Seperti yang telah saya tulis di artikel sebelumnya Apa Bahasa Cinta Anak Anda ? bahwa banyak sekali permasalahan anak yang terjadi saat ini disebabkan karena kurangnya perasaan dicintai alias tangki cinta anak kosong. Sebab utamanya memang perasaan kurang dicintai ini tetapi symptom atau akibat yang terjadi dari sebab utama ini munculnya bisa berbagai perilaku aneh yang membuat orangtua bingung, seperti : anak tidak mau sekolah, anak tidak percaya diri, anak suka membantah atau melawan orangtua, anak sering berkelahi, anak nakal dan rewel sekali dan lain-lain. Kelihatannya tidak berhubungan bukan ? Padahal sebab utamanya sama yaitu perasaan anak yang kurang dicintai atau tangki cintanya kosong. Oleh sebab itu saya mengajak orangtua yang membaca artikel ini untuk mengenali bahasa cinta anaknya dan mulai belajar mengisi tangki cinta anak anda. Anak yang tangki cintanya penuh adalah anak yang sangat manis dan berespon positif terhadap disiplin yang diajarkan orangtua. Sebelum saya jelaskan satu per satu bahasa cinta, ada beberapa prinsip yang perlu Anda ketahui terlebih dahulu, yaitu :
1. Anak Balita (0-5 tahun) sulit dapat diketahui bahasa cinta utamanya. Mereka masih membutuhkan seluruhnya, jadi berikan dan lakukan seluruh 5 bahasa cinta yang ada pada anak Anda.
2. Anak diatas 5 tahun walaupun membutuhkan seluruh bahasa cinta tetapi ada 1 atau 2 bahasa yang dominan. Jadi tidak berarti bila Anda mengetahui bahasa cinta anak anda, lalu Anda tidak perlu melakukan bahasa cinta yang lain.
Ok, mari kita mulai membahas secara singkat satu per satu bahasa cinta anak. Kita mulai dengan yang pertama Kata-Kata Pendukung. Anak yang memiliki bahasa cinta kata-kata pendukung sangat merasa dicintai bila orangtua atau orang lain mengucapkan kata-kata positif yang meningkatkan harga dirinya. Anak akan tersenyum bahagia saat mendengar kata-kata yang menyenangkan ini. Secara garis besar, kata-kata pendukung yang berarti bagi anak yang bahasa cintanya kata-kata pendukung ini terdiri atas :
1. Kata-kata penuh kasih seperti “Mama sayang sekali dengan kamu”. Yang perlu diperhatikan adalah saat mengucapkan kata-kata penuh kasih perlu dilakukan dengan nada suara yang penuh kasih dan ketulusan. Karena kalau tidak, anak akan merasa orangtuanya hanya basa-basi atau tidak tulus.
2. Kata-kata pujian. Berikan kata-kata pujian pada anak saat anak mencapai sebuah prestasi, sikap dan perilaku baik atau berhasil mengatasi suatu tantangan yang sulit baginya. Kita sebagai orangtua juga perlu bijaksana dalam memberikan
3. Kata-kata yang membesarkan hati. Saat anak mengalami kegagalan, situasi yang sulit atau krisis percaya diri, kita sebagai orangtua sangatlah perlu memberikan kata-kata yang membesarkan hati atau membangkitkan semangat anak sehingga memberikan semangat dan keberanian bagi anak untuk menghadapi situasi sulit itu. Kata-kata seperti “Papa senang melihat caramu menghadapi kekalahan ini, karena dari kegagalanlah kita belajar untuk sukses” atau “Nak, kamu adalah seseorang yang berharga dan hebat di mata papa mama. Kamu pasti akan berhasil !” adalah kata-kata yang sangat berarti bagi seorang anak yang memiliki bahasa cinta Kata-kata Pendukung.
4. Kata-kata Bimbingan ke anak adalah menjelaskan ke anak tentang nilai-nilai moral, etika dan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan. Bagi anak-anak yang memiliki bahasa cinta ini, kata-kata bimbingan yang disampaikan dengan tepat oleh orangtua, menyuarakan Saya Peduli dan Sayang dengan Kamu. Karena bagi anak ini, orangtualah pastilah sayang dengan dirinya, kalau tidak, mana mungkin mau repot-repot membimbing dan menasehati dirinya. Cara memberikan bimbingan perlu disesuaikan dengan umur anak sehingga anak tidak merasa sedang diceramahi orangtua. Kita sebaiknya memang perlu memastikan kita sebagai orangtua yang memasukkan nilai-nilai moral, etika dan nilai kebenaran dalam hidup anak karena jika tidak, bisa saja anak akan menerimanya dari orang lain yang bertentangan nilai hidupnya dengan kita. Dan perlu diingat, jangan membimbing dengan rasa marah atau kejengkelan karena anak akan menolak apapun yang kita sampaikan dan lain kali dia juga akan merasa seperti itu.
Ada hal penting yang perlu Anda ketahui lagi yaitu jika anak Anda memiliki bahasa cinta kata-kata pendukung maka :
* Dia akan lebih sakit hati saat dimarahi, dikritik atau dikata-katain dengan kasar dibanding dengan anak yang memiliki bahasa cinta yang lain.
* Sikap menyalahkan akan melukai semua anak tetapi akan lebih merusak pada anak yg bahasa cintanya Kata-kata Pendukung.
Bagaimana solusi agar jangan sampai terjadi hal diatas ?
* Tidak ada jalan lain kecuali orangtua perlu meningkatkan kesadaran dirinya dan lebih sehat secara emosional sehingga mampu berespon lebih terkontrol dan bijaksana. Gunakan CD terapi orangtua jika diperlukan.
* Dan jika Anda sudah terlanjur berkata-kata kasar atau bersikap menyalahkan pada anak ini, mintalah maaf pada anak. Hal itu sangat berarti bagi anak-anak yang memiliki kata-kata pendukung ini.
Itulah penjelasan singkat tentang bahasa cinta kata-kata pendukung. Saya akan menulis tentang bahasa cinta yang lain di artikel berikutnya. Bila Anda ingin tahu bagaimana cara menentukan bahasa cinta anak Anda, Anda dapat membacanya di Bagaimana Cara Mengetahui Bahasa Cinta Anak Saya ?.
Semoga penjelasan diatas bermanfaat dan membantu Anda menjadi orangtua yang terbaik bagi anak anda.
Senin, 05 Juli 2010
Kamis, 01 Juli 2010
Keluarga dan Masa Depan Anak Merupakan Hal Penting Bagi Anda?
Walaupun Hampir Semua Orangtua Akan Mengatakan “YA, TENTU SAJA!”,
Kenyataannya Lebih Dari 90% Orangtua Tidak Memiliki Pengetahuan,
Ketrampilan dan Kebijaksanaan untuk Mengatasi Permasalahan Keluarga
yang Terjadi maupun untuk Mewujudkan Keluarga yang Harmonis,
Sukses dan Bahagia Lahir Batin
Jika keluarga dan masa depan anak merupakan hal penting bagi hidup Anda,
Apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan dengan mengikuti program
Super Family Class akan merupakan harta karun tak ternilai yang akan
Anda rasakan manfaatnya sepanjang hidup Anda!
Tanggal : 1 July 2010
Dari : Tim Sekolah Orangtua
Sebelum kami menjelaskan apa itu Super Family Class, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda.
Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda:
• Tidak mudah menuruti perintah orangtua?
• Malas dan tidak termotivasi belajar?
• Merasa tanpa beban walau ulangannya jelek?
• Sering menjadi “pelawak” atau “nakal” untuk menarik perhatian?
• Mengatakan “tidak tahu” , “malas ah”, atau “biasa” kalau Anda bertanya sesuatu?
Dan apakah Anda sendiri sering merasa :
• Tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan anak?
• Karir dan pekerjaan Anda tak bisa optimal karena memikirkan masalah anak?
• Komunikasi dengan anak dan pasangan terasa hambar dan dingin?
• Menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas belaka?
Anda pernah mengalami hal-hal dan permasalahan diatas dalam kehidupan berumah-tangga Anda, bukan?
Anda boleh sedikit lega karena mayoritas orang dewasa yang berumah-tangga pernah mengalami situasi yang sama. Tetapi berdasarkan respon menghadapi situasi diatas, orang bisa dibagi atas 2 kategori yaitu:
1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sadar akan adanya permasalahan yang terjadi dan mereka menganggapnya tidak penting dan memutuskan untuk mengabaikannya. Mereka berpikir situasi atau permasalahan diatas adalah hal yang normal dan bisa hilang dengan sendirinya. Mereka mungkin berpikir “Saya ada lebih banyak hal penting di pekerjaan atau bisnis yang perlu diurus dan diselesaikan dibanding permasalahan anak dan keluarga” . Mereka kadang juga berpikir “Urusan anak dan keluarga kan urusan istri, urusan saya kerja dan cari uang”. Atau mereka berpikir “Akan saya tangani dan carikan solusi nanti setelah ada waktu, sekarang masih sibuk!”. Intinya kelompok pertama ini menganggap permasalahan atau situasi yang terjadi ini tidak penting dan mengabaikannya. Mereka tidak menyempatkan waktu untuk berpikir, menganalisa dan berdiskusi untuk mencari tahu penyebab dan solusi dari permasalahan yang terjadi.
2. Kelompok kedua adalah orang-orang yang sadar akan permasalahan yang terjadi dan memutuskan untuk mencari informasi dan solusi untuk mengatasinya. Orang-orang di kelompok kedua ini sadar dan mengerti bahwa keluarga dan anak adalah hal penting dalam hidup mereka. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga yang terjadi tidak cepat diselesaikan, bisa jadi masalah akan semakin membesar. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga tidak diselesaikan, hal ini juga akan menganggu karir atau bisnis mereka. Sehingga orang-orang di kelompok ini bersedia untuk belajar dan mendengarkan nasehat dari orang-orang yang sudah berpengalaman mengatasi permasalahan yang ada.
Pertanyaan untuk Anda: Termasuk kelompok yang manakah Anda? Kelompok pertama atau kelompok kedua?
Kami sangat sangat berharap Anda termasuk kelompok yang kedua. Kami di Tim Sekolah Orangtua telah bertemu dengan banyak klien yang dulunya adalah orang-orang yang berada di kelompok pertama. Mereka tahu ada permasalahan di keluarga atau anak mereka, menganggapnya tidak penting dan mengabaikannya. Ternyata masalah bukannya hilang tetapi malah menjadi semakin kompleks dan semakin parah. Umumnya saat sudah parah inilah, mereka baru mencari solusi. Tentu menyelesaikan masalah yang sudah parah dan kompleks jauh lebih sulit daripada menangani masalah saat awal. Kebanyakan mereka menyesal mengapa tidak dari dulu mencari solusi.
Contoh-contoh kasus permasalahan yang sudah terlanjur parah dan kompleks diantaranya seperti:
• Anak saat marah langsung memukul temannya atau memaki-maki dengan bahasa jorok.
• Anak jika tidak dituruti kemauannya menangis keras-keras dan bergulung-gulung di lantai sampai keinginannya dipenuhi.
• Anak tidak suka kumpul dengan orangtuanya. Lebih senang kumpul dengan suster atau temannya.
• Anak ikut gang sekolah dan bahkan terlibat narkoba.
• Anak sudah tidak mau mendengar nasehat orangtuanya. Jika dinasehati langsung pergi.
• Anak boros, semua uang jajan dan uang saku ludes, tidak bisa menabung sama sekali.
• Anak sudah dewasa tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja atau berbisnis. Maunya cuma santai-santai dan kumpul-kumpul dengan teman.
• Dan masih banyak lagi.
Permasalahan anak yang sudah parah juga sering diiringi dengan terjadinya pertengkaran dengan pasangan karena saling menyalahkan dan tidak satu visi dalam mendidik dan menasehati anak. Jika permasalahan sudah menjadi kompleks dan parah seperti ini, tentu tidaklah mudah untuk menyelesaikannya.
Oleh sebab itu kami di Tim Sekolah Orangtua sangat berharap Anda termasuk di kelompok kedua yaitu Anda sudah proaktif mencari informasi dan solusi saat permasalahan masih kecil atau masih tahap awal. Jauh lebih baik lagi Anda sudah belajar dan membekali diri dengan pengetahuan, alat-bantu dan kebijaksanaan sebelum terjadi permasalahan pada anak dan keluarga Anda. Peribahasa lama “sedia payung sebelum hujan” memang sangatlah tepat.
