang selanjutnya dapat dikembangkan sebagai masalah penelitian. Masalah penelitian dapat tergali melalui hasil pengamatan. Dari pengamatan akan timbul berbagai pertanyaan-pertanyaan yang melalui penelitian dapat dicari jawabannya.
3. Bagaimana permasalahan penelitian yang baik?
Tentu saja tidak semua masalah keilmuan yang dihadapi dan telah dapat diidentifikasi, akan dijamin sebagai masalah yang layak dan sesuai untuk diteliti. Kelayakan suatu penelitian berkaitan dengan banyak faktor.
• Kemanfaatan hasil. Sejauh mana penelitian terhadap masalah tersebut akan memberikan sumbangan kepada khasanah teori ilmu pengetahuan atau kepada pemecahan masalah-masalah praktis.
• Kriteria pengetahuan yang dipermasalahkan yaitu: (a) mempunyai khasanah keilmuan yang dapat dipakai untuk pengajuan hipotesis, dan (b) mempunyai kemungkinan mendapatkan sejumlah fakta empirik yang diperlukan guna pengujian hipotesis.
• Persyaratan dari segi si peneliti, yang pada prinsipnya sejauh mana kemampuan si peneliti untuk melakukan penelitian. Hal ini menyangkut setidak-tidaknya lima faktor, yakni: biaya; waktu; alat dan bahan; bekal kemampuan teoritis peneliti; dan penguasaan peneliti terhadap metode penelitian yang akan digunakannya.

4. Jenis Penelitian: Apa Saja?
Dari berbagai buku penelitian, jenis penelitian dapat kelompokkan sebagai berikut (Nana, 2006; Suharsimi, 1998; Suhardjono, 2006; dan lain-lain)
Dikelompokkan berdasar pada.. Jenis penelitian
Tujuan umum (Suharsimi, 1998) Penelitian eksploratif, untuk mengeksplorasi, mendiskripsikan asal usul atau sebab-musabab sesuatu
Penelitian pengembangan, untuk mengadakan untuk percobaan dan penyempurnaan terhadap suatu masalah, atau untuk menghasilkan produk tertentu (program, model, alat, dll)
Penelitian verifikasi, untuk mengevaluasi atau menguji sesuatu hal yang dipermasalahkan.
Ada tidaknya perlakuan terhadap variabel (Suharsimi, 1998) Penelitian deskriptif: Mengumpulkan informasi tentang sesuatu dan kemudian mendiskripsikannya, apa adanya (tanpa melakukan perlakuan).
Soejono dan Abdurrahman (1999) penelitian deskriptif banyak dipergunakan dan dikembangkan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, karena umumnya penelitian sosial bersifat deskriptif
Best (1981) termasuk pada kelompok deskriptif adalah penelitian yang mengkaji pembandingan dan hubungan di antara variabel yang tidak diperoleh melalui perlakuan.
Penelitian eksperimen : mendeskripsikan sesuatu yang terjadi akibat adanya perlakuan atau tindakan
Pendekatan (Nana, 2006) Penelitian kuantitatif, untuk mencari hubungan dan menjelaskan sebab-sebab perubahan dalam fakta-fakta sosial yang terukur. Menggunakan rancangan penelitian eksperimen atau korelasional sebagai kajian khasnya.
Penelitian kualitatif, lebih diarahkan untuk memahami fenomena –fenomena sosial dari prespektif partisipan. Menggunakan kajian etnografis untuk memahami keragaman prespektif dalam situasi yang diteliti,
Jenis data (Sukidin, 2005) Penelitian kuantitatif yang menggunakan data dalam bentuk angka-angka yang bersifat kuantitatif, untuk dapat meramal kondisi populasi, atau kecenderungan masa datang;
Penelitian kualitatif yang dilakukan secara cermat, mendalam dan rinci sehingga dapat mengumpulkan data yang sangat lengkap dan dapat menghasilkan informasi yang menunjukkan kualitas sesuatu. Penelitian kuantitatif memungkinkan adanya generalisasi untuk hasilnya, yang dihitung dengan analisis statistik. Hasil penelitian kualitatif hanya berlaku bagi wilayah yang diteliti itu saja.
Pemanfaatan hasil (Nana, 2006) Penelitian Dasar, menguji teori, dalil, prinsip, dasar.
Penelitian Terapan, menguji kegunaan teori dalam bidang tertentu. Menentukan hungungan empiris dan generalisasi analisis dalam bidang tertentu,
Penelitian Evaluatif, mengukur manfaat, sumbangan dan kelayakan program atau kegiatan tertentu.
Bidang Ilmu atau subtansi disiplin keilmuan Pendidikan, Pembelajaran, Pertanian, Sosial, Eksakta, Penelitian dalam Pengembangan Profesi Guru, dan lain-lain.
Tempat Penelitian (Suharsimi, 1998) Laboratorium, pengambilan data dari atau dikerjakan di laboratorium
Lapangan (kancah), pengambilan data dari atau dikerjakan di lapangan.
Perpustakaan, pengambilan data terutama dari perpustakaan. Kajian kepustakaan.
Tujuan untuk menghasilkan rancangan, desain, model, rekayasa enjinering atau produk lain (Suhardjono, 2006) Penelitian pengembangan (developmental research) untuk mengadakan untuk percobaan dan penyempurnaan terhadap suatu masalah, atau untuk menghasilkan produk tertentu (program, model, alat, dll)
Tujuan untuk memperoleh informasi, atau mendiskripsikannya untuk keperluan tertentu. (Suhardjono, 2006) Penelitian evaluasi untuk mengevaluasi pelaksanaan atau keberhasilan suatu sistem program, model pendidikan, penggunaan suatu sistem, program, model, metode, media, instrumen, dan lain-lain.
Studi kasus,
Survey,

Seringkali dipertanyaan apakah yang dimaksudkan dengan penelitian kuantitatif dan penelitian kuantitatif. Perbedaan kedua jenis penelitian tersebut antara lain adalah (Sukidin, 2005):
Penelitian kualitatif / naturalistik Penelitian kuantitatif
Berdasar tujuan
Memperoleh pemahaman makna, mengembangkan teori, menggambarkan realitas yang kompleks Menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori, mencari generalisasi.
Teknik Pelaksanaan Penelitian
Observasi, partisipasi, observasi, wawancara terbuka Eksperimen, observasi terstruktur
Macam data yang dipergunakan
Data deskriptif, dokumen-dokumen pribadi, catatan-catatan lapangan, hasil-hasil rekaman film dan foto, komentar, dan catatan atau rekaman data wawancara, Data kuantitatif, hitungan-hitungan, angka-angka ukuran, pencatatatan yang dapat dikuantifikasikan, statistik.

Penelitian kualitatif / naturalistik Penelitian kuantitatif
Sampel penelitian,
Jumlah sampel kecil, sedikit, tak mewakili sesuatu populasi, penentuan sampel secara non-acak Jumlah sampel lebih banyak, mewakili sesuatu populasi, pepentuan sampel secara acak
Metode pelaksanaan penelitian,
Menggunakan pengamatan, pencatatan tertib, kajian dokumen, wawancara Eksperimen, pengumpulan data tersrtuktur,
Cara analisis data penelitian,
Secara induktif, mengacu pada model, tema, konsep, dilakukan dalam waktu relatif panjang
Secara deduktif, mengacu pada kaidah statistika, pada saat pengumpulan data

5. Penelitian di Bidang Pendidikan: Bagaimana Ciri Khasnya?
Penelitian pendidikan dapat dilakukan terhadap kajian ilmu pendidikan, kajian praktik pendidikan, san kajian evaluasi pendidikan. Penelitian ilmu pendidikan meliputi kajian dasar-dasar, teori-teori, dan konsep-konsep termasuk sejarah perkembangannya, yang berada pada kelompok penelitian dasar.
Penelitian terhadap praktik pendidikan lebih diarahkan pada aplikasi teori, yang merupakan penelitian terapan. Penelitian evaluasi pendidikan dan lain-liaiin, yang juga berada pada kelompok penelitian terapan. Penelitian-penelitian tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, baik dengan eksperimental maupun non eksperimental.
Penelitian pendidikan, baik pada bidang ilmu, praktik dan evaluasi pendidikan, dipilahkan dalam tiga kelompok yakni: (a) Penelitian Kurikulum dan Pembelajaran, (b) Penelitian Bimbingan dan Konseling, dan (c) Penelitian Manajemen Pendidikan (Nana, 2005).
Permasalahan pendidikan yang dapat dikaji melalui penelitian, sangatlah luas. Mulai dari filsafat pendidikan, politik dan kebijakan pendidikan, ekonomi pendidikan, psikologi pendidikan, teknologi pendidikan, manajemen, bimbingan dan konseling, kurikulum, pembelajaran, dan lain-lain.
Melihat luasnya kajian di bidang pendidikan itu, maka penelitian yang dilakukan guru dalam pengembangan profesinya, seharusnya dibatasi, hanya pada permasalahan yang terkait dengan keilmuan dan praktek proses belajar mengajar (proses pembelajaran). Hal itu sesuai dengan tujuan pengembangan profesi guru yakni “dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan ketrampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar mengajar ...”
Sehingga makna penelitian di bidang pendidikan, dalam konteks pengembangan profesi guru seharusnya diartikan dalam lingkup yang lebih terbatas, yakni pada permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran, dan lebih khusus lagi pada permasalahan proses belajar-mengajar yang dilakukan guru dalam usahanya meningkatkan mutu profesionalismenya.
Dalam kaitan dengan proses pembelajaran, ciri khas dari penelitian teknologi pembelajaran adalah adanya kajian yang berhubungan dengan penerapan rancangan, sajian dan evaluasi pembelajaran yang ditujukan untuk mencapai hasil belajar tertentu, pada suatu tujuan, karakteristik siswa, lingkungan dan ataupun kondisi pembelajaran spesifik.
Penelitian tentang pengaruh karakteristik siswa terhadap hasil belajar, yang tidak ada hubungannya dengan proses pembelajaran, lebih berada pada kawasan penelitian psikologi pendidikan daripada penelitian pembelajaran. Permasalahan tersebut lebih sesuai dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling, daripada guru kelas maupun guru mata pelajaran. Demikian pula penelitian tentang pengaruh manajemen persekolahan terhadap prestasi belajar siswa, lebih tepat berada pada kawasan manajemen pendidikan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, ataupun Pengawas Sekolah.
Menurut Suhardjono (1990) kegiatan pembelajaran yang umum dilakukan oleh seorang guru adalah (a) merancang pembelajarannya yang meliputi rancangan penataan isi, rancangan strategi pembelajaran termasuk rancangan pengembangan dan pemanfaatan media, rancangan evaluasi dan lain-lain, (b) menyajikan atau menyampaikan materi pelajaran, termasuk di dalamnya pemilihan dan penggunaan model pembelajaran tertentu sesuai tujuan, penggunaan media, dan pengelolaan kelas, serta (c) melakukan evaluasi baik proses maupun hasil pembelajaran.
Ketiga kegiatan itu, harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar diperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tujuannya, dan dalam waktu yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi hasil pembelajaran tersebut.
Ada faktor yang dapat diubah (seperti: cara mengajar, mutu rancangan, model evaluasi, dll) ada pula faktor yang harus diterima apa adanya (seperti: latar belakang siswa, gaji, lingkungan sekolah, dll).

Faktor pengaruh hasil belajar yang “tidak dapat” diubah oleh guru sebagai tenaga pengajar Faktor pengaruh hasil belajar yang “dapat” diubah oleh guru
Tujuan dan karakterisik bidang mata pelajaran,
Latar belakang siswa (umur, jenis kelamin, sikap, IQ, SQ, keadaaan social dan ekonominya, dan lain-lain)
Lingkungan di luar kelas, sarana dan prasarana pendukung pembelajaran dan lain Kualitas rancangan
Kualitas penyajian materi pelajaran termasuk pengelolaan kelas
Kualitas evaluasi baik proses maupun hasil pembelajaran
Sesuai dengan tujuannya, terdapat jenis penelitian pembelajaran yang bertujuan untuk
1. mendiskripsikan sesuatu proses, sumber atau sistem yang berkaiatan dengan proses pembelajaran, misalnya mendiskripsikan penggunaan model pembelajaraan kooperatif pada materi pembelajaran tertentu di suatu sistem pembelajaran tertentu, termasuk menganalisis faktor-faktor pendukung dan penghambatnya,
2. menerapkan atau mengembangkan suatu strategi pembelajaran tertentu yang telah teruji manfaatnya guna mendapatkan penyempurnaan tindakan-tindakan yang seharusnya dilakukan dalam proses pelaksanaan, agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai secara optimal, misalnya dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), dan
3. menguji atau memverifikasi suatu tindakan pembelajaran, misalnya menguji apakah penerapan model pembelajaran yang satu lebih baik dari yang lain, melalui penelitian eksperimen.
6. Bagaimana Hubungan Penelitian dengan KTI Guru?
Pada uraian terdahulu dijelaskan bahwa permasalahan di bidang pendidikan demikian luasnya. Agar tujuan kegiatan pengembangan profesi guru dapat tercapai, maka penelitian yang dilakukan guru, berbeda dengan yang dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas, ataupun guru bimbingan dan konseling.
Penelitian guru dalam kegiatan pengembangan profesinya, hendaknya berupa kegiatan yang terkait dengan proses belajar mengajarnya. Karena tentunya, kegiatan itu dimaksudkan untuk meningkatkan mutu, baik proses maupun produk pembelajaran. Laporan penelitian dalam bidang pembelajaran yang berupa Karya Tulis Ilmiah merupakan salah satu bentuk laporan dari kegiatan pengembangan profesi guru.
Berdasarkan aturan yang berlaku (lihat: Lampiran I dari Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Nomor: 84/1993 Tanggal 24 Desember 1993 tentang Rincian Kegiatan Guru dan Angka Kreditnya) macam karya tulis/karya ilmiah tersebut dapat berupa :
1. Karya (tulis) ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey, dan atau evaluasi di bidang pendidikan.
2. Karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan.
3. Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa.
4. Prasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiiah.
5. Buku pelajaran atau modul
6. Diktat pelajaran
7. Karya penerjemahan buku pelajaran/ karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan.
Ketujuh macam karya tulis di atas, kesemuanya adalah Karya Tulis Ilmiah. Dengan demikian semua karya tulis itu harus disusun memakai langkah sesuai dengan metode (berpikir) ilmiah. Ciri khusus metode ilmiah adalah adanya (a) permasalahan, (b) konsep teori, (c) fakta empirik, dan (d) analisis permasalahan berdasarkan pada teori dan fakta empirik dalam pengambilan kesimpulan.
Karya tulis yang dibuat dengan tidak menggunakan metode keilmuan, misalnya puisi, prosa, atau karya tulis lain yang sejenis, tetap mendapat penghargaan angka kredit melalui kelompok “menciptakan karya seni”.
Hubungan antara macam kegiatan ilmiah yang dilakukan guru, dengan macam KTI yang dihasilkannya sesuai dengan Lampiran I dari Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Nomor 84/1993 Tanggal 24 Desember 1993 tentang Rincian Kegiatan Guru dan Angka Kreditnya, adalah sebagai berikut:

Macam kegiatan ilmiah yang dilakukan guru dalam kegiatan pengembangan profesinya Bentuk KTI sebagai hasil dari kegiatan ilmiahnya, dipublikasikan dalam bentuk Angka kredit
Melakukan penelitian, pengkajian, survey atau evaluasi di bidang pendidikan Buku yang diterbitkan secara nasional 12,5
Artikel ilmiah dalam majalah ilmiah yang diakui oleh depertemen yang bersangkutan 6
Buku yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah 8
Makalah yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah 4
Melakukan tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan Buku yang diterbitkan secara nasional 8
Artikel ilmiah dalam majalah ilmiah yang diakui oleh depertemen yang bersangkutan 4
Buku yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah 7
Makalah yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah 3,5
Melakukan penelitian, pengkajian, survey atau evaluasi di bidang pendidikan, dan atau melakukan tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan Tulisan Ilmiah Populer yang disebarluaskan melalui media massa 2
Makalah sebagai prasaran yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah 2,5
Menulis buku, modul, diktat atau melakukan penerjemahan buku pelajaran atau karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan Buku pelajaran atau modul yang bertaraf nasional 5
Buku pelajaran atau modul yang bertaraf propinsi 3
Diktat pelajaran 1
Karya terjemahan 2,5

