Belajar dengan Ponsel di Sekolah
Oleh Didin Widyartono
Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Budi Utomo Malang
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) harusnya membuat pembelajaran menjadi semakin menarik dan bermutu. Kemajuan TIK memberikan berbagai fasilitas melalui produk teknologi yang bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran. Produk-produk yang dapat digunakan dalam pembelajaran antara lain televisi, radio, telepon, telepon seluler (handphone), komputer, hingga koneksi internet. Produk-produk ini harus dapat bermanfaat secara positif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Ironisnya, tingginya melek teknologi (literacy with ICT) di kalangan siswa tidak diimbangi oleh kemampuan guru. Hanya sebagian kecil guru yang melek teknologi di atas kemampuan siswa. Memang pesatnya kemajuan teknologi sesuai dengan zamannya. Namun hal ini seharusnya bukan menjadi kendala bagi guru untuk mengembangkan diri dan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran menjadi pengajar yang handal dan paham teknologi.
Tinggi daya melek teknologi siswa dibanding guru menyebabkan banyak penyimpangan dalam penggunaan TIK. Banyak video porno yang direkam dan dilakukan oleh kalangan terpelajar melalui fasilitas handphone. Layanan internet banyak disalahgunakan oleh siswa. Kasus-kasus ini merupakan penyimpangan penggunaan teknologi karena rendahnya keterampilan teknologi yang dimiliki guru. Akhirnya, dengan kebijakan yang tidak bijak, beberapa sekolah melarang siswanya membawa handphone ke sekolah.
Apa yang bisa dilakukan oleh handphone dalam kegiatan pembelajaran?
Sebelum membedah daya guna handphone dalam kegiatan pembelajaran, penting dipahami fitur-fitur yang tersedia di dalamnya. Fitur-fitur dalam handphone di antaranya berupa telepon, pesan pendek (Short Message Service/SMS), alarm, timer hitung mundur, stopwatch, kalkulator, pemutar musik, kamera, rekaman video, rekaman suara, infrared/bluetooth, tv, hingga internet melalui berbagai koneksi).
Pertanyaannya, seberapa kreatifkah guru dalam memanfaatkan fitur-fitur ini atau malah menganggapnya fitur-fitur ini tidak berguna dalam kegiatan pembelajaran?
Fitur-fitur handphone dapat dimasukkan dalam langkah-langkah pembelajaran sebagai wujud nyata strategi pembelajaran. Tentu saja, pemanfaatan fitur-fitur handphone harus disesuaikan dengan kompetensi dasar apa yang hendak diajarkan. Guru harus mampu memilih fitur-fitur handphone yang dapat digunakan pada kompetensi dasar tertentu, bukan dipaksa-paksakan, dicocok-cocokkan.
Dalam kegiatan pembelajaran, layanan telepon dapat dimanfaatkan guru dalam menunjuk kelompok. Kelompok ini dapat dibentuk sebelumnya berdasarkan kemampuan tiap individu, bukan secara acak. Kelompok ini dapat diberikan tugas oleh guru seperti untuk penunjukkan presentasi. Penujukkan kelompok dapat dilakukan secara acak melalui fitur panggilan cepat di dalam handphone. Guru harus menyimpan nomor handphone perwakilan beberapa kelompok.
Jika tiba giliran kelompok untuk presentasi, guru cukup menekan tombol 2 hingga 9. Tunggu beberapa saat dan simak telepon siapa yang berdering. Kelompok inilah yang memperoleh giliran untuk presentasi.
Layanan pesan pendek/SMS dapat digunakan guru dalam membagi tema. Langkah ini bertujuan agar tema tiap kelompok tidak diketahui oleh kelompok lain. Caranya, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Guru mengirimkan SMS ke perwakilan kelompok berdasarkan beberapa tema sudah dipersiapkan sebelumnya.
Untuk membatasi waktu, guru dapat memanfaatkan alarm handphone. Dalam kegiatan presentasi, diskusi, hingga ulangan harian dapat digunakan fitur alarm. Jatah waktu yang diberikan dapat diukur dengan objektif melalui alarm. Jatah waktu tiap kelompok/tiap siswa sama, bukan berdasarkan insting, melainkan berdasarkan alarm. Layanan yang mirip dengan alarm dalam handphone adalah timer hitung mundur dan stopwatch. Layanan fitur stopwatch dapat digunakan dalam pembelajaran olah raga.
Kalkulator dapat dimanfaatkan guru dengan bijak. Ada saatnya guru memanfaatkan fitur ini dan ada saatnya tidak. Hal ini sangat bergantung pada kompetensi dasar bidang studi yang diberikan. Jika guru sedang membawakan kompetensi non-matematika dan ingin hasil cepat, tidak ada salahnya guru memanfaatkan layanan ini. Namun jika guru sedang melatih kompetensi hitung, guru harus memperhitungkan kembali pemakaian layanan hitung ini. Sekali lagi, guru harus bijak memanfaatkan layanan ini.
Dalam pembelajaran bahasa, layanan rekaman suara dapat digunakan guru dalam memberikan penguatan. Misalnya pembelajaran membaca puisi, membaca berita, membaca pengumuman, dll. Guru dapat menggunakan layanan rekaman suara dan diputar kembali untuk diberikan penguatan.
Jika layanan suara belum cukup, guru dapat menggunakan layanan rekaman video. Melalui rekaman video guru dan siswa dapat menyimak sajian audio-visual. Guru dapat memberikan penguatan sikap dan ekspresi dalam pembelajaran berpidato, membaca puisi, hingga drama.
Layanan rekaman video juga dapat digunakan guru Bahasa Indonesia dalam menulis paragraf.
Guru dapat juga memberikan tugas pada perwakilan kelompok, jika tidak semua siswa memiliki handphone berfitur kamera, untuk memotret objek atau merekam keramaian stasiun kereta api. Lalu, guru memberikan tugas menulis paragraf. Begitu juga guru bidang studi lain, guru ekonomi dapat merekam keramaian pasar, guru olahraga memberikan masukan lay-up dalam olah raga basket yang benar, dll.
Sebagai koneksi transfer data, guru dan siswa dapat memanfaatkan fitur infrared dan bluetooth. Objek yang sudah terpotret dapat dibagi kepada siswa lain atau diserahkan pada guru. Guru atau siswa dapat metransfer langsung ke laptop untuk ditayangkan melalui LCD Proyektor. Objek ini dapat disesuaikan dengan bidang studi yang diajarkan guru.
Handphone tertentu sudah menyediakan fasitas televisi. Guru bidang studi tertentu dapat memanfaatkan televisi sebagai bahan ajar. Misalkan berita, iklan, sinetron, dll. Pemilihan bahan ajar ini harus dilakukan guru secara selektif dan benar-benar membawa manfaat dalam pencapaian tujuan belajar.
Melalui koneksi data, handphone kini menyediakan layanan internet. Melalui internet, guru dapat mencari bahan ajar dan jutaan referensi dalam internet. Tentu jika menginginkan layar yang lebar, handphone dapat dikoneksikan ke laptop dan ditayangkan melalui LCD Proyektor. Jika belum puas melalui koneksi handphone, guru dapat memanfaatkan jaringan internet via kabel dan nirkabel, misal wifi.
Praktik lebih lanjut pemanfaatkan handphone dapat dikreasikan guru. Tentu tidak semua guru dapat memanfaatkan layanan handphone yangdapat dipadukan dengan produk TIK lainnya. Hal ini sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur TIK di sekolah dan daya melek guru terhadap TIK. Yang jelas bahwa berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan produk TIK membawa dampak positif dalam kegiatan pembelajaran menuju pencapaian hasil belajar yang lebih baik. Pertanyaannya, masihkah handphone dilarang dibawa ke sekolah?
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 September 2010
Selasa, 24 Agustus 2010
Jagung
Jagung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
?
Jagung
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Plantae
Divisio:
Angiospermae
Kelas:
Monocotyledoneae
Ordo:
Poales
Familia:
Poaceae
Genus:
Zea
Spesies
Zea mays L.
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Biologi jagung
Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu[1]. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.
Deskripsi
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Jagung hibrida di ladang.
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.
Kandungan gizi
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
?
Jagung
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Plantae
Divisio:
Angiospermae
Kelas:
Monocotyledoneae
Ordo:
Poales
Familia:
Poaceae
Genus:
Zea
Spesies
Zea mays L.
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Biologi jagung
Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu[1]. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.
Deskripsi
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Jagung hibrida di ladang.
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.
Kandungan gizi
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Menjadi Orang Tua
ditulis oleh: Lianneke Gunawan dari berbagai sumber
Seringkali orangtua bingung mendidik, menghadapi tingkah anak-anaknya terutama anak-anak usia balita. Berbagai keluhan seperti bagaimana cara mengajari anak menggunting kertas, mewarna dan lain-lain. Sementara saat seusianya, rasanya kita lebih terampil dari mereka.Tak bisa dipungkiri, membimbing anak memang merupakan tantangan terbesar orangtua baru masa kini. Tapi bukan berarti tak ada jalan untuk mengatasinya. Mengikuti diskusi dan seminar untuk para orangtua (parenting class) adalah salah satu cara yang menarik untuk dicoba. Ajang seperti ini juga dapat dijadikan para orangtua untuk saling sharing, bertukar pengalaman dan lain-lain.
Anak adalah anugerah yang besar dari Tuhan. Setiap anak adalah unik. Dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tertentu agar orangtua dapat mengembangkan potensi anak dengan maksimal. Disinilah dalam parenting class, orangtua bisa mengambil manfaatnya. Fenomena yang kini sedang berkembang, parenting class tidak hanya ditujukan untuk orangtua, melainkan bagi mereka yang terlibat dalam pengasuhan anak, seperti kakek-nenek, paman-bibi, baby sitter, perawat, terapis, pekerja sosial, dan lain-lain.
Kini banyak parenting class yang dilakukan melalui internet, dengan penyelenggara yang berasal dari suatu tempat di luar negeri. Tapi karena unsur sharing adalah hal yang berperan penting, maka kelas semacam ini kurang dapat menjawab kebutuhan peserta untuk bertatap muka dan saling memberikan dukungan emosi. Yang banyak terjadi, program melalui internet hanya terbatas pada tingkat pengetahuan saja. Belum lagi masalah perbedaan budaya yang ada di antara komunitas internet.
Pembelajaran dengan membaca buku-buku saja tidak juga cukup untuk dilakukan. Maka, agar manfaat yang didapat terasa efektif, sebaiknya pilihlah parenting class intensif. Pastikan bahwa materi yang disajikan tidak hanya mencakup penguasaan konsep teknik parenting, namun juga praktik bagi masing-masing orangtua. Artinya, ada bagian yang melibatkan setiap peserta untuk mempraktikkan teori dan kemudian melakukan evaluasi.
Seringkali orangtua bingung mendidik, menghadapi tingkah anak-anaknya terutama anak-anak usia balita. Berbagai keluhan seperti bagaimana cara mengajari anak menggunting kertas, mewarna dan lain-lain. Sementara saat seusianya, rasanya kita lebih terampil dari mereka.Tak bisa dipungkiri, membimbing anak memang merupakan tantangan terbesar orangtua baru masa kini. Tapi bukan berarti tak ada jalan untuk mengatasinya. Mengikuti diskusi dan seminar untuk para orangtua (parenting class) adalah salah satu cara yang menarik untuk dicoba. Ajang seperti ini juga dapat dijadikan para orangtua untuk saling sharing, bertukar pengalaman dan lain-lain.
Anak adalah anugerah yang besar dari Tuhan. Setiap anak adalah unik. Dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tertentu agar orangtua dapat mengembangkan potensi anak dengan maksimal. Disinilah dalam parenting class, orangtua bisa mengambil manfaatnya. Fenomena yang kini sedang berkembang, parenting class tidak hanya ditujukan untuk orangtua, melainkan bagi mereka yang terlibat dalam pengasuhan anak, seperti kakek-nenek, paman-bibi, baby sitter, perawat, terapis, pekerja sosial, dan lain-lain.
Kini banyak parenting class yang dilakukan melalui internet, dengan penyelenggara yang berasal dari suatu tempat di luar negeri. Tapi karena unsur sharing adalah hal yang berperan penting, maka kelas semacam ini kurang dapat menjawab kebutuhan peserta untuk bertatap muka dan saling memberikan dukungan emosi. Yang banyak terjadi, program melalui internet hanya terbatas pada tingkat pengetahuan saja. Belum lagi masalah perbedaan budaya yang ada di antara komunitas internet.
Pembelajaran dengan membaca buku-buku saja tidak juga cukup untuk dilakukan. Maka, agar manfaat yang didapat terasa efektif, sebaiknya pilihlah parenting class intensif. Pastikan bahwa materi yang disajikan tidak hanya mencakup penguasaan konsep teknik parenting, namun juga praktik bagi masing-masing orangtua. Artinya, ada bagian yang melibatkan setiap peserta untuk mempraktikkan teori dan kemudian melakukan evaluasi.
Pentingnya Sarapan Pagi
ditulis oleh: Lianneke Gunawan dari berbagai sumber
Tahukah Anda bahwa sarapan yang kita makan sehari-hari sangat mempengaruhi kita dalam melakukan sesuatu hal? Dari penelitian yang ada, menunjukkan bahwa anak-anak yang makan sarapan pagi lebih berprestasi di sekolah. Selain itu studi juga menemukan bahwa apa yang kita makan pada sarapan pagi amatlah menentukan terhadap apa yang kita lakukan, terutama kualitas belajar anak-anak.
Suatu studi mengatakan bahwa komposisi yang tepat pada sarapan pagi sangat mempengaruhi proses belajar anak-anak. Dalam studi itu ditemukan, anak-anak yang memakan banyak makanan yang mengandung serat seperti sayuran, gandum, dan oatmeal melakukan beberapa hal dengan lebih baik dalam mengingat pelajaran (verbal & spatial) dan perhatian yang lebih baik (visual & auditory).
Makanan yang banyak mengandung serat dan protein akan lebih mudah dicerna dan memiliki kadar glukosa lebih rendah dibanding makanan lainnya. Glukosa adalah suatu jenis gula yang merupakan sumber pembentukan sel-sel tubuh. Tubuh kita mengubah karbohidrat dari makanan dan mengubahnya menjadi glukosa. Oleh karena itu biasakanlah kita menempatkan selalu banyak makanan berserat disamping makanan mengandung karbohidarat dalam sarapan pagi untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas belajar anak-anak.
Tahukah Anda bahwa sarapan yang kita makan sehari-hari sangat mempengaruhi kita dalam melakukan sesuatu hal? Dari penelitian yang ada, menunjukkan bahwa anak-anak yang makan sarapan pagi lebih berprestasi di sekolah. Selain itu studi juga menemukan bahwa apa yang kita makan pada sarapan pagi amatlah menentukan terhadap apa yang kita lakukan, terutama kualitas belajar anak-anak.
Suatu studi mengatakan bahwa komposisi yang tepat pada sarapan pagi sangat mempengaruhi proses belajar anak-anak. Dalam studi itu ditemukan, anak-anak yang memakan banyak makanan yang mengandung serat seperti sayuran, gandum, dan oatmeal melakukan beberapa hal dengan lebih baik dalam mengingat pelajaran (verbal & spatial) dan perhatian yang lebih baik (visual & auditory).
Makanan yang banyak mengandung serat dan protein akan lebih mudah dicerna dan memiliki kadar glukosa lebih rendah dibanding makanan lainnya. Glukosa adalah suatu jenis gula yang merupakan sumber pembentukan sel-sel tubuh. Tubuh kita mengubah karbohidrat dari makanan dan mengubahnya menjadi glukosa. Oleh karena itu biasakanlah kita menempatkan selalu banyak makanan berserat disamping makanan mengandung karbohidarat dalam sarapan pagi untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas belajar anak-anak.
Kekurangan Kalsium
ditulis oleh Lianneke Gunawan dari berbagai sumber
Tahukah Anda bahwa tubuh kita membutuhkan asupan kalsium? Kalsium dibutuhkan terutama pada masa pertumbuhan anak serta dapat memperkuat tulang dan giginya. Kekurangan kalsium saat masa kanak-kanak dapat menipiskan tulangnya disaat anak memanjang (bertambah tinggi). Selain itu kekurangan kalsium dapat juga menyebabkan lengan bawah rentan patah, sebab secara alami lenganlah yang berfungsi menahan tubuh apabila terjatuh.
Pada masa bayi, bayi mendapatkan kalsium yang cukup saat minum ASI (Air Susu Ibu) atau susu formula. Begitu bayi tersebut tumbuh dan mulai makan makanan yang bersifat padat, konsumsi susunya akan menjadi agak menurun. ‘Kejahatan' terbesar anak adalah kebiasaan melewatkan sarapan plus minum minuman bersoda ketimbang susu. Bayangkan, riset membuktikkan bahwa anak sekarang minum soda sampai dua kali lipat lebih daripada minum susu. Akibat negatif lain dari kurangnya minum susu adalah anak tidak cukup mendapat vitamin D yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang.
Suatu studi membuktikan bahwa anak di atas usia satu tahun butuh sekitar 500 miligram (mg) kalsium per hari, sementara yang berumur antara empat dan delapan tahun memerlukan 800 mg. Kalsium dapat ditemukan pada:
1. Secangkir susu kedelai yang difortifikasi (diperkaya zat tertentu)
2. Aneka jus yang diperkaya kalsium
3. Susu sapi yang kandungannya mencapai 300 mg kalsium.
4. Secangkir yoghurt mengandung kalsium sebanyak 350 mg.
5. Selembar keju mengandung 200 mg kalsium.
Jika kalsium dari makanan kurang mencukupi, coba bicarakan dengan dokter Anda apakah dibutuhkan untuk mengonsumsi suplemen. Akhir kata, mari kita mulai hidup sehat dengan minum susu teratur!
Tahukah Anda bahwa tubuh kita membutuhkan asupan kalsium? Kalsium dibutuhkan terutama pada masa pertumbuhan anak serta dapat memperkuat tulang dan giginya. Kekurangan kalsium saat masa kanak-kanak dapat menipiskan tulangnya disaat anak memanjang (bertambah tinggi). Selain itu kekurangan kalsium dapat juga menyebabkan lengan bawah rentan patah, sebab secara alami lenganlah yang berfungsi menahan tubuh apabila terjatuh.
Pada masa bayi, bayi mendapatkan kalsium yang cukup saat minum ASI (Air Susu Ibu) atau susu formula. Begitu bayi tersebut tumbuh dan mulai makan makanan yang bersifat padat, konsumsi susunya akan menjadi agak menurun. ‘Kejahatan' terbesar anak adalah kebiasaan melewatkan sarapan plus minum minuman bersoda ketimbang susu. Bayangkan, riset membuktikkan bahwa anak sekarang minum soda sampai dua kali lipat lebih daripada minum susu. Akibat negatif lain dari kurangnya minum susu adalah anak tidak cukup mendapat vitamin D yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang.
Suatu studi membuktikan bahwa anak di atas usia satu tahun butuh sekitar 500 miligram (mg) kalsium per hari, sementara yang berumur antara empat dan delapan tahun memerlukan 800 mg. Kalsium dapat ditemukan pada:
1. Secangkir susu kedelai yang difortifikasi (diperkaya zat tertentu)
2. Aneka jus yang diperkaya kalsium
3. Susu sapi yang kandungannya mencapai 300 mg kalsium.
4. Secangkir yoghurt mengandung kalsium sebanyak 350 mg.
5. Selembar keju mengandung 200 mg kalsium.
Jika kalsium dari makanan kurang mencukupi, coba bicarakan dengan dokter Anda apakah dibutuhkan untuk mengonsumsi suplemen. Akhir kata, mari kita mulai hidup sehat dengan minum susu teratur!
Jumat, 20 Agustus 2010
demokrasi matrilinealnya
Orang
Minangkabau terkesan terlalu membanggakan "demokrasi matrilinealnya",
yang katanya membuat status kaum wanita mereka lebih baik dalam
masyarakat ketimbang kaum wanita dari suku bangsa lain. Sampai batas
tertentu hal itu mungkin betul.
Namun, pada hakekatnya kaum wanita Minang pada zaman lampau, seperti
halnya di tempat-tempat lain, juga tersubordinasi di bawah dominasi
kaum pria. Di bidang pendidikan umpamanya, umumnya keluarga Minang
menganggap lebih penting menyekolahkan anak laki-laki ketimbang anak
perempuan (lihatlah refleksinya dalam banyak novel Indonesia awal yang
ditulis oleh penulis Minang). Anak-anak gadis dipingit orang tuanya di
rumah untuk kemudian menjalani kawin paksa di usia muda. Mungkin
Syarifah Nawawi adalah gadis Minang pertama yang terbebaskan dari
tradisi kuno itu.
Syarifah lahir di Bukittinggi sekitar
tahun 1896, anak dari Guru Nawawi gelar Soetan Ma''moer (1859-1928),
seorang guru pribumi yang terkenal di Sekolah Raja (Kweekschool)
Bukittinggi pada zaman kolonial. Nawawi menikah dengan seorang wanita
Minang bernama Chatimah, istrinya satu-satunya. Dari perkawinan itu ia
beroleh 9 anak: 6 laki-laki dan 3 perempuan. Syarifah adalah anak
keempat dan putri ketiga dalam keluarga Nawawi. Pendidikan untuk anak
penting bagi Nawawi: anak-anaknya disekolahkan ke sekoah Eropa; dua
saudara perempuan Syarifah mendapat pendidikan privat di rumah.
Nawawi yang berpikiran maju memasukkan Syarifah ke Europeesche Lagere School (ELS), sekolah Belanda di Bukittinggi. Tamat dari sana kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Kweekschool
Bukittingi, tempat ayahnya mengajar, pada tahun 1907. Syarifah adalah
satu-satunya murid perempuan di antara 75 orang murid sekolah itu di
tahun 1908 (17 orang calon ambtenaar/pegawai, 58 orang calon
guru). Dengan demikian, Syarifah adalah gadis Minang pertama yang
mencicipi sistem pendidikan sekolah Eropa.
Minangkabau terkesan terlalu membanggakan "demokrasi matrilinealnya",
yang katanya membuat status kaum wanita mereka lebih baik dalam
masyarakat ketimbang kaum wanita dari suku bangsa lain. Sampai batas
tertentu hal itu mungkin betul.
Namun, pada hakekatnya kaum wanita Minang pada zaman lampau, seperti
halnya di tempat-tempat lain, juga tersubordinasi di bawah dominasi
kaum pria. Di bidang pendidikan umpamanya, umumnya keluarga Minang
menganggap lebih penting menyekolahkan anak laki-laki ketimbang anak
perempuan (lihatlah refleksinya dalam banyak novel Indonesia awal yang
ditulis oleh penulis Minang). Anak-anak gadis dipingit orang tuanya di
rumah untuk kemudian menjalani kawin paksa di usia muda. Mungkin
Syarifah Nawawi adalah gadis Minang pertama yang terbebaskan dari
tradisi kuno itu.
Syarifah lahir di Bukittinggi sekitar
tahun 1896, anak dari Guru Nawawi gelar Soetan Ma''moer (1859-1928),
seorang guru pribumi yang terkenal di Sekolah Raja (Kweekschool)
Bukittinggi pada zaman kolonial. Nawawi menikah dengan seorang wanita
Minang bernama Chatimah, istrinya satu-satunya. Dari perkawinan itu ia
beroleh 9 anak: 6 laki-laki dan 3 perempuan. Syarifah adalah anak
keempat dan putri ketiga dalam keluarga Nawawi. Pendidikan untuk anak
penting bagi Nawawi: anak-anaknya disekolahkan ke sekoah Eropa; dua
saudara perempuan Syarifah mendapat pendidikan privat di rumah.
Nawawi yang berpikiran maju memasukkan Syarifah ke Europeesche Lagere School (ELS), sekolah Belanda di Bukittinggi. Tamat dari sana kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Kweekschool
Bukittingi, tempat ayahnya mengajar, pada tahun 1907. Syarifah adalah
satu-satunya murid perempuan di antara 75 orang murid sekolah itu di
tahun 1908 (17 orang calon ambtenaar/pegawai, 58 orang calon
guru). Dengan demikian, Syarifah adalah gadis Minang pertama yang
mencicipi sistem pendidikan sekolah Eropa.
Kamis, 05 Agustus 2010
Sains dalam kurikulum Sekolah Dasar
Sains dalam kurikulum Sekolah Dasar
Dari uraian di atas Sains adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai Obyek, menggunakan metode Ilmiah sehingga perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Setiap guru harus paham akan alasan mengapa sains perlu diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasuk ke dalam kurikulum suatu sekolah. Usman Samatowa (2006) menegemukakan empat Alasan sains dimasukan dikurikulum Sekolah Dasar yaitu:
* Bahwa sains berfaedah Bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidangsains, sebab sains merupakan dasar teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains. Orang tidak menjadi Insinyur elektronika yang baik, atau dokter yang baik, tanpa dasar yang cukup luas mengenai berbagai gejala alam.
* Bila diajarkan sains menurut cara yang tepat, maka sains merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya sains diajarkan dengan mengikuti metode "menemukan sendiri". Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya dapat dikemukakan suatu masalah demikian". Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?" Anak diminta untuk mencari dan menyelidiki hal ini.
* Bila sains diajarkan melalui percobaan -percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak. maka sains tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka.
* Mata pelajaran ini mempunyai: nilai – nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk keprbadian anak secara keseluruhan.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Dari uraian di atas Sains adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai Obyek, menggunakan metode Ilmiah sehingga perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Setiap guru harus paham akan alasan mengapa sains perlu diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasuk ke dalam kurikulum suatu sekolah. Usman Samatowa (2006) menegemukakan empat Alasan sains dimasukan dikurikulum Sekolah Dasar yaitu:
* Bahwa sains berfaedah Bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidangsains, sebab sains merupakan dasar teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains. Orang tidak menjadi Insinyur elektronika yang baik, atau dokter yang baik, tanpa dasar yang cukup luas mengenai berbagai gejala alam.
* Bila diajarkan sains menurut cara yang tepat, maka sains merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya sains diajarkan dengan mengikuti metode "menemukan sendiri". Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya dapat dikemukakan suatu masalah demikian". Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?" Anak diminta untuk mencari dan menyelidiki hal ini.
* Bila sains diajarkan melalui percobaan -percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak. maka sains tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka.