Kami di Sekolah Orangtua ingin Anda memiliki keluarga yang bahagia. Kami tidak ingin Anda menjalani kehidupan dengan ketidak-bahagiaan karena hidup sangatlah singkat. Kami tidak ingin Anda melewatkan waktu-waktu paling berharga di hidup Anda, yaitu bersama keluarga tercinta Anda.
Keluarga adalah tempat dimana Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Waktu-waktu bersama orang-orang yang Anda cintai adalah waktu-waktu yang berharga yang jangan sampai terlewatkan dalam hidup Anda. Tidak ada keberhasilan di karir dan bisnis yang bisa mengalahkan perasaan yang didapat dari keberhasilan membangun keluarga yang harmonis dan bahagia lahir batin.
Program Super Family Class dari Sekolah Orangtua dirancang untuk memberikan pengetahuan, kebijaksanaan dan alat-bantu ke para orangtua baik yang belum memiliki permasalahan maupun bagi orangtua yang sedang menghadapi permasalahan. Program ini dirancang berdasarkan pengalaman praktek lebih dari 12 tahun dalam menangani permasalahan anak dan keluarga, jadi minim teori yang hebat tapi sulit dipraktekkan.
Jadi apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan di Super Family Class?
• Apa hal –hal terpenting yang bisa membuat anak Anda sukses menjalani hidupnya namun jarang dilakukan oleh para orangtua.
• Bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dalam keluarga sehingga tiap anggota keluarga memiliki “inner motivation” untuk meraih yang terbaik bagi diri mereka dan keluarga?
• Bagaimana memunculkan dukungan dari anak-anak untuk mengaktifkan Wealth and Abundance Magnet dari orangtua?
• Memahami diri sendiri, anak dan pasangan sebagai jembatan membangun komunikasi efektif melalui tipologi kepribadian, pemenuhan tangki cinta dan kebutuhan emosi dasar.
• Memunculkan Inner Motivation dalam diri anak dan pasangan melalui “the magic of communication”
• Menciptakan “Super Family System” yang akan membuat setiap anggota keluarga termotivasi meraih yang terbaik dalam hidupnya
• Mengajarkan dan menanamkan kebiasaan dan prinsip pengelolaan uang yang benar ke anak sedini mungkin agar anak dapat sukses secara finansial saat dewasa nanti.
• Melakukan diagnosa harga diri anak dalam waktu 30 detik
• Menggunakan ‘rapor keluarga’ untuk memonitor perkembangan anggota keluarga
• Menggunakan ICT (Instant Change Technique) untuk :
o Menghilangkan emosi negatif dalam hitungan detik saat menghadapi anak atau situasi kehidupan lain
o Memeriksa apakah hasil terapi telah sampai dan diterima pikiran bawah sadar
o Memeriksa seberapa dalam keyakinan kita / anak kita akan suatu impian / goal / target dan bagaimana mengoreksinya apabila tidak sesuai
o Meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan diri menjalani kehidupan
Program Super Family Class merupakan program pembelajaran terpadu selama 8 bulan dimana peserta akan mempelajari materi dari berbagai format, yaitu:
• Sesi tatap muka selama 2 hari. Kelas kami batasi agar lebih efektif karena terdapat sesi terapi bagi para orangtua.
• Pembelajaran secara online yaitu akses ke Super Family Online Class via internet dimana tim Sekolah Orangtua telah menyusun kurikulum training selama 34 minggu (8 ½ bulan). Anda juga dapat melakukan tanya-jawab tentang materi yang ada ke Tim Sekolah Orangtua.
• DVD Video dan CD Audio yang menjadi pendukung materi Super Family Class.
Apakah Keluarga dan Masa Depan Anak
Merupakan Hal Penting Bagi Anda?
Walaupun Hampir Semua Orangtua Akan Mengatakan “YA, TENTU SAJA!”,
Kenyataannya Lebih Dari 90% Orangtua Tidak Memiliki Pengetahuan,
Ketrampilan dan Kebijaksanaan untuk Mengatasi Permasalahan Keluarga
yang Terjadi maupun untuk Mewujudkan Keluarga yang Harmonis,
Sukses dan Bahagia Lahir Batin
Jika keluarga dan masa depan anak merupakan hal penting bagi hidup Anda,
Apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan dengan mengikuti program
Super Family Class akan merupakan harta karun tak ternilai yang akan
Anda rasakan manfaatnya sepanjang hidup Anda!
Tanggal : 1 July 2010
Dari : Tim Sekolah Orangtua
Sebelum kami menjelaskan apa itu Super Family Class, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda.
Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda:
• Tidak mudah menuruti perintah orangtua?
• Malas dan tidak termotivasi belajar?
• Merasa tanpa beban walau ulangannya jelek?
• Sering menjadi “pelawak” atau “nakal” untuk menarik perhatian?
• Mengatakan “tidak tahu” , “malas ah”, atau “biasa” kalau Anda bertanya sesuatu?
Dan apakah Anda sendiri sering merasa :
• Tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan anak?
• Karir dan pekerjaan Anda tak bisa optimal karena memikirkan masalah anak?
• Komunikasi dengan anak dan pasangan terasa hambar dan dingin?
• Menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas belaka?
Anda pernah mengalami hal-hal dan permasalahan diatas dalam kehidupan berumah-tangga Anda, bukan?
Anda boleh sedikit lega karena mayoritas orang dewasa yang berumah-tangga pernah mengalami situasi yang sama. Tetapi berdasarkan respon menghadapi situasi diatas, orang bisa dibagi atas 2 kategori yaitu:
1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sadar akan adanya permasalahan yang terjadi dan mereka menganggapnya tidak penting dan memutuskan untuk mengabaikannya. Mereka berpikir situasi atau permasalahan diatas adalah hal yang normal dan bisa hilang dengan sendirinya. Mereka mungkin berpikir “Saya ada lebih banyak hal penting di pekerjaan atau bisnis yang perlu diurus dan diselesaikan dibanding permasalahan anak dan keluarga” . Mereka kadang juga berpikir “Urusan anak dan keluarga kan urusan istri, urusan saya kerja dan cari uang”. Atau mereka berpikir “Akan saya tangani dan carikan solusi nanti setelah ada waktu, sekarang masih sibuk!”. Intinya kelompok pertama ini menganggap permasalahan atau situasi yang terjadi ini tidak penting dan mengabaikannya. Mereka tidak menyempatkan waktu untuk berpikir, menganalisa dan berdiskusi untuk mencari tahu penyebab dan solusi dari permasalahan yang terjadi.
2. Kelompok kedua adalah orang-orang yang sadar akan permasalahan yang terjadi dan memutuskan untuk mencari informasi dan solusi untuk mengatasinya. Orang-orang di kelompok kedua ini sadar dan mengerti bahwa keluarga dan anak adalah hal penting dalam hidup mereka. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga yang terjadi tidak cepat diselesaikan, bisa jadi masalah akan semakin membesar. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga tidak diselesaikan, hal ini juga akan menganggu karir atau bisnis mereka. Sehingga orang-orang di kelompok ini bersedia untuk belajar dan mendengarkan nasehat dari orang-orang yang sudah berpengalaman mengatasi permasalahan yang ada.
Pertanyaan untuk Anda: Termasuk kelompok yang manakah Anda? Kelompok pertama atau kelompok kedua?
Kami sangat sangat berharap Anda termasuk kelompok yang kedua. Kami di Tim Sekolah Orangtua telah bertemu dengan banyak klien yang dulunya adalah orang-orang yang berada di kelompok pertama. Mereka tahu ada permasalahan di keluarga atau anak mereka, menganggapnya tidak penting dan mengabaikannya. Ternyata masalah bukannya hilang tetapi malah menjadi semakin kompleks dan semakin parah. Umumnya saat sudah parah inilah, mereka baru mencari solusi. Tentu menyelesaikan masalah yang sudah parah dan kompleks jauh lebih sulit daripada menangani masalah saat awal. Kebanyakan mereka menyesal mengapa tidak dari dulu mencari solusi.
Contoh-contoh kasus permasalahan yang sudah terlanjur parah dan kompleks diantaranya seperti:
• Anak saat marah langsung memukul temannya atau memaki-maki dengan bahasa jorok.
• Anak jika tidak dituruti kemauannya menangis keras-keras dan bergulung-gulung di lantai sampai keinginannya dipenuhi.
• Anak tidak suka kumpul dengan orangtuanya. Lebih senang kumpul dengan suster atau temannya.
• Anak ikut gang sekolah dan bahkan terlibat narkoba.
• Anak sudah tidak mau mendengar nasehat orangtuanya. Jika dinasehati langsung pergi.
• Anak boros, semua uang jajan dan uang saku ludes, tidak bisa menabung sama sekali.
• Anak sudah dewasa tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja atau berbisnis. Maunya cuma santai-santai dan kumpul-kumpul dengan teman.
• Dan masih banyak lagi.
Permasalahan anak yang sudah parah juga sering diiringi dengan terjadinya pertengkaran dengan pasangan karena saling menyalahkan dan tidak satu visi dalam mendidik dan menasehati anak. Jika permasalahan sudah menjadi kompleks dan parah seperti ini, tentu tidaklah mudah untuk menyelesaikannya.
Oleh sebab itu kami di Tim Sekolah Orangtua sangat berharap Anda termasuk di kelompok kedua yaitu Anda sudah proaktif mencari informasi dan solusi saat permasalahan masih kecil atau masih tahap awal. Jauh lebih baik lagi Anda sudah belajar dan membekali diri dengan pengetahuan, alat-bantu dan kebijaksanaan sebelum terjadi permasalahan pada anak dan keluarga Anda. Peribahasa lama “sedia payung sebelum hujan” memang sangatlah tepat.
Kami di Sekolah Orangtua ingin Anda memiliki keluarga yang bahagia. Kami tidak ingin Anda menjalani kehidupan dengan ketidak-bahagiaan karena hidup sangatlah singkat. Kami tidak ingin Anda melewatkan waktu-waktu paling berharga di hidup Anda, yaitu bersama keluarga tercinta Anda.
Keluarga adalah tempat dimana Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Waktu-waktu bersama orang-orang yang Anda cintai adalah waktu-waktu yang berharga yang jangan sampai terlewatkan dalam hidup Anda. Tidak ada keberhasilan di karir dan bisnis yang bisa mengalahkan perasaan yang didapat dari keberhasilan membangun keluarga yang harmonis dan bahagia lahir batin.
Program Super Family Class dari Sekolah Orangtua dirancang untuk memberikan pengetahuan, kebijaksanaan dan alat-bantu ke para orangtua baik yang belum memiliki permasalahan maupun bagi orangtua yang sedang menghadapi permasalahan. Program ini dirancang berdasarkan pengalaman praktek lebih dari 12 tahun dalam menangani permasalahan anak dan keluarga, jadi minim teori yang hebat tapi sulit dipraktekkan.
Jadi apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan di Super Family Class?
• Apa hal –hal terpenting yang bisa membuat anak Anda sukses menjalani hidupnya namun jarang dilakukan oleh para orangtua.
• Bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dalam keluarga sehingga tiap anggota keluarga memiliki “inner motivation” untuk meraih yang terbaik bagi diri mereka dan keluarga?
• Bagaimana memunculkan dukungan dari anak-anak untuk mengaktifkan Wealth and Abundance Magnet dari orangtua?
• Memahami diri sendiri, anak dan pasangan sebagai jembatan membangun komunikasi efektif melalui tipologi kepribadian, pemenuhan tangki cinta dan kebutuhan emosi dasar.
• Memunculkan Inner Motivation dalam diri anak dan pasangan melalui “the magic of communication”
• Menciptakan “Super Family System” yang akan membuat setiap anggota keluarga termotivasi meraih yang terbaik dalam hidupnya
• Mengajarkan dan menanamkan kebiasaan dan prinsip pengelolaan uang yang benar ke anak sedini mungkin agar anak dapat sukses secara finansial saat dewasa nanti.
• Melakukan diagnosa harga diri anak dalam waktu 30 detik
• Menggunakan ‘rapor keluarga’ untuk memonitor perkembangan anggota keluarga
• Menggunakan ICT (Instant Change Technique) untuk :
o Menghilangkan emosi negatif dalam hitungan detik saat menghadapi anak atau situasi kehidupan lain
o Memeriksa apakah hasil terapi telah sampai dan diterima pikiran bawah sadar
o Memeriksa seberapa dalam keyakinan kita / anak kita akan suatu impian / goal / target dan bagaimana mengoreksinya apabila tidak sesuai
o Meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan diri menjalani kehidupan
Program Super Family Class merupakan program pembelajaran terpadu selama 8 bulan dimana peserta akan mempelajari materi dari berbagai format, yaitu:
• Sesi tatap muka selama 2 hari. Kelas kami batasi agar lebih efektif karena terdapat sesi terapi bagi para orangtua.