Dari tabel di atas tampak bahwa macam kegiatan pengembangan profesi dalam pembuatan KTI terpilah dalam tiga kelompok: (1) Melakukan penelitian, pengkajian, survey atau evaluasi, (2) Melakukan tinjauan atau ulasan ilmiah, dan (3) Menulis buku, modul, diktat atau melakukan penerjemahan.
Dari tiga kelompok kegiatan tersebut, kegiatan ketiga yakni “menulis buku, modul, diktat atau melakukan penerjemahan” umumnya sudah dipahami maknanya. Yang sering menjadi pertanyaan adalah perbedaan dan persamaan di antara macam kegiatan pertama dengan kegiatan kedua.
Seringkali ditanyakan apa beda antara kegiatan “melakukan penelitian” dengan “melakukan tinjuan ilmiah”. Bahkan ada yang menafsirkan kegiatan pertama sebagai kegiatan penelitian, dan kegiatan kedua sebagai kegaitan non-penelitian. Produk dari kedua kegiatan tersebut juga mendapat angka kredir yang tidak sama. Besar angka kredit dari kegiatan penelitian sedikit lebih tinggi dari kegiatan hasil tinjuan ilmiah.
Dalam buku “Pedoman Penyusunan KTI di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru”, Suhardjono, dkk. (1996) dalam usaha mempermudah pemahaman, mengelompokkan KTI menjadi: (1) Laporan hasil kegiatan ilmiah yang merupakan KTI hasil penelitian, pengkajian, survey atau evaluasi, (2) Tulisan ilmiah berupa KTI hasil tinjauan atau ulasan ilmiah, serta (3) Buku yang berupa KTI buku, diktat dan karya terjemahan.
Perbedaan dan persamaan antara antara kegiatan (1) melakukan penelitian, pengkajian, survey atau evaluasi dan (2) melakukan tinjauan atau ulasan ilmiah

Melakukan penelitian, pengkajian, survey atau evaluasi di bidang pendidikan Melakukan tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan
Persamaan Keduanya merupakan kegiatan ilmiah yang dilakukan guru dalam kegiatan pengembangan profesinya sebagai guru.
Kedua kegiatan menggunakan metode (berpikir) ilmiah yakni mengungkapkan adanya (a) permasalahan, (b) konsep teori, (c) fakta empirik, dan (d) analisis permasalahan berdasarkan pada teori dan fakta empirik dalam pengambilan kesimpulan.
Kedua kegiatan berfokus pada permasalahan yang erat terkait dengan tugas dan tanggung jawab guru yaitu dalam usaha peningkatan mutu dan hasil proses belajar mengajar. Permasalahan pendidikan yang dikaji difokuskan pada bidang pembelajaran.
Keduanya memberikan keluaran berbentuk KTI yang APIK (Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten)
Produk KTI yang dihasilkan sama yaitu berupa buku, artikel pada jurnal, dan makalah, namun angka kreditnya berbeda,


Perbedaan Melakukan penelitian, pengkajian, survey atau evaluasi di bidang pendidikan Melakukan tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan
Guru melakukan kegiatan yang menampak, diketahui serta diikuti oleh siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Guru melakukan kegiatan yang tidak secara langsung diikuti oleh siswa dalam kegiatan pembelajarannya.
Tujuan kegiatan: menguji hipotesis, mengkaji kemanfaatan suatu tindakan, mengkaji hubungan atau perbedaan dari permasalahan bidang pembelajaran yang sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru. Tujuan kegiatan: mendeskripsikan dan memberikan tinjauan serta ulasan dari permasalahan bidang pembelajaran yang sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru.
Kegiatannya umumnya berupa penelitian eksperimen, penelitian tindakan kelas, studi kasus, evaluasi, atau bentuk penelitian yang lain.
Sering disebut sebagai kegiatan “penelitian” Kegiatan umumnya berupa penelitian deskriptif, studi kasus, evaluasi, atau bentuk penelitian yang lain.
Sering disebut sebagai kegiatan “non-penelitian” (meskipun sebenarnya kurang begitu tepat)
Kegiatanya memberikan pengaruh pada praktek pembelajaran yang dilakukan. Kegiatanya tidak memberikan pengaruh langsung pada praktek pembelajaran yang dilakukan
Angka kredit KTI yang dihasilkan (buku, artikel ilmiah, atau makalah) sedikit lebih tinggi Angka kredit KTI yang dihasilkan (buku, artikel ilmiah, atau makalah) sedikit lebih rendah.
Dari tabel tersebut perlu digarisbawahi perbedaan utama dari kedua kegiatan, yakni
1. Tujuan yang berbeda, yakni yang satu untuk menguji hipotesis, mengkaji kemanfaatan suatu tindakan, mengkaji hubungan atau perbedaan dari permasalahan bidang pembelajaran, sedangkan yang lain bertujuan untuk mendeskripsikan dan memberikan tinjauan serta ulasan dari permasalahan bidang pembelajaran.
2. Manfaat yang berbeda, yakni pada kegiatan yang berupa tinjauan / gagasan dampak kegiatannya tidak langsung dapat diketahui, diikuti, atau dirasakan oleh siswa, sekolah, atau oleh komponen pembelajaran yang lain.
Sedangkan persamaan pentingnya adalah,
1. Keduanya merupakan kegiatan kegiatan ilmiah, sehingga pada KTInya harus tertulis adanya (a) permasalahan, (b) konsep teori, (c) fakta empirik, dan (d) analisis permasalahan berdasarkan pada teori dan fakta empirik dalam pengambilan kesimpulan.
2. Keduanya merupakan kegiatan pengembangan profesi guru, maka permasalahan yang dikaji harus dibatasi dan disesuakani dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru di kelas atau sekolah di mana ia bertugas.
3. Keduanya dapat dilakukan melalui kegiatan penelitian dengan metode dan jenis penelitian yang berbeda.
Pertanyaan berikutnya adalah, metode dan jenis penelitian apa yang umum dipakai dalam kegiatan pengembangan profesi guru?
Metode penelitian merupakan rangkaian cara dalam pelaksanaan penelitian. Termasuk dalam metode penelitian adalah rancangan atau prosedur penelitian. Dikenal tiga kelompok metode penelitian yakni (1) metode eksperimen, (2) deskriptif (non eksperimen) dan (3) penelitian tindakan.
Uraian lebih terperinci tentang masing-masing metode penelitian tersebut, disajikan pada bab-bab berikut.
7. Bagaimana KTI yang berupa laporan Penelitian Eksperimen?
Penelitian (dengan metode) eksperimen mempunyai ciri khusus yakni adanya perlakuan atau tindakan terhadap suatu variabel guna mengetahui bagaimana dampak tindakan itu pada variabel yang lain. Sesuai dengan cara pelaksanaannya, terdapat berbagai jenis penelitian eksperimen, seperti: eksperimen murni yang umumnya dilakukan di laboratorium, penelitian eksperimen kuasi yang umum dilakukan guru di kelasnya, dan lain-lain.
Penelitian eksperimen dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang akibat dari adanya suatu treatment atau perlakuan. Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis dengan ciri khusus yaitu (a) adanya variabel bebas yang dimanipulasi, (b) adanya pengendalian atau pengontrolan terhadap semua variabel lain kecuali variabel bebas yang dimanipulasi, dan (c) adanya pengamatan dan pengukuran terhadap variabel terikat sebagai akibat dari tindakan manipulasi variabel bebas
Penelitian eksperimen yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran umumnya bertujuan untuk menguji pengaruh beberapa perlakuan dalam perancangan, penyajian atau evaluasi pembelajaran (sebagai variabel bebas) dengan hasil belajar siswa (sebagai variabel tergantung). Penelitian bertujuan menguji hipotesis yang berkaitan dengan ada tidaknya perbedaan antar variabel bebas terhadap variabel tergantung.
Penelitian eksperimen jenis ini umunya dilengkapi dengan adanya variabel moderator yang berupa variabel dalam diri siswa. Untuk kemudian dikaji ada tidaknya hubungan, dan interaksi di antara variabel. Sebagai contoh, riumusan masalah dalam jenis penelitian ini adalah sebagai berikutL
1. Adakah perbedaan skor matematika akibat berbedanya metode mengajar yang dipakai?
2. Adakah hubungan yang signifikan antara sikap siswa terhadap metode menhajar dengan skor matematikanya?
3. Adakah interaksi antara metode mengajar, sikap dan skor matematika?

Definisi : Penelitian eksperimen dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi atau data sebagai akibat dari adanya suatu perlakuan. Perlakuan ini dapat berupa penerapan rancangan pembelajaran, strategi mengajar atau sistem evaluasi hasil belajar yang baru.
Penelitian eksperimen yang dilakukan di kelas bertujuan untuk menguji suatu hipotesis. Misalnya untuk menguji apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara suatu metode pembelajaran yang baru dengan metode pembelajaran yang selama ini dilakukan.
Penelitian eksperimen mempunyai ciri khusus yaitu,
• adanya variabel bebas yang dimanipulasi,
• adanya pengendalian atau pengontrolan terhadap semua variabel lain kecuali variabel bebas yang dimanipulasi,
• adanya pengamatan dan pengukuran terhadap variabel terikat sebagai akibat dari tindakan manipulasi variabel bebas.
Berikut disajikan contoh judul dan rumusan masalah penelitian eksperimen di bidang pembelajaran,

Judul penelitian Rumusan masalah
Keunggulan strategi sajian pembelajaran konsep berdasarkan metode A terhadap metode B pada pembelajaran konsep pada mata pelajaran X, di kelas Y di sekolah Z • Apakah strategi pembelajaran konsep berdasarkan metode A lebih unggul dari metode B dalam pemerolehan mengingat konsep pada mata pelajaran X, di kelas Y di sekolah Z?
• Apakah strategi pembelajaran konsep berdasarkan metode A lebih unggul dari metode B dalam pemerolehan menggunakan konsep pada mata pelajaran X, di kelas Y di sekolah Z?
• Dan seterusnya..

Kerangka Isi Tulis Umumnya KTI laporan hasil penelitian eksperimen ini mempunyai kerangka bagian isi sebagai berikut:
Bagian Awal yang terdiri dari: (a) halaman judul; (b) lembaran persetujuan dan pernyataan dari kepala sekolah yang menyatakan keaslian tulisan dari si penulis; (c) pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakannya, (d) pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh si penulis, (e) kata pengantar; (f) daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), serta (g) abstrak atau ringkasan.
Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:
• Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah (terutama penjelasan mengapa perlakuan hal yang akan di eksperimenkan itu, dipilih untuk dikaji), Perumusan Masalah (bagian penting dari penelitian ekseperimen adalah kejelasan rumusan masalah), Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian
• Bab Kajian / Tinjauan Pustaka yang menguraikan kajian teori dan pustaka yang berkaitan dengan variabel-variabel yang dikaji, dan ditujukan untuk menetapkan hipotesis penelitian.
• Bab Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian (terutama uraian tentang sampel, prosedur pelaksanaan perlakuan, prosedur pelaksanaan eksperimen, prosedur observasi dan evaluasi, serta hasil penelitian).
• Bab Hasil penelitian dan pembahasan memuat diskripsi setting obyek penelitian, data hasil penelitian baik data kuantitatif maupun kualitatif, pengujian hipotesis, dan pembahasan,
• Bab Simpulan dan Saran-Saran.
Bagian Penunjang yang mumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.
Lampiran utama yang harus disertakan adalah (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, (b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.
Bukti fisik dan besaran angka kredit
Makalah asli yang ditulis sesuai dengan kerangka isi, telah mendapat persetujuan yang berupa tanda tangan kepala sekolah dan cap sekolah, menyertakan keterangan dari perpustakaan yang ditandatangani oleh petugas perpustakaan bahwa makalah tersebut telah disimpan di perpustakaan, serta pernyataan keaslian tulisan yang ditandatangani oleh si penulis yang berisi pernyataan bahwa karya yang dibuatnya merupakan hasil karya asli si penulis. Besaran angka kredit untuk setiap makalah adalah 4 (empat).

8. Bagaimana KTI yang berupa laporan Penelitian Tindakan Kelas?
Penelitian Tindakan Kelas, merupakan penelitian tindakan yang umum dilakukan guru guna memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas, dan tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. Secara lebih rinci, tujuan PTK antara lain :
1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
3. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
4. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).
Ciri khusus dari PTK adalah adanya tindakan (action) yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (bukan dalam laboratorium) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis. Tindakan tersebut adalah merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Pada penelitian tindakan, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangkaian siklus kegiatan.
Sesuai dengan prinsip bahwa ada tindakan yang dirancang sebelumnya maka objek penelitian tindakan kelas harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas.


Di samping itu PTK, karena menggunakan kegiatan nyata di kelas, menuntut etika, antara lain: (a) tidak boleh mengganggu tugas proses pembelajaran dan tugas mengajar guru. (b) jangan terlalu menyita banyak waktu (dalam pengambilan data, dll). (c) masalah yang dikaji harus merupakan masalah yang benar-benar ada dan dihadapi oleh guru., (d) dilaksanakan dengan selalu memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dll)
PTK terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus adalah (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus yang pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru (bersama peneliti, bila PTKnya tidak dilakukan sendiri oleh guru) menentukan rancangan untuk siklus kedua. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan , atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Tapi umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.
Dengan menyusun rancangan untu siklus kedua, maka guru dapat melanjutkan dengan tahap kegaita-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama.Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan guru belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu.
Definisi : Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK berfokus pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas, dilakukan pada situasi alami.
Tindakan tersebut merupakan suatu kegiatan yang sengaja dirancang untuk dilakukan oleh siswa dengan tujuan tertentu. Oleh karena tujuan PTK adalah memperbaiki mutu pembelajaran, maka kegiatan yang dilakukan haruslah berupa tindakan yang diyakini lebih baik dari kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan. Dengan kata lain, tindakan yang diberikan kepada siswa harus terlihat kreatif dan inovatif.
Hal yang khusus pada tindakan tersebut adalah adanya hal yang berbeda dari yang biasa dilakukan guru dalam praktik pembelajaran sebelumnya, karena yang sudah dilakukan dipandang belum memberikan hasil yang memuaskan.
Untuk mengetahui keberhasilan tindakan tersebut maka harus dilakukan secara berulang-ulang, agar diperoleh keyakinan akan keampuhan dari tindakan. Jika dibandingkan dengan eksperimen adalah demikian. Eksperimen melihat bagaimana efektivitas perlakukan, sedangkan PTK melihat keterlaksanaan dan kelancaran proses tindakan. Oleh karena itu yang dipentingkan dalam PTK adalah proses, sedangkan hasil tindakan merupakan konsekuensi logis dari ampuhnya tindakan. Pengulangan langkah dari setiap awal sampai akhir seperti itu disebut siklus. Untuk KTI guru, PTK sedikitnya dilaksanakan dua siklus.
Berikut disajikan contoh judul dan rumusan masalah penelitian tindakan kelas di bidang pembelajaran,

No Judul penelitian Rumusan masalah
1 Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat secara lisan melalui diskusi kelompok pada mata pelajaran X, di kelas Y, pada sekolah Z. • Bagaimana kelancaran langkah pembelajaran diskusi, meliputi kelancaran pembentukan kelompok, mengajukan pendapat, menanggapi pendapat, sampai mengambil kesimpulan?
• Bagaimana situasi belajar kelompok meliputi ketertiban, ketenangan, keseriusan diskusi, dll.
• Bagaimana keaktifan siswa dalam berpartisipasi, semangat siswa me- nanggapi dan mempertahankan pendapat, kelancaran berbicara?
• Bagaimana kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat?
• Kendala-kendala apa yang dijumpai dalam penerapan PBL dan bagaimana mengatasinya, dst?

