Tampilkan postingan dengan label Sumber Daya Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumber Daya Manusia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Oktober 2010

5 Cara Guru Belajar

by AKHMAD SUDRAJAT

5 Cara Guru BelajarPerubahan paradigma pendidikan yang cukup dramatis pada saat sekarang ini, mau tidak mau menuntut para guru untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan perubahan yang ada. Salah satu cara yang efektif agar dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan perubahan yang ada yaitu melalui belajar secara terus menerus. Dengan demikian, tuntutan untuk belajar tidak hanya terjadi pada siswa yang dibelajarkannya, tetapi guru itu sendiri pun justru dituntut untuk senantiasa belajar tentang bagaimana mengajar yang baik. Banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk belajar, diantaranya:

1.Guru belajar dari praktik pembelajaran yang dilakukannya

Cara belajar guru yang pertama ini dilakukan melalui usaha untuk senantiasa memonitor, menganalisis dan melakukan refleksi atas setiap praktik pembelajaran yang dilakukannya. Melalui cara seperti ini guru akan memperoleh sejumlah pengetahuan dan pemahaman baru (the best practice) tentang siswa, sekolah, kurikulum, dan berbagai strategi pembelajaran. Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu bentuk cara belajar guru semacam ini (Cochran-Smith and Lytle, 1993).

2.Guru belajar melalui interaksi dengan guru lain

Cara belajar guru yang kedua dapat dilakukan melalui interaksi dengan guru lain, baik secara formal maupun informal. Secara formal, misalnya melalui kegiatan mentoring (tutorial) yang dilakukan oleh guru senior yang berpengalaman terhadap guru baru (novice), berdasarkan penugasan secara resmi dari sekolah. Dalam hal ini, guru baru dapat menimba berbagai pengetahuan dan keterampilan dari mentornya (Feiman-Nemser and Parker, 1993). Sedangkan secara informal dapat dilakukan melalui kegiatan pembicaraan yang tidak resmi, misalnya pada saat berada di ruang guru, halaman sekolah dan tempat-tempat lainnya yang sifatnya tidak resmi. Bentuk lain belajar melalui interaksi dengan guru lain adalah melalui kegiatan MGMP/MGBK dan pertemuan profesional lainnya, dimana guru dapat saling belajar dan berbagi pengetahuan. Kegiatan supervisi pembelajaran, baik oleh guru senior, kepala sekolah maupun pengawas sekolah, termasuk ke dalam kategori cara belajar ini. Demikian juga, program lesson study merupakan salah satu bentuk cara belajar guru melalui interaksi dengan guru lain.

3.Guru belajar melalui ahli/konsultan

Cara yang ketiga, guru dapat belajar melalui ahli/konsultan. Dalam kegiatan ini, sekolah menyediakan seorang atau beberapa orang ahli/konsultan khusus dari luar untuk membelajarkan para guru di sekolah. Secara berkala, ahli/konsultan tersebut dihadirkan di sekolah untuk membelajarkan guru, misalnya dalam bentuk workshop atau layanan konsultasi. Melalui cara ini, para guru akan memperoleh pemahaman tentang berbagai inovasi pendidikan sekaligus memperoleh bimbingan dalam penerapannya. Dalam konteks ini, pengawas sekolah (educational supervisor) seyogyanya dapat diposisikan sebagai tenaga konsultan yang dibutuhkan untuk kepentingan peningkatan kemampuan guru.

4.Guru belajar melalui pendidikan lanjutan dan pendalaman

Asumsi yang mendasari cara yang keempat ini, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang, semakin lebih baik pula tingkat kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan kemampuan guru, seyogyanya guru didorong untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau mengikuti pendidikan pendalaman akademik. Pendidikan lanjutan artinya guru melanjutkan studi sesuai dengan bidangnya, misalkan seorang guru Bimbingan dan Konseling yang sudah memiliki tingkat pendidikan S1, kemudian dia melanjutkan lagi studinya ke S2 Program Magister Bimbingan dan Konseling, dan seterusnya. Sedangkan pendidikan pendalaman, bisa dilakukan melalui kursus-kursus dan pendidikan alternatif yang relevan. Misalnya, guru Ekonomi yang berlatarbelakang S1 Pendidikan Ekonomi, untuk pendalaman bidang akademiknya dia bisa mengikuti pendidikan S1 alternatif di Fakultas Ekonomi.
Di samping memperoleh kemampuan yang lebih baik, kegiatan pendidikan lanjutan berkolerasi pula dengan tingkat penghasilannya (Renyi, 1996). Di Amerika, kegiatan pendidikan pendalaman banyak dilakukan pada musim summer atau setelah selesai jam sekolah. Demikian pula, di negara-negara tertentu, guru-guru banyak mengikuti program in service trainning dengan dititipkan (pencangkokan) di Perguruan Tinggi untuk beberapa lama.

5.Guru belajar melalui cara yang terpisah dari tugas profesionalnya.

Cara yang kelima ini, guru belajar tentang hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan tugas-tugas profesionalnya, seperti pengembangan kemampuan intelektual dan moral terkait perannya sebagai orang tua, mengikuti pelatihan sebagai pengurus organisasi di masyarakat, pelatihan kepemimpinan dalam bisnis dan sebagainya. “They learn about nondidactic forms of instruction…”, demikian dikemukan oleh Lucido (1988). Meski tidak berhubungan langsung dengan tugas profesionalnya, beberapa hasil-hasil pelatihan tersebut dapat ditransfer untuk kepentingan penguatan kemampuannya sebagai guru.

Sabtu, 25 September 2010

Guru Pantang Menyerah

Sukari Darno, Figur Guru Pantang Menyerah (3): Diremehkan, Mulai Terpikir untuk Kuliah

Catatan: Eko Prasetyo

Di SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Sukari kini menjabat sebagai koordinator ITC. Namun, jabatan itu tidak datang seketika. Kemauan untuk belajar, kemampuan, dan kemajuanlah yang membuat mantan Pak Bon tersebut dinilai mampu mengemban amanah tersebut.

----------

Hari-hari menjadi Pak Bon atau petugas kebersihan sekolah dilewati Sukari dengan senang hati. Tak sedikit pun dia mengeluh. Tidak pula dia merasa malu hanya karena bekerja menyapu dan membersihkan ruang kelas.

Atas permintaan Kepala SMP Muhammadiyah 1 Gresik waktu itu, Muchtamil Pranoto, Sukari menyambi bekerja membersihkan kelas di SMP Muhammadiyah. Termasuk, menata buku di ruang lab komputer SMA Muhammadiyah 1 Gresik, tempat Muchtamil mengajar komputer.

Dari situ, Sukari mulai rajin mempelajari segala hal tentang komputer. Di mana ada waktu luang, di situlah laki-laki asli Jombang tersebut memanfaatkan untuk membaca buku komputer.

Rutinitas sebagai Pak Bon tetap dilakukan, tapi belajar tetap jalan terus. Doyan membaca buku. Inilah yang membuat Sukari cepat memahami ilmu komputer saat dia mulai mempraktikkannya.

Boleh dibilang,Sukari awalnya belajar komputer secara otodidak. Setelah melahap bacaan buku komputer, dia mempraktikkannya setelah selesai bekerja.

Kendati lelah dan peluh mulai menyapa setelah bekerja seharian, semangat Sukari untuk membaca buku komputer tak kendur. Dia kian bersemangat ketika dapat menyalakan dan mematikan komputer setelah mempraktikkan beberapa perintah dasar di buku. Dia melakukannya terus hingga hafal perintah dan tampilannya. Misalnya, perintah dir, del, ver, vol, dan lain-lain.