• Pembelajaran secara online yaitu akses ke Super Family Online Class via internet dimana tim Sekolah Orangtua telah menyusun kurikulum training selama 34 minggu (8 ½ bulan). Anda juga dapat melakukan tanya-jawab tentang materi yang ada ke Tim Sekolah Orangtua.
• DVD Video dan CD Audio yang menjadi pendukung materi Super Family Class.
Program Super Family Class ini akan menjadikan keluarga Anda sebagai sebuah Super Family!
Jadwal Super Family Class terdekat
Jakarta:
Hari/Tanggal : Sabtu & Minggu - 28 dan 29 Agustus 2010
Waktu : 08.00 – 17.00
Trainer dan narasumber:
• Ariesandi Setyono, CHt (Penulis buku laris Hypnoparenting, Mathemagics, Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia, Pendiri Sekolah Orangtua dan Akademi Hipnoterapi Indonesia, Family Hypnotherapist yang aktif menangani klien sejak 1995)
• Sukarto, S.Kom - Pendiri Sekolah Orangtua dan Pakar di bidang Smart Financial for Children
Investasi:
• Rp 2.500.000,- per orang
• Harga Khusus Rp 4.000.000,- untuk 2 orang untuk kehadiran bersama pasangan (suami/istri) - Hemat Rp 1.000.000,- dari harga normal.
Sudah termasuk:
• 1 x Makan Siang dan 2 x Coffee Break
• Akses ke Super Family Online Class (Gold level) selama 34 minggu (8 ½ bulan) senilai Rp 1.000.000,- sebagai pelengkap materi Super Family Class yang diajarkan di sesi tatap muka.
• Produk Sekolah Orangtua senilai Rp 200.000,- sebagai pelengkap materi Super Family Class yang diajarkan di sesi tatap muka.
Silahkan isi form pendaftaran di bawah ini dengan lengkap:
Email : *
Nama Lengkap : *
Batch : Jakarta (28-29 Agustus 2010)*
Datang Sendiri / Berpasangan : Sendiri Berpasangan *
Informasi Data Pribadi Anda
No. Handphone : *
Alamat : *
Kota : *
Kode Pos : *
Propinsi : *
Informasi Data Pasangan Anda (Bila Mendaftar Berpasangan)
Email : *
Nama Lengkap : *
No. Handphone : *
Masukkan kombinasi huruf & angka yang tertera :
* Wajib diisi
Hubungi Customer Service Sekolah Orangtua jika mengalami kesulitan
• Via email ke CS@sekolahorangtua.com
• Via telpon ke 031-71559997, 031-5941439
• Via SMS ke 0819807601
• Via Yahoo Messenger
Copyright © 2009 SekolahOrangtua.com - Pusat Pendidikan Keluarga. All Rights Reserved.
Customer Service: Telp 031-5941439 / 031-7155 9997 - SMS: 0819 807601 - Support Dept
Kenyataannya Lebih Dari 90% Orangtua Tidak Memiliki Pengetahuan,
Ketrampilan dan Kebijaksanaan untuk Mengatasi Permasalahan Keluarga
yang Terjadi maupun untuk Mewujudkan Keluarga yang Harmonis,
Sukses dan Bahagia Lahir Batin
Jika keluarga dan masa depan anak merupakan hal penting bagi hidup Anda,
Apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan dengan mengikuti program
Super Family Class akan merupakan harta karun tak ternilai yang akan
Anda rasakan manfaatnya sepanjang hidup Anda!
Tanggal : 1 July 2010
Dari : Tim Sekolah Orangtua
Sebelum kami menjelaskan apa itu Super Family Class, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda.
Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda:
• Tidak mudah menuruti perintah orangtua?
• Malas dan tidak termotivasi belajar?
• Merasa tanpa beban walau ulangannya jelek?
• Sering menjadi “pelawak” atau “nakal” untuk menarik perhatian?
• Mengatakan “tidak tahu” , “malas ah”, atau “biasa” kalau Anda bertanya sesuatu?
Dan apakah Anda sendiri sering merasa :
• Tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan anak?
• Karir dan pekerjaan Anda tak bisa optimal karena memikirkan masalah anak?
• Komunikasi dengan anak dan pasangan terasa hambar dan dingin?
• Menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas belaka?
Anda pernah mengalami hal-hal dan permasalahan diatas dalam kehidupan berumah-tangga Anda, bukan?
Anda boleh sedikit lega karena mayoritas orang dewasa yang berumah-tangga pernah mengalami situasi yang sama. Tetapi berdasarkan respon menghadapi situasi diatas, orang bisa dibagi atas 2 kategori yaitu:
1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sadar akan adanya permasalahan yang terjadi dan mereka menganggapnya tidak penting dan memutuskan untuk mengabaikannya. Mereka berpikir situasi atau permasalahan diatas adalah hal yang normal dan bisa hilang dengan sendirinya. Mereka mungkin berpikir “Saya ada lebih banyak hal penting di pekerjaan atau bisnis yang perlu diurus dan diselesaikan dibanding permasalahan anak dan keluarga” . Mereka kadang juga berpikir “Urusan anak dan keluarga kan urusan istri, urusan saya kerja dan cari uang”. Atau mereka berpikir “Akan saya tangani dan carikan solusi nanti setelah ada waktu, sekarang masih sibuk!”. Intinya kelompok pertama ini menganggap permasalahan atau situasi yang terjadi ini tidak penting dan mengabaikannya. Mereka tidak menyempatkan waktu untuk berpikir, menganalisa dan berdiskusi untuk mencari tahu penyebab dan solusi dari permasalahan yang terjadi.
2. Kelompok kedua adalah orang-orang yang sadar akan permasalahan yang terjadi dan memutuskan untuk mencari informasi dan solusi untuk mengatasinya. Orang-orang di kelompok kedua ini sadar dan mengerti bahwa keluarga dan anak adalah hal penting dalam hidup mereka. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga yang terjadi tidak cepat diselesaikan, bisa jadi masalah akan semakin membesar. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga tidak diselesaikan, hal ini juga akan menganggu karir atau bisnis mereka. Sehingga orang-orang di kelompok ini bersedia untuk belajar dan mendengarkan nasehat dari orang-orang yang sudah berpengalaman mengatasi permasalahan yang ada.
Pertanyaan untuk Anda: Termasuk kelompok yang manakah Anda? Kelompok pertama atau kelompok kedua?
Kami sangat sangat berharap Anda termasuk kelompok yang kedua. Kami di Tim Sekolah Orangtua telah bertemu dengan banyak klien yang dulunya adalah orang-orang yang berada di kelompok pertama. Mereka tahu ada permasalahan di keluarga atau anak mereka, menganggapnya tidak penting dan mengabaikannya. Ternyata masalah bukannya hilang tetapi malah menjadi semakin kompleks dan semakin parah. Umumnya saat sudah parah inilah, mereka baru mencari solusi. Tentu menyelesaikan masalah yang sudah parah dan kompleks jauh lebih sulit daripada menangani masalah saat awal. Kebanyakan mereka menyesal mengapa tidak dari dulu mencari solusi.
Contoh-contoh kasus permasalahan yang sudah terlanjur parah dan kompleks diantaranya seperti:
• Anak saat marah langsung memukul temannya atau memaki-maki dengan bahasa jorok.
• Anak jika tidak dituruti kemauannya menangis keras-keras dan bergulung-gulung di lantai sampai keinginannya dipenuhi.
• Anak tidak suka kumpul dengan orangtuanya. Lebih senang kumpul dengan suster atau temannya.
• Anak ikut gang sekolah dan bahkan terlibat narkoba.
• Anak sudah tidak mau mendengar nasehat orangtuanya. Jika dinasehati langsung pergi.
• Anak boros, semua uang jajan dan uang saku ludes, tidak bisa menabung sama sekali.
• Anak sudah dewasa tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja atau berbisnis. Maunya cuma santai-santai dan kumpul-kumpul dengan teman.
• Dan masih banyak lagi.
Permasalahan anak yang sudah parah juga sering diiringi dengan terjadinya pertengkaran dengan pasangan karena saling menyalahkan dan tidak satu visi dalam mendidik dan menasehati anak. Jika permasalahan sudah menjadi kompleks dan parah seperti ini, tentu tidaklah mudah untuk menyelesaikannya.
Oleh sebab itu kami di Tim Sekolah Orangtua sangat berharap Anda termasuk di kelompok kedua yaitu Anda sudah proaktif mencari informasi dan solusi saat permasalahan masih kecil atau masih tahap awal. Jauh lebih baik lagi Anda sudah belajar dan membekali diri dengan pengetahuan, alat-bantu dan kebijaksanaan sebelum terjadi permasalahan pada anak dan keluarga Anda. Peribahasa lama “sedia payung sebelum hujan” memang sangatlah tepat.
Kami di Sekolah Orangtua ingin Anda memiliki keluarga yang bahagia. Kami tidak ingin Anda menjalani kehidupan dengan ketidak-bahagiaan karena hidup sangatlah singkat. Kami tidak ingin Anda melewatkan waktu-waktu paling berharga di hidup Anda, yaitu bersama keluarga tercinta Anda.
Keluarga adalah tempat dimana Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Waktu-waktu bersama orang-orang yang Anda cintai adalah waktu-waktu yang berharga yang jangan sampai terlewatkan dalam hidup Anda. Tidak ada keberhasilan di karir dan bisnis yang bisa mengalahkan perasaan yang didapat dari keberhasilan membangun keluarga yang harmonis dan bahagia lahir batin.
Program Super Family Class dari Sekolah Orangtua dirancang untuk memberikan pengetahuan, kebijaksanaan dan alat-bantu ke para orangtua baik yang belum memiliki permasalahan maupun bagi orangtua yang sedang menghadapi permasalahan. Program ini dirancang berdasarkan pengalaman praktek lebih dari 12 tahun dalam menangani permasalahan anak dan keluarga, jadi minim teori yang hebat tapi sulit dipraktekkan.
Jadi apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan di Super Family Class?
• Apa hal –hal terpenting yang bisa membuat anak Anda sukses menjalani hidupnya namun jarang dilakukan oleh para orangtua.
• Bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dalam keluarga sehingga tiap anggota keluarga memiliki “inner motivation” untuk meraih yang terbaik bagi diri mereka dan keluarga?
• Bagaimana memunculkan dukungan dari anak-anak untuk mengaktifkan Wealth and Abundance Magnet dari orangtua?
• Memahami diri sendiri, anak dan pasangan sebagai jembatan membangun komunikasi efektif melalui tipologi kepribadian, pemenuhan tangki cinta dan kebutuhan emosi dasar.
• Memunculkan Inner Motivation dalam diri anak dan pasangan melalui “the magic of communication”
• Menciptakan “Super Family System” yang akan membuat setiap anggota keluarga termotivasi meraih yang terbaik dalam hidupnya
• Mengajarkan dan menanamkan kebiasaan dan prinsip pengelolaan uang yang benar ke anak sedini mungkin agar anak dapat sukses secara finansial saat dewasa nanti.
• Melakukan diagnosa harga diri anak dalam waktu 30 detik
• Menggunakan ‘rapor keluarga’ untuk memonitor perkembangan anggota keluarga
• Menggunakan ICT (Instant Change Technique) untuk :
o Menghilangkan emosi negatif dalam hitungan detik saat menghadapi anak atau situasi kehidupan lain
o Memeriksa apakah hasil terapi telah sampai dan diterima pikiran bawah sadar
o Memeriksa seberapa dalam keyakinan kita / anak kita akan suatu impian / goal / target dan bagaimana mengoreksinya apabila tidak sesuai
o Meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan diri menjalani kehidupan
Program Super Family Class merupakan program pembelajaran terpadu selama 8 bulan dimana peserta akan mempelajari materi dari berbagai format, yaitu:
• Sesi tatap muka selama 2 hari. Kelas kami batasi agar lebih efektif karena terdapat sesi terapi bagi para orangtua.
• Pembelajaran secara online yaitu akses ke Super Family Online Class via internet dimana tim Sekolah Orangtua telah menyusun kurikulum training selama 34 minggu (8 ½ bulan). Anda juga dapat melakukan tanya-jawab tentang materi yang ada ke Tim Sekolah Orangtua.
• DVD Video dan CD Audio yang menjadi pendukung materi Super Family Class.
Apakah Keluarga dan Masa Depan Anak
Merupakan Hal Penting Bagi Anda?