Kerangka Isi Laporan
Umumnya KTI PTK ini mempunyai kerangka isi sebagai berikut:
Bagian Awal yang terdiri dari: (a) halaman judul; (b) lembaran persetujuan dan pernyataan dari kepala sekolah yang menyatakan keaslian tulisan dari si penulis; (c) pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakannya, (d) pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh penulis, (e) kata pengantar; (f) daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), serta (g) abstrak atau ringkasan.
Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:
• Bab I Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutama: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan).
• Bab II Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan (khususnya kajian teori yang berkaitan dengan macam tindakan yang akan dilakukan), proses tindakan, ketepatan atau kesesuainan tindakan dengan ciri-ciri kejiwaan siswa, dan lain-lain.
• Bab III Metode Penelitian atau Metodologi Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, penjelasan rinci tentang perencanaan dan pelaksanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi , serta hasil penelitian). Yang harus ada dan dikemukakan secara jelas dalam bagian ini adalah langkah-langkah tindakan secara rinci, terutama langkah yang harus dilakukan oleh siswa, bukan menjelaskan langkah guru yang biasa seperti membuat persiapan, menyiapkan alat, dan seterusnya.
• Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan serta mengemukakan gambaran tentang pelaksanaan tindakan, dimulai dari setting atau pengaturan siswa, penjelasan umum jalannya pembelajaran diikuti penjelasan siklus demi siklus. Akhir dari bab ini adalah pembahasan, yaitu pendapat peneliti tentang plus minus tindakan serta kemungkinannya untuk diterapkan lagi untuk memperoleh gambaran model tindakan ini sebagai metode mengajar yang dipandang kreatif dan inovatif, sehingga dapat memberikan hasil pembelajaran yang maksimal
• Bab V Simpulan dan Saran-Saran.
Bagian Penunjang yang pada umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.
Lampiran utama yang harus disertakan adalah (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

Bukti fisik dan besaran angka kredit
Makalah asli yang ditulis sesuai dengan kerangka isi, telah mendapat persetujuan yang berupa tanda tangan kepala sekolah dan cap sekolah, menyertakan keterangan dari perpustakaan yang ditandatangani oleh petugas perpustakaan bahwa makalah tersebut telah disimpan di perpustakaan, serta pernyataan keaslian tulisan yang ditandatangani oleh penulis yang berisi pernyataan bahwa karya yang dibuatnya merupakan hasil karya asli penulis. Besaran angka kredit untuk setiap makalah adalah 4 (empat).
9. Bagaimana KTI yang berupa laporan Penelitian Deskriptif?
Penelitian deskriptif bertujuan mendeskripsikan fakta sebagaimana adanya (tanpa perlakuan) terdiri dari (a) survey, (b) studi kasus, (c) penelitian hubungan-korelasional, (d) penelitian pembandingan-komparatif, (e) penelitian evaluasi (e) penelitian pengembangan, dan lain-lain.
Berdasar pada tujuannya, metode penelitian deskriptif yang umum dilakukan guru dalam pengembangan pro fesinya adalah sebagai berikut....
Tujuan penelitian Keterangan
Survei bertujuan mengukur sesuatu apa adanya tanpa bertanya mengapa keadaan tersebut seperti itu.
Hasil survey umumnya dipakai sebagai masukan data dalam pembuatan KTI yang berupa tinjuaan atau gagasan ilmiah. Tidak banyak guru melakukan survey sebagai KTI dalam kegiatan pengembangan profesinya.
Survey dimulai dengan menjabarkan teori untuk menetapkan variabel , kriteria dan indikator variabel-variabel yang akan disurvey. Selanjutnya dilakukan pengumpulan, analisis dan simpulan dari data yang didapat.
Studi kasus yang merupakan kajian secara intensif tentang keadaan yang spesifik, terbatas dan kecil.
Hasil studi kasus umunya merupakan bagian dari KTI yang berupa tinjauan atau gagasan ilmiah. Misalnya studi kasus tentang gagalnya penerapan suatu metode pembelajaran baru di kelasnya. Berdasar kajian teori ditetapkan kriteria dan indikator variabel-variabel terkait. Selanjutnya menggunakan indikator variabel itu, dilakukan pengumpulan dan analisis data untuk menjawab permasalahan. Analisis dilakukan berdasar teori dan data yang diperoleh.
Studi korelasi, penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana variasi-variasi pada satu atau lebih faktor, saling berhubungan ditinjau berdasarkan koefisien korelasinya.
Pada studi korelasi hal pokok yang harus menjadi perhatian adalah (1) adanya kerangka teori yang menunjang ada tidaknya hubungan di antara variabel, (2) keterandalan instrumen pengukuran yang digunakan, dan (3) jumlah sampel yang dianalisis.
Penelitian jenis ini relatif sering dilakukan oleh guru. Misalnya seorang guru menerapkan metode baru dalam proses pembelajarannya, ia ingin mengetahui apakah sikap siswa terhadap metode baru tersebut berkorelasi dengan hasil belajar. Hal yang ingin dikaji sebenarnya adalah pengaruh dari penerapan metode pembelajaran.
Kesalahan umum pada penelitian ini guru tidak dikaitkan dengan tindakan/ kegiatan pembelajaran. Ia hanya mengkorelasikan variabel-variabel dalam diri siswa dengan hasil belajar, atau antara hasil belajar mata pelajaran dan satu dengan yang lainnya. Penelitian semacam itu kurang memberikan manfaat terhadap peningkatan mutu pembelajaran.
Studi pembandingan atau penelitian komparatif bertujuan untuk melihat ada tidaknya perbedaan variabel-varibel tertentu melalui pembandingan antara satu keadaan dengan keadaan yang lain.
Misalnya ingin diketahui adakah perbedaan hasil belajar akibat berbedanya metode yang dipakai dalam proses pembelajaran.
Pada penelitian deskriptif, data diperoleh secara ekspos fakto, bukan dari afanya suatu perlakuan. Bila data diperoleh akibat adanya perlakukan maka kegiatan ini termasuk dalam jenis penelitian eksperimen.
Studi evaluasi, bertujuan memperoleh informasi ilmiah guna pengambilan keputusan.
Studi evaluasi sangat sering dipakai sebagai KTI yang berupa tinjauan atau gagasan ilmiah.
Misalnya adanya kebijakan baru dalam tindakan pembelajaran, yang ingin dievaluasi. Pertama dilakukan kajian teori dipakai untuk menetapkan kriteria guna evaluasi.
Selanjutnya fakta dikumpulkan dan dipakai untuk menguji kesenjangan antara kriteria teoritik dengan keadaan nyata dari hal dievaluasi.
Studi pengembangan, bertujuan menghasilkan produk dalam upaya pemecahan masalah.
Hasil studi ini adalah produk pengembangan misalnya buku, modul, rancangan program, dan lain-lain
Sebagai kegiatan ilmiah kegiatan ini juga disertai dengan kajian teori dipakai untuk menetapkan kriteria dalam pengembangan. Studi pengembangan mempunyai ciri khas yaitu adanya uraian yang mendalam tentang pelaksanaan kegiatan pengembangan yang dilakukan apakah berupa pembuatan perancangan, desain, pembuatan alat, dan lain-lain. Semua kegiatan dilakukan berdasarkan pada kriteria-kriteria yang telah ditapkan berdasar teori. Selanjutnya pada studi ini dilakukan uji kesesuaian hasil pengembangan dengan kriteria teoritik.

Definisi : Penelitian deskriptif merupakan paparan (diskripsi) informasi tentang suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya.
Dalam konteks kegiatan pengembangan profesi, penelitian ini mengkaji dan memaparkan sesuatu yang terkait dengan kegiatan yang dilakukan guru yang bersangkutan dalam upayanya mengembangan profesinya sebagai guru.
Kegiatan tersebut berkaitan dengan tugas pokok guru yakni menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, mengevaluasi hasil pembelajaran, menganalisis hasil evaluasi pembelajaran, menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik serta mengembangkan profesi yang menjadi tanggung jawabnya.
Berikut disajikan contoh judul dan rumusan masalah penelitian diskriptif di bidang pembelajaran .

No Judul penelitian Rumusan masalah
1 Penerapan KBK pada pembelajaran sejarah pada siswa kelas II, di SMP X, sekolah Y, Bagaimana macam kegiatan guru dalam pembelajaran yang menupakan penerapan KBK pada pembelajaran Sejarah.
• Bagaimana macam kegiatan siswa yang merupakan penerapan KBK
• Apa saja dan mengapa faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan KBK


Kerangka Isi Tulis Umumnya KTI laporan hasil penelitian deskriptif mempunyai kerangka bagian isi sebagai berikut:
Bagian Awal yang terdiri dari: (a) halaman judul; (b) lembaran persetujuan dan pernyataan dari kepala sekolah yang menyatakan keaslian tulisan dari si penulis; (c) pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakannya, (d) pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh si penulis, (e) kata pengantar; (f) daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), serta (g) abstrak atau ringkasan.
Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:
• Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah mengapa masalah tersebut diteliti dan disertai data yang berkaitan dengan permasalahannya. Perumusan Masalah (Hal-hal yang ingin diketahui jawabannya atau ingin dijelaskan secara rinci melalui kajian diskriptif), Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian
• Bab Kajian / Tinjauan Pustaka yang menguraikan kajian teori dan pustaka yang berkaitan dengan variabel-variabel yang berkaitan atau kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran yang telah dilakukan,
• Bab Metode Penelitian yang menjelaskan tentang populasi dan sample penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian dan cara analisis penelitian.
• Bab Hasil dan pembahasan menguraikan tentang gambaran sasaran penelitian, diskripsi hasil penelitian, dan analisis serta pembahasannya, serta
• Bab Simpulan dan Saran-Saran.
Bagian Penunjang yang mumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.
Lampiran utama yang harus disertakan adalah (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, (b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

Bukti fisik dan besaran angka kredit
Makalah asli yang ditulis sesuai dengan kerangka isi, telah mendapat persetujuan yang berupa tanda tangan kepala sekolah dan cap sekolah, menyertakan keterangan dari perpustakaan yang ditandatangani oleh petugas perpustakaan bahwa makalah tersebut telah disimpan di perpustakaan, serta pernyataan keaslian tulisan yang ditandatangani oleh si penulis yang berisi pernyataan bahwa karya yang dibuatnya merupakan hasil karya asli si penulis. Besaran angka kredit untuk setiap makalah adalah 4 (empat)

Daftar kepustakaan
------, Keputusan Menteri Negera Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka kreditnya
------, Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
------, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/0/1995
Nana Syaodih Sukmadinata, (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nawawi, Hadari (1983) Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Soejono dan Abdurrahman (1999). Metode Penelitian: Suatu Pemikiran dan Penerapan. Jakarta: Rineka Cipta
Sudarwan Danim, (2002). Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka setia.
Suhardjono, A. Azis Hoesein, dkk (1995). Pedoman penyusunan KTI do Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Degutentis, Jakarta : Diknas
Suhardjono (2006) Metodologi Penelitian di Bidang Teknik Pengairan. Buku Ajar Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.
Suhardjono, (2009), Pertanyaan dan Jawaban di sekitar Penelitian Tindakan kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah, Malang: Lembaga Cakrawala Indonesia
Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi, (2006) Peneiitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bina Aksara
Sukidin dan Mundir, (2005), Metode Penelitian : Membimbing dan Mengantar Kesuksesan Anda dalam Dunia Penelitian. Surabaya: Insan Cendekia.
Suriasumantri, Jujun S. (1984). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan
Suriasumantri, Jujun S. (ed) (1981). Ilmu dalam Prespektif. Jakarta: Gramedia.

Prof. Dr. Ir. H. Suhardjono, M.Pd., Dipl.HE, lahir di Kebumen, 23 Maret 1946. Sarjana Teknik Sipil Universitas Brawijaya tahun 1972. Diploma on Hydraulic Engineering dari International Institute of Hydraulic Engineering TH Delft, Nederland, 1977, Magister Kependidikan IKIP Jakarta tahun 1982, dan lulus sebagai Doktor Kependidikan bidang Studi Teknologi Pembelajaran IKIP Malang, 1990. Guru Besar dalam Metode Penelitian tahun 2000. Ia mengikuti berbagai pendidikan tambahan, di bidang kependidikan dan pengembangan sumber daya air baik di dalam maupun di luar negeri, antara lain di University of Newcastle, Inggris (1997), International Institute for Infrastructural, Hydraulic and Enviromental Engineering, Manila (1996), State University of New York at Albany, USA (1988), University of Southern California, Los Angeles, USA (1980).
Dosen tetap di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, sejak tahun 1970. Mendapat tugas tambahan sebagai dekan selama dua periode yaitu tahun 1982-1985, dan tahun 2001-2005, ketua P3AI Unibraw 1996-2001, serta pernah mendapat berbagai tugas kependidikan yang lain. Di antaranya sejak 1996 membantu sebagai anggota tim teknis penatar dan penilai KTI dalam pengembangan profesi guru. Melakukan berbagai penelitian dan menulis banyak buku tentang pendidikan dan penelitian.

Minggu, 02 Mei 2010

Sastera Melayu Pascamoden

Wacana Dinamika
Sastera Melayu Pascamoden

Mana Sikana




Pengenalan

Kertas kerja ini cuba membawa pemikiran-pemikiran yang menjurus kepada
persituasian sastera Melayu mutakhir: subjek pascamoden dengan perbahasan dia-
lektikal terhadap pendinamikannya. Antara fokusnya, melihat subjektiviti sastera
Melayu, pewacanaan persuratan Islam, pemanfaatan globalisasi dan membina ta-
madun baru sastera. Mencadangkan Kuala Lumpur sebagai jantung sastera berba-
hasa Melayu Dunia, dan Malaysia patut menjadi pusat sastera Islam alamiah.
Akhirnya memberikah pandangan pengunggulan kesusasteraan Melayu dalam du-
nia serantau.
Sastera Melayu Hari Ini
Untuk mengenal situasi Sastera Melayu, elok dibicarakan dahulu suasana zaman
yang sedang kita hadapi terkini. Kita dituntut supaya mengenali zaman kerana ia
memberi maklumat tentang situasi dan permasalahannya. Dalam sebuah Hadis
Qudsi, Allah menyatakan akan memberi rahmat kepada seseorang yang menguasai
zamannya. Seandainya kita tidak memahami zaman di mana kita hidup, dikhuatiri
akan berlaku penderitaan dan kesengsaraan, bukan sahaja kepada diri kita sendiri,
juga kepada generasi akan datang. Dalam sebuah Hadis yang lain, Nabi Muhammad
s.a.w. bersabda yang mafhumnya Ajarkanlah anak-anak kamu, kerana mereka di-
lahirkan di zaman yang berbeza dengan zaman kamu.
Kini kita berada dalam jejak zaman pascamoden, di tengah ekonomi libido dan
masyarakat ekstasi. Gaya hidup bercorak hiperealisme, fetisisme dan konsumerisme
yang skizofrenik serta komoditi ilusi. Wacana parodi dan semiotik berlaku dalam
segenap dimensi kehidupan. Bahasa dan sastera terserlahnya model wacana,
dialogisme, simulasi dan pervesitasi. Realiti kebudayaan berubah daripada era
teknologi ke era citraan, dari era mekanik ke mikro-elektronik.
Sastera telah memasuki gerbang permainan kekuasaan – power game – tempat
berlangsungnya gelanggang perebutan kuasa. Dalam peringkat ini politik sastera
sama dengan politik wacana, yang memerlukan kebijaksanaan untuk memenangi
pertandingan. Justeru itu, falsafah pascamoden yang sangat mengukuhkan sastera
ialah yang dikaitkan dengan kekuasaan, yang meninggalkan cara kekerasan marxis
yang menekan determian ekonomi dari sejarah kepada hegemoni Gramsci budya-


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
61
ideologi yang membuat orang akur patuh aktif dan berjaya memperluas dan
melestarikan dominasi.
Sastera telah digunakan sejak zaman Yunani, iaitu untuk melahirkan warga
bermoral dan berterima kasih kepada negara. Kedudukan sastera sinonim dengan
falsafah. Abad ke-5 Athen, pula meletakkankan sastera sebagai alat menjajah yang
lebih cepat dariapada senjata, Shakespeare di abad ke-16 memulakan per-tahta-an
orang Inggeris dalam kuasa sastera dunia. Kemudian kita menyaksikan setiap
negara Eropah berhasrat membina takhta sendiri-sendiri dalam sastera, dan yang
paling berjaya ialah Peranchis apabila berhasil meletakkan Paris sebagai kota jantung
sastera dunia.
Dalam wawasan pascamoden terkini, sastera berpusat kepada pergulatan
dengan representasi atas realiti. Teks melukiskan gambaran manusia mnjalani dan
merebut realitinya dengan pelbagai bentangan aneka teks puitis dan prosaik. Sastera
dalam pandangan globalisme Barat telah menjadi sentral kultural atau pusat budaya.
Teori-teori sastera dibentuk di kalangan pemikir sastera yang bersumberkan sastera
sendiri, yang membezakan sebelumnya dengan dunia moden. Dengan niat untuk
mengakademikkan sastera juga mensaintifikkannya, sastera menjadi medan analisis
untuk medan makna daripada siati sumber kekuasaan bangsa.
Sastera telah menjadi medan penyelidikan, tidak sahaja di kalangan ahli kema-
nusiaan atau sains sosial, juga daripada disiplin ilmu yang lainnya. Sastera telah
menjadi primadona kajian, tanpa mengkaji sastera, tidak menemukan realiti
kehidupan. Hal ini sebenarnya adalah jasa pascamoden yang meletakkannya seiring
dengan slogan kekuasaan yang dibawakannya, kekuasaan menjadi pusat dominan
zaman itu. Tokoh-tokoh sastera juga bahasa diagung-agungkan, seperti Foucault,
Baudrilaard, Eco, Kristeva dan lainnya. Pengarang-pengarang pascamoden juga
diperbesar-besarkan mampu mengatasi permasalahan zaman sebelumnya dan
zamannya.
Dan pascamoden juga yang terus mempertahankan Shakespeare, meski ternyata
pengarang ini telah mengambil teks orang lain. Lalu terciptalah istilah-istilah seperti
intertekstualiti, parodi, metafiksyen, meta historiografi dan sebagainya. Pascamoden
pun mementingkan kualiti. Demikianlah secara dasar latar sastera dan persuasanaan
zaman di mana kita hidup dewasa ini.
Memanfaatkan Pascamodernisme
Pascamoden sama seperti zaman moden dahulu, tetap memiliki jaringan
penjajahan dan anasir yang bertentangan dengan nilai Timur dan Islam. Kita
sebenarnya dihadapkan pelbagai permasalahan. Begitu juga dengan globalisasi yang
kita hadapi, bukanlah semata-mata bererti proses pembaratan; dalam globalisme
terdapat istilah relativisime, yang bererti penyesuaian dan penggantian; seandainya
negara lain ingin maju ia haruslah menyesuaikan dirinya dengan rentak kecepatan
dan kemajuan Barat. Relativisme memberi peluang kepada setiap bangsa dan negera
menyusun dan mengembangkan budaya sasteranya menurut nilai dan strateginya
sendiri. Lyotard, Jameson dan Huyssen; yang dengan sendirinya meskipun kita
dilandai oleh sastera pascamodenisme; tetapi kita tetap dengan warna dan wajah
sastera lokal atau setempat. Dengan itu marilah kita mencari nilai diri dan daerah
untuk dikumpulkan memperkuatkan diri.