Ketika mulai pede (percaya diri) menggunakan komputer, Sukari memberanikan diri membeli buku Panduan WS 5.5 untuk belajar cara mengetik yang benar. Kegiatan belajar itu dihabiskan di ruang Pendidikan Komputer (Penkom) Perguruan Muhammadiyah Gresik. Semua itu terjadi sepanjang musim pada 1993.

Setelah dapat mengusai pengetikan dengan WS 5.5, Sukari mulai melanjutkan ke tahap berikutnya, yakni belajar LOTUS 123. Pada materi tersebut, Sukari banyak dibantu oleh Muchtamil.

Suatu ketika, selepas Isya, Sukari dipanggil Muchtamil ke ruang Penkom untuk mengikuti ekstrakurikuler komputer di SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Sejak saat itu, setiap ada ekstrakurikuler komputer, Sukari diminta Muchtamil untuk mengikuti materi Lotus 123 versi 2.3.

Sukari kian bangga setelah diberi kesempatan oleh Muchtamil untuk mempelajari komputer baru generasi 486dx2 dengan RAM 64 di ruang kepala sekolah. Kebetulan komputer itu pun masih kinyis-kinyis alias baru. Ada selembar kertas bertulisan pesan di atas meja kepala sekolah tersebut. "Buatlah belajar, asal jangan berikan perintah del *.* c:" Begitu bunyi pesan itu.

Dengan kepercayaan dari Muchtamil itulah, Sukari hampir tiap malam belajar setelah merampungkan tugasnya menyapu ruang kelas. Sukari pun tak segan bertanya kepada kepala SMP Muhammadiyah 1 Gresik itu jika ada hal yang tidak dipahami.

Sesekali, saat Muchtamil sedang memperbaiki komputer, Sukari mendekatinya. Rasa ingin tahu membawa Sukari ingin melihat lebih jauh tentang apa yang dilakukan Muchtamil. Muchtamil pun tak keberatan menerangkan satu per satu perangkat di CPU kepada Sukari. Muchtamil juga mengajarkan kepada Sukari cara memasang perangkat-perangkat tersebut.

Muchtamil menasihati Sukari bahwa belajar komputer ibarat ilmu katon atau didasarkan pada kepekaan indera. "Jangan dipaksa kalau nggak bisa. Dalam ilmu komputer itu, ada dua pilihan, on off atau 1 dan 0. Kalau nggak bisa masuk, dibalik, begini caranya," pesan Muchtamil kepada Sukari sambil mempraktikkan cara mengoperasikan komputer.

Muchtamil menjelaskan beberapa hal tentang perangkat komputer seperti hard disk dan prosesor dan cara pemasangannya.

"Ayo, sekarang kamu coba," kata Muchtamil menyemangati Sukari.

"Oh, ternyata mudah ya, Pak," ujar Sukari kepada Muchtamil.

Dari situ, Sukari mulai tertarik dengan dunia komputer dan segala aksesorinya.

Pada pengujung 1993, menjelang semesteran, Muchtamil mendadak memanggil Sukari. Semula Sukari menyangka bahwa dirinya diminta untuk membelikan rokok. "Maklum, Pak Tamil 'sapaan Muchtamil Pranoto' saat bekerja di depan komputer pasti ditemani rokok," tutur Sukari.

Ternyata, dugaan Sukari keliru. Dia diminta untuk melanjutkan pekerjaan Muchtamil. "Ri, tolong bantu aku memasukkan nilai. Aku mau salat Asar dulu," kata Sukari menirukan ucapan Muchtamil yang kini sudah tidak merokok lagi. Tanpa berpikir panjang, Sukari langsung mengiyakan.

Tanpa disadari, ada salah sesorang wakil kepala SMP Muhammadiyah 1 Gresik yang melihat Sukari tengah mengetik untuk memasukkan nilai tersebut. Wakil kepala sekolah itu tampak tidak berkenan dengan kehadiran Sukari.

"Hei Ri, kamu bisa komputer ta, kok duduk di situ?" tegur wakil kepala sekolah tersebut dengan nada sinis.

"Ya bisa, Pak. Kalau nggak bisa, masak saya duduk di sini," sahut Sukari ringan.

Terkesan diremehkan, Sukari kemudian menyampaikan hal yang baru saja dialaminya kepada Muchtamil. Namun, Muchtamil justru memberi respons enteng. "Lha wong Pak Bon saja mau belajar, masak nggak ada guru yang mau belajar meski saya sudah mati-matian menyuruh mereka belajar," jawab Muchtamil.

"Masak kepala sekolah sendiri yang harus memasukkan nilai ke komputer? Tenaga TU pun tak mau belajar Lotus. Maunya WS melulu. Biar mereka tahu bahwa Pak Bon saja bisa kalau mau belajar," lanjut Muchtamil.

Setelah kejadian itu, mulai tebersit di benak Sukari untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi alias kuliah. Namun, dia terkendala masalah biaya. Impian untuk kuliah pun untuk sementara harus dikubur dulu "Kerja dulu. Kerja dulu," begitu Sukari menghibur dan menyemangati diri. (bersambung).

Upaya Peningkatan Mutu Guru

Upaya Peningkatan Mutu Guru

Oleh : Marijan
Guru di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

Perubahan kurikulum pendidikan yang berganti-ganti diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan kita. Namun apa yang dapat kita saksikan? Perubahan kurikulum belum mampu menunjukkan hasil yang memuaskan. Apabila kita mau jujur, kondisi objektif yang dapat kita saksikan malahan bertambah parah.

Upaya pemerintah maupun masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan belum mencapai apa yang diharapkan. Indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pendidikan tersebut sebenarnya tidak tepat.

Pertama, rendahnya hasil perolehan rata-rata nem. Hasil tersebut masih jauh di bawah standard yang diharapkan. Pemerintah terus berusaha menaikkan angka standard kelulusan. Akan tetapi setiap angka standard kelulusan dinaikkan dibarengi dengan penambahan jumlah peserta didik yang tidak lulus. Nilai siswa yang lulus pun rata-ratanya hanya berada sedikit di atas standard minimal kelulusan.

Kedua, menurunnya nilai aspek nonakademis. Banyak kritik dilontarkan berkaitan dengan masalah moral, kreativitas, kemandirian, sikap demokratis dan kedisiplinan yang dilakukan masyarakat pelajar maupun orang-orang mantan pelajar. Hal ini sebagai akibat pembelajaran yang terjadi hanya mengejar berkembangnya IQ dan mengesampingkan EQ dan SQ. Padahal dalam kehidupan di masyarakat justru EQ dan SQ lebih penting daripada IQ. Ditegaskan oleh Goleman (1996) dalam penelitiannya bahwa IQ hanya berperan 20 % dan EQ justru berperan 80% untuk menopang kesuksesan hidupnya.