Walaupun Hampir Semua Orangtua Akan Mengatakan “YA, TENTU SAJA!”,
Kenyataannya Lebih Dari 90% Orangtua Tidak Memiliki Pengetahuan,
Ketrampilan dan Kebijaksanaan untuk Mengatasi Permasalahan Keluarga
yang Terjadi maupun untuk Mewujudkan Keluarga yang Harmonis,
Sukses dan Bahagia Lahir Batin
Jika keluarga dan masa depan anak merupakan hal penting bagi hidup Anda,
Apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan dengan mengikuti program
Super Family Class akan merupakan harta karun tak ternilai yang akan
Anda rasakan manfaatnya sepanjang hidup Anda!
Tanggal : 1 July 2010
Dari : Tim Sekolah Orangtua
Sebelum kami menjelaskan apa itu Super Family Class, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda.
Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda:
• Tidak mudah menuruti perintah orangtua?
• Malas dan tidak termotivasi belajar?
• Merasa tanpa beban walau ulangannya jelek?
• Sering menjadi “pelawak” atau “nakal” untuk menarik perhatian?
• Mengatakan “tidak tahu” , “malas ah”, atau “biasa” kalau Anda bertanya sesuatu?
Dan apakah Anda sendiri sering merasa :
• Tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan anak?
• Karir dan pekerjaan Anda tak bisa optimal karena memikirkan masalah anak?
• Komunikasi dengan anak dan pasangan terasa hambar dan dingin?
• Menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas belaka?
Anda pernah mengalami hal-hal dan permasalahan diatas dalam kehidupan berumah-tangga Anda, bukan?
Anda boleh sedikit lega karena mayoritas orang dewasa yang berumah-tangga pernah mengalami situasi yang sama. Tetapi berdasarkan respon menghadapi situasi diatas, orang bisa dibagi atas 2 kategori yaitu:
1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sadar akan adanya permasalahan yang terjadi dan mereka menganggapnya tidak penting dan memutuskan untuk mengabaikannya. Mereka berpikir situasi atau permasalahan diatas adalah hal yang normal dan bisa hilang dengan sendirinya. Mereka mungkin berpikir “Saya ada lebih banyak hal penting di pekerjaan atau bisnis yang perlu diurus dan diselesaikan dibanding permasalahan anak dan keluarga” . Mereka kadang juga berpikir “Urusan anak dan keluarga kan urusan istri, urusan saya kerja dan cari uang”. Atau mereka berpikir “Akan saya tangani dan carikan solusi nanti setelah ada waktu, sekarang masih sibuk!”. Intinya kelompok pertama ini menganggap permasalahan atau situasi yang terjadi ini tidak penting dan mengabaikannya. Mereka tidak menyempatkan waktu untuk berpikir, menganalisa dan berdiskusi untuk mencari tahu penyebab dan solusi dari permasalahan yang terjadi.
2. Kelompok kedua adalah orang-orang yang sadar akan permasalahan yang terjadi dan memutuskan untuk mencari informasi dan solusi untuk mengatasinya. Orang-orang di kelompok kedua ini sadar dan mengerti bahwa keluarga dan anak adalah hal penting dalam hidup mereka. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga yang terjadi tidak cepat diselesaikan, bisa jadi masalah akan semakin membesar. Mereka juga sadar jika permasalahan anak dan keluarga tidak diselesaikan, hal ini juga akan menganggu karir atau bisnis mereka. Sehingga orang-orang di kelompok ini bersedia untuk belajar dan mendengarkan nasehat dari orang-orang yang sudah berpengalaman mengatasi permasalahan yang ada.
Pertanyaan untuk Anda: Termasuk kelompok yang manakah Anda? Kelompok pertama atau kelompok kedua?
Kami sangat sangat berharap Anda termasuk kelompok yang kedua. Kami di Tim Sekolah Orangtua telah bertemu dengan banyak klien yang dulunya adalah orang-orang yang berada di kelompok pertama. Mereka tahu ada permasalahan di keluarga atau anak mereka, menganggapnya tidak penting dan mengabaikannya. Ternyata masalah bukannya hilang tetapi malah menjadi semakin kompleks dan semakin parah. Umumnya saat sudah parah inilah, mereka baru mencari solusi. Tentu menyelesaikan masalah yang sudah parah dan kompleks jauh lebih sulit daripada menangani masalah saat awal. Kebanyakan mereka menyesal mengapa tidak dari dulu mencari solusi.
Contoh-contoh kasus permasalahan yang sudah terlanjur parah dan kompleks diantaranya seperti:
• Anak saat marah langsung memukul temannya atau memaki-maki dengan bahasa jorok.
• Anak jika tidak dituruti kemauannya menangis keras-keras dan bergulung-gulung di lantai sampai keinginannya dipenuhi.
• Anak tidak suka kumpul dengan orangtuanya. Lebih senang kumpul dengan suster atau temannya.
• Anak ikut gang sekolah dan bahkan terlibat narkoba.
• Anak sudah tidak mau mendengar nasehat orangtuanya. Jika dinasehati langsung pergi.
• Anak boros, semua uang jajan dan uang saku ludes, tidak bisa menabung sama sekali.
• Anak sudah dewasa tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja atau berbisnis. Maunya cuma santai-santai dan kumpul-kumpul dengan teman.
• Dan masih banyak lagi.
Permasalahan anak yang sudah parah juga sering diiringi dengan terjadinya pertengkaran dengan pasangan karena saling menyalahkan dan tidak satu visi dalam mendidik dan menasehati anak. Jika permasalahan sudah menjadi kompleks dan parah seperti ini, tentu tidaklah mudah untuk menyelesaikannya.
Oleh sebab itu kami di Tim Sekolah Orangtua sangat berharap Anda termasuk di kelompok kedua yaitu Anda sudah proaktif mencari informasi dan solusi saat permasalahan masih kecil atau masih tahap awal. Jauh lebih baik lagi Anda sudah belajar dan membekali diri dengan pengetahuan, alat-bantu dan kebijaksanaan sebelum terjadi permasalahan pada anak dan keluarga Anda. Peribahasa lama “sedia payung sebelum hujan” memang sangatlah tepat.
Kami di Sekolah Orangtua ingin Anda memiliki keluarga yang bahagia. Kami tidak ingin Anda menjalani kehidupan dengan ketidak-bahagiaan karena hidup sangatlah singkat. Kami tidak ingin Anda melewatkan waktu-waktu paling berharga di hidup Anda, yaitu bersama keluarga tercinta Anda.
Keluarga adalah tempat dimana Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Waktu-waktu bersama orang-orang yang Anda cintai adalah waktu-waktu yang berharga yang jangan sampai terlewatkan dalam hidup Anda. Tidak ada keberhasilan di karir dan bisnis yang bisa mengalahkan perasaan yang didapat dari keberhasilan membangun keluarga yang harmonis dan bahagia lahir batin.
Program Super Family Class dari Sekolah Orangtua dirancang untuk memberikan pengetahuan, kebijaksanaan dan alat-bantu ke para orangtua baik yang belum memiliki permasalahan maupun bagi orangtua yang sedang menghadapi permasalahan. Program ini dirancang berdasarkan pengalaman praktek lebih dari 12 tahun dalam menangani permasalahan anak dan keluarga, jadi minim teori yang hebat tapi sulit dipraktekkan.
Jadi apa yang akan Anda pelajari dan dapatkan di Super Family Class?
• Apa hal –hal terpenting yang bisa membuat anak Anda sukses menjalani hidupnya namun jarang dilakukan oleh para orangtua.
• Bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dalam keluarga sehingga tiap anggota keluarga memiliki “inner motivation” untuk meraih yang terbaik bagi diri mereka dan keluarga?
• Bagaimana memunculkan dukungan dari anak-anak untuk mengaktifkan Wealth and Abundance Magnet dari orangtua?
• Memahami diri sendiri, anak dan pasangan sebagai jembatan membangun komunikasi efektif melalui tipologi kepribadian, pemenuhan tangki cinta dan kebutuhan emosi dasar.
• Memunculkan Inner Motivation dalam diri anak dan pasangan melalui “the magic of communication”
• Menciptakan “Super Family System” yang akan membuat setiap anggota keluarga termotivasi meraih yang terbaik dalam hidupnya
• Mengajarkan dan menanamkan kebiasaan dan prinsip pengelolaan uang yang benar ke anak sedini mungkin agar anak dapat sukses secara finansial saat dewasa nanti.
• Melakukan diagnosa harga diri anak dalam waktu 30 detik
• Menggunakan ‘rapor keluarga’ untuk memonitor perkembangan anggota keluarga
• Menggunakan ICT (Instant Change Technique) untuk :
o Menghilangkan emosi negatif dalam hitungan detik saat menghadapi anak atau situasi kehidupan lain
o Memeriksa apakah hasil terapi telah sampai dan diterima pikiran bawah sadar
o Memeriksa seberapa dalam keyakinan kita / anak kita akan suatu impian / goal / target dan bagaimana mengoreksinya apabila tidak sesuai
o Meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan diri menjalani kehidupan
Program Super Family Class merupakan program pembelajaran terpadu selama 8 bulan dimana peserta akan mempelajari materi dari berbagai format, yaitu:
• Sesi tatap muka selama 2 hari. Kelas kami batasi agar lebih efektif karena terdapat sesi terapi bagi para orangtua.
• Pembelajaran secara online yaitu akses ke Super Family Online Class via internet dimana tim Sekolah Orangtua telah menyusun kurikulum training selama 34 minggu (8 ½ bulan). Anda juga dapat melakukan tanya-jawab tentang materi yang ada ke Tim Sekolah Orangtua.
• DVD Video dan CD Audio yang menjadi pendukung materi Super Family Class.
Program Super Family Class ini akan menjadikan keluarga Anda sebagai sebuah Super Family!
Jadwal Super Family Class terdekat
Jakarta:
Hari/Tanggal : Sabtu & Minggu - 28 dan 29 Agustus 2010
Waktu : 08.00 – 17.00
Trainer dan narasumber:
• Ariesandi Setyono, CHt (Penulis buku laris Hypnoparenting, Mathemagics, Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia, Pendiri Sekolah Orangtua dan Akademi Hipnoterapi Indonesia, Family Hypnotherapist yang aktif menangani klien sejak 1995)
• Sukarto, S.Kom - Pendiri Sekolah Orangtua dan Pakar di bidang Smart Financial for Children
Investasi:
• Rp 2.500.000,- per orang
• Harga Khusus Rp 4.000.000,- untuk 2 orang untuk kehadiran bersama pasangan (suami/istri) - Hemat Rp 1.000.000,- dari harga normal.
Sudah termasuk:
• 1 x Makan Siang dan 2 x Coffee Break
• Akses ke Super Family Online Class (Gold level) selama 34 minggu (8 ½ bulan) senilai Rp 1.000.000,- sebagai pelengkap materi Super Family Class yang diajarkan di sesi tatap muka.
• Produk Sekolah Orangtua senilai Rp 200.000,- sebagai pelengkap materi Super Family Class yang diajarkan di sesi tatap muka.
Silahkan isi form pendaftaran di bawah ini dengan lengkap:
Email : *
Nama Lengkap : *
Batch : Jakarta (28-29 Agustus 2010)*
Datang Sendiri / Berpasangan : Sendiri Berpasangan *
Informasi Data Pribadi Anda
No. Handphone : *
Alamat : *
Kota : *
Kode Pos : *
Propinsi : *
Informasi Data Pasangan Anda (Bila Mendaftar Berpasangan)
Email : *
Nama Lengkap : *
No. Handphone : *
Masukkan kombinasi huruf & angka yang tertera :
* Wajib diisi
Hubungi Customer Service Sekolah Orangtua jika mengalami kesulitan
• Via email ke CS@sekolahorangtua.com
• Via telpon ke 031-71559997, 031-5941439
• Via SMS ke 0819807601
• Via Yahoo Messenger
Copyright © 2009 SekolahOrangtua.com - Pusat Pendidikan Keluarga. All Rights Reserved.
Customer Service: Telp 031-5941439 / 031-7155 9997 - SMS: 0819 807601 - Support Dept
Pertengkaran Orangtua Menciptakan Hambatan Mental Pada Anak
Posted by CS SekolahOrangtua
Jam menunjukkan pukul 19.00 ketika seorang klien yang sebelumnya telah mengadakan janji temu masuk ke ruang terapi saya. “Selamat malam Pak…., apa kabar, apa yang dapat saya bantu untuk Bapak” sapa saya mengawali pembicaraan. Dengan suasana santai dan nyaman, klien tersebut kemudian menceritakan permasalahan yang tengah dialami seputar usaha pribadi yang dimilikinya.
“Saya bukan berasal dari keluarga kaya Pak” lanjutnya dalam pembicaraan kami. “Semuanya saya awali dari nol dengan modal usaha yang sangat minim”. “Hingga akhirnya saya dapat terus berkembang membangun usaha sendiri yang saat ini memiliki banyak cabang di Jogjakarta”.