Mana Sikana
Edward Said telah membuka pekong kolonialisme, demi untuk meneruskan jaja-
hannya mereka menanamkan rasa hormat dan kagetnya kita anak jajahan terhadap
budaya mereka termasuk sastera mereka. Malah suatu ketika dahulu seolah-olah ki-
ta tiada maruah apabila dikatakan bahawa sastera tradisional kita adalah kebanya-
kan ambilan daripada India. Gagasan Said yang melahirkan pascakolonialisme ke-
mudian memeprlihatkan terdapat sastera anak jajahan lebih tinggi daripada penjajah
itu sendiri.


Sastera Sebagai Wacana
Di zaman pascamoden sastera mula dianggap sebagai sebuah wacana. Wacana
ialah perbahasan, dialogikal, dan analisis tentang bagaimana sesebuah karya sastera
itu berkomunikasi dengan khalayaknya. Unsur-unsur keberkesanan, dinamika dan
keaktifan khalayak menjadi adalah indikasi resepsi wacana. Sebuah teks fiksyen mi-
salnya memiliki ekspresi naratif seperti, aplikasi bahasa, pencitraan aksi, kejadian,
watak, latar dan sebagainya, bagaimana kesemuanya aspek itu berperanan dalam
menyampai pemikiran dan makna karya. Wacana juga adalah masuk ke dalam urat
saraf kognisi khalayaknya untuk meninjau aktiviti minda dalam proses pemaknaan-
nya.
Kritikan juga akhirnya berperanan untuk memenuhi tuntutan wacana sastera.
Sebuah karya sastera tidak hanya ditulis untuk memenuhi rangsangan diri sendiri,
tetapi mempunyai tanggung-jawab sosial dan pembangunan tamadun manusia.
Pengarang pun menggerakkan segala kemampuannya dengan indera sasteranya un-
tuk melahirkan karya yang bermutu dan sampai ke tangan khalayaknya. Dia akan
berusaha dengan segala bakat dan kecerdikannya untuk mencipta teks yang mem-
pesona dan mengkagumkan. Dengan demikian sebuah kritikan adalah
penganalisisan bagaimana pengarang menghubungi khalayaknya itu.
Kritikan dalam konteks wacana ini, karya sastra bukan hanya tertumpu kepada
intensi atau makna pengarangnya, melainkan juga konteks produksinya dan
kemudian dapat mengalami proses dekontekstualisasi teks dan rekontekstualisasi
khalayak. Sesungguhnya penekanan diberi kepada konteks resepsinya, ini
termasuklah sifat pragmatis dan pengaruh teks kepada pembaca.
Perlu ditegaskan, bahawa konsep kritikan sebagai wacana ialah berperanan
menganalisis penggarapan pengarang dalam pembinaan tekstualitinya, kemudian
berpindah kepada aspek jaringan hubungan atau komunikasi kontekstual
khalayaknya. Maka analisis itu untuk memperlihatkan aspek nilai dan kekuatan
komunikasi itu. Kajian dalam aplikasi bahasa, daripada penggunaan bunyi,
pemilihan kata, penyusunan ayat dan siratan maknanya sering dijadikan salah
tumpuan untuk melihata wacana sastera. Analisis aspek fabula atau plot, juga dapat
mempertlihatkan wacana pengarang dalam menggerakkan aksi dan peristiwa.
Watak pula tidak hanya sebagai penggerak atau pengembang plot, tetapi di
dalamnya ada dorongan, tekanan dan juga pelbagai kesedaran termasu separuh
sedar dan dunia sublimasinya.
Wacana sastera sesungguhnya adalah akrab hubungannya dengan
pengintelektualan kesusasteraan itu sendiri. Ia mahu membina sebuah kuasa besar
di dalam sastera, justeru itu kritikan adalahj berperanan untuk membina kerajaan
sasteranya yang menghubungkan antara pengarang, teks dan khalayaknya. Wacana

62


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
63
adalah pembina tamaddun sastera dan manusia. Dan kritikan sastera ditugaskan
untuk penilai dan penggerak kepada anjakan paradigma pascamodenisme itu.
Penyakit Pascamoden
Sastera sebagai wacana, menekankan komunikasi, sebuah perjalanan menyusur
makna; meski pascamoden menyediakan sederetan teori dan pendekatannya, tetapi
ada waktunya khalayak terdampar lemas dan hilang dalam medan makna. Malah
praktik signifikasi teks yang dianjurkan setelah kegagalan pencarian makna murni,
juga sering dihadapi oleh rakyat biasa, kerana teks-teks pascamoden kadang-kadang
begitu koplikated sekali. Akibatnya terjadilah apa yang dinamakan nekro-sastera,
kematian sastera. Orang yang bertanggung-jawab dapat mengesan di peringkat
awalnya ialah Barthes. Namun pandangan Baurdrillard mengesannya sebagai gejala
budaya sastera – dalam persepsi masyarakat umum sastera telah mengalami
kematiannya. Justeru minat membaca itu sebagai sebuah naluri telah mengering,
akhirnya khalayak berpindah kepada sastera popular, malah picisan. Proses amnesia
resepsi terjadi dan kerajaan hiburan meluaskan wilayah jajahannya melalui karya-
karya sedemikian.
Teks-teks sastera tersadai jadi hiasan intelektual, sedang yang dibaca dan
dihargai ialah teks-teks bercorak hiburan itu. Ini adalah sebuah penyakit, sebuah
trauma atau ketakutan yang menggejala di zaman pascamoden, yang menjalar dan
mewabak di mana-mana juga angin pascamodenisme menghembuskan nafasnya.
Krisis virus mafia budaya ini menyebabkan aids sastera terjadi dengan hebatnya;
akhirnya pecahlah benteng antara sastera tinggi dengan sastera rendah.
Terbentuknya sebuah masyarakat di mana kendali moral dan estetika dibauri oleh
hipersensibiliti, justeru teknologi baru dan muzik turut serta mengaburkan hieraki
teks tinggi., yang puncaknya terbinanya ideologi nihilis medan menurunnya
apresiasi terhadap kesusasteraan.
Indera kita dapat menyaksikan lambakan teks-teks popular. Di Barat pernah
terjadi di penghujung aliran romantisisme berlaku lambakan begini, kelahiran
modenisme menjanjikan rasionalisme dan mengembalikan sastera ke takhtanya.
Namun, modenisme juga tak mengandung apa-apa, kecuali benih kehancuran dan
kenihilan. Pascamodenisme yang kemudiannya menentang modenisme itu,
melahirkan praktik kesasteraan yang tidak begitu difahami dalam konteks perspektif
konvensional - sastera adalah representasi daripada ruang budaya menampilkan
kekuasaan, berlakulah penyilangan kuasa muncul gelanggang wahana bertarungnya
kekuasaan - yang akhirnya menghadirkannya semula – the return of necro-textual
literature.
Persuratan di zaman ini sesungguhnya kehilangan takhta, kehilangan
kekuasaannya, kehilangan peminatnya. Sastera dilunturkan oleh teks-teks popular.
Orang lebih gemar membaca yang popular. Sastera dan bahasanya menjadi popular
dan kadang-kadang berlaku pencemaran, dan perlu pemurniannya oleh sastera
tinggi.Teks-teks sastera menjadi sang musafir di dalam benuanya sendiri, marginal
dan terpinggir. Dalam tradisi sastera zaman Abassiyyah pemerosakan kemurniaan
sastera ini dinamakan adab al-mafasid, yang disebabkan oleh berlakunya pembauran
atau ikhtilad antara su’uzhan, buruk sangka dan mutatharrif sifat melampau.



Mana Sikana
Dalam konteks inilah kita memerlukan reformasi sastera atau al-Islah al-Adabi,
yang sering dilakukan oleh golongan sufi dalam sastera. Elok kita mendekati persu-
ratan daripada susuran aslinya.
Menjadi Manusia Sastera
Untuk menjadi manusia sastera yang mutakammil, saya rasa contoh paling ideal
ialah Junjungan Besar kita Nabi Muhammad s.a.w. Perlu ditegaskan Nabi Muham-
mad saw bukanlah seorang penyair seperti yang dituduh oleh musyrikin Quraisy.
Nabi Muhammad s.a.w. menguasai bahasa sastera, sejak zaman remajanya sudah
menguasai banyak dialek bahasa Arab. Mengetahui kiasan, kata-kata hikmah, peri-
bahasa dan syair-syair Arab. Nabi juga menguasa sastera daripada pelbagai kabilah
orang-orang Arab Jahiliyyah. Dan Baginda bersahabat dengan para penyair dan pe-
midato.
Sewaktu Islam mula dianut dan penyebarannya dituntut, Nabi Muhammad s.a.w.
menyebarkan dakwahnya dengan menggunakan bahasa sastera, bahasa dialek dan
menggunakan pribahasa dan sebagainya untuk memudahkan fahaman dan men-
gindahkan uslubnya. Baginda juga mengelakkan daripada bahasa yang sukar diafa-
hami apalagi yang memerlukan pentakwilan. Syair-syair dibacakan di masjid-masjid.
Bukan sahaja penyair menjadi sahabatnya, juga ada yang dilantik sebagai ketua Pe-
rang. Ibnu Rawahah adalah ketua Perang Islam yang ketiga.
Kita sering merujuk Surah al-Rum, yang mafhumnya Dan daripada tanda-tanda
kebesaran Allah ialah menjadikan langit dan bumi dan perbezaan bahasa, sastera
dan bangsa kamu sekalian, sesungguhnya yang demikian itu adalah tanda-tanda ba-
gi orang yang berilmu.
Melayu itu ialah Tuah-Jebat
Menjadi manusia Persuratan menurut imsal Junjungan, membawa kita kepada
penyempurnaan Persuratan Melayu. Persuratan Islamlah yang membentuk manusia
dan persuratan Melayu.
Bagaimanakah manusia Melayu itu? Di sini izinkan saya berbicara tentang ma-
nusia Melayu, kerana di situ al-nafs Persuratan Melayu itu. Bagi saya Melayu itu ia-
lah Tuah-Jebat. Dua buah watak yang digabungkan, melahirkan manusia bernama
Melayu. Melayu bukannya Tuah sahaja, atau Jebat sahaja! Melayu adalah Tuah-Jebat.
Marilah kita susuri manusia Melayu ini daripada teksnya. Hang Tuah adalah sa-
tu-satu wira Melayu yang tak ada tolok bandingnya. Hang Tuah telah di terima se-
bagai wira Melayu sejak lebih 500 tahun. Hang Tuah adalah ciptaan sejarah keagon-
gan empayar Melaka. Hikayat Hang Tuah ialah epik Melayu di dalamnya telah
dilahirkan cita-cita bangsa Melayu. Ia telah mencatatkan riwayat bangsa ini dari seja-
rah mulanya, melewati zaman pembangunan lalu di zaman kebesarannya. Tokoh
Hang Tuah mewakili bangsa Melayu sendiri.
Gambaran tentang kepahlawanan Hang Tuah. Di samping itu, hikayat ini juga
menggambarkan konsep kesetiaan kepada raja seperti yang dipegang oleh watak
Hang Tuah dan sebaliknya tergambar pula konsep penderhakaan melalui watak Je-
bat. Dua perkara penting dikemukakan dalam hikayat itu iaitu tentang keperwiraan

64


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
65
Hang Tuah dan penderhakaan Jebat. Namun konsep wira yang menjadi pusat subjek
Hikayat Hang Tuah. Hampir empat perlima cerita dalam hikayat tersebut menggam-
barkan kegagahan Hang Tuah, manakala yang lain menyentuh watak Jebat sebagai
penderhak. Tidak syak lagi Hikayat Hang Tuah sebagai karya klasik yang teragung
kerana berjaya menggambarkan budaya dan sistem hidup masyarakat Melayu seca-
ra realistik. Hang Tuah lahir di tengah-tengah masyarakat feudal; pahlawan yang
mempertahankan dan mendaulatkan feudalisme itu sendiri.
Za’ba berpendapat bahawa Hikayat Hang Tuah merupakan lambang kesatriaan
dan kepahlawanan bangsa Melayu, dan Hang Tuah adalah satu contoh yang tinggi
dan mulia dalam mengabdikan diri kepada sultan dan negara (1951 : 11). Pendapat
Za’ba itu dengan sendirinya menjelaskan bahawa terdapat dua perkara pokok dalam
Hikayat Hang Tuah, iaitu ketaatan kepada raja dan kecintaannya kepada negara iaitu
Melaka. Demikianlah juga yang dilihat oleh Sulastin dan Kassim Ahmad tentang
dua perkara pokok yang menjadi persoalan utama dalam hikayat tersebut. Hang
Tuah sebagai simbol kewiraan Melayu dapat dilihat daripada sifat-sifatnya, iaitu:
Berbakti dan taat setia kepada raja, sentiasa mencurahkan segala daya dan nya-
wa demi kesetiaannya kepada raja. Hang Tuah bijaksana, pandai dan ada juga tipu
muslihatnya seperti memujuk Tun Teja dan memperdaya musuh-musuhnya untuk
mendapatkan keris Taming Sari di tangan Jebat dan membunuhnya.
Kemenangan selalunya berada di pihak Hang Tuah. Tidak pernah sekalipun
Hang Tuah mengalami kekalahan. Kejayaan Hang Tuah dalam setiap perlawanan
atau pertempuran sebagai suatu peristiwa yang menjadi legenda masyarakat Melayu.
Hang Tuah ialah wira Melayu yang tidak pernah kecewa dalam sebarang
pertempuran malah ia memiliki kepintaran dan daya fikir yang tinggi.
Kebijaksanaan dan kepintaran yang diberikan kepada tokoh Hang Tuah adalah
suatu anugerah untuk membuktikan keperwiraannya.
Hang Tuah merupakan watak utama dalam hikayat ini untuk menggerakkan
cerita. Walau bagaimanapun, sifat fizikal watak ini tidak pula digambarkan. Apa
yang banyak digambarkan hanyalah sifat-sifat peribadinya. Hang Tuah dikatakan
berasal dari Sungai Duyung, kemudian berpindah ke Bentan. Sewaktu kecilnya dia
belajar mengaji al -Qur'an, bahasa Arab dan berguru. Pada waktu itu dia sudah pun
memperlihatkan sifat keperwiraannya dengan membunuh penyamun. Hang Tuah
memiliki ilmu sakti, ilmu firasat dan imu pustaka. Dengan ilmu-ilmu itu dia dapat
mengetahui sesuatu yang terselindung, berkebolehan mengubati orang sakit, boleh
mengubah dirinya menjadi binatang dan berupaya menjadikan meriam tidak
meletup.
Dilihat dari segi pergaulannya dalam masyarakat, Hang Tuah dikenali sebagai
manusia yang lemah lembut, baik budi bicara, tidak hilang akal dan sentiasa
menghormati orang lain. Perkataan yang gemar digunakannya ialah ‘bicara’ dan
‘fikir’ yang menunjukkan dia suka berunding dalam sesuatu hal untuk mencapai
sesuatu keputusan. Sewaktu kecilnya dia berunding dengan kawan-kawannya,
tentang hal-hal yang mereka lakukan. Mereka sama-sama bersetuju untuk belayar di
laut. Begitu juga dalam usia remajanya, Hang Tuah berunding dengan sahabat-
sahabatnya, misalnya untuk pergi berguru. Sifat menghormati hak orang lain dapat
dilihat sewaktu dia berjaya membunuh Kertala Sari yang telah menyamun harta
orang-orang Melaka. Kesemua harta itu telah diserahkan kepada tuan empunya
harta tersebut. Hang Tuah telah menunjukkan sikap yang tidak mementingkan diri
sendiri tetapi untuk kepentingan masyarakat umum.