* Mata pelajaran ini mempunyai: nilai – nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk keprbadian anak secara keseluruhan.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Hakekat Sains dan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Hakekat Sains dan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit telah dijelaskan diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika, sedangkan life science meliputi anatomi, fisiologi, zoologi, citologi, embriologi, mikrobiologi.
IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan Sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar. Namun dari waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan " Sains hari ini adalah teknologi hari esok" merupakan semboyan yang berkali-kali dibuktikan oleh sejarah. Bahkan kini Sains dan teknologi manunggal menjadi budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer), ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology).
IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (dalam Wina-putra, 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen.
Mata pelajaran ini pula di gunakan dalam UN dan UASBN
Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit telah dijelaskan diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika, sedangkan life science meliputi anatomi, fisiologi, zoologi, citologi, embriologi, mikrobiologi.
IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan Sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar. Namun dari waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan " Sains hari ini adalah teknologi hari esok" merupakan semboyan yang berkali-kali dibuktikan oleh sejarah. Bahkan kini Sains dan teknologi manunggal menjadi budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer), ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology).
IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (dalam Wina-putra, 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen.
Mata pelajaran ini pula di gunakan dalam UN dan UASBN
Sabtu, 31 Juli 2010
Mata Pelajaran : SAINS
Materi Pokok : Ciri-ciri khusus makhluk hidup
Pertemuan / waktu : Pertama / 2 x 30 menit
Metode : Ceramah
A. Kompetensi Dasar
1.1 Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki hewan (kelelawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya
B. Indikator
o Mencari contoh hewan yang memiliki ciri khusus untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya: kelelawar dan cicak
o Mendeskripsikan cirri khusus hewan yang ada di sekitarnya, misalnya kelelawar mempunyai alat pendeteksi benda-benda di sekitarnya (sonar)
C. Materi Essensial
Ciri-ciri khusus beberapa jenis hewan. Hlm.2
D. Media Belajar
o Buku SAINS SD Haryanto Erlangga Kelas VI
o Buku atau majalah
E. Rincian Kegiatan Pembelajaran Siswa
1. Pendahuluan
o Menyampaikan Indikator dan kompetensi yang diharapkan
(5 menit)
2. Kegiatan Inti
o Memahami peta konsep tentang makhluk hidup
o Mempelajari alat pendeteksi benda pada kelelawar (ekolokasi)
- Memancarkan bunyi dari mulutnya,
- bunyi tersebut akan dipantulkan oleh benda disekitarnya,
- selanjutnya kelelawar dapat memperkirakan jarak benda tersebut dari bunyi yang kembali padanya
o Mempelajari Kaki lengket pada cecak dan tokek.
- Telapak kaki tokek mempunyai lapisan berupa struktur seperti rambut yang lengket
o Mempelajari Lidah yang panjang dan lengket pada bunglon dan landak semut
(50 menit)
3. Penutup
o Memberikan kesimpulan
- Kelelawar mencari makan dimalam hari dengan memanfaatkan pantulan bunyi
- Cecak dan tokek merayap di dinding karena mempunyai perekat
- Bunglon dan landak semut menangkap mangsanya dengan lidah.
(5 menit)
4. Pekerjaan Rumah
o Tugas 1.1, 1.2, 1.3
Mengetahui
Kepala Sekolah
( ) Jakarta,
Guru Mata Pelajaran
( )
Mata Pelajaran : SAINS
Materi Pokok : Ciri-ciri khusus makhluk hidup
Pertemuan / waktu : Kedua / 2 x 30 menit
Metode : Ceramah
A. Kompetensi Dasar
1.1 Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki hewan (kelelawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya
B. Indikator
o Mencari contoh hewan yang memiliki ciri khusus untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya: kelelawar dan cicak
o Mendeskripsikan cirri khusus hewan yang ada di sekitarnya, misalnya kelelawar mempunyai alat pendeteksi benda-benda di sekitarnya (sonar)
C. Materi Essensial
Ciri-ciri khusus beberapa jenis hewan. – Lanjutan –
D. Media Belajar
o Buku SAINS SD Haryanto Erlangga Kelas VI
E. Rincian Kegiatan Pembelajaran Siswa
1. Pendahuluan
o Mengulang materi pertemuan sebelumnya
(5 menit)
2. Kegiatan Inti
o Menagih tugas pertemuan sebelumnya
o Mempelajari Punuk pada unta.
- Unta ada yang memiliki satu punuk dan ada yang dua punuk
- Punuk berisi lemakuntuk menyimpan cairan
- Unta tidak berkeringat, dan hanya sedikit mengeluarkan kotoran
o Mempelajari mata dan pendengaran yang tajam pada burung hantu.
- Kedua mata burung terletak di bagian depan kepala, memiliki leher yang lentur
- Pendengaran nya sangat tajam untuk menentukan lokasi mangsanya.
o Mempelajari Semburan air ikan pemanah.
- Menyemburkan air pada hewan yang sedang bergantung
o Mempelajari Bentuk sederhana bunga karang (koral).
- Menempel didasar laut dan menunggu datangnya mangsa.
- Sisi tubuh bunga karang mempunyai lubang halus tempat masuknya air
(50 menit)
3. Penutup
o Memberikan kesimpulan :
- Unta memiliki punuk untuk menyimpan lemak
- Burung hantu menggunakan mata dan telinga untuk mecari mangsa
- Ikan pemanah menyemburkan air untuk menangkap mangsanya.
- Bunga karang enempel di dasar laut dan menunggu datangnya mangsa
(5 menit)
4. Pekerjaan Rumah
o Tugas 1.4
Mengetahui
Kepala Sekolah
( ) Jakarta,
Guru Mata Pelajaran
( )
Materi Pokok : Ciri-ciri khusus makhluk hidup
Pertemuan / waktu : Pertama / 2 x 30 menit
Metode : Ceramah
A. Kompetensi Dasar
1.1 Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki hewan (kelelawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya
B. Indikator
o Mencari contoh hewan yang memiliki ciri khusus untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya: kelelawar dan cicak
o Mendeskripsikan cirri khusus hewan yang ada di sekitarnya, misalnya kelelawar mempunyai alat pendeteksi benda-benda di sekitarnya (sonar)
C. Materi Essensial
Ciri-ciri khusus beberapa jenis hewan. Hlm.2
D. Media Belajar
o Buku SAINS SD Haryanto Erlangga Kelas VI
o Buku atau majalah
E. Rincian Kegiatan Pembelajaran Siswa
1. Pendahuluan
o Menyampaikan Indikator dan kompetensi yang diharapkan
(5 menit)
2. Kegiatan Inti
o Memahami peta konsep tentang makhluk hidup
o Mempelajari alat pendeteksi benda pada kelelawar (ekolokasi)
- Memancarkan bunyi dari mulutnya,
- bunyi tersebut akan dipantulkan oleh benda disekitarnya,
- selanjutnya kelelawar dapat memperkirakan jarak benda tersebut dari bunyi yang kembali padanya
o Mempelajari Kaki lengket pada cecak dan tokek.
- Telapak kaki tokek mempunyai lapisan berupa struktur seperti rambut yang lengket
o Mempelajari Lidah yang panjang dan lengket pada bunglon dan landak semut
(50 menit)
3. Penutup
o Memberikan kesimpulan
- Kelelawar mencari makan dimalam hari dengan memanfaatkan pantulan bunyi
- Cecak dan tokek merayap di dinding karena mempunyai perekat
- Bunglon dan landak semut menangkap mangsanya dengan lidah.
(5 menit)
4. Pekerjaan Rumah
o Tugas 1.1, 1.2, 1.3
Mengetahui
Kepala Sekolah
( ) Jakarta,
Guru Mata Pelajaran
( )
Mata Pelajaran : SAINS
Materi Pokok : Ciri-ciri khusus makhluk hidup
Pertemuan / waktu : Kedua / 2 x 30 menit
Metode : Ceramah
A. Kompetensi Dasar
1.1 Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki hewan (kelelawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya
B. Indikator
o Mencari contoh hewan yang memiliki ciri khusus untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya: kelelawar dan cicak
o Mendeskripsikan cirri khusus hewan yang ada di sekitarnya, misalnya kelelawar mempunyai alat pendeteksi benda-benda di sekitarnya (sonar)
C. Materi Essensial
Ciri-ciri khusus beberapa jenis hewan. – Lanjutan –
D. Media Belajar
o Buku SAINS SD Haryanto Erlangga Kelas VI
E. Rincian Kegiatan Pembelajaran Siswa
1. Pendahuluan
o Mengulang materi pertemuan sebelumnya
(5 menit)
2. Kegiatan Inti
o Menagih tugas pertemuan sebelumnya
o Mempelajari Punuk pada unta.
- Unta ada yang memiliki satu punuk dan ada yang dua punuk
- Punuk berisi lemakuntuk menyimpan cairan
- Unta tidak berkeringat, dan hanya sedikit mengeluarkan kotoran
o Mempelajari mata dan pendengaran yang tajam pada burung hantu.
- Kedua mata burung terletak di bagian depan kepala, memiliki leher yang lentur
- Pendengaran nya sangat tajam untuk menentukan lokasi mangsanya.
o Mempelajari Semburan air ikan pemanah.
- Menyemburkan air pada hewan yang sedang bergantung
o Mempelajari Bentuk sederhana bunga karang (koral).
- Menempel didasar laut dan menunggu datangnya mangsa.
- Sisi tubuh bunga karang mempunyai lubang halus tempat masuknya air
(50 menit)
3. Penutup
o Memberikan kesimpulan :
- Unta memiliki punuk untuk menyimpan lemak
- Burung hantu menggunakan mata dan telinga untuk mecari mangsa
- Ikan pemanah menyemburkan air untuk menangkap mangsanya.
- Bunga karang enempel di dasar laut dan menunggu datangnya mangsa
(5 menit)
4. Pekerjaan Rumah
o Tugas 1.4
Mengetahui
Kepala Sekolah
( ) Jakarta,
Guru Mata Pelajaran
( )
Selasa, 13 Juli 2010
Pemanfaatan Internet di Sekolah
Berdasarkan data statistic Indonesia, terlihat bahwa terkhususnya di Indonesia, terdapat 11,5 juta orang yang melakukan akses internet atau 5,2% dari total penduduk Indonesia. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa pertumbuhan pengguna internet di seluruh Indonesia berkembangan sangat pesat dan sudah menjadi suatu kebutuhan utama bagi setiap orang.
Teknologi iformasi, khususnya internet memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap dimensi pendidikan. Internet memberikan kontribusi yang sangat besar didalam membantu setiap dimensi yang ada untuk selalu mendapatkan informasi yang up to date. Jaringan internet merupakan salah satu jenis jaringan yang popular dimanfaatkan, karena internet merupakan teknologi informasi yang mampu menghubungan komputer di seluruh dunia, sehingga memungkinkan informasi dari berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dipakai secara bersama-sama. Demikian juga dalam dunia pendidikan, berkat adanya jaringan internet, maka dapat membantu setiap penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat informasi-informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.
Pada dasarnya internet memberikan kemudahan bagi kita didalam mengembangkan pendidikan dan pengajaran dalam bidang IPS dan sosiologi. Kehadiran internet untuk saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi siapa saja, tidak terbatas hanya pada pelaku bisnis, namun hal ini juga udah merambah dalam berbagai bidang, terutama dunia pendidikan. Namun untuk menjadikan internet sebagai basis pengajaran, kelemahan utamanya adalah ketrsediaan sarana prasarana pendukung seperti jaringan internet, ketersediaan komoputer, dan berbagai sarana lainnya yang mesti disedia. Selain itu, perlu juga didukung dengan tingkat akses yang memadai. (reza )
Teknologi iformasi, khususnya internet memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap dimensi pendidikan. Internet memberikan kontribusi yang sangat besar didalam membantu setiap dimensi yang ada untuk selalu mendapatkan informasi yang up to date. Jaringan internet merupakan salah satu jenis jaringan yang popular dimanfaatkan, karena internet merupakan teknologi informasi yang mampu menghubungan komputer di seluruh dunia, sehingga memungkinkan informasi dari berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dipakai secara bersama-sama. Demikian juga dalam dunia pendidikan, berkat adanya jaringan internet, maka dapat membantu setiap penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat informasi-informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.
Pada dasarnya internet memberikan kemudahan bagi kita didalam mengembangkan pendidikan dan pengajaran dalam bidang IPS dan sosiologi. Kehadiran internet untuk saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi siapa saja, tidak terbatas hanya pada pelaku bisnis, namun hal ini juga udah merambah dalam berbagai bidang, terutama dunia pendidikan. Namun untuk menjadikan internet sebagai basis pengajaran, kelemahan utamanya adalah ketrsediaan sarana prasarana pendukung seperti jaringan internet, ketersediaan komoputer, dan berbagai sarana lainnya yang mesti disedia. Selain itu, perlu juga didukung dengan tingkat akses yang memadai. (reza )
Kamis, 03 Juni 2010
Kemampuan membaca dan menulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
1. IDENTIFIKASI MASALAH
Kemampuan membaca dan menulis merupakan bagian kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Oleh karena itu kemampuan membaca dan menulis perlu mendapat perhatian besar dari guru, terutama guru-guru yang mengajar di kelas rendah. Mengajarkan kemampuan membaca dan menulis pada anak-anak kelas awal yang masih berada dalam usia bermain dan belum memungkinkan anak pada suasana yang serius dan situasi pembelajaran yang formal tentu banyak mengalami kesulitan.
Proses kegiatan belajar mengajar sudah berjalan kurang lebih enam minggu, namun kemampuan membaca dan menulis siswa kelas I masih rendah. Dari 30 siswa yang mampu membaca lancar dan menulis dengan benar ada 20%, yang lain masih mengeja dan belum lancar membaca bahkan ada yang belum hafal huruf.
Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca dan menulis menyebabkan rendah pula kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran serta mempunyai dampak yang buruk terhadap perkembangan kemampuan siswa dalam memahami materi mata pelajaran-mata pelajaran yang lain.
Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis siswa kelas I di SDN Kapasari I dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas selain untuk perbaikan pembelajaran juga ditujukan untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PGSD 4412) pada Program S 1 PGSD.
Laporan ini disusun berdasarkan catatan yang dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan serta selama kegiatan pelaksanaan observasi dan diskusi pelaksanaan perbaikan yang dilakukan dalam tiga siklus.
2. ANALISIS MASALAH
Kegiatan belajar mengajar sudah berjalan kurang lebih enam minggu, kemampuan membaca dan menulis siswa kelas I masih rendah. Dari 30 siswa kelas I SDN Kapasari I/292 yang mampu membaca lancar dan menulis dengan benar 20%, siswa yang belum hafal huruf 10%, dan yang lain masih mengeja dan belum lancar membaca dan menulis dengan benar.
Dilihat dari penilaian kemampuan membaca di atas maka sangat mempengaruhi siswa dalam memahami materi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan mata pelajaran-mata pelajaran yang lain.
Permasalahan rendahnya kemampuan membaca dan menulis di SDN Kapasari I disebabkan kemungkinan faktor lingkungan keluarga (orang tua tidak bisa membaca), kurang terampilnya guru dalam pembelajaran, atau faktor diri siswa yang mempunyai intelegensi kurang.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti minta bantuan observer untuk mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil observasi dan diskusi yang dilakukan terungkap beberapa masalah dalam pembelajaran, yaitu:
1. rendahnya kemampuan siswa dalam membaca dan menulis
2. kegiatan pembelajaran yang kurang bervariasi
3. kurang perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung
4. kurangnya media pembelajaran yang tepat
Dari beberapa masalah tersebut yang harus diperbaiki adalah bagaimana kegiatan pembelajaran membaca dan menulis menjadi menyenangkan dengan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dan siswa dapat menggali potensi yang ada pada dirinya?
B. RUMUSAN MASALAH
Permasalahan yang diteliti dalam perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Apakah kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan?
2. Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia?
3. Apakah kemampuan siswa dalam membaca dan menulis dapat meningkat dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia?
C. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan di atas penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui apakah penyusunan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
2. untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan siswa kelas I SDN Kapasari I.
3. untuk mengetahui apakah kemampuan siswa akan meningkat dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia.
D. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis Tindakan dalam perbaikan pembelajaran ini adalah:
1. Kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia akan tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan
2. Aktivitas siswa akan meningkat dengan kegiatan merangkai suku kata dan kata dalam kerja sama kelompok
3. Kemampuan membaca dan menulis siswa akan meningkat dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia
D. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini sangat bermanfaat dan berkonstribusi bagi
• Guru sebagai peneliti, untuk meningkatkan kinerja dalam mengembangkan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia terutama kemampuan membaca dan menulis permulaan, dan meningkatkan kemampuan profesional dalam melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran bagi upaya-upaya perbaikan pembelajaran selanjutnya, berdasarkan prosedur PTK.
• Institusi/sekolah, sebagai bahan rujukan bagi para sejawat guru di sekolah untuk melakukan upaya-upaya perbaikan pembelajaran di sekolah.
• Pendidikan secara umum, sebagai bahan rujukan empiris bagi setiap upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan pada satuan Sekolah Dasar.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Bahasa Indonesia
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusasastraan.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal siswa yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sasta Indonesia.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah biudaya dan intelektual manusia Indonesia.
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup empat komponen keterampilan berbahasa, yakni keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pemerolehan keempat keterampilan berbahasa tersebut bersifat hierarkis. Artinya, pemerolehan keterampilan berbahasa yang satu akan mendasari kemampuan lainnya.
Peranan guru dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia dituntut guru yang berkualitas tinggai, kreatif, dan penuh dedikasi. Peranan guru (dalam dalam proses belajar mengajar (Tarigan, 2006:3.10) adalah sebagai berikut:
1. Informator : sumber informasi, penyampai informasi berupa ilmu dan
pengetahuan umum
2. Organisator : pengelola kegiatan belajar mengajar
3. Konduktor : menjaga dan mengatur keserasian kegiatan proses belajar
mengajar ke sasaran yang telah ditetapkan
4. Katalisator : pengantar kegiatan ke arah tujuan
5. Pengarah : mengarahkan semua kegiatan proses belajar mengajar ke
tujuan intruksional
6. Inisiator : pengambil inisiatif pertama sehingga muncul gairah kerja
7. Moderator : pengantar siswa ke arah masalah
8. Transmiter : penyebar ide, ilmu, peraturan, kebijakan pimpinan dan
lain-lain
9. Fasilitator : pemberi kemudahan belajar bagi siswa
10. Evaluator : penilai kegiatan proses belajar mengajar
teristimewa prestasi belajar siswa
B. Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan
Dua jenis keterampilan berbahasa pertama, yakni menyimak dan berbicara diperoleh seseorang untuk pertama kalinya di lingkungan rumah. Dua keterampilan berikutnya, yakni membaca dan menulis diperoleh seseorang setelah mereka memasuki usia sekolah. Keterampilan membaca dan menulis merupakan sajian pembelajara utama dan pertama bagi murid-murid sekolah dasar di kelas awal.
Keterampilan menulis merupakan kemampuan untuk menuangkan gagasan atau perasaan dalam bentuk tulisan. Prinsip-prinsip kemampuan menulis permulaan (Depdikbud:12-13) adalah (1) Prinsip penggunaan tanda atau simbol, yakni guru memberikan kesempatan pada siswa untuk latihan kelenturan motorik halus dan memperhatikan cara anak memegang alat tulis dan menuliskan pada kertas atau papan tulis; (2) Prinsi pengulangan, yakni mengulang berbagai simbol dan tulisan kepada anak sehingga anak mengenal dengan cermat antara gambar dan tulisannya; (3) Prinsip keluwesan, yakni dengan menyajikan berbagai variasi tulisan sehingga anak secara bebas mengekspresikan berbagai tulisan; (4) Prinsip pengungkapan, yakni memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pengalamannya berkaitan dengantulisan yang telah dibuatnya; (5) Prinsip mencontoh, yakni anak diberi kesempatan mengulang berbagai contoh tulisan atau kata kata dengan menggunakan konteks yang sama; (6) Prinsip penguatan, yakni memberi pujian atau penghargaan terhadap tulisan anak. Oleh karena itu, potensi kemampuan berbahas anak dapat dibina melalui berbagai cara dengan memperhatikan beberapa prinsip pengembangannya.
Kemampuan membaca merupakan kemampuan untuk memahami informasi yang tertulis. Kemampuan membaca pada anak berlangsung melalui beberapa tahap, yakni (1) Tahap fantasi, anak belajar menggunakan buku,melihat, membolak-balikkan buku, dan suka membawa buku yang dia suka; (2) Tahap pembentukan konsep diri, anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca, memberi makna pada gambar; (3) Tahap membaca gambar, anak mulai dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, mengulang kembali cerita yang tertulis, dan sudah mengenal abjad; (4) Tahap pengenalan bacaan, anak mulai mengingat kembali cetakan pada konteksnya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan, membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan; (5) Tahap membaca lancar, anak dapat membaca berbagai jenis buku, menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya (Depdikbud, 2000: 7-8).
Pembelajaran di sekolah bukan dimaksudkan untuk membentuk potensi anak karena pada dasarnya potensi sudah ada pada diri anak. Kegiatan pembelajaran dilakukan untuk memfasilitasi dan mengoptimalkan potensi yang ada pada diri anak sehingga dapat berkembang dengan baik. Menurut pandangan filsafat konstruktivisme bahwa sejak lahir anak memiliki potensi-potensi dalam dirinya yang unik dan menjadi karakteristik dirinya sebagai individu (Slaviin,1994:225).
C. Metode Al Barqy Bahasa Indonesia
Metode Al Barqy adalah metode pengajaran baca tulis Al Quran yang menggunakan metode yang sedang dikembangkan oleh berbagai ahli dalam pengajaran baca tulis dalam berbagai bahasa yaitu yang dikenal dengan pendekatan global atau Gestald Psychologie yang bersifat Analitik Sintetik yang juga dikenal dengan nama Struktural Analitik Sintetik (SAS).
Metode Al Barqy oleh penulis yakni Muhadjir Sulthon juga menyusun buku dalam pengajaran baca tulis bahasa Indonesia dengan nama “Aku Cepat Membaca” agar anak-anak dapat membaca dan menulis sedini mungkin. Buku ini menggunakan metode yang sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sehingga tidak membebani dan mengurangi sifat riang gembira anak-anak. Bahkan mendorong pertumbuhan kreatifitas anak
Tiap-tiap metode harus memenuhi tiga hal, yaitu: Pendekatan, sistem dan teknik. Metode Al Barqy menggunakan metode Kata Lembaga sebagai kata kunci yang harus dihafal dengan pendekatan global dan bersifat analitik sintetik.
Metode Al Barqy menggunakan empat kata lembaga dan tiap kata lembaga terdiri dari empat suku kata, yaitu:
1. a - da - ra - ja
2. ma – ha - ka – ya
3. ka - ta - wa - na
4. sa - ma - la - ba
Tiap-tiap kata lembaga memiliki arti, sehingga mudah dipahami dan dihafal, yang kemudian dapat digunakan kunci rujukan pada saat anak lupa.
Kata lembaga dengan pendekatan global sebenarnya telah dimiliki oleh nenek moyang kita yang dapat digali. Yaitu dalam mengajarkan huruf jawa yang juga memiliki fonem sempurna. Kata lembaga tersebut adalah:
1. ha - na - ca - ra - ka
2. da - ta - sa - wa - la
3. pa - da - ja - ya - nya
4. ma - ga - ba - ta - nga
Metode Al Barqy menggunakan sistem sebagai berikut:
Pertama : Pengamatan sebuah struktur kata/kalimat
Kedua : Pemisahan
Ketiga : Pemilihan
Keempat : Pemaduan
Teknik metode Al Barqy menggunakan teknik penyajian sebagai berikut:
a. Konsentrasi menggunakan titian ingatan (untuk mengingat sewaktu lupa)
b. Mengadakan pengelompokan bunyi untuk mengenal/pindah dari huruf yang dikenal ke huruf yang sulit (transfer)
c. Menggunakan pengenalan dengan titian unta (urutan yang mengarah) dalam mengajarkan huruf mati.
Metode ini sifatnya bukan mengajar, tetapi hanya mendorong, guru hanya tutwuri handyani. Murid dianggap sudah memiliki persiapan dengan pengetahuan tersedia. Murid membuka buku atau melihat alat peraga tidak dalam keadaan kosong. Karena sudah punya persiapan, maka murid tinggal membaca sendiri, memisah sendiri, memilih sendiri, dan memadu sendiri (Muhadjir Sulthon,1999:vi).
Metode ini sesuai dengan teori konstruktivisme (Slavin, 1994:227-236) memandang bahwa pembelajaran dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Belajar untuk menemukan sendiri
2. Belajar untuk berpikir kritis
3. Belajar untuk menyeleksi materi yang diterimanya secara tepat
4. Belajar ekspositori
5. Scaffolding
Jadi untuk mengembangkan potensi anak melalui pembelajaran yang menyenangkan, tidak memaksa, dan sesuai dengan kompetensi dasar yang dimiliki oleh anak.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek Penelitian
Penelitian untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan di kelas I SDN Kapasari I/292 Kecamatan Genteng Kota Surabaya, melibatkan sebanyak 31 oranng siswa sebagai subjek penelitian, terdiri dari 18 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan. Rata-rata usia mereka tujuh tahun, sebagian besar dari mereka dari keluarga ekonomi lemah dan kurang bisa baca tulis, serta tingkat kemampuan/prestasi belajar mereka rata-rata sedang.
Penelitian dialaksanakan berdasarkan jadwal pelajaran sekolah dari tanggal 15 Oktober 2007 sampai dengan 5 Nopember 2007, dengan jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebagai berikut:
Siklus Hari, Tanggal Waktu
I Rabu, 24 – 10 – 2007 08.15 – 09.15
II Jum’at, 26 – 10 – 2007 08.15 – 09.15
III Rabu, 31 – 10 – 2007 08.15 – 09.15
B. Deskripsi per Siklus
Prosedur penelitian yang dilakukan adalah model putaran-putaran (siklus-siklus) Kemmis dan Mc Taggart (1998) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama peningkatan pembelajaran Bahasa Indonesia dan alternatif pemecahannya. Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus dan dalam tiap siklus perbaikan pembelajaran dilaksanakan seperti bagan berikut:
Prosedur penelitian dengan alur atau tahapan (perencanaan, tindakan, observasi, refleksi) disajikan dalam tiga siklus sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Perbaikan Siklus I
a. Perencanaan
Dalam penemuan masalah siswa kelas I SDN Kapasari I kemampuan membaca dan menulis sangat rendah, kurangnya perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung. Maka perencanaan perbaikan meliputi:
1. Menyusun skenario perbaikan pembelajaran berupa:
a. Penyusunan indikator keberhasilan
b. Penyusunan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan alat peraga metode Albarqy Bahasa Indonesia dan media pembelajaran.