Dari cerita klien tersebut saya kemudian justru mendapatkan satu inspirasi yang sangat luar biasa. Berawal dari statusnya yang hanya sebagai pegawai biasa di sebuah counter handphone dengan gaji pas-pas an hingga akhirnya memiliki usaha sendiri dengan banyak cabang, ditambah beberapa mobil dan rumah mewah, dengan usia yang relatif masih muda, jauh dibawah saya. Wow menarik bukan?
“Beberapa waktu ini usaha yang saya jalankan sedikit mengalami hambatan, Pak” ujarnya. “Saya merasa bahwa harusnya saya bisa lebih maju dan berkembang. Namun sekarang ini rasanya kok mandek ya, stuck nggak bergerak. Masa dalam dua tahun terakhir ini tidak ada perkembangan sama sekali?”….. “Memang sih hasilnya masih cukup baik, namun dengan kapasitas modal dan karyawan yang ada, harusnya terjadi peningkatan juga dalam usaha saya ini. Kalau tidak nanti ke depannya akan semakin berat dalam persaingan”
Pembicaraan terus berlanjut dan saya mencoba menggali informasi lebih banyak lagi. Pada akhirnya saya menemukan suatu penjelasan yang cukup unik yang saya rasakan sebagai sumber penyebab dari tidak berkembangnya usaha yang dijalankan tersebut.
Begini ceritanya, setelah menempati kantor baru sebagai pusat kegiatan usahanya tiga tahun lalu, banyak rekan dan sahabat yang datang berkunjung hampir setiap hari. Wajar saja bila pada akhirnya mereka sangat kagum dengan perkembangan dan hasil yang telah dicapai oleh klien saya ini. Mengingat bagaimana kondisinya sejak awal merintis usaha, mungkin tidak salah bila saya istilahkan “from zero to hero” he he he… Mau tak mau pujianpun mengalir dari masing-masing teman dan sahabatnya. “Wah anda memang hebat ya Pak”, “Sukses yang luar biasa Pak”, “Bisnis anda sangat besar sekali” adalah beberapa komentar dan pujian yang sering disampaikan padanya.
Namun bagaimana cara klien saya menanggapinya ternyata justru menjadi bumerang di kemudian hari yang tidak pernah disadarinya. “Ah enggak kok” jawabnya. Atau “Biasa aja lah”, “Jangan terlalu memuji”, “Saya masih belum apa-apa”, “Ah saya nggak ada apa-apanya”, jawaban-jawaban inilah yang sering dan berkali-kali klien saya ucapkan menanggapi pujian-pujian tersebut. Dan itu terus berlanjut hingga saat sebelum bertemu saya.
Yang menarik adalah mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali? Bukankah ini memperkuat atau bahkan bisa menyebabkan mental blok baru? Sebab dengan mengacu pada prinsip kerja pikiran, sesuatu yang dilakukan berulang kali (repetisi) secara konsisten, maka hal tersebut dapat menjadi suatu hal yang diyakini (belief). Dalam konteks bila keyakinan itu bersifat negatif, secara otomatis akan menjadi mental block yang menghambat kemajuan diri kita dan apa yang kita lakukan.
Nah saya mulai menggali lebih dalam mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali. Saya menanyakan beberapa pertanyaan untuk mempertajam analisa dan dugaan saya tentang proses terbentuknya mental blok itu. Saya tanya lebih detail apa perasaannya saat mengucapkan kalimat tersebut sebab bila kita perhatikan jawaban-jawaban yang diberikan klien saya ini dalam menanggapi pujian yang ditujukan kepadanya, semuanya berkonotasi negatif bukan?
Saya paham bahwa sebagai orang timur dan khususnya karena klien saya ini berasal dari Jogjakarta, mungkin maksud dari jawaban tersebut adalah untuk menunjukkan kerendahan hati dan menghindari kesan sombong atau tinggi hati. Namun intuisi saya sebagai terapis menangkap sesuatu yang sepertinya menjadi petunjuk penting untuk menyelesaikan kasus ini. Lagi pula suatu kalimat yang diulang berkali-kali dapat berubah menjadi belief dan mental blok yang benar-benar diwujudkan secara tidak sadar. Bahwa usahanya itu masih biasa saja, masih belum apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Disinilah terjadi proses sabotase diri yang tidak pernah disadari klien sama sekali.
Singkat cerita saya kemudian melakukan terapi pada klien saya tersebut untuk menghilangkan belief dan mental blok yang menjadi penghambat kemajuan usahanya.
Dengan salah satu tehnik terapi yang saya pelajari di kelas Akademi Hipnoterapi Indonesia, saya menemukan root cause atau akar permasalahan yang menyebabkan atau melatar belakangi ucapan-ucapan tersebut.
Ternyata kejadian yang memicu semua ini dialami oleh klien saya pada saat dia berusia delapan tahun. Klien melihat pertengkaran kedua orangtuanya untuk yang kesekian kalinya. Namun yang kali ini dilihatnya adalah yang paling heboh dan seru hingga akhirnya kedua orangtuanya bercerai dan usaha mereka mengalami kebangkrutan.
Kejadian ini begitu membekas, memunculkan perasaan tidak berdaya, tidak mampu, tidak percaya diri, tidak dapat berbuat apa-apa atas peristiwa yang terjadi. Sebagai seorang anak ia tentu mengharapkan kedua orangtuanya rukun. Namun apa daya ia tak sanggup membuat itu terjadi. Dan …… bennnnngggggg! Sebuah perasaan tak mampu terbentuk melalui serangkaian self talk pada anak tak berdaya ini. Ditambah dengan emosi negatif yang dirasakan saat itu maka lengkaplah sudah proses terbentuknya citra diri pada si anak. Citra diri – saya tak mampu, saya biasa saja – ini tertanam kuat dalam memori pikiran dan berguna sebagai landasan berpikir dan bertindak saat anak kecil 8 tahun ini beranjak dewasa.
Citra diri inilah yang kelak akan terwujud dalam kehidupan seseorang. Ini seperti sebuah ramalah yang menjadi kenyataan.
Akhirnya saya membantu klien melihat kejadian itu dengan sudut pandang berbeda dan kemudian memaknai ulang peristiwa tersebut dengan kesadaran dewasanya. Lalu setelah itu saya minta klien membantuk gambaran mental baru yang ia inginkan dengan teknik tertentu juga yang terlalu teknik diceritakan di sini. Singkat cerita terapi berakhir dan klien merasa plong. Seakan sebuah batu besar yang selama ini digendong kemana-mana telah diletakkan dan tak perlu dibawa lagi.
Dua bulan setelah sesi terapi berakhir, di awal Juni 2010 saya mendapatkan kabar bahwa usaha yang dijalankan oleh klien saya mulai ada peningkatan dan berjalan sesuai yang diharapkan. Pesanan tiba-tiba saja datang dari pihak-pihak yang tidak pernah berhubungan sama sekali. Bahkan kinerja karyawan pun membaik. Malah pada akhirnya klien saya ini menyampaikan bahwa dia sedang mengatur waktu dan meminta saya untuk memberikan training beserta sesi terapi untuk keseluruhan karyawannya.
Kasus klien saya ini mengingatkan saya pada cerita Aladin dan lampu wasiat. Dimana Sang Jin akan mewujudkan dan mengabulkan permintaan yang disampaikan. “Your wish is my command”.
Demikian juga dengan hukum yang ada di alam semesta ini. Bukankah apa yang kita pikirkan dan ucapkan adalah apa yang akan kita dapatkan dan diwujudkan dalam hidup kita? Oleh karenanya berhati-hatilah dengan apa yang Anda pikirkan dan ucapkan, karena semuanya dapat menjadi suatu keyakinan yang akan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dan setelah menyadari dampak dari ucapan dan pikiran yang muncul maka carilah dengan kesadaran diri awal mula mengapa itu terjadi. Tak ada sebuah akibat terjadi tanpa sebab, betul?
Bagaimana jika kesadaran diri kita tak sanggup menjangkau area dimana penyebab itu terjadi? Nah itulah saatnya kita membutuhkan pihak profesional untuk mencari dan melepaskan beban emosional tersebut.
Salam hangat penuh cinta untuk para orangtua Indonesia
Andreas S.(Certified Trainer Sekolah Orangtua Jogjakarta dan Champion Mindset Coach)
Jam menunjukkan pukul 19.00 ketika seorang klien yang sebelumnya telah mengadakan janji temu masuk ke ruang terapi saya. “Selamat malam Pak…., apa kabar, apa yang dapat saya bantu untuk Bapak” sapa saya mengawali pembicaraan. Dengan suasana santai dan nyaman, klien tersebut kemudian menceritakan permasalahan yang tengah dialami seputar usaha pribadi yang dimilikinya.
“Saya bukan berasal dari keluarga kaya Pak” lanjutnya dalam pembicaraan kami. “Semuanya saya awali dari nol dengan modal usaha yang sangat minim”. “Hingga akhirnya saya dapat terus berkembang membangun usaha sendiri yang saat ini memiliki banyak cabang di Jogjakarta”.
Dari cerita klien tersebut saya kemudian justru mendapatkan satu inspirasi yang sangat luar biasa. Berawal dari statusnya yang hanya sebagai pegawai biasa di sebuah counter handphone dengan gaji pas-pas an hingga akhirnya memiliki usaha sendiri dengan banyak cabang, ditambah beberapa mobil dan rumah mewah, dengan usia yang relatif masih muda, jauh dibawah saya. Wow menarik bukan?
“Beberapa waktu ini usaha yang saya jalankan sedikit mengalami hambatan, Pak” ujarnya. “Saya merasa bahwa harusnya saya bisa lebih maju dan berkembang. Namun sekarang ini rasanya kok mandek ya, stuck nggak bergerak. Masa dalam dua tahun terakhir ini tidak ada perkembangan sama sekali?”….. “Memang sih hasilnya masih cukup baik, namun dengan kapasitas modal dan karyawan yang ada, harusnya terjadi peningkatan juga dalam usaha saya ini. Kalau tidak nanti ke depannya akan semakin berat dalam persaingan”
Pembicaraan terus berlanjut dan saya mencoba menggali informasi lebih banyak lagi. Pada akhirnya saya menemukan suatu penjelasan yang cukup unik yang saya rasakan sebagai sumber penyebab dari tidak berkembangnya usaha yang dijalankan tersebut.
Begini ceritanya, setelah menempati kantor baru sebagai pusat kegiatan usahanya tiga tahun lalu, banyak rekan dan sahabat yang datang berkunjung hampir setiap hari. Wajar saja bila pada akhirnya mereka sangat kagum dengan perkembangan dan hasil yang telah dicapai oleh klien saya ini. Mengingat bagaimana kondisinya sejak awal merintis usaha, mungkin tidak salah bila saya istilahkan “from zero to hero” he he he… Mau tak mau pujianpun mengalir dari masing-masing teman dan sahabatnya. “Wah anda memang hebat ya Pak”, “Sukses yang luar biasa Pak”, “Bisnis anda sangat besar sekali” adalah beberapa komentar dan pujian yang sering disampaikan padanya.
Namun bagaimana cara klien saya menanggapinya ternyata justru menjadi bumerang di kemudian hari yang tidak pernah disadarinya. “Ah enggak kok” jawabnya. Atau “Biasa aja lah”, “Jangan terlalu memuji”, “Saya masih belum apa-apa”, “Ah saya nggak ada apa-apanya”, jawaban-jawaban inilah yang sering dan berkali-kali klien saya ucapkan menanggapi pujian-pujian tersebut. Dan itu terus berlanjut hingga saat sebelum bertemu saya.
Yang menarik adalah mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali? Bukankah ini memperkuat atau bahkan bisa menyebabkan mental blok baru? Sebab dengan mengacu pada prinsip kerja pikiran, sesuatu yang dilakukan berulang kali (repetisi) secara konsisten, maka hal tersebut dapat menjadi suatu hal yang diyakini (belief). Dalam konteks bila keyakinan itu bersifat negatif, secara otomatis akan menjadi mental block yang menghambat kemajuan diri kita dan apa yang kita lakukan.
Nah saya mulai menggali lebih dalam mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali. Saya menanyakan beberapa pertanyaan untuk mempertajam analisa dan dugaan saya tentang proses terbentuknya mental blok itu. Saya tanya lebih detail apa perasaannya saat mengucapkan kalimat tersebut sebab bila kita perhatikan jawaban-jawaban yang diberikan klien saya ini dalam menanggapi pujian yang ditujukan kepadanya, semuanya berkonotasi negatif bukan?