Mana Sikana
Hang Tuah juga terdidik dengan ilmu keagamaan meskipun dia bukanlah
seorang yang alim. Sewaktu kecilnya Hang Tuah sudah belajar membaca al-qur'an,
belajar ilmu agama daripada para ulama dan mempelajari bahasa Arab sehingga dia
dapat bertutur dalam bahasa tersebut. Sifat-sifat keagamaannya semakin jelas
tergambar pada hari-hari tuanya dengan hidup sebagai seorang yang zuhud.
Peristiwa masuk ke dalam kubur sangat mengesankan jiwa Hang Tuah: bahawa
alam barzakh itu penuh dengan kenikmatan bagi mereka yang takutkan Allah;
begitulah sebaliknya, penuh dengan penyeksaan bagi mereka yang
membelakangkan Allah.
Sebagai seorang hulubalang dan kemudiannya diberi gelaran laksamana, Hang
Tuah dikatakan sebagai seorang wira yang serba sempurna baik dari segi jasmani,
rohani, pemikiran, tindakan dan cara dia berbudaya dengan orang lain wira unggul
ialah pertama, dia memiliki sifat-sifat baik dan istimewa; dan kedua dia berjaya
melaksanakan tugas-tugas yang berat, seperti sanggup membunuh sahabat sendiri,
Jebat dan mempertahankan negaranya daripada ancaman musuh. Hang Tuah
dianggap sebagai wira yang memenuhi segala ciri keperwiraan dan memenuhi
konsep heroisme.
Watak Hang Jebat selalunya bersaing dengan watak Hang Tuah. Hang Jebat
adalah sahabatnya yang paling rapat berbanding dengan sahabat-sahabatnya yang
lain. Boleh dikatakan fikiran Jebat lebih diutamakan daripada fikiran sahabat-
sahabat yang lain. Kerana itu juga konsep keperwiraan Jebat tidak kurang hebatnya
dengan Hang Tuah. Dari segi fizikal, Jebat dikatakan berkulit putih dan rambutnya
ikal. Gambaran singkat ini boleh menjelaskan kepada kita bahawa Jebat seorang
yang kacak orangnya. Dia mempunyai suara yang merdu dan pandai membaca
hikayat. Dengan kata-kata lain dia penyair atau sasterawan dalam konteks
zamannya.
Dia juga memiliki ilmu seperti ilmu batin, ilmu sakti, ilmu firasat dan ilmu
pustaka. Kehandalannya lebih kurang sama dengan Hang Tuah kerana mereka
sama-sama berguru di Bentan dan di Majapahit. Walau bagaimanapun, sifat yang
menonjol pada diri Jebat ialah sikap keras hati. Sewaktu zaman remaja, Hang Tuah
mencadangkan mereka berlima sahabat pergi belayar. Hang Jebatlah orang yang
memperlihatkan sifat agresif dan berani, “mengapa tidak belayar saja.” Begitulah
kata Jebat kepada sahabat-sahabatnya. Begitu juga sewaktu mereka di Majapahit,
Hang Jebat juga mencadangkan supaya mereka semua mengamuk di istana Betara
Majapahit kerana keris Taming Sari yang baru dihadiahkan oleh Betara Majapahit
hilang. Daripada keterangan ini, menunjukkan Hang Jebat adalah seorang yang
berani dan keras hati.
Jebat juga terkenal sebagai seorang yang suka berterus terang, radikal dan tegas.
Baginya tidak ada sifat berselindung atau memuji-muji apalagi bekerja untuk
mendapatkan nama atau sanjungan. Tegasnya dia adalah manusia yang bukan
gilakan pangkat. Walau bagaimanapun, Jebat juga mempunyai kelemahannya
sendiri. Jebat selalu bertindak terburu-buru dan kadang-kadang melulu pula. Sifat
ini tentu berbeza dengan Hang Tuah yang berfikiran tenang dan panjang. Satu sifat
Jebat yang paling mulia ialah sentiasa memegang janji kepada sahabat. Kesetiaannya
kepada sahabat tidak ada tolok bandingnya ketika itu. Jebat adalah pahlawan
Melayu yang berani menentang raja semata-mata kerana persahabatan. Walaupun
raja dianggapnya bayangan Tuhan dan tidak ada siapa yang berani menentangnya,
tetapi Hang Jebatlah satu-satunya manusia yang sanggup berdepan dengan raja dan

66


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
67
ingin memecahkan tradisi feudalisme: pantang Melayu menderhaka. Hang Jebat
percaya apa yang dilakukannya adalah benar dan hak.
Begitulah sang Melayu itu ia adalah gabungan dua orang perwira. Namun ada
juga orang yang mencuiriga kewujudannya. Barangkali setelah kita menemui surat
beranak Hang Tuah barulah kita percaya bahawa ia pernah dilahirkan.
Persuratan Tidak Relevan
Teknologi dan pelbagai tantangannya telah melunturkan kerelevanan sastera
kurun ini. Mula kedengaran muzik kematian bagi sastera, malah ada pula yang telah
menguburkannya. Inilah penyakit besar sastera, sesungguhnya zaman
kegemilangannya sedikit demi sedikit telah berakhir. Ketidak relevanan sastera,
bagaikan kegagalan sebuah persona memasuki dunia real, justeru dunia yang
dimasukinya berbaur dengan segala imej kesukaran, analogi Lacan ini dialami oleh
kesusasteraan kita. Dalam tata masyarakat yang terbenam dalam libido ekonomi
sastera lebih dilihat sebagai sebuah dunia kapitalia.
Ketidak relevanan sastera, sesungguhnya mempunyai kaitannya dengan imej
cermin sastera kita yang wajahnya ditakluki oleh imperialisme bahasa. Bahasa
Melayu kehilangan kedaulatannya. Imperialisme bahasa sebenarnya masih
membelenggu pemikiran kita. Pengaruh imperialisme bahasa sememangnya sangat
besar terhadap rakyat sesebuah negara yang kurang memahami hakikat bahasa itu
sebenarnya. Antara lain, pengaruh ini boleh membangkitkan keraguan di kalangan
kita ini yang mempersoalkan mutu pendidikan yang menggunakan bahasa
kebangsaan sebagai bahasa pengantarnya. Dewasa ini imperialisme bahasa ini masih
lagi berlaku walaupun dalam bentuk yang berbeza. Misalnya, masih ada kalangan
kita yang kurang yakin akan kemampuan bahasa tertentu untuk menjadi bahasa
ilmu serta bahasa sains dan teknologi.Bahkan yang lebih malang lagi apabila ada
golongan yang berpegang kepada bahasa menentukan pemikiran dan kemampuan
kognisi manusia sekalipun linguistik moden telah membuktikan bahawa itu tidak
semestinya berlaku. Pengajaran daripada rentetan sejarah imperialisme bahasa ini
ialah tidak akan ada bangsa di dunia ini yang akan menjadi mundur disebabkan oleh
bahasa yang digunakannya. Tidak ada bangsa yang berjaya mencipta tamadun yang
tinggi dengan menggunakan bahasa orang lain. Di bawah sedar Melayu ketidak
yakinannya terhadap bahasanya sendiri.
Implikasi imperialisme bahasa terbawa-bawa ke dalam sastera, kerana antara
keduanya mempunyai pertalian tamadunnya. Kita merasakan adanya ketegangan
yang dialami sasterawan tanah air dengan kemunduran bahasa yang alienasi dan
dislokasi. Seakan sebuah trauma. Kita perlu melakukan bekam sastera untuk
mengeluarkan darah kotor bahasa. Permasdalahn yang kita hadapi sekarang ialah,
kalau dalam 50 tahun yang lalu sastera bermula dijadikan alat untuk kemerdekaan
dan pembentukan moral dn sahsiah berhasil menjadi wahana integrasi politik.
Mampukah ia menjadi wahana transformasi sosial masyarakat pascamoden. Agar
sastera kembali mempunyai otoriti dan kekuasaannya apakah yang perlu kita
lakukan?Adakah lahirnya sastera pemberontakan? Kita sedar bahawa persuratan
atau sastera dtentukan oleh nilai gunanya.




Mana Sikana
Membina Tamadun Baru Sastera
Untuk melahirkan sebuah tradisi sastera Melayu yang merdeka dan
berkepribadian sendiri, kita perlu membina tamadun baru. Pembinaannya adalah
suatu kewajipan bagi umah atau bangsa yang ingin berjaya, unggul dan sempurna.
Tamadun adalah manifestasi kecemerlangan hidup dalam pembagai bidang, dan
bidang persuratan adalah salah sebuah daripada paksi pentingnya.
Dalam konteks pembinaan tamadun ini, elok kita memasdarkannya daripada
maqam tamadun Islam; iaitu bersumberkan Al-Quran dan al-Hadis. Sementara
unsur pemakqamannya ialah daripada roh al-Islami, al-thaqafiah Hawliyyah dan al-
khudur al-aliyyah. Dalam tamadun konsep Islam kita menemui empat istilah iaitu
al-umran, al-madaniyyah, al-khadariyyah dan al-mudunniyyah. Al-Umran, (ibn
Khaldun) merujuk kemakmuran negara, ketinggian masyarakat, kekuatan ekonomi,
keselamtan dan kekuataan akliyyah. Al-Madaniyyah pemerkasaan pembandaran
daripada fizikal dan metafizikalnya. Al-Khadariyyah kemajuan daripada maddiyah
dan rohiyah.
Tamadun Baru Sastera Melayu bersandarkan Syiar Islam, kebudayaan murni Me-
layu dan Sumbangan Dunia terkini. Tegasnya secara khusus kita melihat:
1. Kesusasteraan Islam
2. Kesusasteraan Melayu Murni
3. Kesusasteraan Dunia terkini.
Ciri-ciri pembentukan tamadun baru ini beradsarkan
1. Kekuasaan ilmu
2. Kewawasaan al-aqliyyah
3. Kekuatan kreativiti
4. Penerokaan dan perlanggaran
5. Keunggulan dan penjatidirian
Ketiga-tiga sumber ini hendaklah digembeling bersama tujuannya ialah untuk
mencipta zaman kegemilangan kesusasteraan Melayu pascamoden. Teknologi cang-
gih telah dikenal-pasti meruntuhkan kerajaan sastera, mengapa tidak kita gunakan
teknologi itu untuk menabalkan semula kesuasteraan itu.
Kuala Lumpur Sebagai Jantung Sastera Melayu Dunia
Salah satu daripada prinsip pembinaan sesebuah tamadun ialah aspek tempat.
Perkataan al-madani, al-khadari dan al-mudun merujuk kepada istilah bandar dan
perbandaran. Malah civilization yang berasal bahasa latin civitas bermakna bandar.
Justeru itu, kita perlu mempunyai tempat yang menjadi pusat ketamadunan itu. Pe-
milihan kota Kuala Lumpur sebagai pusatnya saya kira adalah tepat. Maka di sinilah
dibina bangunan yang mejadi tempat tumpuannya.
Kita menyaksikan dalam sejarah kebangkitan, renaissance, Eropah berebut-rebut
untuk menjadi pusatnya, akhirnya dalam percaturan itu, Peranchis telah berjaya me-
letakkan Paris, yang kemudiannya diisytiharkan sebagai jantung seni Eropah. Di Ru-
sia pula bandar St. Petersberg menjadi kota sasteranya apabuila ramai warga penulis
berhijrah ke bandar itu. Maka, kita pun ingin menjadikan Kuala Lumpur sebagai

68


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
69
jantung sastera Melayu Dunia. Di sini, Kuala Lumpur, sudah berdiri agam bangunan
tersergam Dewan Bahasa dan Pustaka, yang menjadi simbol tamadun persuratan
Melayu. Maka di sinilah juga berdirinya rumah Sastera yang menjadi pusat kegiatan
sasterawannya.
Dalam konteks rumah Sastera dan pembinaan tamadun baru ini, sesuai dengan
ciri dan wawasan barunya, izinkan saya membuka dunia realisme magis saya. Reali-
tinya GAPENA ialah representasi pengarang Malaysia, bersatu dalam buah ideologi
kewargaan dan mempunyai strategi dan rancangannya, antaranya ialah penziarahan
dan pengumpulan Melayu Dunia. Dan kini GAPENA memiliki rumahnya sendiri
menjadi pusat pemerintahannya dan distribusi.
Konsep Kepertuanan Sastera Melayu
Salah satu permasalahan yang sering dibicarakan ialah persoalan sastera kebang-
saan Malaysia ialah konsep dan dasar sastera kebangsaan itu; seolah-olah mem-
bayangkan bahawa ada percaturan tentang kedudukan dan kekuasaan serta kedau-
latannya. Tidak kurang pula ada cadangan supaya diwujudkan sebuah dasar sastera
kebangsaan.
Dalam gerakan politik negara, yang memegang arus perdananya ialah politik
Melayu. Tidak perlu kita hujahkan, justeru ia adalah warisan empayar Melaka, yang
kemudiannya telah dimusnahkan oleh penjajahan yang begitu panjang. Namun ia
bangun semula untuk memerdekakan negara ini. Politik Melayu berjaya meletakkan
kepertuanan Melayu di negaranya. Maka dunia sastera Melayu juga seharusnya
menemukan takdirnya seperti gerakan politik itu. Sastera Melayu harus dimartabat
dan dimaqamkan (dibangunkan) kekuasaannya. Jika perlu dasar sastera kebangsaan
itu perlu dibangunkan kemaujudannya.
Pembinaan Teori Sastera
Subjek pembinaan teori sastera adalah subjek yang banyak dibincangkan dalam
sastera Melayu mutakhir. Teori yang menjadi landasan kritikan, dan menjadi
tuntutan dalam kerangka kerja akademik di yayasan-yayasan tinggi dengan cepat
menerima kehadirannya. Kita menyaksikan beberapa teori sastera telah muncul.
Teori sastera tersebut ialah Teori Taabudiyyah, Puitika Sastera Melayu,
Pengkaedahan Melayu, Teksdealisme, Takmilah dan lain-lainnya.
Teori Taabudiyyah dihasilkan di sekitar tahun 1984, yang kemudiannya
diterbitkan pada tahun 1986 dalam buku Teori dan Kritikan Sastera: Kaedah dan
Aplikasi, dan ia merupakan teori sastera Malaysia kali pertamanya dicipta di tanah
air. Teori Taabudiyyah, daripada namanya sahaja dapat kita kenal sebagai teori yang
berorientasikan Islam. Puitika Sastera Melayu yang dicipta oleh Muhammad Haji
Salleh di sekitar l988. Bermula dengan gagasan syarahan pengukuhan kesarjanaan,
kemudian dikembangkan menjadi sebuah teori sastera berpaksikan kepada sastera
Melayu tradisional. Sama halnya dengan teori Pengkaedahan Melayu, yang juga
menggunakan teks sastera tradisional untuk diturunkan teorinya yang dilakukan
oleh Hashim Awang pada tahun 1989. Teori-teori ini mula digunakan dengan
berkesannya dalam penulisan esei, kritikan dan kajian-kajian akademik berupa
kertas projek dan tesis sarjana dan falsafah kedoktoran.