Ketiga, rendahnya kompetensi guru. Rendahnya kompetensi guru ini disebabkan oleh kompleksitas kondisi yang mengelilingi guru. Adapun kondisi yang dimaksud adalah :
a) masih banyak guru mengajar bukan pada bidang tugasnya. Hal demikian berakibat pada penguasaan dan penyampaian materi tidak dapat berlangsung secara optimal. Alasannya pun sangat bervariasi yakni, di sekolah tidak ada guru lulusan bidang studi tertentu dan demi pemerataan jam mengajar.
b) Guru tidak konsen pada tugasnya. Guru masih mencari uang melalui pekerjaan lain. Hal ini disebabkan gaji yang diterima tidak mencukupi untuk menopang kebutuhan hidupnya. Konsentrasi kesibukannya justru lebih tinggi untuk pekerjaan lain, bukan pekerjaan yang berkaitan dengan persiapan proses pembelajaran.
c) Masih banyak guru gagap teknologi, wawasan kependidikannya picik, keterampilan mengajar kurang optimal, tidak terampil mengoperasikan komputer, cakrawala pandang wawasan kependidikan yang dapat diakses melalui internet tak dapat tercapai oleh karena belum mengenal internet
d) Motivasi kerja guru yang rendah. Motivasi kerja yang rendah ini dapat disimak melalui sikapnya dalam mempersiapkan RPP, silabus, perangkat penilaian dan perangkat pembelajaran lainnya. Pengadaan perangkat pada umumnya hanya berupa foto kopi teman sekolah lain. Hal lain sebagai indikator motivasi kerja rendah adalah belum terciptanya budaya membaca bagi kalangan guru. Artinya, membaca untuk menambah pengetahuan yang berkaitan dengan materi pelajaran dari berbagai referensi ataupun membaca rang berkaitan dengan wawasan kependidikan belum banyak dilakukan oleh sebagian besar guru. Padahal membaca mempunvai kontribusi yang sangat besar bagi pengembangan profesi guru. Berdasarkan kondisi di atas perlu adanya gerakan serentak memperbaiki mutu guru Indonesia. Gerakan ini menyangkut pihak pemerintah, lembaga pencetak guru, kemauan guru itu sendiri dan masyarakat sebagai agen pemasok calon guru maupun pengguna guru. Upaya apa yang seharusnya dilakukan ?

Pertama, rekrutmen calon guru hendaknya bersifat profesional. Rekrutmen dilakukan dengan cara tes baik tertulis, lisan maupun mikroteaching di hadapan penguji. Calon guru yang diiuluskan hendaknya yang benar-benar memenuhi syarat dalam tugas mengajar. Baik kedalaman pengetahuan materi bidang tugasnya maupun strategi dan metodologi mengajar hendaknya bernilai tinggi. Performance sebagai calon guru juga tidak meragukan. Sebagai data pendukung secara administrasi adalah Indeks Prestasi (1P) yang dimiliki dalam transkip nilai. Indeks Prestasi mestinya menjadi bagian dari proses penilaian bagi calon guru. Selama ini indeks prestasi calon guru tidak pernah diperhitungkan dalam penilaian.

Kedua, guru hendaknya diberi motivasi untuk terus belajar. Kepala sekolah diharapkan sangat peduli dengan peningkatan mutu guru melalui peningkatan belajarnya. Guru yang termotivasi untuk terus belajar akan bertambah semangat dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemandu proses pembelajaran yang baik. Ketiga, guru hendaknya diikutkan penataran atau diklat yang berhubungan dengan profesi keguruannya. Penataran atau diklat bagi guru sangat penting dalam upaya peningkatan mutu kaitannya dengan proses pembelajaran, pengetahuan baru dan berbagai strategi dan metode pembelajaran.

Keempat, guru hendaknya diberdayakan menulis. Menulis dimaksud adalah membuat karya ilmiah baik berupa, buku, diktat, laporan penelitian, ilmiah populer maupun ulasan terhadap berbagai buku baik tentaing pendidikan dan kebijakan- kebijakannya yang sering terasa kontroversial. Guru diharapkan mempunyai target menulis dalam jangka waktu tertentu di berbagai wadah karya guru misalnya buletin pendidikan yang diterbitkan oleh dinas pendidikan kabupaten, dinas pendidikan propinsi, dinas pendidikan pusat, majalah-majalah pendidikan , koran harian serta jurnal pendidikan. Di setiap sekolah hendaknya perlu diterbitkan majalah sekolah guna merangsang guru dan murid bisa menulis. Guru yang sering menulis akan termotivasi untuk maju. Motivasi inilah embrio dari terciptanya guru profesional. Sikap ingin mencari pengetahuan lewat tnembaca akan terbentuk dengan sendirinya. Menghargai tulisan orarng lain menjadi bagian dari sikap penulis. Sikap tidak loyo terpantul dari kegigihan menulis yang tak henti-hentinya. Inilah sikap-sikap yang perlu dikembankan dan dibudayakan melalui pembiasaan dan pemberdayaan untuk menulis karya. ilmiah.

Kelima, guru hendaknya dirangsang untuk meningkatkan mutu mengajar dengan berbagai metode. Pengembangan proses pembelajaran memang patut segera. direalisasikan. Oleh karenanya pihak pemerintah melalui sekolah hendaknya mendukung dengan menyediakan media dan alat pembelajaran yang memadai. Tanpa adanya dukungan media dan alat , pembelajaran belum bisa menarik dan menyenangkan sebagaimana digembor-gemborkan, yakni pembelajaran bernuansa PAIKEM (Produktif, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Berbagai metode perlu dicoba untuk mendukung tercapainya pembelajaran yang PAIKEM seperti disebut di atas. Guru yang bagus dalam penyampaian materi melalui berbagai metode perlu mendapatkan reward yang bermakna. Kepala sekolah tidak perlu pelit memberikan pujian terhadap guru rang berhasil. Agar tidak terlena dalam nikmatnya pujian, pemantauan terhadap proses pembelajaran di kelas terns diupayakan. Dengan pemantauan yang sering dilakukan akan mendorong semangat guru dalam melakukan proses yang baik .

Sabtu, 31 Juli 2010

ESDEKREATIF: RPP

ESDEKREATIF: RPP: "RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : Sekolah Dasar (SD) Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Kelas : VI (Enam) Sem..."

selamat berkreatif

ESDEKREATIF: Menghadapi Ledakan Emosi Anak.

ESDEKREATIF: Menghadapi Ledakan Emosi Anak.: "Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan teling..."

selamat berkreatif

Jumat, 09 Juli 2010

Pendidikan Berbasis Kreativitas

Pendidikan Berbasis Kreativitas


Kamis, 8 Juli 2010
Saat ini pendidikan di Indonesia lebih ditekankan pada penguasaan konsep dan materi. Memang, ini bukan hal yang salah. Namun, kegiatan berbasis aplikasi atau praktik juga harus diperhatikan keberadaannya. Saat ini, siswa, terutama yang berada di jenjang SD-SMP-SMA, lebih dituntut berada dalam kelas. Mereka mendengarkan guru berbicara dan memutar slide power point (bagi kelas berbasis ICT) yang membuat mereka bosan. Kemudian setelah guru selesai menerangkan, mereka diberi kesempatan untuk menjawab.

Sebenarnya pendidikan yang seperti ini tak cukup. Siswa membutuhkan "ladang" untuk berekspresi yang dapat mereka gunakan untuk mengaplikasikan teori yang telah mereka terima. Mereka ingin menyalurkan kreativitas yang mereka miliki.

Pendidikan berbasis praktik dapat memperlihatkan hasil nyata dari pendidikan yang di dalamnya terdapat aspek penguasaan konsep. Namun, lantas pendidikan jangan hanya berbasis praktik saja dan kemudian beranggapan bahwa teori itu tak perlu. Bukan seperti itu!

Dalam benak penulis, konsep pendidikan yang ada seharusnya memiliki bobot yang berimbang antara teori dan aplikasi (praktik). Selama ini penulis bertanya-tanya, sebenarnya apa, sih, hasil dari proses pendidikan yang ditempuh selama 12 tahun bersekolah (SD-SMP-SMA)? Apakah hanya gelar kejuaraan semata karena berhasil meraih peringkat 3 besar?

Belajar selama 12 tahun di sekolah, menguasai konsep-konsep, tapi tak membuahkan hasil nyata selain hanya sebuah gelar kejuaraan. Hal inilah yang menjadi kegelisahan penulis.