Saya paham bahwa sebagai orang timur dan khususnya karena klien saya ini berasal dari Jogjakarta, mungkin maksud dari jawaban tersebut adalah untuk menunjukkan kerendahan hati dan menghindari kesan sombong atau tinggi hati. Namun intuisi saya sebagai terapis menangkap sesuatu yang sepertinya menjadi petunjuk penting untuk menyelesaikan kasus ini. Lagi pula suatu kalimat yang diulang berkali-kali dapat berubah menjadi belief dan mental blok yang benar-benar diwujudkan secara tidak sadar. Bahwa usahanya itu masih biasa saja, masih belum apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Disinilah terjadi proses sabotase diri yang tidak pernah disadari klien sama sekali.
Singkat cerita saya kemudian melakukan terapi pada klien saya tersebut untuk menghilangkan belief dan mental blok yang menjadi penghambat kemajuan usahanya.
Dengan salah satu tehnik terapi yang saya pelajari di kelas Akademi Hipnoterapi Indonesia, saya menemukan root cause atau akar permasalahan yang menyebabkan atau melatar belakangi ucapan-ucapan tersebut.
Ternyata kejadian yang memicu semua ini dialami oleh klien saya pada saat dia berusia delapan tahun. Klien melihat pertengkaran kedua orangtuanya untuk yang kesekian kalinya. Namun yang kali ini dilihatnya adalah yang paling heboh dan seru hingga akhirnya kedua orangtuanya bercerai dan usaha mereka mengalami kebangkrutan.
Kejadian ini begitu membekas, memunculkan perasaan tidak berdaya, tidak mampu, tidak percaya diri, tidak dapat berbuat apa-apa atas peristiwa yang terjadi. Sebagai seorang anak ia tentu mengharapkan kedua orangtuanya rukun. Namun apa daya ia tak sanggup membuat itu terjadi. Dan …… bennnnngggggg! Sebuah perasaan tak mampu terbentuk melalui serangkaian self talk pada anak tak berdaya ini. Ditambah dengan emosi negatif yang dirasakan saat itu maka lengkaplah sudah proses terbentuknya citra diri pada si anak. Citra diri – saya tak mampu, saya biasa saja – ini tertanam kuat dalam memori pikiran dan berguna sebagai landasan berpikir dan bertindak saat anak kecil 8 tahun ini beranjak dewasa.
Citra diri inilah yang kelak akan terwujud dalam kehidupan seseorang. Ini seperti sebuah ramalah yang menjadi kenyataan.
Akhirnya saya membantu klien melihat kejadian itu dengan sudut pandang berbeda dan kemudian memaknai ulang peristiwa tersebut dengan kesadaran dewasanya. Lalu setelah itu saya minta klien membantuk gambaran mental baru yang ia inginkan dengan teknik tertentu juga yang terlalu teknik diceritakan di sini. Singkat cerita terapi berakhir dan klien merasa plong. Seakan sebuah batu besar yang selama ini digendong kemana-mana telah diletakkan dan tak perlu dibawa lagi.
Dua bulan setelah sesi terapi berakhir, di awal Juni 2010 saya mendapatkan kabar bahwa usaha yang dijalankan oleh klien saya mulai ada peningkatan dan berjalan sesuai yang diharapkan. Pesanan tiba-tiba saja datang dari pihak-pihak yang tidak pernah berhubungan sama sekali. Bahkan kinerja karyawan pun membaik. Malah pada akhirnya klien saya ini menyampaikan bahwa dia sedang mengatur waktu dan meminta saya untuk memberikan training beserta sesi terapi untuk keseluruhan karyawannya.
Kasus klien saya ini mengingatkan saya pada cerita Aladin dan lampu wasiat. Dimana Sang Jin akan mewujudkan dan mengabulkan permintaan yang disampaikan. “Your wish is my command”.
Demikian juga dengan hukum yang ada di alam semesta ini. Bukankah apa yang kita pikirkan dan ucapkan adalah apa yang akan kita dapatkan dan diwujudkan dalam hidup kita? Oleh karenanya berhati-hatilah dengan apa yang Anda pikirkan dan ucapkan, karena semuanya dapat menjadi suatu keyakinan yang akan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dan setelah menyadari dampak dari ucapan dan pikiran yang muncul maka carilah dengan kesadaran diri awal mula mengapa itu terjadi. Tak ada sebuah akibat terjadi tanpa sebab, betul?
Bagaimana jika kesadaran diri kita tak sanggup menjangkau area dimana penyebab itu terjadi? Nah itulah saatnya kita membutuhkan pihak profesional untuk mencari dan melepaskan beban emosional tersebut.
Salam hangat penuh cinta untuk para orangtua Indonesia
Andreas S.(Certified Trainer Sekolah Orangtua Jogjakarta dan Champion Mindset Coach)
Paket Effective Communication in Parenting
Harga Spesial - PKT002
Tahukah Anda bahwa hampir 85% permasalahan pada anak terjadi akibat cara komunikasi orangtua yang salah?
Anak malas belajar, suka berbohong, tidak punya semangat, tidak disiplin dan minder adalah beberapa contoh permasalahan yang timbul akibat cara komunikasi orangtua yang salah ke anak.
Sedangkan orangtua yang mengerti cara berkomunikasi yang benar akan memiliki anak yang tumbuh percaya diri, disiplin, memiliki motivasi dari dalam diri dan akan mengalami minim permasalahan pada anaknya.
Paket Effective Communication in Parenting adalah kompilasi produk-produk terbaik kami tentang topik cara berkomunikasi secara benar dan efektif pada anak, baik komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Beberapa materi di dalam paket ini diambil dari Parenting Home Course.
Setiap anak adalah unik dan berbeda baik dari sisi kepribadian, karakter maupun kebutuhan emosinya. Di paket pembelajaran ini, Anda akan belajar dan mengetahui hal-hal seperti:
•
• Apa tipe kepribadian anak Anda sehingga Anda bisa mengetahui apa yang disukai atau dibenci oleh anak Anda. Anda juga akan mengerti bagaimana memberikan motivasi sesuai dengan tipe kepribadian anak Anda.
• Cara salah yang sering digunakan orangtua dalam menasehati anaknya sehingga anak bisa tumbuh menjadi seseorang yang sering ragu-ragu, tidak percaya diri dan sulit mengambil keputusan.
• Cara berkomunikasi agar anak bisa mendengarkan dan fokus dengan apa yang disampaikan orangtua.
• Apa bahasa cinta anak Anda? Mengetahui hal ini akan membuat anak Anda benar-benar merasa dicintai oleh orangtuanya.
Tahukah Anda bahwa hampir 85% permasalahan pada anak terjadi akibat cara komunikasi orangtua yang salah?
Anak malas belajar, suka berbohong, tidak punya semangat, tidak disiplin dan minder adalah beberapa contoh permasalahan yang timbul akibat cara komunikasi orangtua yang salah ke anak.
Sedangkan orangtua yang mengerti cara berkomunikasi yang benar akan memiliki anak yang tumbuh percaya diri, disiplin, memiliki motivasi dari dalam diri dan akan mengalami minim permasalahan pada anaknya.
Paket Effective Communication in Parenting adalah kompilasi produk-produk terbaik kami tentang topik cara berkomunikasi secara benar dan efektif pada anak, baik komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Beberapa materi di dalam paket ini diambil dari Parenting Home Course.
Setiap anak adalah unik dan berbeda baik dari sisi kepribadian, karakter maupun kebutuhan emosinya. Di paket pembelajaran ini, Anda akan belajar dan mengetahui hal-hal seperti:
•
• Apa tipe kepribadian anak Anda sehingga Anda bisa mengetahui apa yang disukai atau dibenci oleh anak Anda. Anda juga akan mengerti bagaimana memberikan motivasi sesuai dengan tipe kepribadian anak Anda.
• Cara salah yang sering digunakan orangtua dalam menasehati anaknya sehingga anak bisa tumbuh menjadi seseorang yang sering ragu-ragu, tidak percaya diri dan sulit mengambil keputusan.
• Cara berkomunikasi agar anak bisa mendengarkan dan fokus dengan apa yang disampaikan orangtua.
• Apa bahasa cinta anak Anda? Mengetahui hal ini akan membuat anak Anda benar-benar merasa dicintai oleh orangtuanya.
Menghadapi Ledakan Emosi Anak.
Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.
Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.
Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?
Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.
Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.
Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.
Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.
Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.
Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu, berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.
Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan
Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:
• Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
• Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti “Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?” atau “Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?”. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya “Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?” yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan “Tidak”.
• Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.
• Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.
• Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.
• Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
• Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.
Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.
Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan
Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.
Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.
Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.
Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.
Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.
Setelah Badai Kemarahan
Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata “Saya akan membantu menenangkanmu sekarang”. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.
Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.
Penjelasan detail mengenai hal ini bisa juga Anda dapatkan dalam materi Parents Club Multimedia Course dalam bentuk DVD/CD beserta petunjuk pelatihannya.
Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.
Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?
Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.
Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.
Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.
Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.
Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.
Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu, berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.
Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan
Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:
• Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
• Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti “Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?” atau “Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?”. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya “Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?” yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan “Tidak”.
• Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.
• Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.
• Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.
• Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
• Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.
Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.
Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan
Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.
Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.
Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.
Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.
Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.
Setelah Badai Kemarahan
Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata “Saya akan membantu menenangkanmu sekarang”. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.
Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.
Penjelasan detail mengenai hal ini bisa juga Anda dapatkan dalam materi Parents Club Multimedia Course dalam bentuk DVD/CD beserta petunjuk pelatihannya.
Selasa, 22 Juni 2010
“Kenapa Aku di uji ?”
“Kenapa Aku di uji ?”
Surah Al-Ankabut ayat 2-3
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang
yang dusta.
KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU
IDAM-IDAMKAN?
Surah Al-Baqarah ayat 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
Surah Al-Baqarah ayat 286
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
RASA FRUSTASI?
Surah Al-Imran ayat 139
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
Surah Al-Imran ayat 200
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah
supaya kamu beruntung.
BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
Surah Al-Baqarah ayat 45
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?
Surah At-Taubah ayat 111
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
Surah At-Taubah ayat 129
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal
AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!
Surah Yusuf ayat 87
“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.
Surah An-Nisaa' ayat 86
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah
(dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungkan segala sesuatu.
Subhanallah
Mari kita berbenah dan terus berbenah..untuk mempersembahkan yang terbaik
dalam masa hidup kita...
Dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah...
Dimanapun. kapanpun dan dengan siapapun..selama ALLAH SWT
menjadi "..just The ONE goal..“ Insya Allah akan "bahagia" sebagaimana doa
yang sering terlantun untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
Surah Al-Ankabut ayat 2-3
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang
yang dusta.
KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU
IDAM-IDAMKAN?
Surah Al-Baqarah ayat 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
Surah Al-Baqarah ayat 286
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
RASA FRUSTASI?
Surah Al-Imran ayat 139
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
Surah Al-Imran ayat 200
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah
supaya kamu beruntung.
BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
Surah Al-Baqarah ayat 45
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?
Surah At-Taubah ayat 111
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
Surah At-Taubah ayat 129
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal
AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!
Surah Yusuf ayat 87
“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.
Surah An-Nisaa' ayat 86
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah
(dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungkan segala sesuatu.
Subhanallah
Mari kita berbenah dan terus berbenah..untuk mempersembahkan yang terbaik
dalam masa hidup kita...
Dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah...
Dimanapun. kapanpun dan dengan siapapun..selama ALLAH SWT
menjadi "..just The ONE goal..“ Insya Allah akan "bahagia" sebagaimana doa
yang sering terlantun untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
Minggu, 20 Juni 2010
Juni 2010
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN I
Sekolah : SD
Mata Pelajaran Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar : 5.1 Menyederhanakan dan mengurutkan pecahan
Indikator : 5.1.1 Menyimpulkan cara menyederhanakan pecahan
5.1.2 Mengurutkan pecahan dengan benar
Alokasi Waktu : 2 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyederhanakan pecahan dengan cara membagi pembilang dan penyebut dengan
bilangan yang sama.
2. Siswa dapat menyederhanakan pecahan dengan menggunakan FPB.
3. Siswa dapat menyamakan penyebut pecahan.
4. Siswa dapat mengurutkan pecahan.
B. Materi Ajar
Bilangan pecahan
– Pecahan senilai
– Menyederhanakan pecahan
– Mengurutkan pecahan
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang pecahan.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan cara menyederhanakan
pecahan.
3. Tiap-tiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyederhanakan pecahan.
5. Siswa melakukan soal-soal latihan pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan
Heny Kusumawati, halaman 82.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Guru dan siswa melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali tentang pecahan senilai.