Mana Sikana
Dalam dekad 1990-an muncul lagi beberapa teori sastera. Teori Teksdealisme
bermula pada tahun 1993 yang asal tersiar di akhbar Utusan Malaysia: iaitu pada 18
September 1993 saya menulis “Tentang Jebat”, 25 September 1993 “ Mengukuhkan
Teks Sastera” dan 2 Oktober 1993 dengan “Prinsip Keperibadian Pengarang”.
Ketiga-tiga tulisan itu sebenarnya sebuah rencana yang dipenggalkan,
perbicaraannya berhubung dengan konsep, dasar dan prinsip kritikan teksdealisme.
Sementara teori Takmilah dibangunkan oleh Shafie Abu Bakar mempunyai orientasi
keislaman yang lebih bersifat sufistik Tulisan yang menjadi janin teori ini ialah
“Sastera Islam: Teori Pengindahan dan Penyempurnaan dalam Rangka Tauhid”
pada tahun 1994.
Sementara Teori Konseptual – Kata Kunci diperkenalkan oleh Mohamad
Mokhtar Hassan. Setiap individu pada umumnya mempunyai konsepsi yang
tersendiri terhadap sesuatu idea, perkara, hal, objek dan sebagainya. Konsepsinya itu
boleh jadi sama dengan individu yang lain dan boleh jadi juga berbeza dengan
individu yang lain. Konsepsi atau dalam Bahasa Inggeris ‘conception’ bermaksud “act
of forming idea or notion”. Walau bagaimanapun, konsepsinya itu boleh jadi sama
dengan individu yang lain dan boleh jadi berbeza. Perbezaan atau persamaan itu
bergantung kepada latar belakang, pendidikan, lingkungan masyarakat, keper-
cayaan, adat budaya, ideologi, pertubuhan yang diperjuangkan dan sebagainya. Se-
muanya ini sedikit sebanyak mempengaruhi individu itu termasuk seseorang penga-
rang terhadap sesuatu konsep. Sebagai misalannya konsep kepimpinan bagi seorang
pemimpin berbeza dengan mereka yang dipimpin. Bagi pemimpin, mungkin konsep
kepimpinan baginya sebagai kegiatan mempengaruhi. Bagi yang dipimpin pula, ke-
pimpinan sebagai suatu personaliti dan kesannya. Tidak mustahil pula mereka
mempunyai persamaan konsep.
Sastera kita telah masuk ke bidang yang baru iaiu penciptaan teori sastera sendiri.
Ini adalah satu penambahan baru dalam tradisi astera Melayu, yang sedia ada ialah
penulisan teks dan kritikan sastera. Dalam perbincangan penteorian ini, ada yang
menyatakan, bahawa penciptaan itu sebagai tanda satu mercu pencapaian dalam
tamadun atau peradaban….its a sign of a great civilisation…. Sesungguhnya pencip-
taan teori dekat hubungannya dengan falsafah dan budaya sesuatu bangsa itu. Me-
mupuk dan menyemarakkan teori sastera sendiri adalah tugas orang yang menrima
tamadun baru itu. Memang ada alasan untuk mereka yang menidak atau mencurigai
keabsahannya. Ini adalah warisan orang-orang yang tidak bertamadun.
Meskipun teori-teori tempatan mula mengambil alih teori yang dahulunya di-
dominasi oleh Barat, tetapi hegemoni dan kekuasaannya masih amat terasa. Barat
bagaikan menjadikan dunia teori seolah-olah sebuah taman perbungaan. Tanahnya
ternyata subur, dan benihnya ditaburkan lalu tumbuh berakar, menguntumkan dan
kembanglah satu demi satu bunga teori itu. Dan aromanya sampai ke negara kita.
Kita telah sedia maklum teori-teori yang sedia berkembang ialah teori formalisme,
strukturalisme, semiotik, pascastrukturalisme, dekonstruksi, intertekstualiti, arke-
taipal, psikonalisis Lacan, kepengaruhan, pascamodenisme, feminisme, penerimaan
khalayak, sosiologi sastera, hermeneutiks, fenomenologi, new historisisme, pascako-
lonialisme, teori budaya dan eko-sastera.
Teori sastera yang berkembang kini, yang dinamakan sebagai teori sastera zaman
pascamoden. Dimulai dengan strukturalisme hinggalah kepada teori
pascakolonialisme dan teori studi budaya yang mendapat tempat istimewa zaman
terkini. Tidak syak lagi, kesemua teori itu datangnya daripada Barat, bagaimana pun
ia telah mengalami penyaringan dan sesuai untuk dipelajari dan dikuasai. Dunia

70


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
71
sastera kita, tegasnya dunia teori dan kritikan sastera tanah air, mahu tidak mahu
terpaksa berhadapan dengan teori-teori tersebut. Ini adalah akibat daripada revolusi
dunia maklumat dan situasi global hari ini, yang segala-galanya cepat hadir dan dan
hegemonikal sifatnya.
Memugar Keindahan Seni Melayu
Masih dalam konteks teori, saya kira dalam usaha pembinaan teori sastera
mandiri ini, pemugaran keindahan seni Melayu. haruslah dijadikan perhatian.
Utama kepada pembinanya. Seni persuratan Melayu berbeza dengan konsep seni
bangsa lainnya. Keindahannya bertunjang pada akar Melayunya dan Islaminya.
Apakah teori-teori sastera yang telah terbina setakat ini, sudah berhasil memugar
estetik seni sastera Melayu itu?
Kritikan Sastera
Teori sastera yang dibina itu diharapkan akan dapat meningkatkan mutu
penulisan kritikan dan esei sastera tanah air. Salah satu daripada paksi teori sastera
ialah untuk memperkukuh tradisi kritikan sastera itu. Tradisi kritikan berfungsi
secara keseluruhannya untuk mengangkat martabat kesusasteraan sesuatu bangsa
itu. Ada tanda-tanda yang menunjukkan bahawa terdapat sebilangan pengkritik kita
yang menggunakan teori-teori baru itu, bagaimana pun masih ada yang kekal
dengan teori moden dan pascamoden yang dibawa daripada luaran. Di antara
penulis yang prolifik dan berkualiti ialah Sohaimi Aziz, Hashim Ismail, Rahman
Shaari, Rosnah Baharuddin, Noriah Taslim dan lain-lainnya. Di kalangan penulis
muda ada kecenderungan seperti Faisal Tehrani, Marsli N.O. yang menulis esei-esei
sastera.
Sukar kita hendak mencari kritikawan atau eseis yang kuat di kalangan penulis
muda. Menghasilkan pengkritik atau pengkaji sebenarnya jauh lebih sukar untuk
melahirkan penulis. Pengkritik terpaksa membaca teks kreatif, menguasai teori dan
pendekatan serta luas bacaan, juga dibentuk oleh latihan demi latihan. Apa pun kita
haruslah bersedia untuk melahirkan pengkritik-pengkritik muda kita. Sastera tanpa
pengkritik bagaikan anak kehilangan ibu. Dalam konteks ini, dunia kritikan sastera
memerlukan: Pembina, Penguasa, Pemikir, Pengamal dan Pengajar atau 5 P.
Sistem 5P adalah rangkaian pemeringkatan seseorang itu dalam memartabatkan
teori dan kritikan sastera dan seterusnya memartabatkan kesusasteraan. Bermula
daripada bawah, Pengajar ialah orang-orang yang bertanggung-jawab mengajar teori
sama ada di sekolah apalagi di universiti. Di tangan mereka inilah teori disebar dan
dipergunakan untuk apresiasi atau kerja-kerja kritikan. Pengamal, teori dan kritikan
sastera hanya akan bermakna apabila ada pengamalnya, yang melakukan kritikan
praktis atau praktikal itu. Tegasnya, kita sesungguhnya sangat memerlukan kritikan
praktikal maka di tangan mereka inilah produksinya. Teori sastera kita hanya akan
bermakna apabila kita telah memiliki segolongan pengamal yang konsisten dan
bertanggung-jawab. Pemikir pula manusia yang mencari jalan bagaimana hendak
meningkat mutu sastera kita melalui teori dan kritikan. Sesuai dengan namanya
pemikir ialah yang sentiasa menggerakkan wacana dan intelektualismenya untuk
memartabatkan sastera. Pemikir ialah manusia penggerak minda sastera.



Mana Sikana
Pencapaian seorang pemikir yang aktif dan dedikasi akan membawa dirinya
kepada seorang Penguasa. Penguasa membawa erti sebagai seorang yang berkuasa,
berotoritatif, wibawa dan dihormati. Nilai-nilai dan takdir sastera di tangannya.
Orang-orang inilah yang bekerja sebagai pemantau, penasihat, juga penilai puncak
sastera. Di kalangan mereka inilah yang duduk sebagai panel-panel hakim,
terutamanya yang menentukan hadiah dan anugerah berprestij peringkat negara
atau antarabangsa. Dan daripada kesemu lapisan P itu biasanya akan muncul pula
manusia yang diberi nama Pembina; maksudnya pembina teori dan kritikan sastera..
Seorang pembina teori bermula dengan mempelajari teori, mengamalkannya,
pemikir, penguasa dan hasil pengalaman bertahun-tahun, menyedari fenomena
sastera, memahami tuntutan pembinaan sesebuah teori termasuk konsep nilai dan
sebagainya; akhirnya ia mencuba membina teori sastera. Ia adalah seorang teoretis.
Kesemua 5 P itu mempunyai peranannya masing-masing. Pembina, Penguasa,
Pemikir, Pengamal dan Pengajar teori dan kritikan sastera akan dapat
memartabatkan dunia kritikan dan duinia sastera secara keseluruhananya. Fungsi
kritikan di sini merupakan puncak daripada segala fungsinya.
Menerbitkan Jurnal Sastera
Untuk memperkukuh genre kritikan dan penulisan esei haruslah difikirkan
perlunya menerbitkan sebuah jurnal sastera. Dewan Sastera telah memberi khidmat
yang baik dalam pertumbuhan teks kreatif dan memberi ruang kritikan atau esei
sastera, namun kita memerlukan sebuah ruang untuk tulisan bersifat kajian,
akademik dan ilmiah. Ketiadaan wahana untuk kritikan ilmiah ini, sastera Melayu
kehilangan analisis-analisis berharga untuk meningkatkan kesusasteraan Melayu.
Tahun 1970-an – 1980-an, masih segar dalam ingatan majalah Dewan Bahasa
menyediakan ruangan yang cukup lumayan. Suatu ketika dulu Dewan Sastera juga
menyiarkan tulisan akademik, tetapi kian hari ia kian menghilang dan diisi oleh
tulisan separa akademik.
Perisa disediakan untuk esei dan kritikan ilmiah untuk puisi sahaja, namun
sifatnya sangat berkala. Malay Literature pun demikian, tetapi tujahannya untuk
dunia antarabangsa. Pernah diputuskan bahawa sebuah jurnal untuk pengembangan
teori dan kritikan akan diterbitkan, namun ia masih menjadi sebuah mitos tanpa
legenda. Permasalahan penyediaan penerbitan akademik untuk sastera, haruslah
diambil berat.
Tradisi Metakritik
Boleh dikatakan tidak mentradisi dalam dunia sastera kita apa yang dinamakan
metakritik. Metakritik ialah istilah kritik atas kritik. Maksudnya, setelah seseorang
itu membuat kritikan praktikal terhadap sesebuah karya, maka ada pula pengkritik
lain yang cuba membahas dan menilai kritikan yang telah dilakukannya.
Pertelagahan antara pengkritik dengan penulis sering terjadi. Para pengkritik
selalu dikatakan tidak berjaya menyelami hasrat batin karya penulis yang
dibincangkannya. Penulis menganggap para pengkritik itu gagal, sementara
pengkritik pula mengatakan dia melakukan kerjanya dengan berpandukan sesuatu
pendekatan atau metodologi. Tidak kurang pula terjadi kesilapan-kesilapan yang
dilakukan oleh pengkritik, sebuah karya yang baik dikatakannya tidak baik,

72


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
73
begitulah sebaliknya. Kesilapan seperti ini jika berlanjutan, implikasinya sangat
buruk terhadap perkembangan kesusasteraan. Justeru itu, salah satu fungsi kritikan
dalam aspek praktisnya ialah mengajar para pengkritik itu sendiri.
Ada berbagai-bagai cara ajaran yang dilakukan, selain mengamalkan kritik atas
kritik, seseorang pengkritik itu juga perlu meneliti kritikan yang pernah dilakukan
oleh orang lain terutamanya mereka yang berpengaruh. Ada orang berpendapat
bahawa untuk menjadi seorang pengkritik yang bertaraf kritikawan, adalah lebih
susah daripada menjadi seorang penulis. Di Indonesia, umpamanya, begitu ramai
penulisnya, tetapi hanya beberapa orang sahaja pengkritik yang berpengaruh,
contohnya H.B. Jassin yang dianggap sebagai kritikawan paling berpengaruh.
Sebenarnya kritikan bukan sahaja berfungsi untuk mengajar para penulis, tetapi
juga para pengkritik. Apabila seseorang pengkritik yang sensitif melakukan kritik
terhadap kritikan yang lain, dia akan dapat mempelajari aspek-aspek kritikan yang
diterap dan diaplikasikan oleh pengkritik tersebut. Tegasnya, seorang pengkritik
dapat belajar daripada kritikan orang lain. Umpamanya seorang pengkritik muda,
mungkin dapat belajar dari pengkritik yang sudah dewasa dan matang. Begitu juga
sebaliknya, seorang pengkritik lama, boleh belajar dari pengkritik muda yang
khusus di bidang kritikan kerana pendekatan atau metodologi pengkritik lama
mungkin sudah tidak sesuai lagi.
Sebuah tradisi persuratan yang baik ialah memiliki genre kritikan dan esei yang
baik.
Anugerah Kritikawan Sastera Negara
Salah satu daripada kaedah penghargaan dan untuk menjadi dunia kritikan
sastera bertakhta dan berdaulat haruslah difikirkan juga daripada aspek
pengiktirafannya. Penulis-penulis kreatif telah disediakan Anugerah Sastera Negara,
dengan penerimanya diberi gelar Sasterawan Negara.
Dalam konteks ini kritikawan pun patut difikirkan daripada aspek
penganugherahan ini. Ada beberapa tunjangan yang perlu dihisabkan. Dalam dunia
pascamoden hari ini, kedudukan kritikan, sudah dianggap lebih tinggi dan berkuasa
daripada dunia penulisan kreatif itu sendiri. Kritikan di sini dalam konteks kajian,
penyelidikan, penteorian, praktisan, sastera bandingan, dan sebagainya. Ada juga
pandangan bahawa kritikan adalah sebahagian daripada penulisan kreatif juga.
Justeru itu seandainya penulis kreatif diberi penganugerahan, maka genre ini juga
harus dilakukan demikian. Ertinya, seorang kajiawan atau kritikawan sastera,
berhak untuk dicalonkan untuk diberi anugerah Sastera Negara. Harus juga
difikirkan, tentang perlu adanya sebuah anugerah yang khusus untuk mereka,
umpama Anugerah Kritikawan Sastera Negara.
Anugerah Sasterawati Negara ?
Berbicara tentang anugerah sastera, teringat saya kepada buah fikiran yang
pernah saya lontarkan tahun 1993 dahulu tentang mengadakan sebuah anugerah
sasterawan negara khusus wanita. Alasannya hingga kini, tidak ada wanita yang
berjaya mendapatkan hadiah anugerah sasterawan negara, kesemuanya adalah
lelaki. Pandngan itu menjadi polemik, ada yang bersetuju atau juga yang tidak



Mana Sikana
kerana ia akan membezakan gender dan terpaksa menyedikan dua hadiah. Alasan
saya ialah berpandukan kepada banyak hadiah atau anugerah yang diberikan untuk
lelaki dan perempuan, malah tilawah al-Quran itu pun ada qari dan qariah. Di sini
saya ingin membawa semula subjek itu, sekedar perbincangan dan jika perlu adanya
tindakan wajar demi untuk kecemerlangan persuratan Melayu
Kita sesungguhnya memiliki suatu senarai nama yang agak panjang penulis
wanita Sejak 1960-an telah muncul Salmi Manja, Rukiah Abu Bakar, Adibah Amin,
Anis Sabirin, Hamsiah Hamid dan Asiah Ibrahim. Malah di tahun 1963, mereka
bersatu menubuhkan Angkatan Sasterawan 63. Dan ini diikuti pula kelahiran
beberapa penulis lainnya seperti Khadijah Hashim, Fatimah Busu, Zurinah Hassan
dan lain-lainnya. Dekad-dekad seterusnya kita menyaksikan kemunculan Rogayah
Hamid, Zaharah Nawawi, Siti Zainon Ismail, Habsah Hassan, Siti Aisyah Murad dan
ramai lagi. Pendeknya bukanlah sukar untuk mencari nama penulis wanita kita.
Di dunia antara bangsa Virginia Woolf, sering dijadikan contoh atas
kejayaaannya. Kehidupannya, dikaitkan dengan peluangnya bergaul dengan bijak
pandai zamannya; dilingkungi sasterawan dan seniman serta suasana zaman
Victorian yang menggalakkan wanita berkarya. Suaminya juga, Leonard Woolf,
seorang esais terkemuka dan pemikir sastera. Oleh kerana biasanya, pengarang itu
terpengaruh oleh aliran kritikan sezaman, bukan sedikit karya-karya Virginia
terangkat oleh sikap dan isme kritikan waktu itu. Virginia hidup di tengah
perdebatan hak kewanitaan dan agon pertentangan darjat; dan karyanya dianggap
sebagai hikmat atau pancasona penyelesai masalah masyarakatnya. Setiap karyanya
mengandung citra dan candra sezaman. Virginia Woolf hanya menghasilkan tujuh
buah novel, tetapi sudah cukup dianggap sebagai avant-gardis dan feminis, yang
meletakkannya sebagai pengarang dunia yang terkemuka. Nyatalah bahawa kuantiti
bukannya syarat sebagai penulis besar, hal ini pun diakui oleh kreativiti dan
penilaian teks-teks pascamodenisme yang menghasilkan realisme magis dan
psikoanalisis strukturalisme. Ketiada-prolifikan di kalangan penulis wanita kita,
sesungguhnya bukannya alasan untuk tidak meletakkan penulis wanita itu
setanding dengan penulis lelaki.
Bagaimana pun penulis wanita kita juga ramai yang prolifik. Ada di antaranya
yang menacapai tahap kemajuan yang cemerlang; ini perlu kita banggakan dan
diberi penghargaan. Di tahun 1960-an Salmi Manja menghasilkan Hari Mana Bulan
Mana, Dari Mana Punai Melayang, Hendak Huian Sekali, Entah Mengapa Hatiku Duka,
Sayang Ustazah Sayang dan Rindu Hilang Di Tapak Tangan. Dianalisis daripada teori
fenimisme, kebanyakan novel Salmi Manja membawakan fahaman predeterminisme,
bahawa takdir wanita terletak di tangan lelaki, yang segala-galanya telah tersurat,
dan segala usaha menentangnya adalah sia-sia. Isteri menjadi gundek suami yang
jahat, mereka terpaksa sabar, berlaku sengketa, perceraian, kahwin semula dan
timbul pelbagai masalah lain lagi. Zaharah dalam Sayang Ustazah Sayang menentang
suaminya, Mansor, kerana hendak dimadukan. Selepas bercerai berkahwin dengan
Fauzi yang juga kemudiannya main kayu tiga, hingga ia terlantar sakit jiwa. Wanita
ini cuba menentang takdirnya, tetapi teryata ia gagal dan menyerah kepada
kelemahan kewanitaannya. Bukan sedikit watak-watak Salmi Manja yang
menggambarkan wanita tunduk di tangan superioriti lelaki. Tetapi Zaharah dalam
cerpennya Di Rantau Orang adalah janda gigih, bertungkus lumus menyarai anaknya
dan tidak mahu terjerumus ke lembah kehinaan. Berpegang dengan lunas Islam,
Zaharah muncul sebagai watak wanita yang kuat, mempertahankan kesucian dan
kewanitaannya dan tidak mahu berumah tangga lagi, kerana kecintaannya yang
penuh terhadap suaminya yang telah mati. Menurut kritikan fenimisme watak