Seharusnya dengan hasil selama 12 tahun melalui proses pendidikan, seorang siswa bisa menciptakan sebuah produk hasil dari penguasaan konsep teori yang mereka terima di bangku sekolah. Inilah yang dimaksud dengan pendidikan berbasis praktik atau aplikasi. Jika hal yang terjadi demikian, maka ketika ada yang bertanya mengenai hasil pendidikan, dengan mudah ia akan menjawab, "Saya telah menciptakan produk, robot, dan alat." Atau kemudian ia akan menjawab, "Saya telah berhasil membuat buku, desain program, dan sebagainya."

Produk hasil penguasaan konsep yang mereka buat adalah berdasarkan pada kreativitas masing-masing. Ada yang menyukai sastra, maka ia akan membuat sebuah karya sastra (entah puisi, cerpen, novel, dan sebagainya) yang di dalamnya termuat konsep teori yang selama ini ia terima. Atau, bagi yang menyukai gambar, maka ia akan membuat sebuah poster, lukisan, atau apa pun yang di dalam gambar tersebut ia menuangkan teori-teori yang telah ia kuasai.

Jika yang demikian teraplikasi dalam kegiatan pendidikan di Indonesia, maka yang terjadi adalah generasi-generasi bangsa ini akan menjadi generasi yang tak hanya hebat dalam menjawab dan mengerjakan soal saja. Tetapi, ia dapat membuat produk-produk hasil belajar mereka selama ini.

Wallahu a'lam bishshawab.

Ika Feni Setiyaningrum
Karang Malang
Yogyakarta 55281

Kamis, 01 Juli 2010

Keluarga dan Masa Depan Anak Merupakan Hal Penting Bagi Anda?

Walaupun Hampir Semua Orangtua Akan Mengatakan “YA, TENTU SAJA!”,
Kenyataannya Lebih Dari 90% Orangtua Tidak Memiliki Pengetahuan,
Ketrampilan dan Kebijaksanaan untuk Mengatasi Permasalahan Keluarga
yang Terjadi maupun untuk Mewujudkan Keluarga yang Harmonis,
Sukses dan Bahagia Lahir Batin
Jika keluarga dan masa depan anak merupakan hal penting bagi hidup Anda,
Apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan dengan mengikuti program
Super Family Class akan merupakan harta karun tak ternilai yang akan
Anda rasakan manfaatnya sepanjang hidup Anda!

Tanggal : 1 July 2010
Dari : Tim Sekolah Orangtua
Sebelum kami menjelaskan apa itu Super Family Class, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda.
Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda:
• Tidak mudah menuruti perintah orangtua?
• Malas dan tidak termotivasi belajar?
• Merasa tanpa beban walau ulangannya jelek?
• Sering menjadi “pelawak” atau “nakal” untuk menarik perhatian?
• Mengatakan “tidak tahu” , “malas ah”, atau “biasa” kalau Anda bertanya sesuatu?
Dan apakah Anda sendiri sering merasa :
• Tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan anak?
• Karir dan pekerjaan Anda tak bisa optimal karena memikirkan masalah anak?
• Komunikasi dengan anak dan pasangan terasa hambar dan dingin?
• Menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas belaka?
Anda pernah mengalami hal-hal dan permasalahan diatas dalam kehidupan berumah-tangga Anda, bukan?
Anda boleh sedikit lega karena mayoritas orang dewasa yang berumah-tangga pernah mengalami situasi yang sama. Tetapi berdasarkan respon menghadapi situasi diatas, orang bisa dibagi atas 2 kategori yaitu:
1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sadar akan adanya permasalahan yang terjadi dan mereka menganggapnya tidak penting dan memutuskan untuk mengabaikannya. Mereka berpikir situasi atau permasalahan diatas adalah hal yang normal dan bisa hilang dengan sendirinya. Mereka mungkin berpikir “Saya ada lebih banyak hal penting di pekerjaan atau bisnis yang perlu diurus dan diselesaikan dibanding permasalahan anak dan keluarga” . Mereka kadang juga berpikir “Urusan anak dan keluarga kan urusan istri, urusan saya kerja dan cari uang”. Atau mereka berpikir “Akan saya tangani dan carikan solusi nanti setelah ada waktu, sekarang masih sibuk!”. Intinya kelompok pertama ini menganggap permasalahan atau situasi yang terjadi ini tidak penting dan mengabaikannya. Mereka tidak menyempatkan waktu untuk berpikir, menganalisa dan berdiskusi untuk mencari tahu penyebab dan solusi dari permasalahan yang terjadi.
2. Kelompok kedua adalah orang-orang yang sadar akan permasalahan yang terjadi dan memutuskan untuk mencari informasi dan solusi untuk mengatasinya. Orang-orang di kelompok kedua ini sadar dan mengerti bahwa keluarga dan anak adalah hal penting dalam hidup mereka. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga yang terjadi tidak cepat diselesaikan, bisa jadi masalah akan semakin membesar. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga tidak diselesaikan, hal ini juga akan menganggu karir atau bisnis mereka. Sehingga orang-orang di kelompok ini bersedia untuk belajar dan mendengarkan nasehat dari orang-orang yang sudah berpengalaman mengatasi permasalahan yang ada.
Pertanyaan untuk Anda: Termasuk kelompok yang manakah Anda? Kelompok pertama atau kelompok kedua?
Kami sangat sangat berharap Anda termasuk kelompok yang kedua. Kami di Tim Sekolah Orangtua telah bertemu dengan banyak klien yang dulunya adalah orang-orang yang berada di kelompok pertama. Mereka tahu ada permasalahan di keluarga atau anak mereka, menganggapnya tidak penting dan mengabaikannya. Ternyata masalah bukannya hilang tetapi malah menjadi semakin kompleks dan semakin parah. Umumnya saat sudah parah inilah, mereka baru mencari solusi. Tentu menyelesaikan masalah yang sudah parah dan kompleks jauh lebih sulit daripada menangani masalah saat awal. Kebanyakan mereka menyesal mengapa tidak dari dulu mencari solusi.
Contoh-contoh kasus permasalahan yang sudah terlanjur parah dan kompleks diantaranya seperti:
• Anak saat marah langsung memukul temannya atau memaki-maki dengan bahasa jorok.
• Anak jika tidak dituruti kemauannya menangis keras-keras dan bergulung-gulung di lantai sampai keinginannya dipenuhi.
• Anak tidak suka kumpul dengan orangtuanya. Lebih senang kumpul dengan suster atau temannya.
• Anak ikut gang sekolah dan bahkan terlibat narkoba.
• Anak sudah tidak mau mendengar nasehat orangtuanya. Jika dinasehati langsung pergi.
• Anak boros, semua uang jajan dan uang saku ludes, tidak bisa menabung sama sekali.
• Anak sudah dewasa tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja atau berbisnis. Maunya cuma santai-santai dan kumpul-kumpul dengan teman.
• Dan masih banyak lagi.
Permasalahan anak yang sudah parah juga sering diiringi dengan terjadinya pertengkaran dengan pasangan karena saling menyalahkan dan tidak satu visi dalam mendidik dan menasehati anak. Jika permasalahan sudah menjadi kompleks dan parah seperti ini, tentu tidaklah mudah untuk menyelesaikannya.
Oleh sebab itu kami di Tim Sekolah Orangtua sangat berharap Anda termasuk di kelompok kedua yaitu Anda sudah proaktif mencari informasi dan solusi saat permasalahan masih kecil atau masih tahap awal. Jauh lebih baik lagi Anda sudah belajar dan membekali diri dengan pengetahuan, alat-bantu dan kebijaksanaan sebelum terjadi permasalahan pada anak dan keluarga Anda. Peribahasa lama “sedia payung sebelum hujan” memang sangatlah tepat.
Kami di Sekolah Orangtua ingin Anda memiliki keluarga yang bahagia. Kami tidak ingin Anda menjalani kehidupan dengan ketidak-bahagiaan karena hidup sangatlah singkat. Kami tidak ingin Anda melewatkan waktu-waktu paling berharga di hidup Anda, yaitu bersama keluarga tercinta Anda.
Keluarga adalah tempat dimana Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Waktu-waktu bersama orang-orang yang Anda cintai adalah waktu-waktu yang berharga yang jangan sampai terlewatkan dalam hidup Anda. Tidak ada keberhasilan di karir dan bisnis yang bisa mengalahkan perasaan yang didapat dari keberhasilan membangun keluarga yang harmonis dan bahagia lahir batin.
Program Super Family Class dari Sekolah Orangtua dirancang untuk memberikan pengetahuan, kebijaksanaan dan alat-bantu ke para orangtua baik yang belum memiliki permasalahan maupun bagi orangtua yang sedang menghadapi permasalahan. Program ini dirancang berdasarkan pengalaman praktek lebih dari 12 tahun dalam menangani permasalahan anak dan keluarga, jadi minim teori yang hebat tapi sulit dipraktekkan.
Jadi apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan di Super Family Class?
• Apa hal –hal terpenting yang bisa membuat anak Anda sukses menjalani hidupnya namun jarang dilakukan oleh para orangtua.
• Bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dalam keluarga sehingga tiap anggota keluarga memiliki “inner motivation” untuk meraih yang terbaik bagi diri mereka dan keluarga?
• Bagaimana memunculkan dukungan dari anak-anak untuk mengaktifkan Wealth and Abundance Magnet dari orangtua?
• Memahami diri sendiri, anak dan pasangan sebagai jembatan membangun komunikasi efektif melalui tipologi kepribadian, pemenuhan tangki cinta dan kebutuhan emosi dasar.
• Memunculkan Inner Motivation dalam diri anak dan pasangan melalui “the magic of communication”
• Menciptakan “Super Family System” yang akan membuat setiap anggota keluarga termotivasi meraih yang terbaik dalam hidupnya
• Mengajarkan dan menanamkan kebiasaan dan prinsip pengelolaan uang yang benar ke anak sedini mungkin agar anak dapat sukses secara finansial saat dewasa nanti.
• Melakukan diagnosa harga diri anak dalam waktu 30 detik
• Menggunakan ‘rapor keluarga’ untuk memonitor perkembangan anggota keluarga
• Menggunakan ICT (Instant Change Technique) untuk :
o Menghilangkan emosi negatif dalam hitungan detik saat menghadapi anak atau situasi kehidupan lain
o Memeriksa apakah hasil terapi telah sampai dan diterima pikiran bawah sadar
o Memeriksa seberapa dalam keyakinan kita / anak kita akan suatu impian / goal / target dan bagaimana mengoreksinya apabila tidak sesuai
o Meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan diri menjalani kehidupan
Program Super Family Class merupakan program pembelajaran terpadu selama 8 bulan dimana peserta akan mempelajari materi dari berbagai format, yaitu:
• Sesi tatap muka selama 2 hari. Kelas kami batasi agar lebih efektif karena terdapat sesi terapi bagi para orangtua.
• Pembelajaran secara online yaitu akses ke Super Family Online Class via internet dimana tim Sekolah Orangtua telah menyusun kurikulum training selama 34 minggu (8 ½ bulan). Anda juga dapat melakukan tanya-jawab tentang materi yang ada ke Tim Sekolah Orangtua.
• DVD Video dan CD Audio yang menjadi pendukung materi Super Family Class.