2. Instrumen Penelitian: mempersiapkan lembar observasi pengamatan teman sejawat, lembar kerja siswa, lembar penilaian
3. Kriteria dan idikator ketercapaian perbaikan pembelajaran diharapkan 70% siswa kelas I SDN Kapasari I kemampuan membaca dan menulis meningkat
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilakukan oleh guru dengan melakukan pembelajaran di kelas sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.
Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran, guru dibantu oleh observer yang mengamati jalannya pelaksanaan pembelajaran.
Adapun perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan sebagai berikut:
1. Memotivasi siswa dengan mengajak menyanyi
2. Mengucapkan kata lembaga dengan berulang-ulang
3. Tiap anak merangkai kata-kata lembaga dengan kartu suku kata
4. Melaporkan hasil merangkai kata dari kartu suku kata
5. Menuliskan kembali kata-kata yang ditemukan di lembar kerja
c. Pengumpulan Data (observasi)
Kegiatan pengumpulan data dilakukan bersamaan dilakukannya proses perbaikan pembelajaran oleh guru dan diamati observer dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran metode Al Barqy Bahasa Indonesia yaitu dengan mengamati siswa dalam melafalkan bunyi kata-kata lembaga, mengamati pemahaman siswa dalam menemukan sendiri rangkaian kata, pengaruh perbaikan terhadap kemampuan siswa, pengaruh perbaikan terhadap aktivitas pembelajaran, efektivitas media pembelajaran, dan mengamati kendala-kendala yang muncul dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran.
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan oleh guru dibantu oleh observer dengan melakukan analisis, interppretasi, dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dari catatan hasil observasi dan analisis hasil pembelajaran. Dari hasil evaluasi perbaikan pembelajaran 70% siswa mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca dan menulis dengan menemukan sendiri rangkaian kata dari kata-kata lembaga, membaca tanpa mengeja, dan menulis kata-kata dengan benar. Dalam kegiatan refleksi guru akan memperbaiki strategi perbaikan pembelajaran dan mengatasi kelemahan dan kendala-kendala yang terjadi pada siklus yang berikutnya.
2. Pelaksanaan Perbaikan Siklus II
a. Perencanaan
Dari hasil kegiatan refleksi siklus I, guru merencanakan perbaikan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan meningkatkan kualitas membaca dan menulis yang lebih tinggi atau lebih luas. Kegiatan rencana perbaikan pembelajaran, yakni:
1. Menyusun skenario perbaikan pembelajaran, yaitu;
a. Penyusunan indikator keberhasilan dari kompetensi dasar
b. Penyusunan kegiatan pembelajaran dengan memadukan hasil refleksi siklus I agar siklus II lebih efektif
c. Persiapan media suku kata lembaga dengan huruf vokal i, u, e, dan o. Misalnya i di ri ji, u du ru ju, e de re je, o do ro jo dan pengenalan huruf mati
2. Mempersiapkan instrumen lembar observasi, lembar evaluasi, dan lembar penilaian siswa
3. Tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran siswa diharapkan lebih 70% dari 30 siswa mampu membaca dan menulis lebih lancar tanpa mengeja
b. Pelaksanaan
Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran guru dibantu observer untuk mengamati jalannya pembelajaran sesuai dengan perencanaan perbaikan pembelajaran yang telah disusun.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Memberikan apersepsi untuk mengetahui kemampuan siswa dalam hal mengenali kata-kata lembaga dalam metode Al Barqy Bahasa Indonesia
2. Menjelaskan tujuan kegiatan perbaikan pembelajaran dan memberi informasi hasil dari perbaikan pembelajaran siklus I
3. Membentuk kelompok (6 kelompok @ 5anak) merangkai kata dan kalimat
4. Memberikan bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok
5. Membacakan hasil diskusi
6. Membagikan lembar kerja untuk menggali kemampuan masing-masing siswa
7. Memberi tugas rumah
c. Pengumpulan Data (Observasi)
Bersamaan dengan dilakukannya perbaikan pembelajaran oleh guru, observer mengamati kegiatan pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Pengumpulan data diperoleh dari:
• Mengamati perilaku siswa dalam menggunakan media kartu suku kata
• Memantau siswa dalam berdiskusi, kerja sama antarsiswa dalam kelompok
• Mengamati masing-masing siswa dalam kemampuan membaca dan menulis
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan oleh guru dibantu observer dengan mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, menganalisis hasil pembelajaran. Setelah melakukan analisis, interpretasi, dan evaluasi perbaikan pembelajaran dapat menjelaskan tingkat kemampuan membaca dan menulis siswa meningkat lebih dari 70% dari 30 anak. Keberhasilan perbaikan pembelajaran pada siklus II tampak pada kemampuan siswa dalam merangkai suku kata menjadi kata, merangkai kata menjadi kalimat sederhana, membaca, dan menulis tanpa mengeja.
3. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Siklus III
a. Perencanaan
Dari hasil kegiatan refleksi siklus II, guru merencanakan perbaikan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan meningkatkan kualitas membaca dan menulis dengan tingkatan yang lebih tinggi atau lebih sulit. Kegiatan rencana perbaikan pembelajaran, yakni:
1. Menyusun skenario perbaikan pembelajaran, yaitu;
a. Penyusunan indikator keberhasilan dari kompetensi dasar
b. Penyusunan kegiatan pembelajaran dengan memadukan hasil refleksi siklus II agar siklus III lebih efektif
c. Persiapan media buku cerita bergambar dan media gambar yang menuntut siswa menemukan sendiri kalimat sederhana yang sesuai dengan gambar yang ada sesuai dengan pengalamannya
2. Mempersiapkan instrumen lembar observasi, lembar evaluasi, dan lembar penilaian siswa
3. Tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran siswa diharapkan 80% dari 30 siswa mampu membaca dan menulis lebih lancar tanpa mengeja
b. Pelaksanaan
Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran guru dibantu observer untuk mengamati jalannya pembelajaran sesuai dengan perencanaan perbaikan pembelajaran yang telah disusun.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Memberikan apersepsi untuk mengetahui kemampuan siswa dalam hal pembacaan dan penulisan kata dan kalimat sederhana
2. Menjelaskan tujuan kegiatan perbaikan pembelajaran dan memberi informasi hasil dari perbaikan pembelajaran siklus II
3. Membentuk kelompok (6 kelompok @ 5anak) merangkai kalimat sesuai dengan gambar dan pengalamannya
4. Memberikan bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok
5. Masing-masing kelompok membacakan kalimat yang ditulis
6. Membagikan lembar kerja untuk menggali kemampuan membaca dan menulis masing-masing anak
7. Memberi tugas rumah
c. Pengumpulan Data (Observasi)
Bersamaan dengan dilakukannya perbaikan pembelajaran oleh guru, observer mengamati kegiatan pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Pengumpulan data diperoleh dari:
• Mengamati perilaku siswa dalam menggunakan media kartu suku kata
• Memantau siswa dalam berdiskusi, kerja sama antarsiswa dalam kelompok
• Mengamati masing-masing siswa dalam kemampuan membaca dan menulis
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan oleh guru dibantu observer dengan mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, menganalisis hasil pembelajaran. Setelah melakukan analisis, interpretasi, dan evaluasi perbaikan pembelajaran dapat menjelaskan tingkat kemampuan membaca dan menulis siswa meningkat 80% dari 31 anak. Keberhasilan perbaikan pembelajaran pada siklus III tampak pada kemampuan siswa dalam menulis kalimat menjadi cerita sederhana dan membaca dengan lancar tanpa mengeja.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. OBJEK TINDAKAN
Penelitian ini merupakan Kegiatan Perbaikan Pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas. Adapun jenis tindakan yang diteliti adalah sebagai berikut:
1. Minat siswa untuk menemukan sendiri
2. Keaktifan dan kerjasama siswa dalam kelompok
3. Peningkatan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis
B. SETTING/SUBJEK PENELITIAN
Setting atau lokasi Perbaikan Pembelajaran ini adalah di SDN Kapasari I/292 Kecamatan Genteng kota Surabaya, kelas I, dengan jumlah siswa 30 anak. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Tema Lingkungan, Standar Kompetensi Membaca dan Menulis Permulaan., Semester 1, Tahun Pelajaran 2007-2008.
C. METODE PENGUMPULAN DATA
Data yang dikumpulkan melalui catatan observasi dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian perbaikan pembelajaran sampai dengan siklus III bersama teman sejawat.
Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dalam kelompok. Sedangkan hasil evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan kemampuan/prestasi belajar siswa.
Pada bagian refleksi dilakukan analisis data mengenai proses perbaikan pembelajaran, masalah, dan hambatan yang dijumpai, kemudian dilanjutkan dengan refleksi dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. Kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan.
D. METODE ANALISA DATA
Data hasil observasi pembelajaran dianalisa bersama-sama dengan teman sejawat sebagai mitra kolaborasi, kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa (evaluasi) dianalisa berdasarkan ketentuan belajar siswa.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diperoleh dari tindakan pada siklus I, siklus II, dan siklus III. Hasil penelitian diperoleh dari hasil tes dan hasil non tes. Hasil tes berupa hasil penilaian lembar evaluasi, Hasil non tes berupa pengamatan kerja kelompok.
Proses analisis data sebagai hasil penelitian meliputi peningkatan aktivitas
1. Hasil Penelitian Siklus I
Dalam proses pembelajaran siklus pertama pengenalan metode Al Barqy Bahasa Indonesia secara klasikal, kemudian dilanjutkan dengan kerja kelompok dan individu yang materinya dikembangkan dari lembar kerja siswa. Hasil penelitian menunjukkan:
Siswa Aktif = Kelompok I : 2 siswa Kelompok IV : 2 siswa
Kelompok II : 1 siswa Kelompok V : 3 siswa
Kelompok III : 2 siswa Kelompok VI : 2 siswa
Tabel 1
Hasil Evaluasi Siswa Siklus I
Nilai Jumlah anak Presentasi
90 - 100
80 - 89
70 - 79
60 - 69
50 - 59
40 - 49
30 - 39 2
2
8
8
6
2
2 6,7%
6,7%
26,6%
26,6%
20%
6,7%
6,7%
Jumlah 30 100%
Pada tabel 1, siswa yang belum mampu membaca dan menulis berjumlah 10 anak, yang cukup sebanyak 16 anak , dan sudah baik kemampuan membaca dan menulis sebanyak 4 anak.
Pengenalan kata-kata lembaga metode Al Barqy Bahasa Indonesia perlu diperjelas dalam kerja kelompok. Dari hasil observasi aktivitas siswa kurang nampak dalam pembelajaran.
2. Hasil Penelitian Siklus II
Dalam proses perbaikan pembelajaran siklus pertama perlu adanya perbaikan. Perbaikan pada siklus kedua mendapatkan hasi penelitian sebagai berikut.
Siswa Aktif = Kelompok I : 3 siswa Kelompok IV : 4 siswa
Kelompok II : 3 siswa Kelompok V : 4 siswa
Kelompok III : 4 siswa Kelompok VI : 3 siswa
Tabel 2
Hasil Evaluasi Siswa Siklus II
Nilai Jumlah anak Presentasi
90 - 100
80 - 89
70 - 79
60 - 69
50 - 59
40 - 49
4
6
11
6
2
1
13,3%
20%
36,7%
20%
6,7%
3,3%
Jumlah 30 100%
Dari hasil penelitian di atas terlihat dalam proses perbaikan pembelajaran pada Siklus II terdapat peningkatan karena siswa merasa senang dengan kegiatan dalam kerja kelompok dan hasil evaluasi menunjukkan kemampuan siswa dalam merangkai kata menjadi sebuah kalimat sudah cukup baik yaitu 70% dari 30 siswa, namun masih ada 9 anak yang memperoleh nilai tidak memuaskan
2. Hasil Penelitian Siklus III
Dalam proses perbaikan pembelajaran siklus kedua sudah terjadi peningkatan tetapi masih perlu adanya perbaikan. Perbaikan pada siklus ketiga mendapatkan hasi penelitian sebagai berikut.
Siswa Aktif = Kelompok I : 5 siswa Kelompok IV : 5 siswa
Kelompok II : 4 siswa Kelompok V : 5 siswa
Kelompok III : 5 siswa Kelompok VI : 4 siswa
Tabel 3
Hasil Evaluasi Siswa Siklus III
Nilai Jumlah anak Presentasi
90 - 100
80 - 89
70 - 79
60 - 69 7
10
8
5
23,3%
33,3%
26,7%
16,7%
Jumlah 30 100%
Dari hasil penelitian di atas peneliti dan observer memperoleh hasil bahwa proses perbaikan pembelajaran pada Siklus III menunjukkan peningkatan yang sangat berarti. Pada akhir siklus ketiga hasil pembelajaran sudah memenuhi harapan, yakni adanya peningkatan aktivitas dan hasil evaluasi siswa.
B. Pembahasan dari Setiap Siklus
1. Siklus I
Proses kegiatan perbaikan pembelajaran siklus pertama pada awal pembelajaran siswa diperkenalkan dengan kata-kata lembaga metode Al Barqy mereka sangat senag sekali apalagi ketika siswa dibagi dalam kerja kelompok dan merangkai kata, karena mereka merasa menemukan pengalaman baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun ada beberapa yang kurang beraktivitas dalam kerja kelompok.
Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I aktivitas siswa belum nampak. Dari 30 siswa yang ikut aktif dalam kerja kelompok 12 anak. Dari hasil evaluasi 12 anak sudah mampu merangkai kata dan membaca dengan baik, 8 anak cukup baik tapi masih dibimbing, 10 anak belum bisa merangkai kata dan membaca dengan baik.
Setelah berdiskusi dengan observer bahwa alat peraga kurang menarik, guru kurang jelas dalam memberi perintah dan memotivasi siswa.
2. Siklus II
Pada siklus II ini proses kegiatan perbaikan pembelajaran berjalan cukup baik. Perbaikan pembelajaran pada siklus II untuk kemampuan membaca dan menulis siswa lebih ditingkatkan lagi dari merangkai suku kata menjadi kata, pada siklus kedua dari suku kata menjadi kata dan kalimat.
Pada perbaikan pembelajaran siklus kedua ini sikap antusiasme siswa lebih meningkat karena siswa sudah pernah melakukannya dan siswa dapat lebih banyak menemukan kata dan menyusunnya menjadi sebuah kalimat sederhana.
Pembelajaran yang menyenangkan dan menemukan sendiri (Pembelajaran Konstruktivisme) pada siklus II aktivitas siswa lebih meningkat yaitu 21 anak dari 30 siswa. Hasil evaluasi juga semakin meningkat yaitu 21 anak sudah mampu merangkai kata menjadi kalimat, 6 anak cukup baik tapi masih dibimbing, dan 3 anak sangat perlu perhatian dari guru. Jadi pada siklus II terjadi peningkatan siswa yang mampu membaca dan menulis dengan baik ada 70%.
Dari hasil observasi peneliti dan observer siswa yang masih belum mampu membaca dan menulis dengan baik disebabkan karena guru kurang memberi motivasi dan contoh yang jelas.
3. Siklus III
Tindakan yang dilakukan pada siklus III hampir sama dengan siklus II. Pada perbaikan pembelajaran siklus III siswa diajak untuk membaca buku cerita bergambar. Siswa sangat senang dengan kegiatan ini, kemudian siswa menemukan sendiri atau bercerita dengan kalimat sendiri gambar yang ada.
Dari hasil observasi peneliti dan observer perbaikan pembelajaran pada siklus III ini berjalan cukup baik sesuai dengan yang diharapkan. Siswa sangat antusias karena dapat menuliskan sendiri kalimat sesuai dengan pengalaman pada gambar yang ada. Terbukti pada hasil penelitian aktivitas siswa dan hasil evaluasi siswa diperoleh hasil yang memuaskan, yakni 25 anak dari 30 siswa mendapat nilai yang baik atau sekitar 80% lebih, dan tidak ada yang mendapat nilai di bawah 60.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil observasi peneliti dan observer, maka hasil perbaikan pembelajaran pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Dengan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
2. Dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat meningkatkan aktivitas siswa
3. Dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan siswa kelas I SDN Kapasari I/292
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam membaca dan menulis permulaan dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia adalah sangat memuaskan. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan, baik aktivitas, kerjasama, maupun prestasi siswa, seperti pada tabel berikut.
Tabel 4
Profil Hasil Penelitian
Aktivitas Siswa Siklus I 12 40%
II 21 70%
III 28 93,3%
Hasil Prestasi Belajar Siklus I 12 40%
II 21 70%
III 25 83,3%
B. Saran-saran
Dari kesimpulan di atas, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Kepada guru kelas I diharapkan dapat menerapkan penggunaan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaan membaca dan menulis permulaan
2. Pembelajaran yang selama ini hanya menggunakan cara-cara konvensional hendaknya diganti dengan teknik pembelajaran yang inovatif dan bervariasi sesuai dengan perkembangan jiwa anak.
3. Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan kondusif dapat meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan pengalaman melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas, kiranya guru juga memanfaatkan Kelompok Kerja Guru (KKG), untuk mendapatkan informasi, bertukar pengalaman atau memecahkan masalah yang dihadapi saat kegiatan berlangsung di kelas sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan kelas. Bandung: Yrama Widya
Depdiknas. 2006. Standar Isi, Jakarta: Permendiknas 22 tahun 2006.
Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasar. 2006. Merancang Pembelajaran Aktif dan Kontekstual Berdasarkan “Sisko” 2006. Jakarta: PT Grasindo
Sukandi, Ujang. 2003. Belajar Aktif dan Terpadu. Surabaya: Duta Graha Pustska
Sulthon, Muhadjir. 1999. Al Barqy. Surabaya: CV. Pena Suci
Sulthon, Muhadjir. 1998. Aku Cepat Membaca. Surabaya: CV. Pena Suci
Tarigan, Djago. 2006.Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas Rendah.Jakarta: Universitas Terbuka.
Wardani, I GAK. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka
Lampiran 1a
Siklus I
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/Satu
Waktu : 2 x 35 menit
I. Standar Kompetensi:
3. Memahami teks pendek dengan membaca nyaring
4. Menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi, dan menyalin
II. Kompetensi Dasar:
3.1. Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
4.3. Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan
tulis dengan benar
III. Indikator
Setelah pembelajaran siswa dapat:
1. mengenali kata-kata lembaga a da ra ja, ma ha ka ya, ka ta wa na, sa ma la ba
2. melafalkan kata-kata lembaga dengan tepat
3. mencontoh kata-kata lembaga dengan tepat
4. merangkai kata-kata lain dari kata-kata lembaga
IV. Tujuan Perbaikan
1. Diharapkan siswa dapat merangkai suku kata dari kata-kata lembaga
2. Diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
V. Kegiatan Belajar
A. Kegiatan Awal (5 menit)
1. Menunjukkan gambar seorang raja
2. Bertanya jawab tentang raja
3. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti ( 55 menit)
1. Menirukan guru membaca kata lembaga (5 menit)
2. Melafalkan kata-kata lembaga yang ditunjuk guru dengan benar (10 menit)
3. Secara berkelompok merangkai kata dari kartu huruf dan kartu suku kata (15 menit)
4. Secara bergantian membaca kata yang sudah dirangkai dalam kelompok kemudian dipajang (15 menit)
5. Mengerjakan lembar kerja evaluasi (10 menit)
C. Kegiatan Akhir (10 menit)
1. Siswa melafalkan kembali kata-kata lembaga
2. Bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari
3. Siswa di beri tugas rumah
VI. Materi Pembelajaran:
Membaca nyaring kata-kata lembaga dengan lafal yang tepat
Kata-kata lembaga yang lain, yakni:
Ma ha ka ya, ka ta wa na, sa ma la ba, pa pa ba ca, a da na ga
VII. Sarana dan Sumber Belajar
1. Chart Kata-kata Lembaga metode Al Barqy
2. Kartu suku kata
3. Buku “Aku Cepat Membaca”
VI. Evaluasi
A. Prosedur Evaluasi:
Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran siswa diberi lembar kerja.
B. Teknik Penilaian:
a. Uraian
b. Pengamatan
C. Pelaksanaan:
1. Awal : -
2. Proses : Mengamati keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok
3. Akhir : Lampiran
Surabaya, 24 Oktober 2007
Mengetahui Guru Kelas
Kepala SDN Kapasari I
SUGIYANTO NS AMIRUL HIDAYATI
NIP.130 741 531 NIM. 811 925 733
Lampiran 1b
Siklus II
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/Satu
Waktu : 2 x 35 menit
I. Standar Kompetensi:
3. Memahami teks pendek dengan membaca nyaring
4. Menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi, dan menyalin
II. Kompetensi Dasar:
3.1. Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
4.3. Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan
tulis dengan benar
III. Indikator
Setelah pembelajaran siswa dapat:
1. Melafalkan kata-kata lembaga vokal a, I, u, e, dan o dengan tepat
2. Membaca kata dengan huruf mati
3. Merangkai kata-kata lain dari kata-kata lembaga
4. Membuat kalimat sederhana
IV. Tujuan Perbaikan
3. Diharapkan siswa dapat merangkai suku kata dari kata-kata lembaga menjadi kata, kata-kata disusun menjadi kalimat sederhana
4. Diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
V. Kegiatan Belajar
A. Kegiatan Awal (5 menit)
1. Melafalkan kata-kata lembaga
2. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti ( 55 menit)
1. Melafalkan kata-kata lembaga yang ditunjuk guru dengan benar (5 menit)
2. Melafalkan kata-kata lembaga dengan mengganti huru vokal i, u, e, dan o dengan tepat (5 menit)
3. Menirukan guru melafalkan huruf mati dengan titian unta (5 menit)
4. Secara berkelompok merangkai kata dari kartu huruf dan kartu suku kata (15 menit)
5. Secara bergantian membaca kata yang sudah dirangkai dalam kelompok kemudian dipajang (15 menit)
6. Mengerjakan lembar kerja evaluasi (10 menit)
C. Kegiatan Akhir (10 menit)
a. Bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari
b. Siswa di beri tugas rumah
VI. Sarana dan Sumber Belajar
1. Chart Kata-kata Lembaga metode Al Barqy
2. Kartu suku kata dan kata
3. Buku “Aku Cepat Membaca”
VII. Evaluasi
A. Prosedur Evaluasi:
Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran siswa diberi lembar kerja.
B. Teknik Penilaian:
a. Uraian
b. Pengamatan
C. Pelaksanaan:
1. Awal : -
2. Proses : Mengamati keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok
3. Akhir : Lampiran
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/Satu
Waktu : 1 x 35 menit
I. Standar Kompetensi:
3. Memahami teks pendek dengan membaca nyaring
4. Menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh,
melengkapi, dan menyalin
II. Kompetensi Dasar:
3.1. Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
4.3. Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan
tulis dengan benar
III. Indikator
Setelah pembelajaran siswa dapat:
1. Membaca cerita bergambar
2. Bercerita tentang gambar dengan kalimat sederhana
3. Menulis kalimat sederhana pada gambar
IV. Tujuan Perbaikan
1. Diharapkan siswa dapat membaca buku cerita bergambar
2. Diharapkan siswa dapat menemukan sendiri kalimat yang tepat sesuai gambar
3. Diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
V. Kegiatan Belajar
A. Kegiatan Awal (5 menit)
1. Tanya jawab tentang gambar
2. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti ( 25 menit)
1. Mengidentifikasi gambar dan menyebutkan kata-kata yang sesuai dengan gambar (5 menit)
2. Secara berkelompok merangkai kata sesuai dengan gambar menjadi kalimat sederhana (10 menit)
3. Secara bergantian membaca kalimat yang sudah dirangkai dalam kelompok kemudian dipajang (5 menit)
4. Mengerjakan lembar kerja evaluasi (5 menit)
C. Kegiatan Akhir (5 menit)
1. Bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari
2. Siswa di beri tugas rumah
VI. Sarana dan Sumber Belajar
1. Kartu kata
2. Buku cerita bergambar
3. Gambar
VII. Evaluasi
B. Prosedur Evaluasi:
Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran siswa diberi lembar kerja.
B. Teknik Penilaian:
a. Uraian
b. Pengamatan
C. Pelaksanaan:
1. Awal : -
2. Proses : Mengamati keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok
3. Akhir : Terlampir
Mengetahui Surabaya, 4 Januari 2008
Mahasiswa
Amirul Hidayati
NIM. 811925733
Lampiran
HASIL EVALUASI SISWA
NO NAMA SISWA PENYELESAIAN NILAI KETERANGAN
SOAL
1 ACHMAD TAUFIQUR ROHMAN
2 ALFIN RAHMADANI
3 ALIF FIYAN ADI PRAYITNO
4 ANI SURROHMAN
5 ARIES IVAN FIRMANSYAH
6 DEDY TIZA HEPINDA
7 DEWI MELANI
8 DEWI SANTI
9 DODIK HERMAWAN
10 EKA JULIANTI RISDIAN
11 FAISAL MAULANA
12 FARAH LAHMIRZA FENDIANI
13 ILA SILVIA
14 KHRISNA SASMITA WINATA
15 MOCH ALFIAN ERYANTO
16 ANDIKA PUTRA SETIAWAN
17 MOCH YUNUS ZAKARIA
18 NABILA PUNGKY SARI
19 NURUL LAILATUL MAULIDIA
20 RANY ANITHA FACHRUDDIN
21 RENDY FIRMANSYAH PUTRA
22 RIFKY RAFIUDIN RACHMAN
23 RIFQI MAULANA PRATAMA
24 RISMA ZAINIYAH
25 SELLY ADILILA NURFARANI
26 SHINTIA NUR TRIANA PUTRI
27 SITI NURCAHYATI JULIA
28 SITI ZAHRO
29 SYAIFUL ANAM
30 YUNUS FIRMANSYAH
Nilai rata-rata
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Lampiran 2b
LEMBAR OBSERVASI
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Aktivitas siswa dalam Pembelajaran
No ASPEK AKTIVITAS NOMOR SISWA
1 2 3 4 5 6 Jumlah
1 Mendengarkan penjelasan guru / teman
2 Membaca materi / LKS
3 Mengerjakan LKS
4 Berdiskusi dengan teman
5 Mengajukan pertanyaan pada teman / guru
6 Menjadi pembicara kelompok
7 Menghargai pendapat orang lain
8 Mengambil giliran dan berbagai tugas
9 Memberi kesempatan orang lain berbicara
10 Mendengarkan dengan aktif
11 Kerjasama dengan kelompok
12 Kemampuan menyampaikan informasi
Surabaya,………………
Pengamat
-------------------Petunjuk:
1. Pengamatan ditujukan pada setiap kelompok
2. Pengamat cukup memberikan tanda (v) pada kolom nomor siswa yang ada untuk menandai aspek siswa yang diobservasi.
SISTEMATIKA LAPORAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : I
Waktu : 2 x 35 menit
Masalah yang akan Diatasi :
Rendahnya kemampuan membaca dan menulis
Cara Mengatasi :
Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia
Hasil :
Hasil perbaikan pembelajaran sangat memuaskan
Hal yang unik :
Siswa menyelesaikan masalah/soal dengan bermain dan suasana yang menyenangkan.