74


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
75
Zaharah adalah contoh watak yang dinamik dan kukuh dan biasanya hanya muncul
di tangan pengarang yang kuat dan teguh perdiriannya. Banyak lagi tokoh-tokoh
wanita Salmi Manja yang berjuang mencari martabat dirinya dan berjuang untuk
membalas dendam lelaki yang durjana. Salmi Manja sebenamya seorang feminis.
Kehadiran Khadijah Hashim sebagai novelis sangat menyerlah dengan Badai
Semalam di samping beberapa buah cerpen yang banyak meraihkan Hadiah Sastera
Malaysia. Jalan Ke Kubur dan Merpati Putih Terbang Lagi menguatkan kehadirannya.
Sama dengan penulis wanita lainnya, Khadijah Hashim seorang suffragist dan
pengalaman-pengalaman traumatik dan turbulensi wanita banyak diungkapkannya,
dan gayanya sangat sederhana dan bersahaja. Tanda-tanda Khadijah untuk
mencapai sebagai novelis dan cerpenis wanita terkemuka sudah ada. Di kalangan
penyair wanita pula, Zurinah Hassanlah yang terkuat. Sesayup Jalan (1974) dan Di
Sini Tiada Perhentian (1977), menandakan kekuatan awalnya berpuisi di tahun 1960-
70an. Kekuatannya terletak pada penguasaan bahasa yang cukup baik dan kental,
mempunyai perasaan yang puitis dan ungkapannya hati-hati, bersih dan padat.
Alam, kehidupan dan budaya manusia mendapat sentuhan, tafsiran dan makna.
Gaya Zurinah hampir bersahaja, tetapi kadang-kadang melodramatic, tetapi cukup
untuk menggoncang perasaan dan memberi kita pemikiran dan pantulan
pengalaman. Alam, kehidupan, budaya dan perasaan dalaman manusia mendapat
makna dan tafsiran menurut kaca mata penyair yang halus dan cukup teliti
mengatur kata demi kata.
Seorang lagi penulis wanita yang boleh diambil perhatian ialah Fatimah Busu.
Bermula dengan nama samaran Rani Raya dan Bibi Fatimah dengan sajak pertama
Saat Terakhir, 1957, cerpen Kerana Adik, 1959, kini Fatimah Busu muncul sebagai
penulis wanita yang mementingkan kualiti. Malah, dalam bidang cerpen, bagi saya
adalah cerpenis wanita terbaik Malaysia. Menghasilkan kurang lebih 50 buah cerpen
dan telah dikumpulkan dalam Lembaian Tanah Hijau (1980), Yang Abadi (1980) dan Al-
Isra' (1985) serta di antara 1971-76 memenangi Hadiah Sastera setiap tahun dengan
sejumlah sembilan buah semuanya. Kekuatannya juga dapat dikesan di dalam
penulisan novel iaitu Ombak Bukan Biru (1977) dan Kepulangan (1980). Malah sebelum
itu di tahun 1960-an menghasilkan tiga buah drama Biduan Dari Neraka, Jahanam dan
Gerimis Pagi yang telah dipentaskan di seluruh negeri Kelantan. Lokasi Kampung
Pasir Pekan yang menjadi inspirasi pengarang, mengembangkan aspirasinya ke
persoalan realiti masyarakat untuk menyedarkan mereka; sebagai suatu sinonim
Kampung Banggul Derdap bagi Shahnon Ahmad. Deskripsinya yang terperinci,
estetik dan sering ditamatkan dengan tragedi, menjadikan cerpen-cerpen Fatimah
Busu amat rapat dengan psikologi Melayu yang sedikit sebanyak masih animistik
dan melodramatik itu.
Nyatalah kita mempunyai pengarang-pengarang, yang pada pandangan saya
harus diperhatikan dalam pemberian Anugerah Sastera Negara akan datang. Ini
belum dikira tokoh-tokoh lain seperti Adibah Amin, Siti Zainon Ismail, Rogayah
Hamid, Siti Aisyah Murad, Azmah Noordin yang mempunyai kekuatan masing-
masing dalam mencipta karya.
Buat masa ini sekurang-kurangnya empat penulis yang boleh diambil perhatian
iaitu Salmi Manja, Khadijah Hashim, Zurinah Hassan dan Fatimah Busu.




Mana Sikana
Melahirkan Sastera yang Unggul
Dalam membina sebuah tamadun baru persuratan, yang menjadi puncak atau al-
qaswa sebuah tradisi sastera zaman berzaman ialah melahirkan keunggulan –
keunggulan pengarang, teks dan khalayak sastera. Apa lagi dalam suasana sastera
yang muram dan kadang-kadang terasa bungkam, seruan untuk keunggulan itu
haruslah terus menerus dilahirkan. Inilah sesungguhnya sebuah permasalahan
pokok bagi persuratan Melayu iaitu subjek untuk mencapai atu mencipta
keunggulan itu
Setiap pengarang itu mempunyai hasrat untuk meletakkan teksnya untuk
mencapai suatu tahap keunggulan. Untuk sampai ke sebuah teks yang unggul,
pengarang dituntut mempunyai sifat-sifat keberanian dan kebijaksanaan.
Keberanian dalam mengemukakan sesuatu idea dan pemikiran baru dan bersedia
untuk melakukan inovasi dan pembaharuan. Kebijaksanaan pula sifat yang
mendorong pekerjaan teks itu supaya dilakukan dengan penuh kesedaran dan
bergerak dalam landasan keilmuan. Tanpa sifat keberanian dan kebijaksanaan teks-
teks yang dihasilkan hanya akan bergerak dalam lingkuangan tradisinya dan tidak
memecah kepada teks-teks yang unggul. Teks yang idealistik harus mencapai taraf
new grand narrative yang di dalamnya tersembunyi ideologi dan bersifat ontologikal.
setiap pengarang itu mempunyai hasrat untuk meletakkan teksnya supaya mencapai
suatu tahap keunggulan. Dia akan berusaha dengan bakat, kebolehan, intelektual
dan ketrampilannya bagi menghasilkan sebuah karya yang lebih baik daripada apa
yang telah dihasilkannya dan mengatasi apa yang telah dihasilkan oleh pengarang
lain sebelumnya. Idealisme atau sifat keunggulan sebagai sebuah teks sastera kreatif,
selalu berada dalam pemikiran pengarang sewaktu dia berkarya. Untuk mencipta
sebuah teks yang unggul, pengarang harus ada sifat-sifat berani dan bijaksana.
Berani mengemukakan sesuatu idea dan pemikiran baru dan bersedia untuk
melakukan inovasi dan pembaharuan. Bijaksana pula merupakan sifat yang
mendorong pekerjaan teks itu supaya dilakukan dengan penuh kesedaran dan
bergerak dalam landasan keilmuan. Tanpa sifat tersebut teks-teks yang dihasilkan
hanya akan bergerak dalam lingkungan tradisinya dan tidak memecah kepada teks-
teks yang unggul.
Teks sastera tidak lain daripada idea dan pengalaman. Untuk mendapatkan erti
dan makna sesebuah teks sastera itu subjek pengalaman haruslah dianalisis. Dengan
itu pentafsiran sesebuah teks bererti proses pemaknaan pengalaman pengarang yang
terstruktur dalam sesebuah teks. Kajian dan analisisnya bertujuan untuk
mendapatkan makna asli pengarang yang terstruktur dalam teks. Langkah yang
perlu dilakukan ialah mencari sumber pengalaman pengarang. Dari manakah idea
dan pengalaman itu dihadirkan? Ini bererti semantika pengalaman pengarang
mempunyai sejarahnya. Kita perlu menelusuri sejarah teks untuk membina dan
mengkonkritkan semula pengalaman pengarang yang telah diturunkannya di dalam
teks untuk sampai kepada hakikat teks. Ini bererti, khalayak yang membaca teks itu
juga sebenarnya membina pengalamannya. Proses dinamika teks berlaku. Sumber
dan sejarah teks bukan sahaja dirujuk sebagai bahan hipogram, juga turut
dikembangkan untuk mendapatkan pengertiannya.
Perlanggaran memperlihatkan nilai perimbangan sama ada mengekalkan dan
merubah sesuatu dalam usaha bagi mencapai keunggulan teks. Perlanggaran dapat
didefinisikan sebagai suatu proses penciptaan dinamik untuk mencari pembaharuan
dalam berkarya. Teori teksdealisme meletakkan prinsip perlanggaran sebagai suatu
kaedah untuk menganalisis sesebuah teks bagi memperlihatkan sifat-sifat

76


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
77
keunggulannya. Seorang pengarang yang sedar konsep kepengarangannya akan
cuba memperbaharui setiap teks yang dihasilkannya. Pengarang pula selalu
melakukan pengukuhan, sebagai usaha pendewasaan pengarang untuk penghasilan
teks yang unggul dan terunggul. Dia berikhtiar dengan segala kemampuan yang
dimilikinya untuk memperbaiki teks yang akan dihasilkan. Tegasnya, pengukuhan
adalah usaha pematangan, pengejapan dan penyempurnaan dalam berkarya.
Daripada dorongan kejiwaan, pengarang akan melakukan penyelidikan semula
terhadap teks-teks yang telah dihasilkannya selama ini, dan akan sentiasa
melakukan pula pembetulan demi pembetulan, pengejapan demi pengejapan
terhadap teks yang sedang dikerjakan. Dia tidak akan membenarkan dirinya berada
terus-menerus di bawah teks yang lemah atau bayang-bayang kelemahan teks oran
lain. Ia mencuba membina sistem teks dinamikanya sendiri. Ertinya berlakunya
proses pembinasaan terhadap teks yang lemah dan proses pembinaan teks yang
unggul. Mungkin ia bergerak daripada model sebuah teks yang sedia unggul atau
menciptakan zarah-zarah idea dan pengalamannya. Tegasnya, keluar daripada
kelaziman yang statis kepada pembaharuan yang dinamik.
Teks-teks yang mempunyai wajah sastera ideal, mementingkan keunggulan dan
mencapai tahap tertinggi, menjadi idamannya. Kesedarannya ditumpukan kepada
kualiti dan martabat sastera berkelas. Teksnya harus memiliki sifat-sifat nasional dan
internasional, dalam erti kata menempatkan karyanya yang terkemuka di peringkat
kebangsaan dan mempunyai kedudukan di dunia antarabangsa. Setiap pengarang
haruslah berusaha untuk menemui atau mencari peribadi masing-masing dalam
berkarya. Dan untuk mencapainya tidak ada jalan selain daripada menghasilkan
karya-karya yang unggul. Pengarang seharusnya membersihkan diri daripada hasrat
menulis hanya sekadar untuk melangsungkan apa yang sudah dihasilkan. Sekiranya
kita telah bersetuju bahawa Keris Mas, Usman Awang, Shahnon Ahmad, A. Samad
Said, Arena Wati, Muhammad Haji Salleh dan Noordin Hassan sudah mempunyai
keperibadian di dalam berkarya, maka setiap orang mestilah menyimpan hasrat
untuk membina peribadi kepengarangan seperti mereka. Malah, mencipta karya
yang jauh lebih baik daripada karya mereka. Sifat sebuah teks yang unggul ialah
yang mempunyai keperibadiannya sendiri dan biasanya mengasyikkan. Di
dalanmya ada unsur-unsur magis dan sihir yang akan segera larut dalam diri
khalayak. Khalayak berada dalam keasyikan fizika dan metafizika yang terjadi hasil
kebijaksanaan mencerna struktur formal teks dengan imbangan komposisi sehingga
terkesan sifat-sifat artistiknya. Ada nilai-nilai kemanusiaan dan moraliti zamannya
di dalamnya serta terlihat kekuatan intensifikasi teksnya. Sebuah teks yang unggul
juga selalunya memiliki sifat tarikan iaitu delectare yang berkuasa menggerakkan
naluri bacaan khalayak. Ini akan berkembang ke tahap pukauan iaitu docere.
Khalayak akan terseret ke dalam dunia ciptaan pengarang. Secara tidak sedar diri
khalayak akan masuk ke dalam peradaban dan tamadun teks. Sewaktu dalam proses
delectare dan docere itu, minda khalayak juga turut membina teks tersebut.
Hanya dengan aspirasi pengarang untuk menghasilkan teks-teks yang unggul,
dengan sendirinya keutuhan persuratan Melayu akan dipercapai. Teks-teks baru
akan lahir, aliran-aliran baru akan muncul dan taman sastera kita akan terus
berkembang. Sebagai analoginya kita menyaksikan selepas dunia absurd sampai ke
penghujung benuanya, orang menemukan leburnya dunia fakta dan fiksyen teks.
Kembali datang sang masa (sejarah) dengan si mitos (fantasi), bergabung tetapi
kabur antara yang putih dan hitam, sakral dan profan; tampaknya bertentangan
tetapi menyatu; itulah dunia realisme magis. Sekejap sahaja nama Gabriel Garcia
Marquez menjadi raja sastera. Watak-wataknya mengajar manusia supaya berani
dalam penindasan dan keras dalam kelembutan, membezakan dengan watak-watak



Mana Sikana
Shakespeare yang suka mentartawakan diri sendiri atau mencurigai kemampua diri,
tetapi yakin pada bahasa sendiri dan lalu bersikap skeptik terhadap manusia dan
inilah gambaran watak Inggeris hingga dewasa ini. Sementara Doestovsky pula
didedah oleh dialogisme Bakhtin, bahawa dunianya adalah muram dan bungkam
itulah manifestasi eksistensialisme orang Russia.
Begitulah sebuah teks yang unggul akan tahan uji atau kebal waktu.
Malaysia Pusat Pengembangan Sastera Islam Sedunia
Sastera Islam di Malaysia mula dibincangkan di tahun 1970-an hingga kini ia
tidak habis-habis dibicarakan. Kita mempunyai banyak teks-teks kreatif dan tulisan-
tulisan yang popular dan ilmiah yang membicarakan tentang sastera Islam itu.
Meskipun pada keseluruhannya masih tetap berlegar di sekitar persoalan konsep,
prinsip dan sifat-sifatnya, seolah-olah subjek tersebut masih belum selesai, namun
memperlihatkan kematangan dan pemantapannya. Sebuah teks sastera kreatif Islam
ialah yang mendepani masalah semasa yang dilandasi oleh hukum-hakam Islam dan
membawa segala keindahan dan kekuatannya. Sementara perbicaraannya pula
membantu ke arah penciptaan karya yang lebih bermutu daripada masa ke semasa.
Sastera Islam mempunyai sifat-sifat dan ciri-cirinya yang tersendiri. Di antaranya
ialah selagi sesebuah teks itu tidak bertentangan dengan akidah, syariat dan prinsip
hidup Islam ia boleh diterima sebagai karya Islam atau berunsur Islam. Terbayang
bahawa teks tersebut menghargai hidup, mengajak manusia menilai diri dan
mempunyai fungsi sosial di samping mengarah kepada kebaikan dan memancarkan
sikap serta nilai-nilai hidup Islam. Menentang apa juga bentuk kezaliman,
meletakkan yang hak pada tempatnya dan menghormati manusia sesama manusia.
Ia dihasilkan pula dengan niat ibadah dan kegiatan keseluruhannya dihasratkan
untuk mendapat keredaaan Allah. Dan yang menjadi terasnya ialah bahawa karya
Islam menggambarkan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia
sesama manusia. Dan salah satu citra yang sangat dituntut pula ialah melukiskan
kisah manusia berjuang menegakkan keadilan dan mencari kebenaran dengan
mempertegaskan gambaran kemasyarakatan yang mencintai keamanan dan
membenci keburukan. Tegasnya sastera Islam ialah sebuah teks kreatif yang cuba
merealisasikan apa juga bentuk kehidupan manusia menurut landasan Islam.
Tokoh-tokoh pemikir Islam seperti al-Jahiz, Abu Hassan al-Jurjani, al-Kummani,
al-Khattabi, al-Naqilani, abdul Jahir al-Jumani dan ramai akan merujuk kepada al-
Quran apabila berbicara tentang kesenian dan Islam; justeru al-Quran adalah segala-
galanya. Dengan itu segala keperihan penghasilan teks Islam atau perbicaraan harus
berpokok kepada al-Quran. Pertama, al-Quran bukannya syair juga prosa. al-Quran
menggunakan unsur syair secara bebas untuk menambah keindahannya, ia tersusun
indah, lancar dan halus. Justeru itu al-Quran bukannya puisi atau prosa ia bersifat
bebas yang dinamakan sebagai al-nathar al-mutlaq iaitu gubahan bebas yang mutlak.
Kedua, ayat al-Quran tersusun daripada perkataan dan frasa yang menepati
maknanya. Pemilihan katanya tepat, benar dan sempurna. Ketiga, seni penggubahan
al-Quran mempunyai tawazun, iaitu perimbangan, baik pada bentuk mahupun pada
kandungan ayatnya. Maknanya memberi kesan mendalam di samping memberi
ketenangan serta kepuasan jiwa. Keempat, kata-kata dan ayat-ayatnya, walaupun
ringkas tetapi padat dengan kekayaan dan kekuatan makna. Tidak ada berlaklu
pembaziran kata-kata. Meskipun berlaku perulangan tetapi dengan tujuan
pengejapan dan mempunyai maksud tertentu. Kelima, Al-Quran mengandungi