Apakah Keluarga dan Masa Depan Anak
Merupakan Hal Penting Bagi Anda?
Walaupun Hampir Semua Orangtua Akan Mengatakan “YA, TENTU SAJA!”,
Kenyataannya Lebih Dari 90% Orangtua Tidak Memiliki Pengetahuan,
Ketrampilan dan Kebijaksanaan untuk Mengatasi Permasalahan Keluarga
yang Terjadi maupun untuk Mewujudkan Keluarga yang Harmonis,
Sukses dan Bahagia Lahir Batin
Jika keluarga dan masa depan anak merupakan hal penting bagi hidup Anda,
Apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan dengan mengikuti program
Super Family Class akan merupakan harta karun tak ternilai yang akan
Anda rasakan manfaatnya sepanjang hidup Anda!

Tanggal : 1 July 2010
Dari : Tim Sekolah Orangtua
Sebelum kami menjelaskan apa itu Super Family Class, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda.
Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda:
• Tidak mudah menuruti perintah orangtua?
• Malas dan tidak termotivasi belajar?
• Merasa tanpa beban walau ulangannya jelek?
• Sering menjadi “pelawak” atau “nakal” untuk menarik perhatian?
• Mengatakan “tidak tahu” , “malas ah”, atau “biasa” kalau Anda bertanya sesuatu?
Dan apakah Anda sendiri sering merasa :
• Tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan anak?
• Karir dan pekerjaan Anda tak bisa optimal karena memikirkan masalah anak?
• Komunikasi dengan anak dan pasangan terasa hambar dan dingin?
• Menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas belaka?
Anda pernah mengalami hal-hal dan permasalahan diatas dalam kehidupan berumah-tangga Anda, bukan?
Anda boleh sedikit lega karena mayoritas orang dewasa yang berumah-tangga pernah mengalami situasi yang sama. Tetapi berdasarkan respon menghadapi situasi diatas, orang bisa dibagi atas 2 kategori yaitu:
1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sadar akan adanya permasalahan yang terjadi dan mereka menganggapnya tidak penting dan memutuskan untuk mengabaikannya. Mereka berpikir situasi atau permasalahan diatas adalah hal yang normal dan bisa hilang dengan sendirinya. Mereka mungkin berpikir “Saya ada lebih banyak hal penting di pekerjaan atau bisnis yang perlu diurus dan diselesaikan dibanding permasalahan anak dan keluarga” . Mereka kadang juga berpikir “Urusan anak dan keluarga kan urusan istri, urusan saya kerja dan cari uang”. Atau mereka berpikir “Akan saya tangani dan carikan solusi nanti setelah ada waktu, sekarang masih sibuk!”. Intinya kelompok pertama ini menganggap permasalahan atau situasi yang terjadi ini tidak penting dan mengabaikannya. Mereka tidak menyempatkan waktu untuk berpikir, menganalisa dan berdiskusi untuk mencari tahu penyebab dan solusi dari permasalahan yang terjadi.
2. Kelompok kedua adalah orang-orang yang sadar akan permasalahan yang terjadi dan memutuskan untuk mencari informasi dan solusi untuk mengatasinya. Orang-orang di kelompok kedua ini sadar dan mengerti bahwa keluarga dan anak adalah hal penting dalam hidup mereka. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga yang terjadi tidak cepat diselesaikan, bisa jadi masalah akan semakin membesar. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga tidak diselesaikan, hal ini juga akan menganggu karir atau bisnis mereka. Sehingga orang-orang di kelompok ini bersedia untuk belajar dan mendengarkan nasehat dari orang-orang yang sudah berpengalaman mengatasi permasalahan yang ada.
Pertanyaan untuk Anda: Termasuk kelompok yang manakah Anda? Kelompok pertama atau kelompok kedua?
Kami sangat sangat berharap Anda termasuk kelompok yang kedua. Kami di Tim Sekolah Orangtua telah bertemu dengan banyak klien yang dulunya adalah orang-orang yang berada di kelompok pertama. Mereka tahu ada permasalahan di keluarga atau anak mereka, menganggapnya tidak penting dan mengabaikannya. Ternyata masalah bukannya hilang tetapi malah menjadi semakin kompleks dan semakin parah. Umumnya saat sudah parah inilah, mereka baru mencari solusi. Tentu menyelesaikan masalah yang sudah parah dan kompleks jauh lebih sulit daripada menangani masalah saat awal. Kebanyakan mereka menyesal mengapa tidak dari dulu mencari solusi.
Contoh-contoh kasus permasalahan yang sudah terlanjur parah dan kompleks diantaranya seperti:
• Anak saat marah langsung memukul temannya atau memaki-maki dengan bahasa jorok.
• Anak jika tidak dituruti kemauannya menangis keras-keras dan bergulung-gulung di lantai sampai keinginannya dipenuhi.
• Anak tidak suka kumpul dengan orangtuanya. Lebih senang kumpul dengan suster atau temannya.
• Anak ikut gang sekolah dan bahkan terlibat narkoba.
• Anak sudah tidak mau mendengar nasehat orangtuanya. Jika dinasehati langsung pergi.
• Anak boros, semua uang jajan dan uang saku ludes, tidak bisa menabung sama sekali.
• Anak sudah dewasa tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja atau berbisnis. Maunya cuma santai-santai dan kumpul-kumpul dengan teman.
• Dan masih banyak lagi.
Permasalahan anak yang sudah parah juga sering diiringi dengan terjadinya pertengkaran dengan pasangan karena saling menyalahkan dan tidak satu visi dalam mendidik dan menasehati anak. Jika permasalahan sudah menjadi kompleks dan parah seperti ini, tentu tidaklah mudah untuk menyelesaikannya.
Oleh sebab itu kami di Tim Sekolah Orangtua sangat berharap Anda termasuk di kelompok kedua yaitu Anda sudah proaktif mencari informasi dan solusi saat permasalahan masih kecil atau masih tahap awal. Jauh lebih baik lagi Anda sudah belajar dan membekali diri dengan pengetahuan, alat-bantu dan kebijaksanaan sebelum terjadi permasalahan pada anak dan keluarga Anda. Peribahasa lama “sedia payung sebelum hujan” memang sangatlah tepat.