SDN Kapasari I
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas : I
Nama : …………………………….. .
Ayo lengkapi dan buatlah kata.
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
SDN Kapasari I
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas : I
Nama : …………………………….. .
Ayo lengkapi dan buatlah kata serta kalimat sederhana
1. ………………… 2. …………………
3. …………………
4. …………………
5. …………………
6………………......
7. ………………… 8. …………………
9..…………………
10…………………
11…………………
12…………………
13…………………
14…………………
15…………………
16…………………
17…………………
18…………………
10 19…………………
20…………………
1. …………………………… ……. 2. ……………………………………..
3. ………………………………….. 4. ……………………………………..
5…………………………………….. 6. …………………………………….
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
1. IDENTIFIKASI MASALAH
Kemampuan membaca dan menulis merupakan bagian kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Oleh karena itu kemampuan membaca dan menulis perlu mendapat perhatian besar dari guru, terutama guru-guru yang mengajar di kelas rendah. Mengajarkan kemampuan membaca dan menulis pada anak-anak kelas awal yang masih berada dalam usia bermain dan belum memungkinkan anak pada suasana yang serius dan situasi pembelajaran yang formal tentu banyak mengalami kesulitan.
Proses kegiatan belajar mengajar sudah berjalan kurang lebih enam minggu, namun kemampuan membaca dan menulis siswa kelas I masih rendah. Dari 30 siswa yang mampu membaca lancar dan menulis dengan benar ada 20%, yang lain masih mengeja dan belum lancar membaca bahkan ada yang belum hafal huruf.
Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca dan menulis menyebabkan rendah pula kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran serta mempunyai dampak yang buruk terhadap perkembangan kemampuan siswa dalam memahami materi mata pelajaran-mata pelajaran yang lain.
Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis siswa kelas I di SDN Kapasari I dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas selain untuk perbaikan pembelajaran juga ditujukan untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PGSD 4412) pada Program S 1 PGSD.
Laporan ini disusun berdasarkan catatan yang dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan serta selama kegiatan pelaksanaan observasi dan diskusi pelaksanaan perbaikan yang dilakukan dalam tiga siklus.
2. ANALISIS MASALAH
Kegiatan belajar mengajar sudah berjalan kurang lebih enam minggu, kemampuan membaca dan menulis siswa kelas I masih rendah. Dari 30 siswa kelas I SDN Kapasari I/292 yang mampu membaca lancar dan menulis dengan benar 20%, siswa yang belum hafal huruf 10%, dan yang lain masih mengeja dan belum lancar membaca dan menulis dengan benar.
Dilihat dari penilaian kemampuan membaca di atas maka sangat mempengaruhi siswa dalam memahami materi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan mata pelajaran-mata pelajaran yang lain.
Permasalahan rendahnya kemampuan membaca dan menulis di SDN Kapasari I disebabkan kemungkinan faktor lingkungan keluarga (orang tua tidak bisa membaca), kurang terampilnya guru dalam pembelajaran, atau faktor diri siswa yang mempunyai intelegensi kurang.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti minta bantuan observer untuk mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil observasi dan diskusi yang dilakukan terungkap beberapa masalah dalam pembelajaran, yaitu:
1. rendahnya kemampuan siswa dalam membaca dan menulis
2. kegiatan pembelajaran yang kurang bervariasi
3. kurang perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung
4. kurangnya media pembelajaran yang tepat
Dari beberapa masalah tersebut yang harus diperbaiki adalah bagaimana kegiatan pembelajaran membaca dan menulis menjadi menyenangkan dengan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dan siswa dapat menggali potensi yang ada pada dirinya?
B. RUMUSAN MASALAH
Permasalahan yang diteliti dalam perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Apakah kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan?
2. Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia?
3. Apakah kemampuan siswa dalam membaca dan menulis dapat meningkat dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia?
C. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan di atas penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui apakah penyusunan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
2. untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan siswa kelas I SDN Kapasari I.
3. untuk mengetahui apakah kemampuan siswa akan meningkat dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia.
D. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis Tindakan dalam perbaikan pembelajaran ini adalah:
1. Kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia akan tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan
2. Aktivitas siswa akan meningkat dengan kegiatan merangkai suku kata dan kata dalam kerja sama kelompok
3. Kemampuan membaca dan menulis siswa akan meningkat dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia
D. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini sangat bermanfaat dan berkonstribusi bagi
• Guru sebagai peneliti, untuk meningkatkan kinerja dalam mengembangkan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia terutama kemampuan membaca dan menulis permulaan, dan meningkatkan kemampuan profesional dalam melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran bagi upaya-upaya perbaikan pembelajaran selanjutnya, berdasarkan prosedur PTK.
• Institusi/sekolah, sebagai bahan rujukan bagi para sejawat guru di sekolah untuk melakukan upaya-upaya perbaikan pembelajaran di sekolah.
• Pendidikan secara umum, sebagai bahan rujukan empiris bagi setiap upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan pada satuan Sekolah Dasar.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Bahasa Indonesia
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusasastraan.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal siswa yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sasta Indonesia.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah biudaya dan intelektual manusia Indonesia.
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup empat komponen keterampilan berbahasa, yakni keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pemerolehan keempat keterampilan berbahasa tersebut bersifat hierarkis. Artinya, pemerolehan keterampilan berbahasa yang satu akan mendasari kemampuan lainnya.
Peranan guru dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia dituntut guru yang berkualitas tinggai, kreatif, dan penuh dedikasi. Peranan guru (dalam dalam proses belajar mengajar (Tarigan, 2006:3.10) adalah sebagai berikut:
1. Informator : sumber informasi, penyampai informasi berupa ilmu dan
pengetahuan umum
2. Organisator : pengelola kegiatan belajar mengajar
3. Konduktor : menjaga dan mengatur keserasian kegiatan proses belajar
mengajar ke sasaran yang telah ditetapkan
4. Katalisator : pengantar kegiatan ke arah tujuan
5. Pengarah : mengarahkan semua kegiatan proses belajar mengajar ke
tujuan intruksional
6. Inisiator : pengambil inisiatif pertama sehingga muncul gairah kerja
7. Moderator : pengantar siswa ke arah masalah
8. Transmiter : penyebar ide, ilmu, peraturan, kebijakan pimpinan dan
lain-lain
9. Fasilitator : pemberi kemudahan belajar bagi siswa
10. Evaluator : penilai kegiatan proses belajar mengajar
teristimewa prestasi belajar siswa
B. Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan
Dua jenis keterampilan berbahasa pertama, yakni menyimak dan berbicara diperoleh seseorang untuk pertama kalinya di lingkungan rumah. Dua keterampilan berikutnya, yakni membaca dan menulis diperoleh seseorang setelah mereka memasuki usia sekolah. Keterampilan membaca dan menulis merupakan sajian pembelajara utama dan pertama bagi murid-murid sekolah dasar di kelas awal.
Keterampilan menulis merupakan kemampuan untuk menuangkan gagasan atau perasaan dalam bentuk tulisan. Prinsip-prinsip kemampuan menulis permulaan (Depdikbud:12-13) adalah (1) Prinsip penggunaan tanda atau simbol, yakni guru memberikan kesempatan pada siswa untuk latihan kelenturan motorik halus dan memperhatikan cara anak memegang alat tulis dan menuliskan pada kertas atau papan tulis; (2) Prinsi pengulangan, yakni mengulang berbagai simbol dan tulisan kepada anak sehingga anak mengenal dengan cermat antara gambar dan tulisannya; (3) Prinsip keluwesan, yakni dengan menyajikan berbagai variasi tulisan sehingga anak secara bebas mengekspresikan berbagai tulisan; (4) Prinsip pengungkapan, yakni memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pengalamannya berkaitan dengantulisan yang telah dibuatnya; (5) Prinsip mencontoh, yakni anak diberi kesempatan mengulang berbagai contoh tulisan atau kata kata dengan menggunakan konteks yang sama; (6) Prinsip penguatan, yakni memberi pujian atau penghargaan terhadap tulisan anak. Oleh karena itu, potensi kemampuan berbahas anak dapat dibina melalui berbagai cara dengan memperhatikan beberapa prinsip pengembangannya.
Kemampuan membaca merupakan kemampuan untuk memahami informasi yang tertulis. Kemampuan membaca pada anak berlangsung melalui beberapa tahap, yakni (1) Tahap fantasi, anak belajar menggunakan buku,melihat, membolak-balikkan buku, dan suka membawa buku yang dia suka; (2) Tahap pembentukan konsep diri, anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca, memberi makna pada gambar; (3) Tahap membaca gambar, anak mulai dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, mengulang kembali cerita yang tertulis, dan sudah mengenal abjad; (4) Tahap pengenalan bacaan, anak mulai mengingat kembali cetakan pada konteksnya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan, membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan; (5) Tahap membaca lancar, anak dapat membaca berbagai jenis buku, menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya (Depdikbud, 2000: 7-8).
Pembelajaran di sekolah bukan dimaksudkan untuk membentuk potensi anak karena pada dasarnya potensi sudah ada pada diri anak. Kegiatan pembelajaran dilakukan untuk memfasilitasi dan mengoptimalkan potensi yang ada pada diri anak sehingga dapat berkembang dengan baik. Menurut pandangan filsafat konstruktivisme bahwa sejak lahir anak memiliki potensi-potensi dalam dirinya yang unik dan menjadi karakteristik dirinya sebagai individu (Slaviin,1994:225).
C. Metode Al Barqy Bahasa Indonesia
Metode Al Barqy adalah metode pengajaran baca tulis Al Quran yang menggunakan metode yang sedang dikembangkan oleh berbagai ahli dalam pengajaran baca tulis dalam berbagai bahasa yaitu yang dikenal dengan pendekatan global atau Gestald Psychologie yang bersifat Analitik Sintetik yang juga dikenal dengan nama Struktural Analitik Sintetik (SAS).
Metode Al Barqy oleh penulis yakni Muhadjir Sulthon juga menyusun buku dalam pengajaran baca tulis bahasa Indonesia dengan nama “Aku Cepat Membaca” agar anak-anak dapat membaca dan menulis sedini mungkin. Buku ini menggunakan metode yang sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sehingga tidak membebani dan mengurangi sifat riang gembira anak-anak. Bahkan mendorong pertumbuhan kreatifitas anak
Tiap-tiap metode harus memenuhi tiga hal, yaitu: Pendekatan, sistem dan teknik. Metode Al Barqy menggunakan metode Kata Lembaga sebagai kata kunci yang harus dihafal dengan pendekatan global dan bersifat analitik sintetik.
Metode Al Barqy menggunakan empat kata lembaga dan tiap kata lembaga terdiri dari empat suku kata, yaitu:
1. a - da - ra - ja
2. ma – ha - ka – ya
3. ka - ta - wa - na
4. sa - ma - la - ba
Tiap-tiap kata lembaga memiliki arti, sehingga mudah dipahami dan dihafal, yang kemudian dapat digunakan kunci rujukan pada saat anak lupa.
Kata lembaga dengan pendekatan global sebenarnya telah dimiliki oleh nenek moyang kita yang dapat digali. Yaitu dalam mengajarkan huruf jawa yang juga memiliki fonem sempurna. Kata lembaga tersebut adalah:
1. ha - na - ca - ra - ka
2. da - ta - sa - wa - la
3. pa - da - ja - ya - nya
4. ma - ga - ba - ta - nga
Metode Al Barqy menggunakan sistem sebagai berikut:
Pertama : Pengamatan sebuah struktur kata/kalimat
Kedua : Pemisahan
Ketiga : Pemilihan
Keempat : Pemaduan
Teknik metode Al Barqy menggunakan teknik penyajian sebagai berikut:
a. Konsentrasi menggunakan titian ingatan (untuk mengingat sewaktu lupa)
b. Mengadakan pengelompokan bunyi untuk mengenal/pindah dari huruf yang dikenal ke huruf yang sulit (transfer)
c. Menggunakan pengenalan dengan titian unta (urutan yang mengarah) dalam mengajarkan huruf mati.
Metode ini sifatnya bukan mengajar, tetapi hanya mendorong, guru hanya tutwuri handyani. Murid dianggap sudah memiliki persiapan dengan pengetahuan tersedia. Murid membuka buku atau melihat alat peraga tidak dalam keadaan kosong. Karena sudah punya persiapan, maka murid tinggal membaca sendiri, memisah sendiri, memilih sendiri, dan memadu sendiri (Muhadjir Sulthon,1999:vi).
Metode ini sesuai dengan teori konstruktivisme (Slavin, 1994:227-236) memandang bahwa pembelajaran dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Belajar untuk menemukan sendiri
2. Belajar untuk berpikir kritis
3. Belajar untuk menyeleksi materi yang diterimanya secara tepat
4. Belajar ekspositori
5. Scaffolding
Jadi untuk mengembangkan potensi anak melalui pembelajaran yang menyenangkan, tidak memaksa, dan sesuai dengan kompetensi dasar yang dimiliki oleh anak.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek Penelitian
Penelitian untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan di kelas I SDN Kapasari I/292 Kecamatan Genteng Kota Surabaya, melibatkan sebanyak 31 oranng siswa sebagai subjek penelitian, terdiri dari 18 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan. Rata-rata usia mereka tujuh tahun, sebagian besar dari mereka dari keluarga ekonomi lemah dan kurang bisa baca tulis, serta tingkat kemampuan/prestasi belajar mereka rata-rata sedang.
Penelitian dialaksanakan berdasarkan jadwal pelajaran sekolah dari tanggal 15 Oktober 2007 sampai dengan 5 Nopember 2007, dengan jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebagai berikut:
Siklus Hari, Tanggal Waktu
I Rabu, 24 – 10 – 2007 08.15 – 09.15
II Jum’at, 26 – 10 – 2007 08.15 – 09.15
III Rabu, 31 – 10 – 2007 08.15 – 09.15
B. Deskripsi per Siklus
Prosedur penelitian yang dilakukan adalah model putaran-putaran (siklus-siklus) Kemmis dan Mc Taggart (1998) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama peningkatan pembelajaran Bahasa Indonesia dan alternatif pemecahannya. Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus dan dalam tiap siklus perbaikan pembelajaran dilaksanakan seperti bagan berikut:
Prosedur penelitian dengan alur atau tahapan (perencanaan, tindakan, observasi, refleksi) disajikan dalam tiga siklus sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Perbaikan Siklus I
a. Perencanaan
Dalam penemuan masalah siswa kelas I SDN Kapasari I kemampuan membaca dan menulis sangat rendah, kurangnya perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung. Maka perencanaan perbaikan meliputi:
1. Menyusun skenario perbaikan pembelajaran berupa:
a. Penyusunan indikator keberhasilan
b. Penyusunan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan alat peraga metode Albarqy Bahasa Indonesia dan media pembelajaran.
2. Instrumen Penelitian: mempersiapkan lembar observasi pengamatan teman sejawat, lembar kerja siswa, lembar penilaian
3. Kriteria dan idikator ketercapaian perbaikan pembelajaran diharapkan 70% siswa kelas I SDN Kapasari I kemampuan membaca dan menulis meningkat
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilakukan oleh guru dengan melakukan pembelajaran di kelas sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.
Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran, guru dibantu oleh observer yang mengamati jalannya pelaksanaan pembelajaran.
Adapun perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan sebagai berikut:
1. Memotivasi siswa dengan mengajak menyanyi
2. Mengucapkan kata lembaga dengan berulang-ulang
3. Tiap anak merangkai kata-kata lembaga dengan kartu suku kata
4. Melaporkan hasil merangkai kata dari kartu suku kata
5. Menuliskan kembali kata-kata yang ditemukan di lembar kerja
c. Pengumpulan Data (observasi)
Kegiatan pengumpulan data dilakukan bersamaan dilakukannya proses perbaikan pembelajaran oleh guru dan diamati observer dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran metode Al Barqy Bahasa Indonesia yaitu dengan mengamati siswa dalam melafalkan bunyi kata-kata lembaga, mengamati pemahaman siswa dalam menemukan sendiri rangkaian kata, pengaruh perbaikan terhadap kemampuan siswa, pengaruh perbaikan terhadap aktivitas pembelajaran, efektivitas media pembelajaran, dan mengamati kendala-kendala yang muncul dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran.
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan oleh guru dibantu oleh observer dengan melakukan analisis, interppretasi, dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dari catatan hasil observasi dan analisis hasil pembelajaran. Dari hasil evaluasi perbaikan pembelajaran 70% siswa mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca dan menulis dengan menemukan sendiri rangkaian kata dari kata-kata lembaga, membaca tanpa mengeja, dan menulis kata-kata dengan benar. Dalam kegiatan refleksi guru akan memperbaiki strategi perbaikan pembelajaran dan mengatasi kelemahan dan kendala-kendala yang terjadi pada siklus yang berikutnya.
2. Pelaksanaan Perbaikan Siklus II
a. Perencanaan
Dari hasil kegiatan refleksi siklus I, guru merencanakan perbaikan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan meningkatkan kualitas membaca dan menulis yang lebih tinggi atau lebih luas. Kegiatan rencana perbaikan pembelajaran, yakni:
1. Menyusun skenario perbaikan pembelajaran, yaitu;
a. Penyusunan indikator keberhasilan dari kompetensi dasar
b. Penyusunan kegiatan pembelajaran dengan memadukan hasil refleksi siklus I agar siklus II lebih efektif
c. Persiapan media suku kata lembaga dengan huruf vokal i, u, e, dan o. Misalnya i di ri ji, u du ru ju, e de re je, o do ro jo dan pengenalan huruf mati
2. Mempersiapkan instrumen lembar observasi, lembar evaluasi, dan lembar penilaian siswa
3. Tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran siswa diharapkan lebih 70% dari 30 siswa mampu membaca dan menulis lebih lancar tanpa mengeja
b. Pelaksanaan
Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran guru dibantu observer untuk mengamati jalannya pembelajaran sesuai dengan perencanaan perbaikan pembelajaran yang telah disusun.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Memberikan apersepsi untuk mengetahui kemampuan siswa dalam hal mengenali kata-kata lembaga dalam metode Al Barqy Bahasa Indonesia
2. Menjelaskan tujuan kegiatan perbaikan pembelajaran dan memberi informasi hasil dari perbaikan pembelajaran siklus I
3. Membentuk kelompok (6 kelompok @ 5anak) merangkai kata dan kalimat
4. Memberikan bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok
5. Membacakan hasil diskusi
6. Membagikan lembar kerja untuk menggali kemampuan masing-masing siswa
7. Memberi tugas rumah
c. Pengumpulan Data (Observasi)
Bersamaan dengan dilakukannya perbaikan pembelajaran oleh guru, observer mengamati kegiatan pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Pengumpulan data diperoleh dari:
• Mengamati perilaku siswa dalam menggunakan media kartu suku kata
• Memantau siswa dalam berdiskusi, kerja sama antarsiswa dalam kelompok
• Mengamati masing-masing siswa dalam kemampuan membaca dan menulis
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan oleh guru dibantu observer dengan mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, menganalisis hasil pembelajaran. Setelah melakukan analisis, interpretasi, dan evaluasi perbaikan pembelajaran dapat menjelaskan tingkat kemampuan membaca dan menulis siswa meningkat lebih dari 70% dari 30 anak. Keberhasilan perbaikan pembelajaran pada siklus II tampak pada kemampuan siswa dalam merangkai suku kata menjadi kata, merangkai kata menjadi kalimat sederhana, membaca, dan menulis tanpa mengeja.
3. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Siklus III
a. Perencanaan
Dari hasil kegiatan refleksi siklus II, guru merencanakan perbaikan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan meningkatkan kualitas membaca dan menulis dengan tingkatan yang lebih tinggi atau lebih sulit. Kegiatan rencana perbaikan pembelajaran, yakni:
1. Menyusun skenario perbaikan pembelajaran, yaitu;
a. Penyusunan indikator keberhasilan dari kompetensi dasar
b. Penyusunan kegiatan pembelajaran dengan memadukan hasil refleksi siklus II agar siklus III lebih efektif
c. Persiapan media buku cerita bergambar dan media gambar yang menuntut siswa menemukan sendiri kalimat sederhana yang sesuai dengan gambar yang ada sesuai dengan pengalamannya
2. Mempersiapkan instrumen lembar observasi, lembar evaluasi, dan lembar penilaian siswa
3. Tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran siswa diharapkan 80% dari 30 siswa mampu membaca dan menulis lebih lancar tanpa mengeja
b. Pelaksanaan
Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran guru dibantu observer untuk mengamati jalannya pembelajaran sesuai dengan perencanaan perbaikan pembelajaran yang telah disusun.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Memberikan apersepsi untuk mengetahui kemampuan siswa dalam hal pembacaan dan penulisan kata dan kalimat sederhana
2. Menjelaskan tujuan kegiatan perbaikan pembelajaran dan memberi informasi hasil dari perbaikan pembelajaran siklus II
3. Membentuk kelompok (6 kelompok @ 5anak) merangkai kalimat sesuai dengan gambar dan pengalamannya
4. Memberikan bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok
5. Masing-masing kelompok membacakan kalimat yang ditulis
6. Membagikan lembar kerja untuk menggali kemampuan membaca dan menulis masing-masing anak
7. Memberi tugas rumah
c. Pengumpulan Data (Observasi)
Bersamaan dengan dilakukannya perbaikan pembelajaran oleh guru, observer mengamati kegiatan pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Pengumpulan data diperoleh dari:
• Mengamati perilaku siswa dalam menggunakan media kartu suku kata
• Memantau siswa dalam berdiskusi, kerja sama antarsiswa dalam kelompok
• Mengamati masing-masing siswa dalam kemampuan membaca dan menulis
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan oleh guru dibantu observer dengan mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, menganalisis hasil pembelajaran. Setelah melakukan analisis, interpretasi, dan evaluasi perbaikan pembelajaran dapat menjelaskan tingkat kemampuan membaca dan menulis siswa meningkat 80% dari 31 anak. Keberhasilan perbaikan pembelajaran pada siklus III tampak pada kemampuan siswa dalam menulis kalimat menjadi cerita sederhana dan membaca dengan lancar tanpa mengeja.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. OBJEK TINDAKAN
Penelitian ini merupakan Kegiatan Perbaikan Pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas. Adapun jenis tindakan yang diteliti adalah sebagai berikut:
1. Minat siswa untuk menemukan sendiri
2. Keaktifan dan kerjasama siswa dalam kelompok
3. Peningkatan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis
B. SETTING/SUBJEK PENELITIAN
Setting atau lokasi Perbaikan Pembelajaran ini adalah di SDN Kapasari I/292 Kecamatan Genteng kota Surabaya, kelas I, dengan jumlah siswa 30 anak. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Tema Lingkungan, Standar Kompetensi Membaca dan Menulis Permulaan., Semester 1, Tahun Pelajaran 2007-2008.
C. METODE PENGUMPULAN DATA
Data yang dikumpulkan melalui catatan observasi dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian perbaikan pembelajaran sampai dengan siklus III bersama teman sejawat.
Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dalam kelompok. Sedangkan hasil evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan kemampuan/prestasi belajar siswa.
Pada bagian refleksi dilakukan analisis data mengenai proses perbaikan pembelajaran, masalah, dan hambatan yang dijumpai, kemudian dilanjutkan dengan refleksi dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. Kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan.
D. METODE ANALISA DATA
Data hasil observasi pembelajaran dianalisa bersama-sama dengan teman sejawat sebagai mitra kolaborasi, kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa (evaluasi) dianalisa berdasarkan ketentuan belajar siswa.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diperoleh dari tindakan pada siklus I, siklus II, dan siklus III. Hasil penelitian diperoleh dari hasil tes dan hasil non tes. Hasil tes berupa hasil penilaian lembar evaluasi, Hasil non tes berupa pengamatan kerja kelompok.
Proses analisis data sebagai hasil penelitian meliputi peningkatan aktivitas
1. Hasil Penelitian Siklus I
Dalam proses pembelajaran siklus pertama pengenalan metode Al Barqy Bahasa Indonesia secara klasikal, kemudian dilanjutkan dengan kerja kelompok dan individu yang materinya dikembangkan dari lembar kerja siswa. Hasil penelitian menunjukkan:
Siswa Aktif = Kelompok I : 2 siswa Kelompok IV : 2 siswa
Kelompok II : 1 siswa Kelompok V : 3 siswa
Kelompok III : 2 siswa Kelompok VI : 2 siswa
Tabel 1
Hasil Evaluasi Siswa Siklus I
Nilai Jumlah anak Presentasi
90 - 100
80 - 89
70 - 79
60 - 69
50 - 59
40 - 49
30 - 39 2
2
8
8
6
2
2 6,7%
6,7%
26,6%
26,6%
20%
6,7%
6,7%
Jumlah 30 100%
Pada tabel 1, siswa yang belum mampu membaca dan menulis berjumlah 10 anak, yang cukup sebanyak 16 anak , dan sudah baik kemampuan membaca dan menulis sebanyak 4 anak.
Pengenalan kata-kata lembaga metode Al Barqy Bahasa Indonesia perlu diperjelas dalam kerja kelompok. Dari hasil observasi aktivitas siswa kurang nampak dalam pembelajaran.