Motivasi : Memudahkan siswa dalam mengurutkan pecahan.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat mengurutkan pecahan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedang kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengurutkan pecahan.
5. Siswa diminta mencoba mengalikan suatu bilangan dengan cara bersusun di papan tulis.
6. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 77–86
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
4. Penggaris
F. Penilaian
Teknik : Tes t ertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrumen:
Sederhanakan pecahan-pecahan berikut!
1. 9/12 = . . . 4. 24/36 = . . .
2. 18/24 = . . . 5. 14/21 = . . .
3. 45/75 = . . .
Urutkan pecahan-pecahan berikut dari yang terkecil!
1. 2/7; 6/8; 3/10 urutannya . . . .
2. 5/12; 7/8; 3/2 urutannya . . . .
3. 3/6; 8/3; 6/5; 2/8 urutannya . . .
4. 6/5; 8/7; 3/2; 4/3 urutannya . . .
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN II
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 5.2 Mengubah bentuk pecahan ke bentuk desimal.
Indikator : 5.2.1 Mengubah pecahan biasa ke pecahan desimal atau sebaliknya.
Alokasi Waktu : 3 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengubah pecahan biasa ke pecahan desimal.
2. Siswa dapat mengubah pecahan desimal ke pecahan biasa.
B. Materi Ajar
Pecahan desimal
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Kesatu (1 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang pecahan.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara mengubah pecahan
biasa ke dalam bentuk pecahan desimal.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengubah pecahan biasa ke bentuk pecahan
desimal ke pecahan biasa.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
mengubah pecahan desimal ke pecahan biasa.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara mengubah pecahan
desimal ke bentuk pecahan biasa.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengubah pecahan desimal ke bentuk pecahan
biasa.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 87–89
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
F. Penilaian
Teknik : Tes t ertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrument :
1. Ubahlah pecahan berikut menjadi pecahan desimal.
a. 3/4 = . . . d. 2/5 = . . .
b. 5/8 = . . . e. 26/20 = . . .
c. 2/25
2. Ubahlah pecahan desimal berikut menjadi pecahan biasa yang paling sederhana.
a. 0,6 = . . .
b. 0,875 = . . .
c. 2,05 = . . .
d. 5,002 = . . .
e. 0,08 = . . .
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN III
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 5.3 Menentukan nilai pecahan dari suatu bilangan atau jumlah tertentu.
Indikator : 5.3.1 Menentukan nilai pecahan yang merupakan perbandingan antara
sebuah bilangan dan bilangan lain.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menentukan nilai pecahan dari suatu bilangan.
2. Siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan nilai pecahan dari suatu bilangan.
B. Materi Ajar
Nilai pecahan
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan penugasan.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang pecahan.
Motivasi : Materi ini akan membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai pecahan dari suatu
bilangan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan nilai pecahan dari suatu bilangan.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Guru dan siswa melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan nilai
pecahan dari suatu bulangan..
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedang kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan penyelesaian masalah yang berkaitan
dengan nilai pecahan dari suatu bilangan.
5. Siswa mengerjakan soal-soal yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 90–92
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
F. Penilaian
Teknik : Tes t ertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrumen
Kerjakan soal-soal berikut.
1. 1/4 × 20 = . . .
2. 3/5 × 35 = . . .
3. 5/6 × 54 = . . .
4. 3/8 × 72 = . . .
5. 5/7 × 49 = . . .
Mengetahui, Surabaya, 201
Kepala Sekolah Guru Kelas VI
SUGIYANTO,NS AMIRUL HIDAYATI
NIP.19561217 197907 1 002 NIP.19680830 200212 2 003
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IV
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : :5.4 Melakukan pengerjaan hitung yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
Indikator : 5.4.1 Menyelesaikan pengerjaan hitung penjumlahan dan pengurangan yang
melibatkan berbagai bentuk pecahan.
5.4.2 Menyelesaikan pengerjaan hitung perkalian dan pembagian yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
5.4.3 Menyelesaikan pengerjaan hitung campuran yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyelesaikan penjumlahan berbagai bentuk pecahan.
2. Siswa dapat menyelesaikan pengurangan berbagai bentuk pecahan.
3. Siswa dapat menyelesaikan perkalian berbagai bentuk pecahan.
4. Siswa dapat menyelesaikan pembagian berbagai bentuk pecahan
5. Siswa dapat menyelesaikan pengerjaan hitung campuran yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
B. Materi Ajar
Pengerjaan hitung bilangan pecahan
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan.
Motivasi : Apabila materi ini dapat dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan campuran.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
penjumlahan dan pengurangan pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 94.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali perkalian dan pembagian pecahan.
Motivasi : Materi ini akan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI31
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan perkalian dan pembagian pecahan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengerjakan perkalian dan pembagian pecahan pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 95.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali perkalian dan pembagian pecahan.
Motivasi : Mater ini akan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan perkalian dan pembagian pecahan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mennyelesaikan pengerjaan hitung campuran bilanga pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 95.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali pengerjaan hitung campuran.
Motivasi : Mater ini akan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan pengerjaan hitung campuran bilangan pecahan campuran.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mennyelesaikan pengerjaan hitung campuran bilangan pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 97.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 93–97
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrumen:
Isilah titik-titik di bawah dengan jawaban yang benar!
1. 3/4 + 0,125 – 87% = . . .
2. 5,62 – 5/8 + 3/10 = . . .
3. 1/2 + 0,3 × 0,25 – 3 1/4 : 0,5 = . . .
4. 0,75 + 2/3 × 0,2 : 3/6 = . . .
5. Titin mempunyai 1 1/4 meter pita. Ia membeli lagi 2 gulung pita. Setiap gulung pita panjangnya 2,75 meter. Panjang pita Titin semua ada . . . meter.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN V
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 5.5 Memecahkan masalah perbandingan dan skala.
Indikator : 5.5.1 Menyelesaikan masalah yang melibatkan perbandingan.
5.5.2 Menyelesaikan masalah yang melibatkan skala.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui salah satu nilai besaran yang dibandingkan.
2. Siswa dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui jumlah nilai kedua besaran yang dibandingkan.
3. Siswa dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui silisih nilai kedua besaran yang dibandingkan.
4. Siswa dapat menentukan jarak sebenarnya.
5. Siswa dapat menentukan jarak pada gambar.
6. Siswa dapat menentukan skala.
B. Materi Ajar
1. Perbandingan
2. Skala
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang perbandingan.
Motivasi : Apabila materi ini dapat dikuasai dengan baik, sangat membantu siswa dalam kehidupan sehari- hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui:
a. salah satu nilai besaran yang dibandingkan,
b. jumlah kedua nilai besaran yang dibandingkan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan perbandingan bila diketahui salah satu nilai besaran dan jumlah nilai kedua besaran yang dibandingkan.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 99.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengingat kembali tentang perbandingan.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang dapat diselesaikan dengan perbandingan.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan perbandingan bila diketahui selisih nilai kedua besaran yang dibandingkan.
3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
4. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
5. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan perbandingan bila diketahui selisih nilai
kedua besaran yang dibandingkan.
6. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengingat kembali tentang skala.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan skala.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan skala.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
skala.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 102.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 97–104
2. Peta
3. Kapur berwarna
4. Penggaris
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Uraian
Contoh instrumen:
1. Umur Ayu : umur Ani = 2 : 3. Jika umur Ayu 12 tahun, berapa tahun umur Ani?
2. Uang Amir 2/3 uang Burhan. Jumlah uang mereka Rp35.000,00. Berapa rupiah uang mereka masing- masing?
3. Jarak kota A ke kota B dalam peta 2 cm. Skala peta 1 : 7.500.000. Berapa km jarak kota A ke kota B sebenarnya?
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika VI
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 6. Menggunakan sistem koordinat dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 6.1 Membuat de nah letak benda.
Indikator : 6.1.1 Menggambar letak benda.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar koordinat.
2. Siswa dapat menentukan letak benda dalam bidang koordinat.
B. Materi Ajar
Bidang koordinat
– Membuat denah letak benda
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang skala.
Motivasi : Memudahkan siswa membuat denah.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat membuat denah letak benda.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara membuat denah letak benda.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 110.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengingat kembali tentang skala.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan denah.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menggambar letak benda.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menggambar letak benda.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 111.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 109–112
2. Buku matriks
3. Gambar peta
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Jawablah pertanyaan di bawah ini.
1. Gambarlah denah ruang sekolahmu,
2. Buatlah gambarnya pada kertas berukuran 25 × 30 cm.
3. Berilah keterangan masing-masing ruangannya.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 6. Menggunakan sistem koordinat dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 6.2 Mengenal koordinat posisi sebuah benda
Indikator : 6.2.1 Menentukan letak titik pada sistem koordinat.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menjelaskan fungsi sistem koordinat.
2. Siswa dapat menentukan letak titik pada bidang koordinat.
B. Materi Ajar
Mengenal letak koordinat suatu benda
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang koordinat.
Motivasi : Banyak kegiatan yang berkaitan dengan koordinat.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menjelaskan fungsi sistem koordinat.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menjelaskan fungsi sistem koordinat.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 115.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Konsep tentang koordinat banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menunjukkan letak titik pada sistem koordinat.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan letak titik pada sistem koordinat.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 115.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
38 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006
2. Buku matriks
3. Koordinat
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Tuliskan koordinat titik-titik berikut.
7
Titik A(. . ., . . .)
6
C
D 5 Titik B(. . ., . . .)
4 Titik C(. . ., . . .)
3 A Titik D(. . ., . . .)
2
E
1 B Titik E(. . ., . . .)
–7 –6 –5 –4 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 Titik F(. . ., . . .)
–1
Titik G(. . ., . . .)
–2
Titik H(. . ., . . .)
•F –3 I
–4 Titik I(. . ., . . .)
H J
G –5 Titik J(. . ., . . .)
–6
–7
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI39
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 6. Menggunakan sistem koordinat dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 6.3 Menentukan posisi titik dalam sistem koordinat Kartesius.
Indikator : 6.3.1 Membaca gambar pada bidang koordinat Kartesius.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menunjukkan titik pada bidang koordinat Kartesius.
2. Siswa dapat menggambar bangun datar pada bidang koordinat Kartesius.
B. Materi Ajar
Menggambar bangun datar pada bidang koordinat
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang sistem koordinat.
Motivasi : Banyak kegiatan yang berkaitan dengan koordinat.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan letak titik pada bidang koordinat
Kartesius.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan letak titik pada bidang koordinat Kartesius.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 117.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Dengan membahas tugas rumah, akan memudahkan siswa menggambar bangun datar pada bidang koordinat Kartesius.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menggambar bangun datar pada bidang koordiT Kartesius.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menggambar bangun datar pada bidang koordinat
Kartesius.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 120.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 116–120
2. Bidang koordinat Kartesius
3. Buku matriks
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Gambarkan pada bidang koordinat Kartesius titik-titik berikut. Hubungkan titik-titik tersebut. Gambar apa yang terbentuk?
1. A(–8, 1); B(–2, 1); C(–2, 7); D(–8, 7)
2. E(1, 2); F(8, 2); G(8, 7); H(1, 5)
3. K(–7, –2); L(–3, –2); M(–5, –6); N(–1, –6)
4. P(4, –9); Q(7, –3); R(4, –1); S(1, –3)
Y
9
8
7
6
5
4
3
2
1
X
–8 –7 –6 –5 –4 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
–1
–2
–3
–4
–5
–6
–7
–8
–9
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.1 Menyajikan data ke bentuk tabel dan diagram gambar, batang, dan lingkaran.
Indikator : 7.1.1 Mengidentifikasi data.
7.1.2 Menulis dan membaca data dalam bentuk tabel.
7.1.3 Menulis dan membaca data dalam bentuk diagram batang.
7.1.4 Menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengidentifikasi data.
2. Siswa dapat menulis dan membaca kata dalam bentuk tabel.
3. Siswa dapat menulis dan membaca data dalam bentuk diagram batang.
4. Siswa dapat menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
B. Materi Ajar
Menyajikan data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang data.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasi dengan baik, maka akan memudahkan siswa dalam menulis dan
membaca data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menulis dan membaca data dalam bentuk tabel.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara memenulis dan membaca data dalam bentuk tabel.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 123.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Konsep ini akan membantu siswa dalam menulis dan membaca data dalam bentuk diagram batang.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara menulis dan membaca dia gram batang.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menulis dan membaca diagram batang.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 125.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Konsep ini dapat membantu siswa dalam menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menulis dan membaca data dalam bentuk diagram
lingkaran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 125.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 123–125
2. Diagram batang dan diagram lingkaran
3. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
1. Kumpulkan data tentang hasil ulangan Matematika kelas VI.
2. Sajikan data tersebut ke dalam bentuk:
a. tabel,
b. diagram batang,
c. diagram lingkaran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI4
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.2 Menentukan rata-rata hitung dan modus sekumpulan data.