Kami di Sekolah Orangtua ingin Anda memiliki keluarga yang bahagia. Kami tidak ingin Anda menjalani kehidupan dengan ketidak-bahagiaan karena hidup sangatlah singkat. Kami tidak ingin Anda melewatkan waktu-waktu paling berharga di hidup Anda, yaitu bersama keluarga tercinta Anda.
Keluarga adalah tempat dimana Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Waktu-waktu bersama orang-orang yang Anda cintai adalah waktu-waktu yang berharga yang jangan sampai terlewatkan dalam hidup Anda. Tidak ada keberhasilan di karir dan bisnis yang bisa mengalahkan perasaan yang didapat dari keberhasilan membangun keluarga yang harmonis dan bahagia lahir batin.
Program Super Family Class dari Sekolah Orangtua dirancang untuk memberikan pengetahuan, kebijaksanaan dan alat-bantu ke para orangtua baik yang belum memiliki permasalahan maupun bagi orangtua yang sedang menghadapi permasalahan. Program ini dirancang berdasarkan pengalaman praktek lebih dari 12 tahun dalam menangani permasalahan anak dan keluarga, jadi minim teori yang hebat tapi sulit dipraktekkan.
Jadi apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan di Super Family Class?
• Apa hal –hal terpenting yang bisa membuat anak Anda sukses menjalani hidupnya namun jarang dilakukan oleh para orangtua.
• Bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dalam keluarga sehingga tiap anggota keluarga memiliki “inner motivation” untuk meraih yang terbaik bagi diri mereka dan keluarga?
• Bagaimana memunculkan dukungan dari anak-anak untuk mengaktifkan Wealth and Abundance Magnet dari orangtua?
• Memahami diri sendiri, anak dan pasangan sebagai jembatan membangun komunikasi efektif melalui tipologi kepribadian, pemenuhan tangki cinta dan kebutuhan emosi dasar.
• Memunculkan Inner Motivation dalam diri anak dan pasangan melalui “the magic of communication”
• Menciptakan “Super Family System” yang akan membuat setiap anggota keluarga termotivasi meraih yang terbaik dalam hidupnya
• Mengajarkan dan menanamkan kebiasaan dan prinsip pengelolaan uang yang benar ke anak sedini mungkin agar anak dapat sukses secara finansial saat dewasa nanti.
• Melakukan diagnosa harga diri anak dalam waktu 30 detik
• Menggunakan ‘rapor keluarga’ untuk memonitor perkembangan anggota keluarga
• Menggunakan ICT (Instant Change Technique) untuk :
o Menghilangkan emosi negatif dalam hitungan detik saat menghadapi anak atau situasi kehidupan lain
o Memeriksa apakah hasil terapi telah sampai dan diterima pikiran bawah sadar
o Memeriksa seberapa dalam keyakinan kita / anak kita akan suatu impian / goal / target dan bagaimana mengoreksinya apabila tidak sesuai
o Meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan diri menjalani kehidupan
Program Super Family Class merupakan program pembelajaran terpadu selama 8 bulan dimana peserta akan mempelajari materi dari berbagai format, yaitu:
• Sesi tatap muka selama 2 hari. Kelas kami batasi agar lebih efektif karena terdapat sesi terapi bagi para orangtua.
• Pembelajaran secara online yaitu akses ke Super Family Online Class via internet dimana tim Sekolah Orangtua telah menyusun kurikulum training selama 34 minggu (8 ½ bulan). Anda juga dapat melakukan tanya-jawab tentang materi yang ada ke Tim Sekolah Orangtua.
• DVD Video dan CD Audio yang menjadi pendukung materi Super Family Class.
Program Super Family Class ini akan menjadikan keluarga Anda sebagai sebuah Super Family!

Jadwal Super Family Class terdekat
Jakarta:
Hari/Tanggal : Sabtu & Minggu - 28 dan 29 Agustus 2010
Waktu : 08.00 – 17.00

Trainer dan narasumber:
• Ariesandi Setyono, CHt (Penulis buku laris Hypnoparenting, Mathemagics, Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia, Pendiri Sekolah Orangtua dan Akademi Hipnoterapi Indonesia, Family Hypnotherapist yang aktif menangani klien sejak 1995)
• Sukarto, S.Kom - Pendiri Sekolah Orangtua dan Pakar di bidang Smart Financial for Children
Investasi:
• Rp 2.500.000,- per orang
• Harga Khusus Rp 4.000.000,- untuk 2 orang untuk kehadiran bersama pasangan (suami/istri) - Hemat Rp 1.000.000,- dari harga normal.
Sudah termasuk:
• 1 x Makan Siang dan 2 x Coffee Break
• Akses ke Super Family Online Class (Gold level) selama 34 minggu (8 ½ bulan) senilai Rp 1.000.000,- sebagai pelengkap materi Super Family Class yang diajarkan di sesi tatap muka.
• Produk Sekolah Orangtua senilai Rp 200.000,- sebagai pelengkap materi Super Family Class yang diajarkan di sesi tatap muka.
Silahkan isi form pendaftaran di bawah ini dengan lengkap:
Email : *

Nama Lengkap : *

Batch : Jakarta (28-29 Agustus 2010)*

Datang Sendiri / Berpasangan : Sendiri Berpasangan *

Informasi Data Pribadi Anda
No. Handphone : *

Alamat : *

Kota : *

Kode Pos : *

Propinsi : *

Informasi Data Pasangan Anda (Bila Mendaftar Berpasangan)
Email : *

Nama Lengkap : *

No. Handphone : *

Masukkan kombinasi huruf & angka yang tertera :





* Wajib diisi
Hubungi Customer Service Sekolah Orangtua jika mengalami kesulitan
• Via email ke CS@sekolahorangtua.com
• Via telpon ke 031-71559997, 031-5941439
• Via SMS ke 0819807601
• Via Yahoo Messenger
Copyright © 2009 SekolahOrangtua.com - Pusat Pendidikan Keluarga. All Rights Reserved.
Customer Service: Telp 031-5941439 / 031-7155 9997 - SMS: 0819 807601 - Support Dept