2. Hasil Penelitian Siklus II
Dalam proses perbaikan pembelajaran siklus pertama perlu adanya perbaikan. Perbaikan pada siklus kedua mendapatkan hasi penelitian sebagai berikut.
Siswa Aktif = Kelompok I : 3 siswa Kelompok IV : 4 siswa
Kelompok II : 3 siswa Kelompok V : 4 siswa
Kelompok III : 4 siswa Kelompok VI : 3 siswa
Tabel 2
Hasil Evaluasi Siswa Siklus II
Nilai Jumlah anak Presentasi
90 - 100
80 - 89
70 - 79
60 - 69
50 - 59
40 - 49
4
6
11
6
2
1
13,3%
20%
36,7%
20%
6,7%
3,3%
Jumlah 30 100%
Dari hasil penelitian di atas terlihat dalam proses perbaikan pembelajaran pada Siklus II terdapat peningkatan karena siswa merasa senang dengan kegiatan dalam kerja kelompok dan hasil evaluasi menunjukkan kemampuan siswa dalam merangkai kata menjadi sebuah kalimat sudah cukup baik yaitu 70% dari 30 siswa, namun masih ada 9 anak yang memperoleh nilai tidak memuaskan
2. Hasil Penelitian Siklus III
Dalam proses perbaikan pembelajaran siklus kedua sudah terjadi peningkatan tetapi masih perlu adanya perbaikan. Perbaikan pada siklus ketiga mendapatkan hasi penelitian sebagai berikut.
Siswa Aktif = Kelompok I : 5 siswa Kelompok IV : 5 siswa
Kelompok II : 4 siswa Kelompok V : 5 siswa
Kelompok III : 5 siswa Kelompok VI : 4 siswa
Tabel 3
Hasil Evaluasi Siswa Siklus III
Nilai Jumlah anak Presentasi
90 - 100
80 - 89
70 - 79
60 - 69 7
10
8
5
23,3%
33,3%
26,7%
16,7%
Jumlah 30 100%
Dari hasil penelitian di atas peneliti dan observer memperoleh hasil bahwa proses perbaikan pembelajaran pada Siklus III menunjukkan peningkatan yang sangat berarti. Pada akhir siklus ketiga hasil pembelajaran sudah memenuhi harapan, yakni adanya peningkatan aktivitas dan hasil evaluasi siswa.
B. Pembahasan dari Setiap Siklus
1. Siklus I
Proses kegiatan perbaikan pembelajaran siklus pertama pada awal pembelajaran siswa diperkenalkan dengan kata-kata lembaga metode Al Barqy mereka sangat senag sekali apalagi ketika siswa dibagi dalam kerja kelompok dan merangkai kata, karena mereka merasa menemukan pengalaman baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun ada beberapa yang kurang beraktivitas dalam kerja kelompok.
Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I aktivitas siswa belum nampak. Dari 30 siswa yang ikut aktif dalam kerja kelompok 12 anak. Dari hasil evaluasi 12 anak sudah mampu merangkai kata dan membaca dengan baik, 8 anak cukup baik tapi masih dibimbing, 10 anak belum bisa merangkai kata dan membaca dengan baik.
Setelah berdiskusi dengan observer bahwa alat peraga kurang menarik, guru kurang jelas dalam memberi perintah dan memotivasi siswa.
2. Siklus II
Pada siklus II ini proses kegiatan perbaikan pembelajaran berjalan cukup baik. Perbaikan pembelajaran pada siklus II untuk kemampuan membaca dan menulis siswa lebih ditingkatkan lagi dari merangkai suku kata menjadi kata, pada siklus kedua dari suku kata menjadi kata dan kalimat.
Pada perbaikan pembelajaran siklus kedua ini sikap antusiasme siswa lebih meningkat karena siswa sudah pernah melakukannya dan siswa dapat lebih banyak menemukan kata dan menyusunnya menjadi sebuah kalimat sederhana.
Pembelajaran yang menyenangkan dan menemukan sendiri (Pembelajaran Konstruktivisme) pada siklus II aktivitas siswa lebih meningkat yaitu 21 anak dari 30 siswa. Hasil evaluasi juga semakin meningkat yaitu 21 anak sudah mampu merangkai kata menjadi kalimat, 6 anak cukup baik tapi masih dibimbing, dan 3 anak sangat perlu perhatian dari guru. Jadi pada siklus II terjadi peningkatan siswa yang mampu membaca dan menulis dengan baik ada 70%.
Dari hasil observasi peneliti dan observer siswa yang masih belum mampu membaca dan menulis dengan baik disebabkan karena guru kurang memberi motivasi dan contoh yang jelas.
3. Siklus III
Tindakan yang dilakukan pada siklus III hampir sama dengan siklus II. Pada perbaikan pembelajaran siklus III siswa diajak untuk membaca buku cerita bergambar. Siswa sangat senang dengan kegiatan ini, kemudian siswa menemukan sendiri atau bercerita dengan kalimat sendiri gambar yang ada.
Dari hasil observasi peneliti dan observer perbaikan pembelajaran pada siklus III ini berjalan cukup baik sesuai dengan yang diharapkan. Siswa sangat antusias karena dapat menuliskan sendiri kalimat sesuai dengan pengalaman pada gambar yang ada. Terbukti pada hasil penelitian aktivitas siswa dan hasil evaluasi siswa diperoleh hasil yang memuaskan, yakni 25 anak dari 30 siswa mendapat nilai yang baik atau sekitar 80% lebih, dan tidak ada yang mendapat nilai di bawah 60.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil observasi peneliti dan observer, maka hasil perbaikan pembelajaran pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Dengan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
2. Dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat meningkatkan aktivitas siswa
3. Dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan siswa kelas I SDN Kapasari I/292
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam membaca dan menulis permulaan dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia adalah sangat memuaskan. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan, baik aktivitas, kerjasama, maupun prestasi siswa, seperti pada tabel berikut.
Tabel 4
Profil Hasil Penelitian
Aktivitas Siswa Siklus I 12 40%
II 21 70%
III 28 93,3%
Hasil Prestasi Belajar Siklus I 12 40%
II 21 70%
III 25 83,3%
B. Saran-saran
Dari kesimpulan di atas, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Kepada guru kelas I diharapkan dapat menerapkan penggunaan metode Al Barqy Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaan membaca dan menulis permulaan
2. Pembelajaran yang selama ini hanya menggunakan cara-cara konvensional hendaknya diganti dengan teknik pembelajaran yang inovatif dan bervariasi sesuai dengan perkembangan jiwa anak.
3. Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan kondusif dapat meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan pengalaman melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas, kiranya guru juga memanfaatkan Kelompok Kerja Guru (KKG), untuk mendapatkan informasi, bertukar pengalaman atau memecahkan masalah yang dihadapi saat kegiatan berlangsung di kelas sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan kelas. Bandung: Yrama Widya
Depdiknas. 2006. Standar Isi, Jakarta: Permendiknas 22 tahun 2006.
Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasar. 2006. Merancang Pembelajaran Aktif dan Kontekstual Berdasarkan “Sisko” 2006. Jakarta: PT Grasindo
Sukandi, Ujang. 2003. Belajar Aktif dan Terpadu. Surabaya: Duta Graha Pustska
Sulthon, Muhadjir. 1999. Al Barqy. Surabaya: CV. Pena Suci
Sulthon, Muhadjir. 1998. Aku Cepat Membaca. Surabaya: CV. Pena Suci
Tarigan, Djago. 2006.Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas Rendah.Jakarta: Universitas Terbuka.
Wardani, I GAK. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka
Lampiran 1a
Siklus I
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/Satu
Waktu : 2 x 35 menit
I. Standar Kompetensi:
3. Memahami teks pendek dengan membaca nyaring
4. Menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi, dan menyalin
II. Kompetensi Dasar:
3.1. Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
4.3. Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan
tulis dengan benar
III. Indikator
Setelah pembelajaran siswa dapat:
1. mengenali kata-kata lembaga a da ra ja, ma ha ka ya, ka ta wa na, sa ma la ba
2. melafalkan kata-kata lembaga dengan tepat
3. mencontoh kata-kata lembaga dengan tepat
4. merangkai kata-kata lain dari kata-kata lembaga
IV. Tujuan Perbaikan
1. Diharapkan siswa dapat merangkai suku kata dari kata-kata lembaga
2. Diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
V. Kegiatan Belajar
A. Kegiatan Awal (5 menit)
1. Menunjukkan gambar seorang raja
2. Bertanya jawab tentang raja
3. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti ( 55 menit)
1. Menirukan guru membaca kata lembaga (5 menit)
2. Melafalkan kata-kata lembaga yang ditunjuk guru dengan benar (10 menit)
3. Secara berkelompok merangkai kata dari kartu huruf dan kartu suku kata (15 menit)
4. Secara bergantian membaca kata yang sudah dirangkai dalam kelompok kemudian dipajang (15 menit)
5. Mengerjakan lembar kerja evaluasi (10 menit)
C. Kegiatan Akhir (10 menit)
1. Siswa melafalkan kembali kata-kata lembaga
2. Bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari
3. Siswa di beri tugas rumah
VI. Materi Pembelajaran:
Membaca nyaring kata-kata lembaga dengan lafal yang tepat
Kata-kata lembaga yang lain, yakni:
Ma ha ka ya, ka ta wa na, sa ma la ba, pa pa ba ca, a da na ga
VII. Sarana dan Sumber Belajar
1. Chart Kata-kata Lembaga metode Al Barqy
2. Kartu suku kata
3. Buku “Aku Cepat Membaca”
VI. Evaluasi
A. Prosedur Evaluasi:
Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran siswa diberi lembar kerja.
B. Teknik Penilaian:
a. Uraian
b. Pengamatan
C. Pelaksanaan:
1. Awal : -
2. Proses : Mengamati keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok
3. Akhir : Lampiran
Surabaya, 24 Oktober 2007
Mengetahui Guru Kelas
Kepala SDN Kapasari I
SUGIYANTO NS AMIRUL HIDAYATI
NIP.130 741 531 NIM. 811 925 733
Lampiran 1b
Siklus II
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/Satu
Waktu : 2 x 35 menit
I. Standar Kompetensi:
3. Memahami teks pendek dengan membaca nyaring
4. Menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi, dan menyalin
II. Kompetensi Dasar:
3.1. Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
4.3. Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan
tulis dengan benar
III. Indikator
Setelah pembelajaran siswa dapat:
1. Melafalkan kata-kata lembaga vokal a, I, u, e, dan o dengan tepat
2. Membaca kata dengan huruf mati
3. Merangkai kata-kata lain dari kata-kata lembaga
4. Membuat kalimat sederhana
IV. Tujuan Perbaikan
3. Diharapkan siswa dapat merangkai suku kata dari kata-kata lembaga menjadi kata, kata-kata disusun menjadi kalimat sederhana
4. Diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
V. Kegiatan Belajar
A. Kegiatan Awal (5 menit)
1. Melafalkan kata-kata lembaga
2. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti ( 55 menit)
1. Melafalkan kata-kata lembaga yang ditunjuk guru dengan benar (5 menit)
2. Melafalkan kata-kata lembaga dengan mengganti huru vokal i, u, e, dan o dengan tepat (5 menit)
3. Menirukan guru melafalkan huruf mati dengan titian unta (5 menit)
4. Secara berkelompok merangkai kata dari kartu huruf dan kartu suku kata (15 menit)
5. Secara bergantian membaca kata yang sudah dirangkai dalam kelompok kemudian dipajang (15 menit)
6. Mengerjakan lembar kerja evaluasi (10 menit)
C. Kegiatan Akhir (10 menit)
a. Bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari
b. Siswa di beri tugas rumah
VI. Sarana dan Sumber Belajar
1. Chart Kata-kata Lembaga metode Al Barqy
2. Kartu suku kata dan kata
3. Buku “Aku Cepat Membaca”
VII. Evaluasi
A. Prosedur Evaluasi:
Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran siswa diberi lembar kerja.
B. Teknik Penilaian:
a. Uraian
b. Pengamatan
C. Pelaksanaan:
1. Awal : -
2. Proses : Mengamati keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok
3. Akhir : Lampiran
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/Satu
Waktu : 1 x 35 menit
I. Standar Kompetensi:
3. Memahami teks pendek dengan membaca nyaring
4. Menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh,
melengkapi, dan menyalin
II. Kompetensi Dasar:
3.1. Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
4.3. Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan
tulis dengan benar
III. Indikator
Setelah pembelajaran siswa dapat:
1. Membaca cerita bergambar
2. Bercerita tentang gambar dengan kalimat sederhana
3. Menulis kalimat sederhana pada gambar
IV. Tujuan Perbaikan
1. Diharapkan siswa dapat membaca buku cerita bergambar
2. Diharapkan siswa dapat menemukan sendiri kalimat yang tepat sesuai gambar
3. Diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
V. Kegiatan Belajar
A. Kegiatan Awal (5 menit)
1. Tanya jawab tentang gambar
2. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti ( 25 menit)
1. Mengidentifikasi gambar dan menyebutkan kata-kata yang sesuai dengan gambar (5 menit)
2. Secara berkelompok merangkai kata sesuai dengan gambar menjadi kalimat sederhana (10 menit)
3. Secara bergantian membaca kalimat yang sudah dirangkai dalam kelompok kemudian dipajang (5 menit)
4. Mengerjakan lembar kerja evaluasi (5 menit)
C. Kegiatan Akhir (5 menit)
1. Bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari
2. Siswa di beri tugas rumah
VI. Sarana dan Sumber Belajar
1. Kartu kata
2. Buku cerita bergambar
3. Gambar
VII. Evaluasi
B. Prosedur Evaluasi:
Evaluasi diberikan selama proses pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran siswa diberi lembar kerja.
B. Teknik Penilaian:
a. Uraian
b. Pengamatan
C. Pelaksanaan:
1. Awal : -
2. Proses : Mengamati keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok
3. Akhir : Terlampir
Mengetahui Surabaya, 4 Januari 2008
Mahasiswa
Amirul Hidayati
NIM. 811925733
Lampiran
HASIL EVALUASI SISWA
NO NAMA SISWA PENYELESAIAN NILAI KETERANGAN
SOAL
1 ACHMAD TAUFIQUR ROHMAN
2 ALFIN RAHMADANI
3 ALIF FIYAN ADI PRAYITNO
4 ANI SURROHMAN
5 ARIES IVAN FIRMANSYAH
6 DEDY TIZA HEPINDA
7 DEWI MELANI
8 DEWI SANTI
9 DODIK HERMAWAN
10 EKA JULIANTI RISDIAN
11 FAISAL MAULANA
12 FARAH LAHMIRZA FENDIANI
13 ILA SILVIA
14 KHRISNA SASMITA WINATA
15 MOCH ALFIAN ERYANTO
16 ANDIKA PUTRA SETIAWAN
17 MOCH YUNUS ZAKARIA
18 NABILA PUNGKY SARI
19 NURUL LAILATUL MAULIDIA
20 RANY ANITHA FACHRUDDIN
21 RENDY FIRMANSYAH PUTRA
22 RIFKY RAFIUDIN RACHMAN
23 RIFQI MAULANA PRATAMA
24 RISMA ZAINIYAH
25 SELLY ADILILA NURFARANI
26 SHINTIA NUR TRIANA PUTRI
27 SITI NURCAHYATI JULIA
28 SITI ZAHRO
29 SYAIFUL ANAM
30 YUNUS FIRMANSYAH
Nilai rata-rata
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Lampiran 2b
LEMBAR OBSERVASI
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Aktivitas siswa dalam Pembelajaran
No ASPEK AKTIVITAS NOMOR SISWA
1 2 3 4 5 6 Jumlah
1 Mendengarkan penjelasan guru / teman
2 Membaca materi / LKS
3 Mengerjakan LKS
4 Berdiskusi dengan teman
5 Mengajukan pertanyaan pada teman / guru
6 Menjadi pembicara kelompok
7 Menghargai pendapat orang lain
8 Mengambil giliran dan berbagai tugas
9 Memberi kesempatan orang lain berbicara
10 Mendengarkan dengan aktif
11 Kerjasama dengan kelompok
12 Kemampuan menyampaikan informasi
Surabaya,………………
Pengamat
-------------------Petunjuk:
1. Pengamatan ditujukan pada setiap kelompok
2. Pengamat cukup memberikan tanda (v) pada kolom nomor siswa yang ada untuk menandai aspek siswa yang diobservasi.
SISTEMATIKA LAPORAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : I
Waktu : 2 x 35 menit
Masalah yang akan Diatasi :
Rendahnya kemampuan membaca dan menulis
Cara Mengatasi :
Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan dengan menggunakan metode Al Barqy Bahasa Indonesia
Hasil :
Hasil perbaikan pembelajaran sangat memuaskan
Hal yang unik :
Siswa menyelesaikan masalah/soal dengan bermain dan suasana yang menyenangkan.
SDN Kapasari I
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas : I
Nama : …………………………….. .
Ayo lengkapi dan buatlah kata.
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
1. ……………………….
2. ………………………..
3. ………………………..
4. ………………………..
5. ………………………..
SDN Kapasari I
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas : I
Nama : …………………………….. .
Ayo lengkapi dan buatlah kata serta kalimat sederhana
1. ………………… 2. …………………
3. …………………
4. …………………
5. …………………
6………………......
7. ………………… 8. …………………
9..…………………
10…………………
11…………………
12…………………
13…………………
14…………………
15…………………
16…………………
17…………………
18…………………
10 19…………………
20…………………
1. …………………………… ……. 2. ……………………………………..
3. ………………………………….. 4. ……………………………………..
5…………………………………….. 6. …………………………………….
Jumat, 28 Mei 2010
Pepohonan Tidak Mampu Cegah Global Warming
Pepohonan Tidak Mampu Cegah Global Warming
Pepohonan ternyata tidak mampu meminimalisir meluasnya global warming. Dibutuhkan banyak asupan air dan nutrisi untuk bisa mempertahankan pohon sebagai pencegah global warming. KENAPA????
Awalnya pepohonan diduga dapat menghisap karbondioksida dan menyemburkan oksigen ke atmosfer bumi. Banyaknya pepohonan pun akan semakin banyak menyerap karbondioksida yang secara otomatis akan mencegah perluasan global warming.
Para ilmuwan di Universitas Duke, Carolina Utara, telah menanamkan pohon pinus setiap hari selama 10 tahun. Diharapkan pohon-pohon tersebut akan menyerap banyak karbondioksida. Namun dalam penelitiannya, hanya beberapa pohon saja yang dapat menyerap karbon dengan maksimal. Pohon-pohon tersebut ternyata memiliki kelebihan asupan air dan nutrisi yang berakibat mampu menyerap karbon lebih banyak. Pohon jenis inilah yang mampu membantu mencegah global warming.
Proyek yang diadakan Departemen Energi, yang diberi nama eksperimen Free Air Carbon Enrichment (FACE), membandingkan empat hutan pinus yang menerima gas karbondioksida.
"Pada beberapa wilayah, pertumbuhannya mencapai 10 persen atau lebih sedangkan di wilayah lain mencapai 40 persen lebih. Wilayah dengan capaian 40 persen tersebut ternyata kaya akan sumber air dan nutrisi pohon," ujar Direktur FACE project, Ram Oren, seperti dilansir Live Science, Senin (13/8/2007). Dengan demikian, tambah Oren, jika ketersediaan air menurun di satu wilayah pepohonan, secara tidak langsung akan semakin meningkatkan kuantitas karbondioksida.
"Artinya kita tidak lagi memiliki media untuk meminimalisir karbon yang merupakan penyebab dari pemanasan global," pungkasnya. Satu-satunya cara, menurut Oren, adalah memberikan air berkualitas dengan kuantitas yang baik untuk pepohonan dengan cara memfertilisasi seluruh wilayah. Fertilisasi sangat diperlukan karena saat ini air sangat jarang ditemukan.
Sumber: http://hameedfinder.blogspot.com/2007/08/pepohonan-tidak-mampu-cegah-global.html)
FISIPERS adakan Seminar "Global Warming"
Ditulis oleh: admin
Pada: 12 November 2007
FISIPER bekerja sama dengan BBC siaran Indonesia menyelenggarakan menyelengarakan seminar mengenai “Global Warning”, yang berlangsung hari Senin (12/11) di Bloc Café FISIP Kampus Depok. Tidak saja dihadiri para mahasiswa FISIP, tetapi juga mahasiswa dari berbagai fakultas lainnya di lingkungan UI.
Para pembicara pada seminar itu yaitu Kuki Soejachmoen, Direktur Eksekutif LSM Yayasan Pelangi Indonesia, Drs. Azam Mulyadi, Ketua Sub Bidang Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Hidup Pemerintah DKI Jakarta serta Dra. Kusharianingsih, C.B.,HS dosen Sisiologi Lingkungan Hidup FISIP-UI. Acara seminar dimoderatori Djonggi, mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI.
Memburuknya keadaan bumi, banyak menelan korban dan juga merusak lingkungan, baik manusia. khewean maupun lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena tidak terkendalinya aktifitas manusia dalam mengeksploitasi dan eksplorasi sumber daya alam. Hal lain yang turut menyumbang global warming yaitu perkembangan teknologi, pertumbuhan populasi, penebangan hutan, bertambahnya pabrikdan limbah. Ada dua pilihan yang harus diambil, yaitu bersikap apatis atau melakukan tindakan perubahan ke arah yang jauh lebih baik dari sekarang. Kita masih mempunyai kesempatan untuk memperlambat proses dan mengurangi akibat fatal, dengan mengambil tindakan yang konkrit.
Pada hari Sabtu (10/11) bertempat di Miriam Budiardjo Research Center FISIP UI, FISIPERS juga menyelenggarakan “Klinik Jurnalistik” untuk mengembangkan pengetahuan mahasiswa dalam bidang jurnalistik, dnegan menghadirkan narasumber Endang Darmayuningsih Nurdin, Produser BBC Siaran Indonesia London, dengan moderator Erwin Fajrin, mahasiswa komunikasi FISIP UI. Peserta yang hadir tidak saja dari klangan mahasiswa UI, tetapi juga kalangan umum dan wartawan.
FISIPERS adalah sebuah lembaga kemahasiswaan yang bergerak dalam bidang pers dan jurnalistik di lingkungan FISIP UI, yang bertujuan mencerdasakan elemen di sekitarnya melalui informasi yang disajikan serta memperkenalkan dan menumbuhkan budaya tulis dan baca dalam dunia kampus UI.
BBC (British Broadcast Corporation) Siaran Indonesia yang mensponsorai kegiatan ini, merupakan suatu kegiatan dalam rangka BBC Goes to Campus 2007 selama dua minggu, yang akan menyelengarakan kegiatan seperti di UI pada 8 perguruan tinggi di Indonesia yang berada di kota Aceh, Padang, Jakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bali dan Kupang.
Loenpia dot net | Komunitas Blogger Semarang
Karena Loenpia Lebih Enak Dimakan Bersama!
• Blog Home
• Tentang
• Aggregator
• Anggota
• Login
Pemanasan Global (?!?), Apa yang kita (bisa) perbuat?
May 04th, 2007 | | oleh : didut | kategori : Opini
Pemanasan global (?!?), mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu mengenai pemanasan global dari informasi yang kita dapat melalui mass media akan tetapi biasanya memang dibahas dalam skala kebijakan yang sangat besar. Nah bisakah kita sebagai orang yang biasa ini berkontribusi positif terhadap pengurangan dampak pemanasan global? Pastinya sih bisa.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi (sumber dari Wikipedia). Jadi sih intinya Bumi kita tuh memanas karena sinar matahari yang sudah masuk ke bumi kita tidak bisa keluar lagi karena gas-gas rumah kaca tadi membentuk lapisan di atmosfer yang memantulkan sinar matahari tadi (kalau mau baca lebih lengkap silahkan lihat di Wikipedia).
Terus kalo suhu bumi meningkat kenapa?
Yang pastinya sih daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil.
Nah terus hubungannya dengan Kota Semarang bagaimana? dan apa yang kita bisa lakukan?
Dari pembicaraan dengan teman sekantor yang juga seorang petani dan petambak, dia bilang sekarang (terutama 2-3 tahun ke belakang) sangat sulit untuk memprediksi cuaca. Seperti yang kita tahu para petani memakai cuaca sebagai patokan penanaman mereka, jadi kalo salah prediksi cuaca bisa-bisa tidak bisa panen atau panennya jelek sehingga merugi.Dan satu lagi mungkin yang efeknya bisa terasa langsung ke kita yaitu nyamuk. Kok nyamuk? Karena nyamuk baik untuk berkembang biak di tempat yang hangat, jadi mungkin saja semakin panjangnya musim demam berdarah di indonesia karena temperature yang meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.
Nah terus apa sih yang bisa kita lakukan sebagai orang biasa untuk berkontribusi positif dalam pengurangan pemanasan global. Sebenernya sih mudah-mudah aja tapi tidak mudah untuk dilakukan.
Untuk kita yang dirumah kita bisa:
(1) Matikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda standby menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik. Artinya Anda terus berkontribusi pada pemanasan global.
(2)Pilihlah perlengkapan elektronik serta lampu yang hemat energi
(3)Saat matahari bersinar hindari penggunaan mesin pengering, jemur dan biarkan pakaian kering secara alami
(4)Matikan keran saat sedang menggosok gigi
(5) Gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman
(6)Segera perbaiki keran yang bocor - keran bocor menumpahkan air bersih hingga 13 liter air per hari
(7)Jika mungkin mandilah dengan menggunakan shower. Mandi berendam merupakan cara yang paling boros air.
(8)Selalu gunakan kertas di kedua sisinya
(9)Gunakan kembali amplop bekas
(10)Jangan gunakan produk ’sekali pakai’ seperti piring dan sendok kertas atau pisau, garpu dan cangkir plastik
(11)Gunakan baterai isi ulang
(12)Pilih kalkulator bertenaga surya
Kenapa kebanyakan kok yang berhubungan listrik?
Karena untuk memproduksi listrik kita masih memakai bahan bakar yang berasal dari fosil, jadi dengan mengurangi konsumsi listrik kita berkontribusi juga dalam pengurangan potensi polusi akibat produksi listrik/energi tadi. Mungkin kita pikir, masak pengurangan konsumsi listrik kita berpengaruh sih? Tapi kalo kita pikir yang melakukan hal ini banyak orang, pengurangan konsumsi energinyapun akan menjadi sangat besar. Jadi program dari PLN 17-22 bisa dipraktekkan tuh
Untuk tips-tips lain gaya hidup ramah lingkungan di tempat kerja, saat berlibur maupun berbelanja dapat melihat situs WWF Indonesia.