78


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
79
unsur-unsur simile dan metafora, dan hubungan atau ceraian di antara konsep-
konsep tersedia dengan sebaik-baiknya; tegasnya ia memperlihatkan sebagai seni
yang lengkap dan sempurna. Keenam, kesinambungan dan struktur gubahannya
bebas daripada sebarang kelemahan dan kecacatan. Ketujuh, gaya bahasanya lunak,
halus, juga tegas dan keras. Kelunakannya akan menyerap ke dalam jiwa
pembacanya yang sekaligus pula memberikan tamparan. Keindahan ini diberi nama
dengan husna al-iqai iaitu keindahan seni yang menusuk ke dalam jiwa manusia
tetapi berfungsi ke arah kebaikan manusia. Kelapan, komposisi al-Quran tidak
mengikut struktur peristilahan yang biasa kata kerjanya yang kini, masa silam dan
akan datang dengan ayat perintah semuanya bergabung dalam suatu perenggan
yang sama. Sifat ujarannya juga berpindah-pindah daripada deskriptif kepada
normatif, daripada ayat biasa kepada perintah dan ia tidak disusun mengikut
kronologi dan mauduk.
Keindahan dan kesenian yang terpancar dalam al-Quran tidak ada tolok
bandingnya. Dan kesusasteraan Islam telah tumbuh sejajar dengan keindahan Islam
dan keindahan al-Quran. Dan yang menjadi teras keindahannya ialah kebenaran
tauhid dan pembentukan akidah dan akhlak penganutnya. Di mana sahaja Islam
mengembangkan syiamya, sudah pasti genre sasteranya akan turut serta
berkembang. Kedatangan Islam ke alam Melayu misalnya telah mengubah tradisi
sastera yang khayal dan dongeng kepada mempertinggikan martabat akliah dan
insaniah.
Hasil daripada kesedaran tentang Sastera Islam dan peraduan-peraduan yang
mengiringinya aliran Islam telah menjadi alternatif kepada sebahagian para
pengarang kita. Khalayak pun mengikut jejak yang ditempuh oleh pengarang itu
sebagai suatu bidang berfikir dan mendapat pengalaman-pengalaman baru untuk
menyelesaikan pelbagai masalah hidup. Tidak keterlaluan kalau saya katakan, kita
telah berjaya membawa dunia sastera kita ke suatu arah yang mulia tetapi
dihadapkan oleh cabaran, justeru tuntutan dan rayuan sastera Barat yang
mengenepikan agama begitu berkuasa sekali. Malah di tengah-tengah karya
keabsurdan dan abstrak pun kita masih mampu membawa aliran Islam masuk ke
dalamnya.
Pengalaman bangsa kita pernah dijajah oleh Barat dan segala-galanya yang
datang daripada Barat itu hampir diterima sebagai penilai mutlak, tetap merupakan
trauma yang sukar dikikis daripada perjalanan darah akal kita. Sempadan yang
memisahkan di antara yang sakral dan profan saling berbaur dan kabur. Meski di
suatu pihak kita menyatakan bahawa kita ingin menegakkan Islamisme, tetapi masa
yang sama kita juga begitu kagum dengan apa yang datang daripada luaran.
Tidak keterlaluan dikatakan, kita telah mencapaikan pelbagai kemajuan dalam
sastera Islam ini. Bukan sahaja banyak teks kreatif yang telah dihasilkan, kita
menemukan pula beberapa teori kritikan sastera Islam yang telah dibina. Berani saya
menyatakan bahawa kemajuan kita dalam memperkembangkan sastera Islam sukar
ditandingi. Kita berharap dengan iltizam para penulis, pengkaji dan pendokong
sastera Islam+Melayu seluruhnya dan dengan mendapat kekuatan dan sokongan
padu daripada Anwar Ibrahim, suatu masa nanti tidak mustahil Malaysia akan
menjadi pusat pengembangan sastera Islam sedunia. Malah, saya berpendapat,
bahawa daripada sekarang kita harus bertindak dengan cepat dan bijak ke arah
untuk merealisasikan Malaysia menjadi pusat pengembangan Sastera Islam sedunia
itu.



Mana Sikana
Dalam kesedaran ini, suatu perancangan yang sistematis haruslah diatur. Sebuah
organisasi elok ditubuhkan untuk melaksanakan 'Pusat Pengembangan Sastera Islam
Sedunia' di Malaysia. Barangkali buat sementara waktu Dewan bahasa dan Pustaka
boleh menjadi secretariat sementara. Jika perlu sebuah jawatankuasa perlu
ditubuhkan dengan segera untuk mengendalikan pusat tersebut, supaya cita-cita
untuk mengembangkan sastera Islam di Malaysia khasnya dan dunia amnya
terlaksana dengan sebaik-baiknya. Tentu sahaja dengan wujudnya pusat itu nanti
sebarang kegiatan ke arah mencemerlangkan sastera Islam berjalan dengan lancar.
Tanpa wang dan kemudahan tentu segala-galanya tidak akan berjalan.
Sebagai contoh yang dapat dimanfatkan oleh Pusat Pengembangan Sastera Islam
Sedunia itu ialah kegiatan penterjemahan. Banyak teks kreatif Islam hanya diam
dalam bahasa asalnya. Dengan melakukan penterjemahan, tidak sahaja teks kreatif,
juga tulisan-tulisan yang berupa teori dan teoritis akan segera menyampaikan kita
kepada realiti dan hakiki sastera Islam. Kita pun patut menyegerakan terjemahan
terhadap beberapa teks kita yang berunsur Islam ke dalam bahasa Arab atau
Inggeris supaya dapat dibaca oleh orang-orang Islam lainnya. Dengan pertukaran
budaya-teksterjemahan ini akan mempercepat komunikasi dan taaruf di antara kita
sesama Islam.
Saya yakin dan percaya dengan kesungguhan dan keiltizaman para penulis dan
pengkaji dengan mendapat sokongan daripada pemerintah kita boleh menjadikan
Malaysia sebagai 'Pusat Pengembangan Sastera Islam Sedunia'. Marilah kita
berfikiran ke arah merealisasikannya supaya gerakan Sastera Islam ini benar-benar
mencapai hasratnya dan Sastera Islam akan menjadi agenda terpenting dalam
menghadapi zaman pasca-modenisme ini.
Hadiah Sastera Dunia Islam
Apabila kita berfikir tentang menjadikan Malaysia pusat pengembangan sastera
Islam, salah satu yang terlintas di benak pemikiran kita ialah mengwujudkan sebuah
hadiah sastera di kalangan negara-negara Islam itu. Diharapkan tidak terlalu awal
atau terdorong ke arah materialistik, namun tujuannya adalah suci kerana dengan
demikian adanya penghargaan dan pengiktirafan dalam penulisan sastera negara
Islam. Ini samalah halnya fikiran yang datang sewaktu hendak ditubuhkan
MASTERA dahulu.
Dunia sudah memiliki banyak nama hadiah sastera, dan antaranya yang paling
sohor ialah hadiah noble prize itu. Tidaklah kita terfikirkan tentang betapa penting
sebvuah bentuk hadiah seperti itu wujud di kalangan negara-negara Islam? Rasanya
tidak perlu dibicarakan di sini konsep, prinsip, kaedah dan lain-liannnya tentang
Hadiha Sastera Islam Dunia itu, cukuplah sekedarnya mellontarkan lintas
pemikirannya, moga-moga ia wujud nanti, dan kewujudannya tentulah akan
mengalami pelbagai proses demi proses, insya Allah.
Membina Muzium Sastera Kebangsaan
Hayat dan perjalanan sejarah persuratan, pembinaan tamadun dan
pengembangannya ke seluruh negara dan antara bangsa, perlu dirakam dan
disimpan khazanahnya. Sejak zaman tradisional yang mengisi sastera rakyat, sastera
Hindu dan sastera Islam hingga ke lahiran zaman moden dan pascamoden, banyak

80


Wacana Dinamika Sastera Melayu Pascamoden
81
sejarah yang telah dicatatnya. Kerajaan Melaka, telah pun memulakan pembinaan
muzium sastera sekitar 1990-an. Suara untuk membina sebuah muzium sastera
kebangsaan, pernah digemakan, tetapi kemudiannya tenggelam dan menghilang.
Kesimpulan

Demikianlah beberapa pandangan secara dasar untuk mendinamikan kesusaste-
ran Melayu tempatan dan rantau dunia seluruhnya. Seperti yang telah ditunjukkan
secara singkat bahawa kesusasteraan mempunyai hubungan sangat rapat dengan
tamadun dan kedudukan kepertuanan Melayu; malah ia juga yang mengikat per-
saudaraan kenusantaraan. Usaha pendinamikannya haruslah berjalan terus. Justeru
itu, kita perlu memahami zaman yang kita alami, cabaran dan gerakan yang harus
diatur.

Rujukan
Adorno, Theodore W., 1984. Aesthetic Theory. London: Blackwell.
Al-Akkad, Abbas Mahmud, 1964. Fi Fanni al-Islami. Kaherah: Dar al-Maarif.
Appignanesi, Richard & Garrratt, Chris, 1999. Mengenal Postmodernisme. Bandung:
Penerbit Mizan.
Atth-Thahhan, Musthafa Muhammad, 2000. Tahaddiyah Siasiah Tuwajih al-Adab al-
Islami. Kuwait: al-Markaz al-Alami li al-Kitab al-Islami.
Baudrillard, Jean, 1994. The Illusion of the End. London: Polity Press.
Baudrillard, Jean, 1997. Simulation. New York: Schocken Books.
Conner, Steven, 1994. Postmodernist Culture: An Introduction to Theories of the Contem-
porary. London: Blackwell.
Cooper, B., 1991. Michel Foucault: An Introduction to the Study of his Thought. New York:
Travistok
Dhaif, Syauqi, 1988. Al-Adab fi al-Asril Islami. Kaherah: Dar al-Maarif.
Docherty, Thomas, 1993. Postmodernism. New York: Columbia University Press.
Edrus, A.H., 1960. Persuratan Melayu I, Prosa. Singapura: Qalam.
Eco, Umberto, 1993. Travel in Hyperreality. London: Picador.
Elam, Diane, 1992. Romancing the Postmodern. London: Routledge.
Ellis, John, 1989. Against Deconstraction. London: Blackwell.



Mana Sikana
Escobar, Arturo, 1985. Discourse and Power in Development: Michel Foucault and the Re-
levance in His Work to the Third World. Harmondsworth: Penguin.
Fairclough, N., 1999. Language and Power. Harlow: Longman.
Foucault, Michel, 1972. The Archeology of Knowledge and the Discourse on Language.
New York: Pantheon.
Foucault, Michael, 1980. Power/Knowledge. London: The Harvester Press
Gandhi, Leela, 2001. Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat.
(Terj.Yuman Wahyutri & Nur Hamidah), Yogyakarta: Penerbit Qalam.
Iskandar, Ahmad, 1987. Al-Wasit fi al-Adabi wa al-Tarikh. Kaherah: Dar al-Maarif.
Kroker, Arthur, 1997. Extremental Culture and Hyper-Aesthetics. London: Routledge
Malik bin Nabi, 1994. Membangun Dunia Baru Islam. Bandung: Penerbit Mizan.
Mana Sikana, 2004. Sastera Melayu Pascamodenisme. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka.
Mana Sikana, 2006. Teori Sastera Teksdealisme. Bangi: Pustaka Karya.
Mana Sikana, 2007. Tokoh-Tokoh Unggul dalam Sastera Melayu. Bangi: Pustaka Karya.
Payne, Michael, 1993. Reading Theory: An Introduction To Lacan, Derrida, and Kristeva.
London: Routledge.
Reiss, Timothy, 1982. The Discourse Of Modernisme And Postmodernism. Ithaca: Cornell
University Press.
Said, Edward, 1978. Orientalism. London: Penguin Books.
Said; Edward, 1984. The World, The Text and The Critic. London: Faber and Faber.
Said, Edward, 1993. Kebudayaan dan Kekuasaan: Membongkar Mitos Hegemoni Barat.
Bandung: Mizan.
Sardar, Ziauddin,2002, The A to Z of Postmodern Life. London: Satin Publications.
Scholes, Robert, 1993. Textual Power: Theory And Communication. New Haven: Yale
University Press.
Smyth, Edmund, J., 1999. Literature, Postmodernism and Politics. London: Blackwell
Steiner, George, 1967. Language and Silence. London: Faber and Faber
Turner, Bryan S., 1994. Orientalism, Postmodernism & Globalism. London: Rout-

Bukan Omong Kosong

rENUNGAN

Summary:ersys
SEPULUH CIRI ORANG BERPKIR POSITIF


1. MELIHAT MASALAH SEBAGAI TANTANGAN
Bandingkan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat maka dia akan berpikir hidupnya adalah menjadi orang yang paling sengsara di dunia.

2. MENIKMATI HIDUP
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati

3. PIKIRAN TERBUKA UNTUK MENERIMA SARAN DAN IDE
Pikiran terbuka membutuhkan kebesaran hati dan tentu kesabaran. karena dengan begitu, akan ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

4. MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF SEGERA SETELAH PIKIRAN ITU TERLINTAS DI BENAK
Suatu kendala yang sebetulnya bisa diatasi dengan kepala dingin jika sudah dilandasi dengan pikiran negatif ternyata hanya akan menimbulkan masalah baru.

5. MENSYUKURI APA YANG DIMILIKI
Hindari berkeluh kesah tentang apapun yang tidak dimiliki karena justru akan menjadi beban. sebaliknya jadikan hal itu sebagai motivasi untuk meraih hidup yang diharapkan.

6. TIDAK MENDENGAR GOSIP YANG TAK MENENTU
Sudah pasti gosip erat sekali dengan berpikir negatif. karena itu sebisa mungkin jauhi gosip-gosip yang tak jelas asalnya.

7. TIDAK MEMBUAT ALASAN TETAPI AMBIL TINDAKAN
NATO ( No Action, Talk Only ) itu adalah ciri khas orang berpikir negatif. maka ambilah tindakan dan buktikan bahwa anda bisa mengatasi masalah sebagai orang yang berpikir positif.

8. MENGGUNAKAN BAHASA YANG POSITIF
Saat kita berkomunikasi dengan orang lain gunakan kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme sehingga dapat memberikan semangat terhadap lawan bicara kita

9. MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH YANG POSITIF
Diantara bahasa tubuh yang lain senyum merupakan wujud dari berpikir positif karena akan menimbulkan kesan bersahabat dan akan menjadi lebih akrab dengan suasana.

10. PEDULI PADA CITRA DIRI
Itu sebabnya, mereka berusah tampil baik bukan hanya di luar tetapi juga di dalam.

Itulah sepuluh tanda orang berpikir positif semoga artikel diatas bermanfaat untuk anda. jadilah orang yang berpikir positif dalam menyelesaikan masalah sehingga kita tidak akan terbebani dengan hidup ini.



10 ciri orang berpikir positif Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/social-sciences/1901760-10-ciri-orang-berpikir-positif/