Selasa, 18 Mei 2010

Kesimpulan Kasus Pembelajaran IPS di SD

Kesimpulan Kasus Pembelajaran IPS di SD

• Pak Sukses adalah seorang guru yang disegani, disiplin dan bertanggung jawab.
• Pak sukses menerapkan kedisiplinan kepada siswa
• Pak Sukses menyampaikan topik jenis alat transportasi, bertanya tentang pelajaran sebelumnya dan tugas yang diberikan.
• Pak Sukses berkeliling memeriksa tugas siswa, menegur, menasehati dan memperingatkan Budi dan Ali agar tidak mengulangi lagi lalai dalam mengerjakan tugas.
• Pak Sukses bertanya jawab tentang alat transportasi. Pak Sukses menjelaskan masalah angkutan di kota-kota kemudian memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan memberi komentar tentang hal tersebut.
• Siswa mampu mengidentifikasi permasalahan angkutan di kota-kota besar dan menunjukkan pemecahan masalah angkutan.
• Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan tanya jawab sehingga aktifitas siswa lebih tinggi dan diskusi dengan Pak Sukses sebagai pembimbing serta memberikan penjelasan hal-hal yang belum mendapat kesepakatan. Siswa membaca dan mengerjakan LKS.
• Siswa mengemukakan jawaban pertanyaan dalam LKS. Pertanyaan yang tidak terjawab dengan baik siswa yang lain diminta untuk menjawab. Apabila jawaban belum sempurna, Pak Sukses berusaha menjelaskan dengan baik.
• Pukul 09.00 bel tanda istirahat siswa menghentikan kegiatan belajar dan berhamburan keluar kelas.

Kelemahan Pak Sukses dalam proses pembelajaran
1. Tidak menggunakan media pembelajaran atau alat peraga karena dengan menggunakan media pembelajaran atau alat peraga untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak didik yang mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan efektifitas kegiatan pembelajaran
2. Tidak memberikan penguatan pada respon jawaban anak karena dengan penguatan akan menumbuhkan rasa percaya diri anak.
3. Tidak mengambil kesimpulan umum dari materi pelajaran.

Kelebihan Pak Sukses dalam proses pembelajaran
1. Menyampaikan topik bahasan dan tujuan yang akan dipelajari sehingga siswa mengetahui apa yang akan dipelajari dan tujuan atau kompetensi pembelajaran tercapai serta memfokuskan siswa dengan pembelajaran yang akan dipelajari.
2. Memberikan apersepsi yang dikaitkan dengan keadaan lingkungan siswa untuk menggali pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.
3. Pembahasan materi dikaitkan dengan lingkungan anak sehari-hari sehingga siswa dengan mudah memahami materi.
4. Menggunakan variasi metode pembelajaran seperti tanya jawab, diskusi, sehingga aktifitas siswa menjadi lebih tinggi dan tidak membosankan.
5. Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan teman sehingga pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan.

Hukuman yang diberikan pada Budi dan Ali kurang sesuai dengan tingkat kesalahan dan tujuan perbaikan pembelajaran karena kesalahan Budi tidak sama dengan kesalahan Ali. Kesalahan Budi disebabkan oleh Ali yang lupa membawa buku tugas Budi.


Fungsi pemberian hukuman secara umum dalam proses pembelajaran adalah:
untuk mengontrol tingkah laku siswa agar tugas-tugas sekolah dapat berjalan dengan optimal. Strategi dalam mengubah perilaku siswa agar tidak mengulangi kesalahan yang dibuat. Pemberian hukuman tidak bersifat badaniah, diberikan secara hormat, hukuman sesuai dengan kesalahan.




Langkah-Langkah Pembelajaran



Mata Pelajaran : IPS
Kelas : IV
Topik : Jenis alat transportasi


Kegiatan awal:
• Siswa menyanyikan lagu “Naik Kereta Api”
• Guru menyampaikan topik “jenis alat transportasi”
• Siswa menyebutkan alat-alat transportasi yang ada disekitarnya


Kegiatan Inti:
• Guru memperlihatkan gambar-gambar alat transportasi
• Melalui pengamatan siswa menjawab dan mengelompokkan keanekaragaman alat transportasi darat, air, dan udara dan perbandingan dari segi kecepatan, kenyamanan, keselamatan, dan pencemaran lingkungan
• Guru memperlihatkan keadaan lalu lintas kota
• Melalui diskusi kelompok siswa mengidentifikasi permasalahan angkutan kota dan menunjukkan pemecahan masalah angkutan
• Secara bergantian siswa melaporkan hasil diskusi di depan kelas dan siswa/kelompok lain memberi tanggapan.
• Siswa menyelesaikan soal-soal latihan


Kegiatan akhir:
• Siswa dengan bantuan guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari
• Guru memberi pesan-pesan moral tentang tertib berlalu lintas
• Memajang hasil kerja siswa
• Memberi tugas rumah

Minggu, 16 Mei 2010


Upaya Peningkatan Mutu Guru

Oleh : Marijan
Guru di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

Perubahan kurikulum pendidikan yang berganti-ganti diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan kita. Namun apa yang dapat kita saksikan? Perubahan kurikulum belum mampu menunjukkan hasil yang memuaskan. Apabila kita mau jujur, kondisi objektif yang dapat kita saksikan malahan bertambah parah.

Upaya pemerintah maupun masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan belum mencapai apa yang diharapkan. Indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pendidikan tersebut sebenarnya tidak tepat.

Pertama, rendahnya hasil perolehan rata-rata nem. Hasil tersebut masih jauh di bawah standard yang diharapkan. Pemerintah terus berusaha menaikkan angka standard kelulusan. Akan tetapi setiap angka standard kelulusan dinaikkan dibarengi dengan penambahan jumlah peserta didik yang tidak lulus. Nilai siswa yang lulus pun rata-ratanya hanya berada sedikit di atas standard minimal kelulusan.

Kedua, menurunnya nilai aspek nonakademis. Banyak kritik dilontarkan berkaitan dengan masalah moral, kreativitas, kemandirian, sikap demokratis dan kedisiplinan yang dilakukan masyarakat pelajar maupun orang-orang mantan pelajar. Hal ini sebagai akibat pembelajaran yang terjadi hanya mengejar berkembangnya IQ dan mengesampingkan EQ dan SQ. Padahal dalam kehidupan di masyarakat justru EQ dan SQ lebih penting daripada IQ. Ditegaskan oleh Goleman (1996) dalam penelitiannya bahwa IQ hanya berperan 20 % dan EQ justru berperan 80% untuk menopang kesuksesan hidupnya.