Pemanasan global sudah bukan menjadi isu lagi saat ini, pemanasan global sudah menjadi masalah yang harus kita hadapi atau kita pecahkan bersama. Jadi marilah kita mulai bersama-sama gaya hidup yang ramah lingkungan dari kita sendiri dan mulailah perkenalkanlah gaya hidup ini pada orang-orang yang paling dekat dengan kita seperti keluarga, pacar, teman dan tetangga kalau bisa.
THINK GLOBALY ACT LOCALY, Salam Lestari
04-01-2008
Kontribusi TNI Dalam Mengatasi Masalah Ancaman Issue Pemanasan Global
"Oleh Hari Sudewo"
Di era 1990 an masalah demokrasi, hak azasi manusia dan lingkungan hidup adalah merupakan issue global yang banyak dibicarakan baik di tingkat nasional maupun internasional saat itu. Namun kondisinya berbeda dengan yang berkembang saat ini dimana masalah krisis energi, terorisme dan climate change (perubahan iklim) adalah merupakan primadona sebagai issue ancaman global yang sedang mencuat dipermukaan dan menjadi sorotan dunia. Bahkan dalam menanggapi maraknya issue climate change yang sangat erat sekali kaitannya dengan issue pemanasan global (global warming), pada akhir tahun ini tepatnya tanggal 3 - 13 Desember 2007 Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tingkat dunia di Bali untuk membicarakan dan membahas masalah climate change. Hal ini mengindikasikan betapa seriusnya dunia dalam mengantisipasi ancaman climate change yang memang sudah menjadi salah satu ancaman global terhadap kelangsungan hidup bagi kehidupan di muka bumi ini.
Perlu kita sadari bahwa masalah lingkungan yang terkait dengan issue climate change atau pemanasan global bukan hanya menjadi tanggung jawab para pemerhati lingkungan, para pakar lingkungan atau pemerintah saja, akan tetapi ini merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat baik nasional maupun internasional, termasuk keluarga besar TNI . Mengapa demikian ? Karena dampak perubahan iklim / pemanasan global saat ini telah banyak dirasakan masyarakat dunia, bahkan seringkali menjadi kenyataan bahwa akibat perubahan iklim / pemanasan global ini menjadi sumber bencana / malapetaka dan tidak sedikit yang berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Meningkatnya suhu bumi, banjir bandang dan badai / topan yang melanda hampir di kawasan dunia serta mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut adalah merupakan indikasi betapa besar dampak pemanasan global / perubahan iklim terhadap kehidupan.
Mengingat dampak pemanasan global / perubahan iklim yang demikian besar bagi kehidupan dimuka bumi ini, maka Institusi TNI beserta keluarga besarnya perlu memahami secara benar tentang apa itu climate change atau pemanasan global dan dampak yang ditimbulkan, serta upaya pencegahannya. Dengan bekal pemahaman yang benar paling tidak Institusi TNI dan keluarganya dapat memberikan kontribusi atau andil untuk ikut berperan aktif dalam upaya mengatasi dan melakukan tindakan pencegahan terhadap issue pemanasan global atau perubahan iklim yang sedang mendunia saat ini.
Apa itu climate change dan global warming
Dalam pengertian harafiahnya climate change memang dapat diartikan sebagai bentuk fenomena alam sering terjadinya pergeseran / perubahan iklim. Memang pada kenyataannya kondisi iklim saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan ketentuan dimana telah menunjukan adanya gejala terjadinya pergeseran atau perubahan iklim bila dibandingkan dengan kondisi iklim beberapa dekade sebelumnya. Namun bukan itu yang kita maksudkan, sebab dibalik peristiwa terjadinya perubahan itu mengandung berbagai permasalahan yang sangat krusial terhadap kelangsungan hidup bagi kehidupan di muka bumi ini. Lebih-lebih bila dikaitkan issue global warming (pemanasan global) yang saat ini sedang banyak dipermasalahkan. Meningkatnya suhu atmosfer bumi yang semakin kita rasakan bersama, sudah tentu akan menimbulkan banyak implikasinya terhadap kehidupan dan peradaban manusia. Bencana alam seperti banjir bandang, angin puting beliung, badai / topan dan naiknya air laut kedaratan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat saat ini.
Memang banyak literature yang menyebutkan bahwa masalah climate change itu erat kaitannya dengan masalah terjadinya global warming, sehingga meningkatnya suhu bumi yang terjadi saat ini merupakan akibat dari perubahan iklim. Namun demikian ada pula yang menyebutkan bahwa perubahan iklim ini sebagai akibat dari pemanasan global. Argumen ini cukup beralasan, karena naiknya suhu bumi yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global menyebabkan terjadnya perubahan iklim. Sehingga dengan adanya perbedaan pandangan ini, maka dapat diibaratkan seperti kalau kita mempersoalkan mana yang lebih dulu telor atau ayam dan tidak pernah berakhir karema masing-masing mempunyai argumen yang masuk akal. Namun disini tidak akan membahas mana yang lebih dulu terjadi perubahan iklim atau pemanasan global, akan tetapi akan lebih mengulas pada apa yang menjadi penyebab dan dampaknya terhadap kehidupan manusia dan kehidupan lainnya.
Perubahan iklim yang akan kita bahas disini lebih mengarah pada kondisi iklim saat ini dimana sering terjadi pergeseran musim yang tidak sesuai dengan ketentuan sehingga sulit diprediksi. Sebagai contoh misalnya dalam dua atau tiga decade yang lalu, perubahan iklim atau climate change belum begitu dirasakan oleh sebagian masyarakat dunia. Namun berbeda dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat saat ini dimana telah terjadi pergeseran musim dan perubahan iklim yang kian tidak menentu yang dampaknya semakin dirasakan. Wilayah Indonesia yang pada umumnya mempunyai dua musim, yaitu musim panas antara bulam April – Oktober dan musim penghujan antara bulan Oktober – April itupun kondisinya sudah sulit diprediksi. Indikasi ini dapat kita simak dari berbagai peristiwa dibulan Agustus 2007 yang seharusnya musim panas, tetapi apa yang terjadi berbeda dengan kenyataan dimana di beberapa wilayah di Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku masih sering terjadi hujan deras dan badai yang menyebakan banjir bandang. Disisi lain munculnya berbagai ancaman bahaya kekeringan panjang di beberapa wilayah seperti yang terjadi di Jawa dan daerah Nusatenggara yang sebenarnya belum saatnya.
Lain halnya dengan fenomena global warming atau pemanasan global yang lebih banyak mengungkap terjadinya perubahan iklim karena adanya peningkatan suhu bumi secara global. Dengan adanya pemanasan global ini sudah tentu akan berakibat pada terjadinya perubahan kelembaban, temperature udara dan tekanan udara. Apabila hal ini terjadinya secara drastis di suatu wilayah tertentu, maka akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan arah angina, sehingga tidak mengherankan kalau fenomena alam ini seringkali berakibat fatal seperti timbulnya ancaman badai ataupun angin topan yang secara ilmiah sulit diprediksi kapan terjadinya..
Penyebab terjadinya climate change dan global warming
Untuk memahami lebih jauh dengan tentang permasalahan pemanasan global ataupun perubahan iklim yang saat ini sedang ramai dibicarakan masyarakat dunia, maka perlunya kita mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Banyak factor yang menyebabkan terjadinya pemanasan global / perubahan iklim di bumi yang antara lain ada dua factor penting, yaitu pertama sebagai akibat semakin tebalnya lapisan polusi udara yang menyelimuti atmosfir bumi dan kedua adanya pemanasan langsung ke permukaan bumi dari sinar matahari akibat menipisnya lapisan ozon (O3). Akan tetapi menurut Baron Jean Baptiste Fourier (1820) sebagai penggagas teori gas rumah kaca (green house gases) menyatakan bahwa emisi gas karbon dioksida (CO2) ke atmosfer sangat dominant sebagai penyebab utama timbulnya perubahan iklim atau pemanasan global.
Faktor penyebab pertama lebih banyak dipicu oleh kegiatan manusia seperti pembangunan perumahan yang tidak ramah lingkungan, pembangunan industri yang membuang limbahnya ke udara melalui cerobong asap, pembangunan industri transportasi yang menghasilkan gas buangan dari hasil pembakaran bahan baker minyak (BBM) kendaraan bermotor. Selain itu pembakaran sampah, pembakaran lahan hutan termasuk pembakaran lahan gambut merupakan penyumbang emisi gas CO2 yang sangat besar. Demikian pula penggunaan alat rumah tangga yang berlebihan – kompor gas, Air Condition (AC), Lemari Es yang masih menggunakan gas Freon (CFC) dan mesin cuci juga mempunyai andil sebagai penyumbang emisi gas buangan ke atmosfer. Bahkan hasil studi dari konsultan Inggris Max Fordam menyimpulkan ada tiga kegiatan yang menjadi penyumbang emisi gas carbon ke udara yaitu kegiatan pembangunan 50 %, transportasi 25 % dan sisanya 25 % oleh kegiatan industri (Tri Harso, kompas edisi 11 September 2007).
Tingginya tingkat emisi gas ke udara akhirnya membentuk lapisan tebal yang menyelimuti atmosfer bumi. Akibatnya bumi ini berada dalam ruang yang diselimuti oleh pollutant (material gas buangan / bahan penimbul polusi) yang mengakibatkan suhu atmosfer bumi meningkat. Kondisi ini dapat diibaratkan apabila kita berada diruangan tertutup, maka kondisinya akan akan jauh lebih panas bila dibanding kalau kita berada di ruangan terbuka. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya lebih dikenal dengan istilah green house effect (efek rumah kaca) karena memang kondisinya tidak jauh berbeda apabila kita berada di dalam rumah kaca (green house) untuk penelitian. Suhu udara di dalam rumah kaca akan meningkat dan jauh lebih panas dibanding dengan suhu udara di luar rumah kaca.
Namun terlepas dari ada tidaknya unsur politis negara maju untuk memojokkan posisi Indonesia di mata internasional, namun ada indikasi ketika Indonesia dilanda kebakaran hutan yang hampir melanda seluruh wilayah kawasan hutan pada tahun 1997 an, Indonesiapun akhirnya divonis sebagai Negara penyumbang emisi gas carbon ke udara terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan China. Pada hal menurut daftar komposisi emisi CO2 tiap-tiap negara tahun 2001 Indonesia masih menduduki urutan 14 dengan tingkat emisinya 1,3 % (Nurul Isnaeni, 2006).
Memang tidak dapat diingkari bahwa kian menebalnya lapisan pollutant di atmosfer bumi ini bukan hanya mendorong naiknya suhu bumi, akan tetapi juga akan berdampak pada menipisnya lapisan ozon (O3) di atmosfer. Ini terjadi karena sifatnya ozon yang sangat oksidatif sehingga mudah terurai maupun mengikat zat pollutant di udara. Akibatnya lapisan Ozon semakin berkurang atau menipis. Pada hal perlu untuk diketahui bahwa lapisan Ozon di atmosfer itu mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menyerap dan menghambat sinar matahari (infra merah) ke bumi. Namun akibat menipisnya lapisan ozon tersebut, maka sinar matahari dapat langsung menuju permukaan bumi dan kemudian dipantulkan kembali ke udara yang akibatnya suhu udarapun meningkat. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi adanya indikasi telah terjadinya lobang –lobang yang lebih dikenal dengan nama black hole sehingga intensitas sinar matahari yang langsung ke bumi semakin besar. Sehingga dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi seandainya sinar matahari itu langsung kebumi, dimana suhu permukaan matahari itu panasnya mencapai 6000 an derajat celcius. Seandainya lapisan Ozon di atmosfer itu habis terurai oleh tebalnya pollutant atau tidak ada lagi, maka sudah tentu ini akan menjadi bencana bagi kehidupan dimuka bumi, bahkan tidak tertutup kemungkinan kiamatlah dunia ini.
Langkah Pencegahan
Sebenarnya masih beruntung bagi negara-negara di daerah tropis seperti Indonesia, karena tingkat pencemaran CO2 itu masih dapat dinetralisir atau sebagian diserap kembali keanekaragam jenis tumbuhan/ hutan yang masih tersisa di negeri ini. Sehingga dapat dibayangkan betapa sulitnya membendung emisi gas carbon CO2 di daerah-daerah industri dan daerah yang terbuka yang keanekaragaman jenis tumbuhannya relatif lebih sedikit dibanding dengan negara-negara tropis yang masih memiliki hutan. Gas carbon CO2 yang lepas ke atmosfer tidak akan menemui hambatan untuk menambah tebalnya lapisan selimut bumi di atmosfer. Sebenarnya kondisi yang demikian inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran dunia, karena ini akan mempercepat proses terjadinya global warming yang akan mengancam keselamatan kehidupan di muka bumi ini.
Karena itu tidak heranlah kalau negara-negara maju itu sangat concern / peduli terhadap negara-negara di daerah tropis termasuk Indonesia untuk menjaga dan melindungi hutan dari ancaman kegiatan pembalakan liar (illegal logging) dan tindak kejahatan perdagangan satwa liar (wildlife crime / trade). Perlu kita pahami bersama bahwa hutan tropis fungsinya bukan hanya mampu menetralisir dan menyerap gas carbon CO2 untuk kepentingan fotosintesanya, akan tetapi hutan di darah tropis dapat sekaligus sebagai sebagai paru-paru dunia karena memproduksi gas oksigen (O2) yang sangt dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia dan kehidupan lainnya. Untuk itulah sisa hutan termasuk hidupan liarnya harus dijaga dan dilindungi kelestariannya.
Sehingga langkah dan tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan bumi dari ancaman perubahan iklim ataupun pemanasan global adalah perlunya peran serta dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat termasuk Institusi TNI dan Polri. Peran serta ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan untuk tidak melakukan dan melibatkan diri terhadap hal-hal yang dapat memicu kerusakan lingkungan alam. Banyak hal hal positif yang dapat dilakukan oleh anggota TNI termasuk keluarganya yang antara lain tidak ikut melibatkan diri maupun menjadi backing kegiatan pembalakan liar / illegal logging dan perdagangan satwa liar yang telah dilindungi oleh undang-undang. Hutan dan hidupan liarnya harus dijaga dan dilindungi kelestariannya karena selain berfungsi sebagai regulator alam yang paling efektif untuk mengendalikan emisi gas buangan carbon CO2, tetapi juga sebagai penyedia oksigen (O2) di udara yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bagi kehidupan manusia dan kehidupan lainya.
Demikian pula dengan kegiatan lainya yang berkaitan dengan kegiatan kehidupan sehari-hari. Kita dapat melakukan berbagai kegiatan penghematan energi dengan pendekatan dari lingkungan yang berada disekitarnya (ekoefisiensi), seperti misalnya : mengurangi / menghindari penggunaan alat-alat rumah tangga seperti lemari es dan Air condition (AC) yang masih menggunakan gas freon (CFC) dan melakukan penghematan dalam menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak) karena semua itu merupakan dapat menimbulkan emisi gas buangan yang akhirnya mempercepat proses pemanasan global. Karena itu tidak heranlah kalau hasil kesepakatan antara negara Uni Eropa, Jepang dan Amerika Serikat pada CoP 3 di Kyoto, Jepang bahwa negara-negara industri akan menurunkan emisi enam macam gas (CO2, CH4, N2O, HFC, PFC dan SF6) paling sedikit 5 % dari tingkat emisi tahun 1990 pada periode tahun 2008 - 2012 (Mundiyarso, 2003). Dengan pendekatan ekoefisiensi ini paling tidak kita dapat memberikan andil dalam mengatasi masalah lingkungan yang terkait dengan issue perubahan iklim / pemanasan global. Contoh yang mudah untuk dipahami misalnya dengan menghemat penggunaan energi BBM, berarti kita membantu mengurangi penggunaan sumber daya alam dan yang akhirnya akan mengurangi polusi / emisi gas buangan carbon ke udara. Seandainya ini disadari dan dilakukan oleh masyarakat, maka ini sudah tentu dapat memperlambat atau menghambat laju peningkatan pemanasan global.
Penulis adalah :
Illegal Logging and Wlidlife Trade Adivisor
Conservation International Indonesia
Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan.
“Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?” barangkali begitulah Anda berpikir.
Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.
Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.
Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.
Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.
Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.
Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.
Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.
Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.
Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :
1. Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to plastic.
Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
A. LANDASAN TEORITIS
1. Kelompok Sektor Riil pada setiap perekonomian terdiri dari “Good-Producing
Sector”, yaitu:
B. Sektor Pertanian, yang meliputi: (Kelompok “Tradeables”)
(i) Sub-Sektor Pertanian Pangan
(ii) Sub-Sektor Perkebunan
(iii) Sub-Sektor Pertenakan
(iv) Sub-Sektor Kehutanan
(v) Sub-Sektor Perikanan
C. Sektor Industri Manufaktur, yang meliputi: (Kelompok “Tradeables”)
(i) Sub-Sektor Pengolahan Bahan Pertanian
(ii) Sub-Sektor Industri Dasar (Basic Industry)
(iii) Sub-Sektor Industri Barang Modal (Machineries and
Equipments)
(iv) Sub-Sektor Industri Bahan-bahan Konstruksi
D. Sektor Bangunan, yang meliputi: (Kelompok “ Non Tradeables”)
(i) Sub-Sektor Bangunan Rumah
(ii) Sub-Sektor Bangunan Bukan-Rumah
(iii) Sub-Sektor Pekerjaan Sipil
(iv) Sub-Sektor Perbaikan dan Pemeliharaan
E. Sektor Listrik/Gas/Air Bersih (Kelompok “ Non Tradeables”)
Meskipun Sektor C dan D sering dimasukan ke dalam Kelompok Sektor Jasa (“Services Sectors”), namun karena sifat hasil akhirnya yang berujud fisik maka lebih tepat apabila kedua sektor tersebut masuk ke Kelompok Sektor Riil. Serupa halnya Sektor A dan Sektor B “delivery” dari hasil kedua sektor ini memerlukan jasa transportasi. Di dalam hal listrik, lewat jaringan listrik, dan di dalam hal gas serta air bersih lewat jaringan pipa.
Konsekuensi penggunaan tata-ruang (space) dari keempat sektor ini tampak pada dimensi fisik, baik pada wilayah darat maupun wilayah laut, dan sampai seberapa jauh juga wilayah udara (air space). Kegiatan “air cargo” adalah untuk memenuhi kebutuhan Kelompok Sektor Riil ini.
2. Seperti yang diperlihatkan di dalam peta tata-ruang yang bersifat komprehensif berikut ini, maka kegiatan Kelompok Sektor Riil – baik yang dilakukan Dunia Usaha, Pemerintah, maupun Rumah tangga – terkait kepada hampir seluruh tataruang yang secara langsung digunakan penduduk dunia pada saat ini. Perkecualian hanyalah terjadi pada ruang Angkasa Luar (Outer Space) dan pada ruang Laut Dalam (Deep Ocean), di mana per awal abad ke-21 ini baru dilakukan “probing activities” – kegiatan-kegiatan penjelajahan. Hal ini pun terjadi pada wilayah Kutub Utara (North Pole) dan Kutub Selatan (South Pole). Tampaknya, sampai kini, masih ada kesefahaman bahwa wilayah Angkasa Luar/Laut Dalam/ Kutub Utara/Kutub Selatan merupakan Wilayah Warisan Umat Manusia (Humanities’ Heritage Region), yang pemanfaatannya harus mempertimbangkan Kepentingan Kolektif seluruh umat manusia pada kurun waktu sampai sangat jauh ke depan.
1 Peta Konprehenhensif Tata-Ruang Planet Bumi RUANG ANGKASA LUAR (Outer Space)
HEOS (High Earth Orbital Satellite)
Manned
Unmanned
RUANG ANGKASA (Air Space)
LEOS (Low Earth Orbital Satellite)
Air Waves
PERMUKAAN BUMI
SURFACE DARAT LAUT
- Pemukiman - Wilayah Transportasi
Laut
- Kegiatan Kehidupan Masyarakat - ALKI (atau: SLOC)
- Wilayah Transportasi Darat - Wilayah Penangkapan
Ikan
- Laut Dalam (Deep Sea)
SUB-SURFACE - Galian - Galian
- Pertambangan on-shore - Pertambangan off
- Deep Sea shore
. Quarrying
. Mining
3. Ancaman proses Pemanasan Bumi (Global Warming) merupakan hal yang diakibatkan oleh kegiatan Kelompok Sektor Riil yang menggunakan SDA (Natural Resources), di dalam berbagai kombinasi dengan faktor-faktor produksi yang terkait, untuk menciptakan Nilai Tambah (Value Added) dari ribuan “Goods-
Producing Sectors”, yang mengikuti pola alur satu-arah dari sebuah proses siklus tertutup (atau: one-way, close-loop, process of production).
Di dalam model tersebut tidak diperhitungkan munculnya limbah-limbah (waste) yang bersifat padat (solid waste) dan yang cair (liquid waste) yang kemudian berakumulasi sebagai dampak polusi (pollution), pada seluruh wilayah yang digunakan oleh Kelompok Sektor Riil tersebut. Akibat negatif dari proses akumulasi limbah tersebut adalah kerusakan lingkungan atau “destruction of the ecosystem”.
Di dalam sebuah proses siklus terbuka yang multi-arah (multi-dimension, openloop, process of activities), proses akumulasi limbah tersebut – pada akhirnya – menimbulkan peristiwa Pemanasan Bumi. Masalahnya, di dalam hal ini adalah:
meramalkan ke depan peristiwa ini, merupakan kesulitan tersendiri yang tidak mutlak diselesaikan. Lihat: “Statistics and Climatology: Gambling on Tomorrow”, The Economist, 18 Agustus 2007. Itulah sebabnya, sudah sedemikian lama ancaman Pemanasan Bumi ini masih terus diperdebatkan antara lain justru oleh Kelompok Negara-negara Industri Utama (Grup 7 atau Grup 8) – terutama AS – yang merupakan penghasil terbesar dari polusi di bumi ini. Kelompok negara- 2 negara kaya ini menghasilkan sekitar 70% dari PDB Dunia, hanya dengan tenaga kerja yang berasal dari penduduk sekitar 20% saja dari penduduk dunia; yang
tentu berakibatkan langsung terhadap produksi polutanya. Kelompok inilah pula yang menggunakan sebagian terbesar SDA dunia, yang sebagian besar berlokasi di Kelompok Negara-negara Selatan.
B. MASALAH-MASALAH NYATA DEWASA INI
1. Proses Pemanasan Bumi seperti yang diamati pada awal abad ke-21 ini telah menimbulkan akibat-akibat yang teramat jauh jangkauannya, baik pada tatanan geopolitik maupun pada tatanan geoekonomi, dengan segala akibatnya kepada geostrategi berbagai negara. Seperti yang dapat diperkirakan: akibat-akibat yang serius muncul pada kelompok negara yang berkepentingan kepada posisi kemandirian SDA, baik karena kekayaan SDA yang dimilikinya maupun karena kemiskinan SDA yang dihadapinya. Tentu, pada akhirnya, sitkon “resource-rich” atau “resource-poor” tersebut terkait kepada jumlah penduduk masing-masing mereka, selain kepada struktur umurnya.
Di dalam sebuah pola sitkon SDA-Penduduk yang disajikan di dalam sebuah matrix sebagai berikut akan tampak permasalahan Geostrategi yang dihadapi masing-masing negara di dunia dewasa ini.
8 Penduduk
Kecil Jumlah
Penduduk
Penduduk
Besar
- Singapura
- Srilangka
- Jepang
- Vietnam
- Brazil
- Samudra
Arabia
- Kuweit
- AS
- Rusia
- Indonesia
- Cina
- India
Kualitas
SDA
Miskin
SDA
Kaya
SDA
Dapat diperkirakan, bagaimana negara-negara yang memiliki posisi geografis yang strategis karena kekayaan SDA-nya akan semakin berupaya untuk memperkuat kepentingannya di depan tekanan yang semakin besar di dunia untuk memelihara posisi “resource independence” masing-masing
2) Belakangan ini, sebagai akibat pencairan lapisan es di Kutub Utara, mulai timbul perlombaan mengklaim wilayah itu yang ditengarai kaya SDA – utamanya:
deposit minyak bumi, oil sand, gas alam, bahkan batubara. Pada saat ini empat negara sudah siap-siap berebut wilayah di Kutub Utara, yakni AS, Rusia, Kanada dan Denmark. Persaingan yang panas mulai terjadi mengklaim wilayah “Northwest Passage” di antara AS dan Kanada, karena posisi strategis selat tersebut di dalam menghubungkan Samudra Atlantik dengan Samudra Pasifik.
Pemanasan bumi akan membuka selat ini untuk pelayaran sepanjang tahun, yang akan berakibatkan “economic boom” berkepanjangan di wilayah Greenland,
3 Kanada Utara, Alaska, dan Siberia, yang terkait langsung dengan kelompok negara-negara industri Asia yang sedang bangkit dengan empat – Cina, Korea, Taiwan, dan Vietnam – yang kesemuanya sangat tergantung kepada impor energi.
Lihat untuk ini kedua bahan berikut: “The Arctic: Drawing lines in melting ice”, The Economist, 18 Agustus 2007; dan Mc Kenzie Funk, “Cold Rush: The coming fight for the melting north,” Harper’s Magazine, September 2007, yang disajikan sebagai lampiran catatan ini.
3) Berkebalikan secara mutlak dengan proyeksi jangka-panjang sitkon di wilayah Kutub Utara ini, Indonesia dan Philippina justru akan dihadapi oleh hilangnya beberapa ribu pulau kecil dan tengelamnya wilayah-wilayah pantai. Yang harus diantisipasi secara urgent oleh Indonesia adalah pada kejadian-kejadian berikut:
a) Hilangnya beberapa ribu pulau kecil tersebut akan meliputi juga makin sirnanya ratusan pulau-pulau atol yang merupakan habitat flora-fauna kelautan, yang terkait erat dengan fungsi alami perikanan di perairan Indonesia
b) Juga, menyempitnya luas pulau-pulau kecil yang kaya akan mineral seperti nikel, timah, bauxit, dan lain sebagainya, yang akan mempersulit exploitasi dari bahan-bahan mineral tersebut
c) Proses peninggian permukaan laut juga akan mengancam keamanan fisik menara migas (oil & gas platforms) lepas pantai, jaringan pipa bawah laut, dan lain sebagainya.
d) Proses itu juga akan mempercepat abrasi daerah pantai di seluruh Indonesia. Bahaya yang terbesar adalah pada wilayah-wilayah pesisir yang padat penduduk, padat proyek-proyek perumahan dan resor turis, padat proyekproyek industri dasar, dan padat prasarana serta sarana ekonomi utama.
Simulasi komputer dapat dilakukan – serupa di Pantai Timur AS – untuk mengantisipasi keperluan relokasi skala besar dari wilayah-wilayah pesisir tersebut.
4) Di dalam kaitan dengan pengaruh negatif dari Pemanasan Bumi terhadap cuaca/iklim, patut diperhitungkan hal-hal berikut:
a) Telah ditengarai adanya kemungkinan akan semakin cepatnya berlangsung Siklus El Nino-La Nina di seluruh wilayah Samudra Pasifik, dengan sifat extrim musim kemarau dan musim hujan yang semakin kritis. Hal ini akan berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan kegiatan dari praktis seluruh Sektor Pertanian. Sampai seberapa jauh hal ini pun akan terasa juga akibanya di wilayah Samudra Hindia.
b) Peristiwa kebakaran hutan di satu sisi dan peristiwa banjir bandang dan longsor di sisi lain akan menimbulkan akibat-akibat parah kepada keberlanjutan upaya-upaya pembangunan. Masalah-masalah tersebut tidak akan lagi sekedar bersifat “accidental” melainkan sudah beranjak ke yang bersifat struktural, sedemikian sehingga upaya-upaya penanganannya akan menuntut kapasitas permanen yang didukung oleh Belanja Pemerintah yang besar
c) Juga sudah ditengarai bahwa kesemua peristiwa diatas berpotensi memperparah masalah penyakit-penyakit menular, yang bisa berubah menjadi epidemi
4
5) Pada akhirnya, dapat diperkirakan bahwa Pemanasan Bumi akan menimbulkan proses-proses negatif yang fatal yang akan lebih banyak ditemui di Kelompok Negara Miskin dibandingkan dengan Kelompok Negara Kaya. Peristiwa serupa Badai Katrina yang mengoyak New Orleans, apabila terjadi di Kelompok Negara Miskin bisa menimbulkan resesi ekonomi yang luas akibatnya Pada waktu ini Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya penanganan terhadap akibat-akibat Pemanasan Bumi tersebut, melalui berbagai kebijakan. Lihat laporan Bank Dunia/DFID Indonesia/Peace, Ringkasan Exekutif – Indonesia dan Perubahan Iklim: Status Terkini dan Kebijakannya, Jakarta, Mei 2007.
Dapat diantisipasikan bahwa efek dari upaya-upaya penanganan tersebut baru akan dirasakan dalam jangka waktu yang lama di depan. Sambil menunggu saat itu, dapat diperkirakan semua pihak harus waspada terhadap permasalahan-permasalahan yang akan muncul dari peristiwa global Abad ke-21 ini.
Tentang Pemanasan Global Warming!!!
• Author: rana nabila
• Filed under: Sosial
Friday
Dec 14,2007
Global Warming….?????!!!!..Huh serem bgt dengernya. bisakah kita sebagai orang yang biasa ini berkontribusi positif terhadap pengurangan dampak pemanasan global? Pastinya sih bisa.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Adanya beberapa hasil yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Efek rumah kaca
Artikel utama: Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek Rumah Kaca
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. “Global Warming,”sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Efek umpan baik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6] Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer.
Mengukur Pemanasan Global
awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
--------------------------------------
Perlindungan Lingkungan
Sejalan dengan makin mudah dan nyamannya kehidupan modern, berkembang kecenderungan orang membuat barang yang digunakan satu kali saja, lalu membuangnya. Hal ini menyebabkan timbulnya banyak macam masalah lingkungan, seperti pencemaran udara dan air, perusakan lingkungan alam, pemanasan global, dan jumlah limbah yang luar biasa. Perlindungan lingkungan merupakan tugas vital tidak saja bagi Jepang tapi juga bagi seluruh dunia. Di bawah pimpinan pemerintahnya, masyarakat Jepang dewasa ini sibuk melakukan usaha-usaha perlindungan lingkungan dalam lingkup luas.
Harga yang harus dibayar bagi kenyamanan kehidupan modern adalah timbulnya generasi penyebab banyak limbah. Bila limbah dibawa begitu saja untuk menimbun tanah, maka akan timbul gunungan-gunungan sampah yang terus membesar. Sekarang kita harus membangun masyarakat daur-ulang di mana barang digunakan secukupnya saja dan dapat digunakan berulang kali, dan bukan terus dibuang. Jepang telah mencapai kemajuan besar dalam mengurangi volume sampah dan dalam mendaur-ulang produk-produk bekas, khususnya daur-ulang kaleng dan botol plastik telah berjalan dengan mantap di Jepang.Kehidupan yang nyaman memerlukan banyak energi, termasuk listrik, gas, dan bensin. Karbon dioksida dan gas-gas lainnya terlepas ke udara ketika orang membangkitkan listrik dan mengoperasikan mesin dengan membakar bahan bakar seperti minyak dan batubara. Gas-gas tersebut menimbulkan berbagai masalah seperti pemanasan global dan pencemaran udara. Pemanasan global merupakan masalah di mana suhu di seputar dunia meningkat. Untuk mencegahnya, jumlah karbon dioksida serta gas-gas rumah-kaca lainnya harus dikurangi. Pada kesempatan COP3, sebuah konperensi besar mengenai pencegahan pemanasan global yang diselenggarakan di kota Kyoto, Jepang pada tahun 1997, banyak negara berjanji akan mengurangi jumlah gas-gas rumah-kaca yang diproduksinya.
Salah satu jalan untuk menanggulangi pemanasan global adalah menggunakan bentuk-bentuk energi yang ‘bersih’ yang tidak mengeluarkan gas buangan. Energi sinar surya, angin dan geothermal (panas bumi) adalah beberapa di antara jenis energi bersih yang tersedia. Jepang aktif mengembangkan dan menerapkan energi bersih sebagai bagian dari usaha-usahanya untuk mengatasi masalah pemanasan global dan mengurangi pencemaran. Jepang berusaha membantu negara-negara di berbagai penjuru dunia dalam mengatasi masalah-masalah lingkungan dengan, misalnya, memberikan mereka teknologi daur-ulang, teknologi untuk mengurangi emisi gas-gas rumah-kaca, dan berbagai teknologi lingkungan lainnya.
Pepohonan ternyata tidak mampu meminimalisir meluasnya global warming. Dibutuhkan banyak asupan air dan nutrisi untuk bisa mempertahankan pohon sebagai pencegah global warming. KENAPA????
Awalnya pepohonan diduga dapat menghisap karbondioksida dan menyemburkan oksigen ke atmosfer bumi. Banyaknya pepohonan pun akan semakin banyak menyerap karbondioksida yang secara otomatis akan mencegah perluasan global warming.
Para ilmuwan di Universitas Duke, Carolina Utara, telah menanamkan pohon pinus setiap hari selama 10 tahun. Diharapkan pohon-pohon tersebut akan menyerap banyak karbondioksida. Namun dalam penelitiannya, hanya beberapa pohon saja yang dapat menyerap karbon dengan maksimal. Pohon-pohon tersebut ternyata memiliki kelebihan asupan air dan nutrisi yang berakibat mampu menyerap karbon lebih banyak. Pohon jenis inilah yang mampu membantu mencegah global warming.
Proyek yang diadakan Departemen Energi, yang diberi nama eksperimen Free Air Carbon Enrichment (FACE), membandingkan empat hutan pinus yang menerima gas karbondioksida.
"Pada beberapa wilayah, pertumbuhannya mencapai 10 persen atau lebih sedangkan di wilayah lain mencapai 40 persen lebih. Wilayah dengan capaian 40 persen tersebut ternyata kaya akan sumber air dan nutrisi pohon," ujar Direktur FACE project, Ram Oren, seperti dilansir Live Science, Senin (13/8/2007). Dengan demikian, tambah Oren, jika ketersediaan air menurun di satu wilayah pepohonan, secara tidak langsung akan semakin meningkatkan kuantitas karbondioksida.
"Artinya kita tidak lagi memiliki media untuk meminimalisir karbon yang merupakan penyebab dari pemanasan global," pungkasnya. Satu-satunya cara, menurut Oren, adalah memberikan air berkualitas dengan kuantitas yang baik untuk pepohonan dengan cara memfertilisasi seluruh wilayah. Fertilisasi sangat diperlukan karena saat ini air sangat jarang ditemukan.
Sumber: http://hameedfinder.blogspot.com/2007/08/pepohonan-tidak-mampu-cegah-global.html)
FISIPERS adakan Seminar "Global Warming"
Ditulis oleh: admin
Pada: 12 November 2007
FISIPER bekerja sama dengan BBC siaran Indonesia menyelenggarakan menyelengarakan seminar mengenai “Global Warning”, yang berlangsung hari Senin (12/11) di Bloc Café FISIP Kampus Depok. Tidak saja dihadiri para mahasiswa FISIP, tetapi juga mahasiswa dari berbagai fakultas lainnya di lingkungan UI.
Para pembicara pada seminar itu yaitu Kuki Soejachmoen, Direktur Eksekutif LSM Yayasan Pelangi Indonesia, Drs. Azam Mulyadi, Ketua Sub Bidang Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Hidup Pemerintah DKI Jakarta serta Dra. Kusharianingsih, C.B.,HS dosen Sisiologi Lingkungan Hidup FISIP-UI. Acara seminar dimoderatori Djonggi, mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI.
Memburuknya keadaan bumi, banyak menelan korban dan juga merusak lingkungan, baik manusia. khewean maupun lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena tidak terkendalinya aktifitas manusia dalam mengeksploitasi dan eksplorasi sumber daya alam. Hal lain yang turut menyumbang global warming yaitu perkembangan teknologi, pertumbuhan populasi, penebangan hutan, bertambahnya pabrikdan limbah. Ada dua pilihan yang harus diambil, yaitu bersikap apatis atau melakukan tindakan perubahan ke arah yang jauh lebih baik dari sekarang. Kita masih mempunyai kesempatan untuk memperlambat proses dan mengurangi akibat fatal, dengan mengambil tindakan yang konkrit.
Pada hari Sabtu (10/11) bertempat di Miriam Budiardjo Research Center FISIP UI, FISIPERS juga menyelenggarakan “Klinik Jurnalistik” untuk mengembangkan pengetahuan mahasiswa dalam bidang jurnalistik, dnegan menghadirkan narasumber Endang Darmayuningsih Nurdin, Produser BBC Siaran Indonesia London, dengan moderator Erwin Fajrin, mahasiswa komunikasi FISIP UI. Peserta yang hadir tidak saja dari klangan mahasiswa UI, tetapi juga kalangan umum dan wartawan.
FISIPERS adalah sebuah lembaga kemahasiswaan yang bergerak dalam bidang pers dan jurnalistik di lingkungan FISIP UI, yang bertujuan mencerdasakan elemen di sekitarnya melalui informasi yang disajikan serta memperkenalkan dan menumbuhkan budaya tulis dan baca dalam dunia kampus UI.
BBC (British Broadcast Corporation) Siaran Indonesia yang mensponsorai kegiatan ini, merupakan suatu kegiatan dalam rangka BBC Goes to Campus 2007 selama dua minggu, yang akan menyelengarakan kegiatan seperti di UI pada 8 perguruan tinggi di Indonesia yang berada di kota Aceh, Padang, Jakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bali dan Kupang.
Loenpia dot net | Komunitas Blogger Semarang
Karena Loenpia Lebih Enak Dimakan Bersama!
• Blog Home
• Tentang
• Aggregator
• Anggota
• Login
Pemanasan Global (?!?), Apa yang kita (bisa) perbuat?
May 04th, 2007 | | oleh : didut | kategori : Opini
Pemanasan global (?!?), mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu mengenai pemanasan global dari informasi yang kita dapat melalui mass media akan tetapi biasanya memang dibahas dalam skala kebijakan yang sangat besar. Nah bisakah kita sebagai orang yang biasa ini berkontribusi positif terhadap pengurangan dampak pemanasan global? Pastinya sih bisa.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi (sumber dari Wikipedia). Jadi sih intinya Bumi kita tuh memanas karena sinar matahari yang sudah masuk ke bumi kita tidak bisa keluar lagi karena gas-gas rumah kaca tadi membentuk lapisan di atmosfer yang memantulkan sinar matahari tadi (kalau mau baca lebih lengkap silahkan lihat di Wikipedia).
Terus kalo suhu bumi meningkat kenapa?
Yang pastinya sih daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil.
Nah terus hubungannya dengan Kota Semarang bagaimana? dan apa yang kita bisa lakukan?
Dari pembicaraan dengan teman sekantor yang juga seorang petani dan petambak, dia bilang sekarang (terutama 2-3 tahun ke belakang) sangat sulit untuk memprediksi cuaca. Seperti yang kita tahu para petani memakai cuaca sebagai patokan penanaman mereka, jadi kalo salah prediksi cuaca bisa-bisa tidak bisa panen atau panennya jelek sehingga merugi.Dan satu lagi mungkin yang efeknya bisa terasa langsung ke kita yaitu nyamuk. Kok nyamuk? Karena nyamuk baik untuk berkembang biak di tempat yang hangat, jadi mungkin saja semakin panjangnya musim demam berdarah di indonesia karena temperature yang meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.
Nah terus apa sih yang bisa kita lakukan sebagai orang biasa untuk berkontribusi positif dalam pengurangan pemanasan global. Sebenernya sih mudah-mudah aja tapi tidak mudah untuk dilakukan.
Untuk kita yang dirumah kita bisa:
(1) Matikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda standby menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik. Artinya Anda terus berkontribusi pada pemanasan global.
(2)Pilihlah perlengkapan elektronik serta lampu yang hemat energi
(3)Saat matahari bersinar hindari penggunaan mesin pengering, jemur dan biarkan pakaian kering secara alami
(4)Matikan keran saat sedang menggosok gigi
(5) Gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman
(6)Segera perbaiki keran yang bocor - keran bocor menumpahkan air bersih hingga 13 liter air per hari
(7)Jika mungkin mandilah dengan menggunakan shower. Mandi berendam merupakan cara yang paling boros air.
(8)Selalu gunakan kertas di kedua sisinya
(9)Gunakan kembali amplop bekas
(10)Jangan gunakan produk ’sekali pakai’ seperti piring dan sendok kertas atau pisau, garpu dan cangkir plastik
(11)Gunakan baterai isi ulang
(12)Pilih kalkulator bertenaga surya
Kenapa kebanyakan kok yang berhubungan listrik?
Karena untuk memproduksi listrik kita masih memakai bahan bakar yang berasal dari fosil, jadi dengan mengurangi konsumsi listrik kita berkontribusi juga dalam pengurangan potensi polusi akibat produksi listrik/energi tadi. Mungkin kita pikir, masak pengurangan konsumsi listrik kita berpengaruh sih? Tapi kalo kita pikir yang melakukan hal ini banyak orang, pengurangan konsumsi energinyapun akan menjadi sangat besar. Jadi program dari PLN 17-22 bisa dipraktekkan tuh
Untuk tips-tips lain gaya hidup ramah lingkungan di tempat kerja, saat berlibur maupun berbelanja dapat melihat situs WWF Indonesia.
Pemanasan global sudah bukan menjadi isu lagi saat ini, pemanasan global sudah menjadi masalah yang harus kita hadapi atau kita pecahkan bersama. Jadi marilah kita mulai bersama-sama gaya hidup yang ramah lingkungan dari kita sendiri dan mulailah perkenalkanlah gaya hidup ini pada orang-orang yang paling dekat dengan kita seperti keluarga, pacar, teman dan tetangga kalau bisa.
THINK GLOBALY ACT LOCALY, Salam Lestari
04-01-2008
Kontribusi TNI Dalam Mengatasi Masalah Ancaman Issue Pemanasan Global
"Oleh Hari Sudewo"
Di era 1990 an masalah demokrasi, hak azasi manusia dan lingkungan hidup adalah merupakan issue global yang banyak dibicarakan baik di tingkat nasional maupun internasional saat itu. Namun kondisinya berbeda dengan yang berkembang saat ini dimana masalah krisis energi, terorisme dan climate change (perubahan iklim) adalah merupakan primadona sebagai issue ancaman global yang sedang mencuat dipermukaan dan menjadi sorotan dunia. Bahkan dalam menanggapi maraknya issue climate change yang sangat erat sekali kaitannya dengan issue pemanasan global (global warming), pada akhir tahun ini tepatnya tanggal 3 - 13 Desember 2007 Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tingkat dunia di Bali untuk membicarakan dan membahas masalah climate change. Hal ini mengindikasikan betapa seriusnya dunia dalam mengantisipasi ancaman climate change yang memang sudah menjadi salah satu ancaman global terhadap kelangsungan hidup bagi kehidupan di muka bumi ini.
Perlu kita sadari bahwa masalah lingkungan yang terkait dengan issue climate change atau pemanasan global bukan hanya menjadi tanggung jawab para pemerhati lingkungan, para pakar lingkungan atau pemerintah saja, akan tetapi ini merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat baik nasional maupun internasional, termasuk keluarga besar TNI . Mengapa demikian ? Karena dampak perubahan iklim / pemanasan global saat ini telah banyak dirasakan masyarakat dunia, bahkan seringkali menjadi kenyataan bahwa akibat perubahan iklim / pemanasan global ini menjadi sumber bencana / malapetaka dan tidak sedikit yang berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Meningkatnya suhu bumi, banjir bandang dan badai / topan yang melanda hampir di kawasan dunia serta mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut adalah merupakan indikasi betapa besar dampak pemanasan global / perubahan iklim terhadap kehidupan.
Mengingat dampak pemanasan global / perubahan iklim yang demikian besar bagi kehidupan dimuka bumi ini, maka Institusi TNI beserta keluarga besarnya perlu memahami secara benar tentang apa itu climate change atau pemanasan global dan dampak yang ditimbulkan, serta upaya pencegahannya. Dengan bekal pemahaman yang benar paling tidak Institusi TNI dan keluarganya dapat memberikan kontribusi atau andil untuk ikut berperan aktif dalam upaya mengatasi dan melakukan tindakan pencegahan terhadap issue pemanasan global atau perubahan iklim yang sedang mendunia saat ini.
Apa itu climate change dan global warming
Dalam pengertian harafiahnya climate change memang dapat diartikan sebagai bentuk fenomena alam sering terjadinya pergeseran / perubahan iklim. Memang pada kenyataannya kondisi iklim saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan ketentuan dimana telah menunjukan adanya gejala terjadinya pergeseran atau perubahan iklim bila dibandingkan dengan kondisi iklim beberapa dekade sebelumnya. Namun bukan itu yang kita maksudkan, sebab dibalik peristiwa terjadinya perubahan itu mengandung berbagai permasalahan yang sangat krusial terhadap kelangsungan hidup bagi kehidupan di muka bumi ini. Lebih-lebih bila dikaitkan issue global warming (pemanasan global) yang saat ini sedang banyak dipermasalahkan. Meningkatnya suhu atmosfer bumi yang semakin kita rasakan bersama, sudah tentu akan menimbulkan banyak implikasinya terhadap kehidupan dan peradaban manusia. Bencana alam seperti banjir bandang, angin puting beliung, badai / topan dan naiknya air laut kedaratan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat saat ini.
Memang banyak literature yang menyebutkan bahwa masalah climate change itu erat kaitannya dengan masalah terjadinya global warming, sehingga meningkatnya suhu bumi yang terjadi saat ini merupakan akibat dari perubahan iklim. Namun demikian ada pula yang menyebutkan bahwa perubahan iklim ini sebagai akibat dari pemanasan global. Argumen ini cukup beralasan, karena naiknya suhu bumi yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global menyebabkan terjadnya perubahan iklim. Sehingga dengan adanya perbedaan pandangan ini, maka dapat diibaratkan seperti kalau kita mempersoalkan mana yang lebih dulu telor atau ayam dan tidak pernah berakhir karema masing-masing mempunyai argumen yang masuk akal. Namun disini tidak akan membahas mana yang lebih dulu terjadi perubahan iklim atau pemanasan global, akan tetapi akan lebih mengulas pada apa yang menjadi penyebab dan dampaknya terhadap kehidupan manusia dan kehidupan lainnya.
Perubahan iklim yang akan kita bahas disini lebih mengarah pada kondisi iklim saat ini dimana sering terjadi pergeseran musim yang tidak sesuai dengan ketentuan sehingga sulit diprediksi. Sebagai contoh misalnya dalam dua atau tiga decade yang lalu, perubahan iklim atau climate change belum begitu dirasakan oleh sebagian masyarakat dunia. Namun berbeda dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat saat ini dimana telah terjadi pergeseran musim dan perubahan iklim yang kian tidak menentu yang dampaknya semakin dirasakan. Wilayah Indonesia yang pada umumnya mempunyai dua musim, yaitu musim panas antara bulam April – Oktober dan musim penghujan antara bulan Oktober – April itupun kondisinya sudah sulit diprediksi. Indikasi ini dapat kita simak dari berbagai peristiwa dibulan Agustus 2007 yang seharusnya musim panas, tetapi apa yang terjadi berbeda dengan kenyataan dimana di beberapa wilayah di Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku masih sering terjadi hujan deras dan badai yang menyebakan banjir bandang. Disisi lain munculnya berbagai ancaman bahaya kekeringan panjang di beberapa wilayah seperti yang terjadi di Jawa dan daerah Nusatenggara yang sebenarnya belum saatnya.
Lain halnya dengan fenomena global warming atau pemanasan global yang lebih banyak mengungkap terjadinya perubahan iklim karena adanya peningkatan suhu bumi secara global. Dengan adanya pemanasan global ini sudah tentu akan berakibat pada terjadinya perubahan kelembaban, temperature udara dan tekanan udara. Apabila hal ini terjadinya secara drastis di suatu wilayah tertentu, maka akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan arah angina, sehingga tidak mengherankan kalau fenomena alam ini seringkali berakibat fatal seperti timbulnya ancaman badai ataupun angin topan yang secara ilmiah sulit diprediksi kapan terjadinya..
Penyebab terjadinya climate change dan global warming
Untuk memahami lebih jauh dengan tentang permasalahan pemanasan global ataupun perubahan iklim yang saat ini sedang ramai dibicarakan masyarakat dunia, maka perlunya kita mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Banyak factor yang menyebabkan terjadinya pemanasan global / perubahan iklim di bumi yang antara lain ada dua factor penting, yaitu pertama sebagai akibat semakin tebalnya lapisan polusi udara yang menyelimuti atmosfir bumi dan kedua adanya pemanasan langsung ke permukaan bumi dari sinar matahari akibat menipisnya lapisan ozon (O3). Akan tetapi menurut Baron Jean Baptiste Fourier (1820) sebagai penggagas teori gas rumah kaca (green house gases) menyatakan bahwa emisi gas karbon dioksida (CO2) ke atmosfer sangat dominant sebagai penyebab utama timbulnya perubahan iklim atau pemanasan global.
Faktor penyebab pertama lebih banyak dipicu oleh kegiatan manusia seperti pembangunan perumahan yang tidak ramah lingkungan, pembangunan industri yang membuang limbahnya ke udara melalui cerobong asap, pembangunan industri transportasi yang menghasilkan gas buangan dari hasil pembakaran bahan baker minyak (BBM) kendaraan bermotor. Selain itu pembakaran sampah, pembakaran lahan hutan termasuk pembakaran lahan gambut merupakan penyumbang emisi gas CO2 yang sangat besar. Demikian pula penggunaan alat rumah tangga yang berlebihan – kompor gas, Air Condition (AC), Lemari Es yang masih menggunakan gas Freon (CFC) dan mesin cuci juga mempunyai andil sebagai penyumbang emisi gas buangan ke atmosfer. Bahkan hasil studi dari konsultan Inggris Max Fordam menyimpulkan ada tiga kegiatan yang menjadi penyumbang emisi gas carbon ke udara yaitu kegiatan pembangunan 50 %, transportasi 25 % dan sisanya 25 % oleh kegiatan industri (Tri Harso, kompas edisi 11 September 2007).
Tingginya tingkat emisi gas ke udara akhirnya membentuk lapisan tebal yang menyelimuti atmosfer bumi. Akibatnya bumi ini berada dalam ruang yang diselimuti oleh pollutant (material gas buangan / bahan penimbul polusi) yang mengakibatkan suhu atmosfer bumi meningkat. Kondisi ini dapat diibaratkan apabila kita berada diruangan tertutup, maka kondisinya akan akan jauh lebih panas bila dibanding kalau kita berada di ruangan terbuka. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya lebih dikenal dengan istilah green house effect (efek rumah kaca) karena memang kondisinya tidak jauh berbeda apabila kita berada di dalam rumah kaca (green house) untuk penelitian. Suhu udara di dalam rumah kaca akan meningkat dan jauh lebih panas dibanding dengan suhu udara di luar rumah kaca.
Namun terlepas dari ada tidaknya unsur politis negara maju untuk memojokkan posisi Indonesia di mata internasional, namun ada indikasi ketika Indonesia dilanda kebakaran hutan yang hampir melanda seluruh wilayah kawasan hutan pada tahun 1997 an, Indonesiapun akhirnya divonis sebagai Negara penyumbang emisi gas carbon ke udara terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan China. Pada hal menurut daftar komposisi emisi CO2 tiap-tiap negara tahun 2001 Indonesia masih menduduki urutan 14 dengan tingkat emisinya 1,3 % (Nurul Isnaeni, 2006).
Memang tidak dapat diingkari bahwa kian menebalnya lapisan pollutant di atmosfer bumi ini bukan hanya mendorong naiknya suhu bumi, akan tetapi juga akan berdampak pada menipisnya lapisan ozon (O3) di atmosfer. Ini terjadi karena sifatnya ozon yang sangat oksidatif sehingga mudah terurai maupun mengikat zat pollutant di udara. Akibatnya lapisan Ozon semakin berkurang atau menipis. Pada hal perlu untuk diketahui bahwa lapisan Ozon di atmosfer itu mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menyerap dan menghambat sinar matahari (infra merah) ke bumi. Namun akibat menipisnya lapisan ozon tersebut, maka sinar matahari dapat langsung menuju permukaan bumi dan kemudian dipantulkan kembali ke udara yang akibatnya suhu udarapun meningkat. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi adanya indikasi telah terjadinya lobang –lobang yang lebih dikenal dengan nama black hole sehingga intensitas sinar matahari yang langsung ke bumi semakin besar. Sehingga dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi seandainya sinar matahari itu langsung kebumi, dimana suhu permukaan matahari itu panasnya mencapai 6000 an derajat celcius. Seandainya lapisan Ozon di atmosfer itu habis terurai oleh tebalnya pollutant atau tidak ada lagi, maka sudah tentu ini akan menjadi bencana bagi kehidupan dimuka bumi, bahkan tidak tertutup kemungkinan kiamatlah dunia ini.