Ketiga, rendahnya kompetensi guru. Rendahnya kompetensi guru ini disebabkan oleh kompleksitas kondisi yang mengelilingi guru. Adapun kondisi yang dimaksud adalah :
a) masih banyak guru mengajar bukan pada bidang tugasnya. Hal demikian berakibat pada penguasaan dan penyampaian materi tidak dapat berlangsung secara optimal. Alasannya pun sangat bervariasi yakni, di sekolah tidak ada guru lulusan bidang studi tertentu dan demi pemerataan jam mengajar.
b) Guru tidak konsen pada tugasnya. Guru masih mencari uang melalui pekerjaan lain. Hal ini disebabkan gaji yang diterima tidak mencukupi untuk menopang kebutuhan hidupnya. Konsentrasi kesibukannya justru lebih tinggi untuk pekerjaan lain, bukan pekerjaan yang berkaitan dengan persiapan proses pembelajaran.
c) Masih banyak guru gagap teknologi, wawasan kependidikannya picik, keterampilan mengajar kurang optimal, tidak terampil mengoperasikan komputer, cakrawala pandang wawasan kependidikan yang dapat diakses melalui internet tak dapat tercapai oleh karena belum mengenal internet
d) Motivasi kerja guru yang rendah. Motivasi kerja yang rendah ini dapat disimak melalui sikapnya dalam mempersiapkan RPP, silabus, perangkat penilaian dan perangkat pembelajaran lainnya. Pengadaan perangkat pada umumnya hanya berupa foto kopi teman sekolah lain. Hal lain sebagai indikator motivasi kerja rendah adalah belum terciptanya budaya membaca bagi kalangan guru. Artinya, membaca untuk menambah pengetahuan yang berkaitan dengan materi pelajaran dari berbagai referensi ataupun membaca rang berkaitan dengan wawasan kependidikan belum banyak dilakukan oleh sebagian besar guru. Padahal membaca mempunvai kontribusi yang sangat besar bagi pengembangan profesi guru. Berdasarkan kondisi di atas perlu adanya gerakan serentak memperbaiki mutu guru Indonesia. Gerakan ini menyangkut pihak pemerintah, lembaga pencetak guru, kemauan guru itu sendiri dan masyarakat sebagai agen pemasok calon guru maupun pengguna guru. Upaya apa yang seharusnya dilakukan ?

Pertama, rekrutmen calon guru hendaknya bersifat profesional. Rekrutmen dilakukan dengan cara tes baik tertulis, lisan maupun mikroteaching di hadapan penguji. Calon guru yang diiuluskan hendaknya yang benar-benar memenuhi syarat dalam tugas mengajar. Baik kedalaman pengetahuan materi bidang tugasnya maupun strategi dan metodologi mengajar hendaknya bernilai tinggi. Performance sebagai calon guru juga tidak meragukan. Sebagai data pendukung secara administrasi adalah Indeks Prestasi (1P) yang dimiliki dalam transkip nilai. Indeks Prestasi mestinya menjadi bagian dari proses penilaian bagi calon guru. Selama ini indeks prestasi calon guru tidak pernah diperhitungkan dalam penilaian.

Kedua, guru hendaknya diberi motivasi untuk terus belajar. Kepala sekolah diharapkan sangat peduli dengan peningkatan mutu guru melalui peningkatan belajarnya. Guru yang termotivasi untuk terus belajar akan bertambah semangat dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemandu proses pembelajaran yang baik. Ketiga, guru hendaknya diikutkan penataran atau diklat yang berhubungan dengan profesi keguruannya. Penataran atau diklat bagi guru sangat penting dalam upaya peningkatan mutu kaitannya dengan proses pembelajaran, pengetahuan baru dan berbagai strategi dan metode pembelajaran.

Keempat, guru hendaknya diberdayakan menulis. Menulis dimaksud adalah membuat karya ilmiah baik berupa, buku, diktat, laporan penelitian, ilmiah populer maupun ulasan terhadap berbagai buku baik tentaing pendidikan dan kebijakan- kebijakannya yang sering terasa kontroversial. Guru diharapkan mempunyai target menulis dalam jangka waktu tertentu di berbagai wadah karya guru misalnya buletin pendidikan yang diterbitkan oleh dinas pendidikan kabupaten, dinas pendidikan propinsi, dinas pendidikan pusat, majalah-majalah pendidikan , koran harian serta jurnal pendidikan. Di setiap sekolah hendaknya perlu diterbitkan majalah sekolah guna merangsang guru dan murid bisa menulis. Guru yang sering menulis akan termotivasi untuk maju. Motivasi inilah embrio dari terciptanya guru profesional. Sikap ingin mencari pengetahuan lewat tnembaca akan terbentuk dengan sendirinya. Menghargai tulisan orarng lain menjadi bagian dari sikap penulis. Sikap tidak loyo terpantul dari kegigihan menulis yang tak henti-hentinya. Inilah sikap-sikap yang perlu dikembankan dan dibudayakan melalui pembiasaan dan pemberdayaan untuk menulis karya. ilmiah.

Kelima, guru hendaknya dirangsang untuk meningkatkan mutu mengajar dengan berbagai metode. Pengembangan proses pembelajaran memang patut segera. direalisasikan. Oleh karenanya pihak pemerintah melalui sekolah hendaknya mendukung dengan menyediakan media dan alat pembelajaran yang memadai. Tanpa adanya dukungan media dan alat , pembelajaran belum bisa menarik dan menyenangkan sebagaimana digembor-gemborkan, yakni pembelajaran bernuansa PAIKEM (Produktif, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Berbagai metode perlu dicoba untuk mendukung tercapainya pembelajaran yang PAIKEM seperti disebut di atas. Guru yang bagus dalam penyampaian materi melalui berbagai metode perlu mendapatkan reward yang bermakna. Kepala sekolah tidak perlu pelit memberikan pujian terhadap guru rang berhasil. Agar tidak terlena dalam nikmatnya pujian, pemantauan terhadap proses pembelajaran di kelas terns diupayakan. Dengan pemantauan yang sering dilakukan akan mendorong semangat guru dalam melakukan proses yang baik .

Bukan Omong Kosong

rENUNGAN

Summary:ersys
SEPULUH CIRI ORANG BERPKIR POSITIF


1. MELIHAT MASALAH SEBAGAI TANTANGAN
Bandingkan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat maka dia akan berpikir hidupnya adalah menjadi orang yang paling sengsara di dunia.

2. MENIKMATI HIDUP
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati

3. PIKIRAN TERBUKA UNTUK MENERIMA SARAN DAN IDE
Pikiran terbuka membutuhkan kebesaran hati dan tentu kesabaran. karena dengan begitu, akan ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

4. MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF SEGERA SETELAH PIKIRAN ITU TERLINTAS DI BENAK
Suatu kendala yang sebetulnya bisa diatasi dengan kepala dingin jika sudah dilandasi dengan pikiran negatif ternyata hanya akan menimbulkan masalah baru.

5. MENSYUKURI APA YANG DIMILIKI
Hindari berkeluh kesah tentang apapun yang tidak dimiliki karena justru akan menjadi beban. sebaliknya jadikan hal itu sebagai motivasi untuk meraih hidup yang diharapkan.

6. TIDAK MENDENGAR GOSIP YANG TAK MENENTU
Sudah pasti gosip erat sekali dengan berpikir negatif. karena itu sebisa mungkin jauhi gosip-gosip yang tak jelas asalnya.

7. TIDAK MEMBUAT ALASAN TETAPI AMBIL TINDAKAN
NATO ( No Action, Talk Only ) itu adalah ciri khas orang berpikir negatif. maka ambilah tindakan dan buktikan bahwa anda bisa mengatasi masalah sebagai orang yang berpikir positif.

8. MENGGUNAKAN BAHASA YANG POSITIF
Saat kita berkomunikasi dengan orang lain gunakan kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme sehingga dapat memberikan semangat terhadap lawan bicara kita

9. MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH YANG POSITIF
Diantara bahasa tubuh yang lain senyum merupakan wujud dari berpikir positif karena akan menimbulkan kesan bersahabat dan akan menjadi lebih akrab dengan suasana.

10. PEDULI PADA CITRA DIRI
Itu sebabnya, mereka berusah tampil baik bukan hanya di luar tetapi juga di dalam.

Itulah sepuluh tanda orang berpikir positif semoga artikel diatas bermanfaat untuk anda. jadilah orang yang berpikir positif dalam menyelesaikan masalah sehingga kita tidak akan terbebani dengan hidup ini.



10 ciri orang berpikir positif Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/social-sciences/1901760-10-ciri-orang-berpikir-positif/