Langkah Pencegahan
Sebenarnya masih beruntung bagi negara-negara di daerah tropis seperti Indonesia, karena tingkat pencemaran CO2 itu masih dapat dinetralisir atau sebagian diserap kembali keanekaragam jenis tumbuhan/ hutan yang masih tersisa di negeri ini. Sehingga dapat dibayangkan betapa sulitnya membendung emisi gas carbon CO2 di daerah-daerah industri dan daerah yang terbuka yang keanekaragaman jenis tumbuhannya relatif lebih sedikit dibanding dengan negara-negara tropis yang masih memiliki hutan. Gas carbon CO2 yang lepas ke atmosfer tidak akan menemui hambatan untuk menambah tebalnya lapisan selimut bumi di atmosfer. Sebenarnya kondisi yang demikian inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran dunia, karena ini akan mempercepat proses terjadinya global warming yang akan mengancam keselamatan kehidupan di muka bumi ini.
Karena itu tidak heranlah kalau negara-negara maju itu sangat concern / peduli terhadap negara-negara di daerah tropis termasuk Indonesia untuk menjaga dan melindungi hutan dari ancaman kegiatan pembalakan liar (illegal logging) dan tindak kejahatan perdagangan satwa liar (wildlife crime / trade). Perlu kita pahami bersama bahwa hutan tropis fungsinya bukan hanya mampu menetralisir dan menyerap gas carbon CO2 untuk kepentingan fotosintesanya, akan tetapi hutan di darah tropis dapat sekaligus sebagai sebagai paru-paru dunia karena memproduksi gas oksigen (O2) yang sangt dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia dan kehidupan lainnya. Untuk itulah sisa hutan termasuk hidupan liarnya harus dijaga dan dilindungi kelestariannya.
Sehingga langkah dan tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan bumi dari ancaman perubahan iklim ataupun pemanasan global adalah perlunya peran serta dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat termasuk Institusi TNI dan Polri. Peran serta ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan untuk tidak melakukan dan melibatkan diri terhadap hal-hal yang dapat memicu kerusakan lingkungan alam. Banyak hal hal positif yang dapat dilakukan oleh anggota TNI termasuk keluarganya yang antara lain tidak ikut melibatkan diri maupun menjadi backing kegiatan pembalakan liar / illegal logging dan perdagangan satwa liar yang telah dilindungi oleh undang-undang. Hutan dan hidupan liarnya harus dijaga dan dilindungi kelestariannya karena selain berfungsi sebagai regulator alam yang paling efektif untuk mengendalikan emisi gas buangan carbon CO2, tetapi juga sebagai penyedia oksigen (O2) di udara yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bagi kehidupan manusia dan kehidupan lainya.
Demikian pula dengan kegiatan lainya yang berkaitan dengan kegiatan kehidupan sehari-hari. Kita dapat melakukan berbagai kegiatan penghematan energi dengan pendekatan dari lingkungan yang berada disekitarnya (ekoefisiensi), seperti misalnya : mengurangi / menghindari penggunaan alat-alat rumah tangga seperti lemari es dan Air condition (AC) yang masih menggunakan gas freon (CFC) dan melakukan penghematan dalam menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak) karena semua itu merupakan dapat menimbulkan emisi gas buangan yang akhirnya mempercepat proses pemanasan global. Karena itu tidak heranlah kalau hasil kesepakatan antara negara Uni Eropa, Jepang dan Amerika Serikat pada CoP 3 di Kyoto, Jepang bahwa negara-negara industri akan menurunkan emisi enam macam gas (CO2, CH4, N2O, HFC, PFC dan SF6) paling sedikit 5 % dari tingkat emisi tahun 1990 pada periode tahun 2008 - 2012 (Mundiyarso, 2003). Dengan pendekatan ekoefisiensi ini paling tidak kita dapat memberikan andil dalam mengatasi masalah lingkungan yang terkait dengan issue perubahan iklim / pemanasan global. Contoh yang mudah untuk dipahami misalnya dengan menghemat penggunaan energi BBM, berarti kita membantu mengurangi penggunaan sumber daya alam dan yang akhirnya akan mengurangi polusi / emisi gas buangan carbon ke udara. Seandainya ini disadari dan dilakukan oleh masyarakat, maka ini sudah tentu dapat memperlambat atau menghambat laju peningkatan pemanasan global.
Penulis adalah :
Illegal Logging and Wlidlife Trade Adivisor
Conservation International Indonesia
Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan.
“Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?” barangkali begitulah Anda berpikir.
Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.
Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.
Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.
Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.
Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.
Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.
Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.
Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.
Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :
1. Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to plastic.
Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
A. LANDASAN TEORITIS
1. Kelompok Sektor Riil pada setiap perekonomian terdiri dari “Good-Producing
Sector”, yaitu:
B. Sektor Pertanian, yang meliputi: (Kelompok “Tradeables”)
(i) Sub-Sektor Pertanian Pangan
(ii) Sub-Sektor Perkebunan
(iii) Sub-Sektor Pertenakan
(iv) Sub-Sektor Kehutanan
(v) Sub-Sektor Perikanan
C. Sektor Industri Manufaktur, yang meliputi: (Kelompok “Tradeables”)
(i) Sub-Sektor Pengolahan Bahan Pertanian
(ii) Sub-Sektor Industri Dasar (Basic Industry)
(iii) Sub-Sektor Industri Barang Modal (Machineries and
Equipments)
(iv) Sub-Sektor Industri Bahan-bahan Konstruksi
D. Sektor Bangunan, yang meliputi: (Kelompok “ Non Tradeables”)
(i) Sub-Sektor Bangunan Rumah
(ii) Sub-Sektor Bangunan Bukan-Rumah
(iii) Sub-Sektor Pekerjaan Sipil
(iv) Sub-Sektor Perbaikan dan Pemeliharaan
E. Sektor Listrik/Gas/Air Bersih (Kelompok “ Non Tradeables”)
Meskipun Sektor C dan D sering dimasukan ke dalam Kelompok Sektor Jasa (“Services Sectors”), namun karena sifat hasil akhirnya yang berujud fisik maka lebih tepat apabila kedua sektor tersebut masuk ke Kelompok Sektor Riil. Serupa halnya Sektor A dan Sektor B “delivery” dari hasil kedua sektor ini memerlukan jasa transportasi. Di dalam hal listrik, lewat jaringan listrik, dan di dalam hal gas serta air bersih lewat jaringan pipa.
Konsekuensi penggunaan tata-ruang (space) dari keempat sektor ini tampak pada dimensi fisik, baik pada wilayah darat maupun wilayah laut, dan sampai seberapa jauh juga wilayah udara (air space). Kegiatan “air cargo” adalah untuk memenuhi kebutuhan Kelompok Sektor Riil ini.
2. Seperti yang diperlihatkan di dalam peta tata-ruang yang bersifat komprehensif berikut ini, maka kegiatan Kelompok Sektor Riil – baik yang dilakukan Dunia Usaha, Pemerintah, maupun Rumah tangga – terkait kepada hampir seluruh tataruang yang secara langsung digunakan penduduk dunia pada saat ini. Perkecualian hanyalah terjadi pada ruang Angkasa Luar (Outer Space) dan pada ruang Laut Dalam (Deep Ocean), di mana per awal abad ke-21 ini baru dilakukan “probing activities” – kegiatan-kegiatan penjelajahan. Hal ini pun terjadi pada wilayah Kutub Utara (North Pole) dan Kutub Selatan (South Pole). Tampaknya, sampai kini, masih ada kesefahaman bahwa wilayah Angkasa Luar/Laut Dalam/ Kutub Utara/Kutub Selatan merupakan Wilayah Warisan Umat Manusia (Humanities’ Heritage Region), yang pemanfaatannya harus mempertimbangkan Kepentingan Kolektif seluruh umat manusia pada kurun waktu sampai sangat jauh ke depan.
1 Peta Konprehenhensif Tata-Ruang Planet Bumi RUANG ANGKASA LUAR (Outer Space)
HEOS (High Earth Orbital Satellite)
Manned
Unmanned
RUANG ANGKASA (Air Space)
LEOS (Low Earth Orbital Satellite)
Air Waves
PERMUKAAN BUMI
SURFACE DARAT LAUT
- Pemukiman - Wilayah Transportasi
Laut
- Kegiatan Kehidupan Masyarakat - ALKI (atau: SLOC)
- Wilayah Transportasi Darat - Wilayah Penangkapan
Ikan
- Laut Dalam (Deep Sea)
SUB-SURFACE - Galian - Galian
- Pertambangan on-shore - Pertambangan off
- Deep Sea shore
. Quarrying
. Mining
3. Ancaman proses Pemanasan Bumi (Global Warming) merupakan hal yang diakibatkan oleh kegiatan Kelompok Sektor Riil yang menggunakan SDA (Natural Resources), di dalam berbagai kombinasi dengan faktor-faktor produksi yang terkait, untuk menciptakan Nilai Tambah (Value Added) dari ribuan “Goods-
Producing Sectors”, yang mengikuti pola alur satu-arah dari sebuah proses siklus tertutup (atau: one-way, close-loop, process of production).
Di dalam model tersebut tidak diperhitungkan munculnya limbah-limbah (waste) yang bersifat padat (solid waste) dan yang cair (liquid waste) yang kemudian berakumulasi sebagai dampak polusi (pollution), pada seluruh wilayah yang digunakan oleh Kelompok Sektor Riil tersebut. Akibat negatif dari proses akumulasi limbah tersebut adalah kerusakan lingkungan atau “destruction of the ecosystem”.
Di dalam sebuah proses siklus terbuka yang multi-arah (multi-dimension, openloop, process of activities), proses akumulasi limbah tersebut – pada akhirnya – menimbulkan peristiwa Pemanasan Bumi. Masalahnya, di dalam hal ini adalah:
meramalkan ke depan peristiwa ini, merupakan kesulitan tersendiri yang tidak mutlak diselesaikan. Lihat: “Statistics and Climatology: Gambling on Tomorrow”, The Economist, 18 Agustus 2007. Itulah sebabnya, sudah sedemikian lama ancaman Pemanasan Bumi ini masih terus diperdebatkan antara lain justru oleh Kelompok Negara-negara Industri Utama (Grup 7 atau Grup 8) – terutama AS – yang merupakan penghasil terbesar dari polusi di bumi ini. Kelompok negara- 2 negara kaya ini menghasilkan sekitar 70% dari PDB Dunia, hanya dengan tenaga kerja yang berasal dari penduduk sekitar 20% saja dari penduduk dunia; yang
tentu berakibatkan langsung terhadap produksi polutanya. Kelompok inilah pula yang menggunakan sebagian terbesar SDA dunia, yang sebagian besar berlokasi di Kelompok Negara-negara Selatan.
B. MASALAH-MASALAH NYATA DEWASA INI
1. Proses Pemanasan Bumi seperti yang diamati pada awal abad ke-21 ini telah menimbulkan akibat-akibat yang teramat jauh jangkauannya, baik pada tatanan geopolitik maupun pada tatanan geoekonomi, dengan segala akibatnya kepada geostrategi berbagai negara. Seperti yang dapat diperkirakan: akibat-akibat yang serius muncul pada kelompok negara yang berkepentingan kepada posisi kemandirian SDA, baik karena kekayaan SDA yang dimilikinya maupun karena kemiskinan SDA yang dihadapinya. Tentu, pada akhirnya, sitkon “resource-rich” atau “resource-poor” tersebut terkait kepada jumlah penduduk masing-masing mereka, selain kepada struktur umurnya.
Di dalam sebuah pola sitkon SDA-Penduduk yang disajikan di dalam sebuah matrix sebagai berikut akan tampak permasalahan Geostrategi yang dihadapi masing-masing negara di dunia dewasa ini.
8 Penduduk
Kecil Jumlah
Penduduk
Penduduk
Besar
- Singapura
- Srilangka
- Jepang
- Vietnam
- Brazil
- Samudra
Arabia
- Kuweit
- AS
- Rusia
- Indonesia
- Cina
- India
Kualitas
SDA
Miskin
SDA
Kaya
SDA
Dapat diperkirakan, bagaimana negara-negara yang memiliki posisi geografis yang strategis karena kekayaan SDA-nya akan semakin berupaya untuk memperkuat kepentingannya di depan tekanan yang semakin besar di dunia untuk memelihara posisi “resource independence” masing-masing
2) Belakangan ini, sebagai akibat pencairan lapisan es di Kutub Utara, mulai timbul perlombaan mengklaim wilayah itu yang ditengarai kaya SDA – utamanya:
deposit minyak bumi, oil sand, gas alam, bahkan batubara. Pada saat ini empat negara sudah siap-siap berebut wilayah di Kutub Utara, yakni AS, Rusia, Kanada dan Denmark. Persaingan yang panas mulai terjadi mengklaim wilayah “Northwest Passage” di antara AS dan Kanada, karena posisi strategis selat tersebut di dalam menghubungkan Samudra Atlantik dengan Samudra Pasifik.
Pemanasan bumi akan membuka selat ini untuk pelayaran sepanjang tahun, yang akan berakibatkan “economic boom” berkepanjangan di wilayah Greenland,
3 Kanada Utara, Alaska, dan Siberia, yang terkait langsung dengan kelompok negara-negara industri Asia yang sedang bangkit dengan empat – Cina, Korea, Taiwan, dan Vietnam – yang kesemuanya sangat tergantung kepada impor energi.
Lihat untuk ini kedua bahan berikut: “The Arctic: Drawing lines in melting ice”, The Economist, 18 Agustus 2007; dan Mc Kenzie Funk, “Cold Rush: The coming fight for the melting north,” Harper’s Magazine, September 2007, yang disajikan sebagai lampiran catatan ini.
3) Berkebalikan secara mutlak dengan proyeksi jangka-panjang sitkon di wilayah Kutub Utara ini, Indonesia dan Philippina justru akan dihadapi oleh hilangnya beberapa ribu pulau kecil dan tengelamnya wilayah-wilayah pantai. Yang harus diantisipasi secara urgent oleh Indonesia adalah pada kejadian-kejadian berikut:
a) Hilangnya beberapa ribu pulau kecil tersebut akan meliputi juga makin sirnanya ratusan pulau-pulau atol yang merupakan habitat flora-fauna kelautan, yang terkait erat dengan fungsi alami perikanan di perairan Indonesia
b) Juga, menyempitnya luas pulau-pulau kecil yang kaya akan mineral seperti nikel, timah, bauxit, dan lain sebagainya, yang akan mempersulit exploitasi dari bahan-bahan mineral tersebut
c) Proses peninggian permukaan laut juga akan mengancam keamanan fisik menara migas (oil & gas platforms) lepas pantai, jaringan pipa bawah laut, dan lain sebagainya.
d) Proses itu juga akan mempercepat abrasi daerah pantai di seluruh Indonesia. Bahaya yang terbesar adalah pada wilayah-wilayah pesisir yang padat penduduk, padat proyek-proyek perumahan dan resor turis, padat proyekproyek industri dasar, dan padat prasarana serta sarana ekonomi utama.
Simulasi komputer dapat dilakukan – serupa di Pantai Timur AS – untuk mengantisipasi keperluan relokasi skala besar dari wilayah-wilayah pesisir tersebut.
4) Di dalam kaitan dengan pengaruh negatif dari Pemanasan Bumi terhadap cuaca/iklim, patut diperhitungkan hal-hal berikut:
a) Telah ditengarai adanya kemungkinan akan semakin cepatnya berlangsung Siklus El Nino-La Nina di seluruh wilayah Samudra Pasifik, dengan sifat extrim musim kemarau dan musim hujan yang semakin kritis. Hal ini akan berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan kegiatan dari praktis seluruh Sektor Pertanian. Sampai seberapa jauh hal ini pun akan terasa juga akibanya di wilayah Samudra Hindia.
b) Peristiwa kebakaran hutan di satu sisi dan peristiwa banjir bandang dan longsor di sisi lain akan menimbulkan akibat-akibat parah kepada keberlanjutan upaya-upaya pembangunan. Masalah-masalah tersebut tidak akan lagi sekedar bersifat “accidental” melainkan sudah beranjak ke yang bersifat struktural, sedemikian sehingga upaya-upaya penanganannya akan menuntut kapasitas permanen yang didukung oleh Belanja Pemerintah yang besar
c) Juga sudah ditengarai bahwa kesemua peristiwa diatas berpotensi memperparah masalah penyakit-penyakit menular, yang bisa berubah menjadi epidemi
4
5) Pada akhirnya, dapat diperkirakan bahwa Pemanasan Bumi akan menimbulkan proses-proses negatif yang fatal yang akan lebih banyak ditemui di Kelompok Negara Miskin dibandingkan dengan Kelompok Negara Kaya. Peristiwa serupa Badai Katrina yang mengoyak New Orleans, apabila terjadi di Kelompok Negara Miskin bisa menimbulkan resesi ekonomi yang luas akibatnya Pada waktu ini Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya penanganan terhadap akibat-akibat Pemanasan Bumi tersebut, melalui berbagai kebijakan. Lihat laporan Bank Dunia/DFID Indonesia/Peace, Ringkasan Exekutif – Indonesia dan Perubahan Iklim: Status Terkini dan Kebijakannya, Jakarta, Mei 2007.
Dapat diantisipasikan bahwa efek dari upaya-upaya penanganan tersebut baru akan dirasakan dalam jangka waktu yang lama di depan. Sambil menunggu saat itu, dapat diperkirakan semua pihak harus waspada terhadap permasalahan-permasalahan yang akan muncul dari peristiwa global Abad ke-21 ini.
Tentang Pemanasan Global Warming!!!
• Author: rana nabila
• Filed under: Sosial
Friday
Dec 14,2007
Global Warming….?????!!!!..Huh serem bgt dengernya. bisakah kita sebagai orang yang biasa ini berkontribusi positif terhadap pengurangan dampak pemanasan global? Pastinya sih bisa.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Adanya beberapa hasil yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Efek rumah kaca
Artikel utama: Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek Rumah Kaca
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. “Global Warming,”sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Efek umpan baik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6] Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer.
Mengukur Pemanasan Global
awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
--------------------------------------
Perlindungan Lingkungan
Sejalan dengan makin mudah dan nyamannya kehidupan modern, berkembang kecenderungan orang membuat barang yang digunakan satu kali saja, lalu membuangnya. Hal ini menyebabkan timbulnya banyak macam masalah lingkungan, seperti pencemaran udara dan air, perusakan lingkungan alam, pemanasan global, dan jumlah limbah yang luar biasa. Perlindungan lingkungan merupakan tugas vital tidak saja bagi Jepang tapi juga bagi seluruh dunia. Di bawah pimpinan pemerintahnya, masyarakat Jepang dewasa ini sibuk melakukan usaha-usaha perlindungan lingkungan dalam lingkup luas.
Harga yang harus dibayar bagi kenyamanan kehidupan modern adalah timbulnya generasi penyebab banyak limbah. Bila limbah dibawa begitu saja untuk menimbun tanah, maka akan timbul gunungan-gunungan sampah yang terus membesar. Sekarang kita harus membangun masyarakat daur-ulang di mana barang digunakan secukupnya saja dan dapat digunakan berulang kali, dan bukan terus dibuang. Jepang telah mencapai kemajuan besar dalam mengurangi volume sampah dan dalam mendaur-ulang produk-produk bekas, khususnya daur-ulang kaleng dan botol plastik telah berjalan dengan mantap di Jepang.Kehidupan yang nyaman memerlukan banyak energi, termasuk listrik, gas, dan bensin. Karbon dioksida dan gas-gas lainnya terlepas ke udara ketika orang membangkitkan listrik dan mengoperasikan mesin dengan membakar bahan bakar seperti minyak dan batubara. Gas-gas tersebut menimbulkan berbagai masalah seperti pemanasan global dan pencemaran udara. Pemanasan global merupakan masalah di mana suhu di seputar dunia meningkat. Untuk mencegahnya, jumlah karbon dioksida serta gas-gas rumah-kaca lainnya harus dikurangi. Pada kesempatan COP3, sebuah konperensi besar mengenai pencegahan pemanasan global yang diselenggarakan di kota Kyoto, Jepang pada tahun 1997, banyak negara berjanji akan mengurangi jumlah gas-gas rumah-kaca yang diproduksinya.
Salah satu jalan untuk menanggulangi pemanasan global adalah menggunakan bentuk-bentuk energi yang ‘bersih’ yang tidak mengeluarkan gas buangan. Energi sinar surya, angin dan geothermal (panas bumi) adalah beberapa di antara jenis energi bersih yang tersedia. Jepang aktif mengembangkan dan menerapkan energi bersih sebagai bagian dari usaha-usahanya untuk mengatasi masalah pemanasan global dan mengurangi pencemaran. Jepang berusaha membantu negara-negara di berbagai penjuru dunia dalam mengatasi masalah-masalah lingkungan dengan, misalnya, memberikan mereka teknologi daur-ulang, teknologi untuk mengurangi emisi gas-gas rumah-kaca, dan berbagai teknologi lingkungan lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Wawasan IPS
Bukan Omong Kosong
rENUNGAN
Summary:ersys
SEPULUH CIRI ORANG BERPKIR POSITIF
1. MELIHAT MASALAH SEBAGAI TANTANGAN
Bandingkan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat maka dia akan berpikir hidupnya adalah menjadi orang yang paling sengsara di dunia.
2. MENIKMATI HIDUP
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati
3. PIKIRAN TERBUKA UNTUK MENERIMA SARAN DAN IDE
Pikiran terbuka membutuhkan kebesaran hati dan tentu kesabaran. karena dengan begitu, akan ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.
4. MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF SEGERA SETELAH PIKIRAN ITU TERLINTAS DI BENAK
Suatu kendala yang sebetulnya bisa diatasi dengan kepala dingin jika sudah dilandasi dengan pikiran negatif ternyata hanya akan menimbulkan masalah baru.
5. MENSYUKURI APA YANG DIMILIKI
Hindari berkeluh kesah tentang apapun yang tidak dimiliki karena justru akan menjadi beban. sebaliknya jadikan hal itu sebagai motivasi untuk meraih hidup yang diharapkan.
6. TIDAK MENDENGAR GOSIP YANG TAK MENENTU
Sudah pasti gosip erat sekali dengan berpikir negatif. karena itu sebisa mungkin jauhi gosip-gosip yang tak jelas asalnya.
7. TIDAK MEMBUAT ALASAN TETAPI AMBIL TINDAKAN
NATO ( No Action, Talk Only ) itu adalah ciri khas orang berpikir negatif. maka ambilah tindakan dan buktikan bahwa anda bisa mengatasi masalah sebagai orang yang berpikir positif.
8. MENGGUNAKAN BAHASA YANG POSITIF
Saat kita berkomunikasi dengan orang lain gunakan kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme sehingga dapat memberikan semangat terhadap lawan bicara kita
9. MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH YANG POSITIF
Diantara bahasa tubuh yang lain senyum merupakan wujud dari berpikir positif karena akan menimbulkan kesan bersahabat dan akan menjadi lebih akrab dengan suasana.
10. PEDULI PADA CITRA DIRI
Itu sebabnya, mereka berusah tampil baik bukan hanya di luar tetapi juga di dalam.
Itulah sepuluh tanda orang berpikir positif semoga artikel diatas bermanfaat untuk anda. jadilah orang yang berpikir positif dalam menyelesaikan masalah sehingga kita tidak akan terbebani dengan hidup ini.
10 ciri orang berpikir positif Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/social-sciences/1901760-10-ciri-orang-berpikir-positif/
Summary:ersys
SEPULUH CIRI ORANG BERPKIR POSITIF
1. MELIHAT MASALAH SEBAGAI TANTANGAN
Bandingkan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat maka dia akan berpikir hidupnya adalah menjadi orang yang paling sengsara di dunia.
2. MENIKMATI HIDUP
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati
3. PIKIRAN TERBUKA UNTUK MENERIMA SARAN DAN IDE
Pikiran terbuka membutuhkan kebesaran hati dan tentu kesabaran. karena dengan begitu, akan ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.
4. MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF SEGERA SETELAH PIKIRAN ITU TERLINTAS DI BENAK
Suatu kendala yang sebetulnya bisa diatasi dengan kepala dingin jika sudah dilandasi dengan pikiran negatif ternyata hanya akan menimbulkan masalah baru.
5. MENSYUKURI APA YANG DIMILIKI
Hindari berkeluh kesah tentang apapun yang tidak dimiliki karena justru akan menjadi beban. sebaliknya jadikan hal itu sebagai motivasi untuk meraih hidup yang diharapkan.
6. TIDAK MENDENGAR GOSIP YANG TAK MENENTU
Sudah pasti gosip erat sekali dengan berpikir negatif. karena itu sebisa mungkin jauhi gosip-gosip yang tak jelas asalnya.
7. TIDAK MEMBUAT ALASAN TETAPI AMBIL TINDAKAN
NATO ( No Action, Talk Only ) itu adalah ciri khas orang berpikir negatif. maka ambilah tindakan dan buktikan bahwa anda bisa mengatasi masalah sebagai orang yang berpikir positif.
8. MENGGUNAKAN BAHASA YANG POSITIF
Saat kita berkomunikasi dengan orang lain gunakan kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme sehingga dapat memberikan semangat terhadap lawan bicara kita
9. MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH YANG POSITIF
Diantara bahasa tubuh yang lain senyum merupakan wujud dari berpikir positif karena akan menimbulkan kesan bersahabat dan akan menjadi lebih akrab dengan suasana.
10. PEDULI PADA CITRA DIRI
Itu sebabnya, mereka berusah tampil baik bukan hanya di luar tetapi juga di dalam.
Itulah sepuluh tanda orang berpikir positif semoga artikel diatas bermanfaat untuk anda. jadilah orang yang berpikir positif dalam menyelesaikan masalah sehingga kita tidak akan terbebani dengan hidup ini.
10 ciri orang berpikir positif Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/social-sciences/1901760-10-ciri-orang-berpikir-positif/