Indikator : 7.2.1 Menentukan nilai rata-rata sekumpulan data.
7.2.2 Menentukan modus sekumpulan data.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengolah data.
2. Siswa dapat menentukan nilai rata-rata sekumpulan data.
3. Siswa dapat menentukan nilai modus sekumpulan data.
B. Materi Ajar
Mengolah data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Siswa mengamati data.
Motivasi : Dengan mengamati data, siswa diharapkan mampu mengolah data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat mengolah data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengolah data.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengamati diagram.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, banyak kegiatan sehari-hari yang dapat diselesaikan
dengan diagram.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai rata-rata sekumpulan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyelesaikan nilai rata-rata sekumpulan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 127.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
44 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
--------------------------------------- 21
Pertemuan Ketiga (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengamati diagram.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai modus sekumpulan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan nilai modus sekumpulan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 126–128
2. Diagram batang dan diagram lingkaran
3. Tabel
4. Penggaris
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Uraian
Contoh instrumen:
Satu kompi pramuka terdiri atas 60 anak.
15 anak tingginya 125 cm
15 anak tingginya 130 cm
10 anak tingginya 135 cm
20 anak tingginya 140 cm
Tentukan:
a. Tinggi rata-ratanya.
b. Nilai modusnya.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI45
--------------------------------------- 22
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.3 Mengurutkan data termasuk menentukan nilai tertinggi dan terendah.
Indikator : 7.3.1 Menentukan nilai tertinggi sekumpulan data.
7.3.2 Menentukan nilai terendah sekumpulan data.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menentukan nilai tertinggi sekumpulan data.
2. Siswa dapat menentukan nilai terendah sekumpulan data.
B. Materi Ajar
Mengolah data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengamati sekumpulan data.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menentukan nilai tertinggi dan terendah
sekumpulan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menentukan nilai tertinggi dan terendah sekumpulan
data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Mengingat kembali tentang pengolahan data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat mengurutkan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengurutkan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
46 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
--------------------------------------- 23
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 126–128
2. Sekumpulan data
3. Diagram
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Uraian
Contoh instrumen:
Berikut ini data besar iuran sukarela dari 20 anak.
200, 250, 150, 350, 350
400, 200, 350, 150, 500
200, 400, 350, 300, 300
450, 200, 350, 250, 300
a. Berapa rupiah iuran terendah?
b. Berapa rupiah iuran tertinggi?
c. Urutkanlah mulai dari iuran yang terendah.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI47
--------------------------------------- 24
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.4 Menafsirkan hasil pengolahan data
Indikator : 7.4.1 Menemukan nilai terendah data.
7.4.2 Menemukan nilai tertinggi data.
7.4.3 Mengurutkan data.
7.4.4 Menenmukan nilai rata-rata.
7.4.5 Menemukan modus data.
7.4.6 Menuliskan dan membaca diagram.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan nilai terendah data.
2. Siswa dapat menemukan nilai tertinggi data.
3. Siswa dapat mengurutkan data.
4. Siswa dapat menemukan nilai rata-rata.
5. Siswa dapat menemukan modus data.
6. Siswa dapat menulis dan membaca diagram.
B. Materi Ajar
Pengolahan data
– Menafsirkan hasil pengolahan data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengamati sekumpulan data.
Motivasi : Dengan mengolah data, siswa diharapkan dapat menentukan nilai terendah dan nilai tertinggi
data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai terendah, nilai tertinggi, dan
mengurutkan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menentuka nilai tertinggi, nilai terendah, maupun
mengurutkan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengamati sekumpulan data.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan data.
48 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
--------------------------------------- 25
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai rata-rata dan modus data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan nilai rata-rata dan modus data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan diagram.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menulis dan membaca diagram.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menulis dan membaca diagram.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 131.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 126–131
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Nilai hasil ulangan 20 anak sebagai berikut.
6, 7, 8, 5, 5, 6, 7, 7, 8, 9
7, 6, 5, 7, 6, 7, 7, 9, 8, 7
1. Sajikan data dalam bentuk tabel.
2. Tentukan nilai terendahnya.
3. Tentukan nilai tertingginya.
4. Tentukan nilai rata-ratanya.
5. Tentukan modusnya.
6. Urutkan dari nilai yang terendah.
7. Gambarlah dalam bentuk diagram batang.
8. Gambarlah dalam bentuk diagram lingkaran.
Sekolah : SD
Mata Pelajaran Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar : 5.1 Menyederhanakan dan mengurutkan pecahan
Indikator : 5.1.1 Menyimpulkan cara menyederhanakan pecahan
5.1.2 Mengurutkan pecahan dengan benar
Alokasi Waktu : 2 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyederhanakan pecahan dengan cara membagi pembilang dan penyebut dengan
bilangan yang sama.
2. Siswa dapat menyederhanakan pecahan dengan menggunakan FPB.
3. Siswa dapat menyamakan penyebut pecahan.
4. Siswa dapat mengurutkan pecahan.
B. Materi Ajar
Bilangan pecahan
– Pecahan senilai
– Menyederhanakan pecahan
– Mengurutkan pecahan
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang pecahan.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan cara menyederhanakan
pecahan.
3. Tiap-tiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyederhanakan pecahan.
5. Siswa melakukan soal-soal latihan pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan
Heny Kusumawati, halaman 82.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Guru dan siswa melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali tentang pecahan senilai.
Motivasi : Memudahkan siswa dalam mengurutkan pecahan.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat mengurutkan pecahan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedang kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengurutkan pecahan.
5. Siswa diminta mencoba mengalikan suatu bilangan dengan cara bersusun di papan tulis.
6. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 77–86
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
4. Penggaris
F. Penilaian
Teknik : Tes t ertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrumen:
Sederhanakan pecahan-pecahan berikut!
1. 9/12 = . . . 4. 24/36 = . . .
2. 18/24 = . . . 5. 14/21 = . . .
3. 45/75 = . . .
Urutkan pecahan-pecahan berikut dari yang terkecil!
1. 2/7; 6/8; 3/10 urutannya . . . .
2. 5/12; 7/8; 3/2 urutannya . . . .
3. 3/6; 8/3; 6/5; 2/8 urutannya . . .
4. 6/5; 8/7; 3/2; 4/3 urutannya . . .
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN II
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 5.2 Mengubah bentuk pecahan ke bentuk desimal.
Indikator : 5.2.1 Mengubah pecahan biasa ke pecahan desimal atau sebaliknya.
Alokasi Waktu : 3 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengubah pecahan biasa ke pecahan desimal.
2. Siswa dapat mengubah pecahan desimal ke pecahan biasa.
B. Materi Ajar
Pecahan desimal
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Kesatu (1 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang pecahan.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara mengubah pecahan
biasa ke dalam bentuk pecahan desimal.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengubah pecahan biasa ke bentuk pecahan
desimal ke pecahan biasa.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
mengubah pecahan desimal ke pecahan biasa.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara mengubah pecahan
desimal ke bentuk pecahan biasa.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengubah pecahan desimal ke bentuk pecahan
biasa.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 87–89
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
F. Penilaian
Teknik : Tes t ertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrument :
1. Ubahlah pecahan berikut menjadi pecahan desimal.
a. 3/4 = . . . d. 2/5 = . . .
b. 5/8 = . . . e. 26/20 = . . .
c. 2/25
2. Ubahlah pecahan desimal berikut menjadi pecahan biasa yang paling sederhana.
a. 0,6 = . . .
b. 0,875 = . . .
c. 2,05 = . . .
d. 5,002 = . . .
e. 0,08 = . . .
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN III
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 5.3 Menentukan nilai pecahan dari suatu bilangan atau jumlah tertentu.
Indikator : 5.3.1 Menentukan nilai pecahan yang merupakan perbandingan antara
sebuah bilangan dan bilangan lain.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menentukan nilai pecahan dari suatu bilangan.
2. Siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan nilai pecahan dari suatu bilangan.
B. Materi Ajar
Nilai pecahan
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan penugasan.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang pecahan.
Motivasi : Materi ini akan membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai pecahan dari suatu
bilangan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan nilai pecahan dari suatu bilangan.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Guru dan siswa melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan nilai
pecahan dari suatu bulangan..
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedang kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan penyelesaian masalah yang berkaitan
dengan nilai pecahan dari suatu bilangan.
5. Siswa mengerjakan soal-soal yang terdapat pada buku sumber Matematika VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 90–92
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
F. Penilaian
Teknik : Tes t ertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrumen
Kerjakan soal-soal berikut.
1. 1/4 × 20 = . . .
2. 3/5 × 35 = . . .
3. 5/6 × 54 = . . .
4. 3/8 × 72 = . . .
5. 5/7 × 49 = . . .
Mengetahui, Surabaya, 201
Kepala Sekolah Guru Kelas VI
SUGIYANTO,NS AMIRUL HIDAYATI
NIP.19561217 197907 1 002 NIP.19680830 200212 2 003
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IV
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : :5.4 Melakukan pengerjaan hitung yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
Indikator : 5.4.1 Menyelesaikan pengerjaan hitung penjumlahan dan pengurangan yang
melibatkan berbagai bentuk pecahan.
5.4.2 Menyelesaikan pengerjaan hitung perkalian dan pembagian yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
5.4.3 Menyelesaikan pengerjaan hitung campuran yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyelesaikan penjumlahan berbagai bentuk pecahan.
2. Siswa dapat menyelesaikan pengurangan berbagai bentuk pecahan.
3. Siswa dapat menyelesaikan perkalian berbagai bentuk pecahan.
4. Siswa dapat menyelesaikan pembagian berbagai bentuk pecahan
5. Siswa dapat menyelesaikan pengerjaan hitung campuran yang melibatkan berbagai bentuk pecahan.
B. Materi Ajar
Pengerjaan hitung bilangan pecahan
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan.
Motivasi : Apabila materi ini dapat dikuasai dengan baik, maka akan dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan campuran.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
penjumlahan dan pengurangan pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 94.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali perkalian dan pembagian pecahan.
Motivasi : Materi ini akan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI31
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan perkalian dan pembagian pecahan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengerjakan perkalian dan pembagian pecahan pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 95.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali perkalian dan pembagian pecahan.
Motivasi : Mater ini akan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan perkalian dan pembagian pecahan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mennyelesaikan pengerjaan hitung campuran bilanga pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 95.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: a. Membahas tugas rumah.
b. Mengingat kembali pengerjaan hitung campuran.
Motivasi : Mater ini akan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan pengerjaan hitung campuran bilangan pecahan campuran.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mennyelesaikan pengerjaan hitung campuran bilangan pecahan campuran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 97.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 93–97
2. Kapur berwarna
3. Model-model pecahan
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Isian
Contoh instrumen:
Isilah titik-titik di bawah dengan jawaban yang benar!
1. 3/4 + 0,125 – 87% = . . .
2. 5,62 – 5/8 + 3/10 = . . .
3. 1/2 + 0,3 × 0,25 – 3 1/4 : 0,5 = . . .
4. 0,75 + 2/3 × 0,2 : 3/6 = . . .
5. Titin mempunyai 1 1/4 meter pita. Ia membeli lagi 2 gulung pita. Setiap gulung pita panjangnya 2,75 meter. Panjang pita Titin semua ada . . . meter.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN V
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 5. Melakukan pengerjaan hitung pecahan dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 5.5 Memecahkan masalah perbandingan dan skala.
Indikator : 5.5.1 Menyelesaikan masalah yang melibatkan perbandingan.
5.5.2 Menyelesaikan masalah yang melibatkan skala.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui salah satu nilai besaran yang dibandingkan.
2. Siswa dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui jumlah nilai kedua besaran yang dibandingkan.
3. Siswa dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui silisih nilai kedua besaran yang dibandingkan.
4. Siswa dapat menentukan jarak sebenarnya.
5. Siswa dapat menentukan jarak pada gambar.
6. Siswa dapat menentukan skala.
B. Materi Ajar
1. Perbandingan
2. Skala
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang perbandingan.
Motivasi : Apabila materi ini dapat dikuasai dengan baik, sangat membantu siswa dalam kehidupan sehari- hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan perbandingan bila diketahui:
a. salah satu nilai besaran yang dibandingkan,
b. jumlah kedua nilai besaran yang dibandingkan.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan perbandingan bila diketahui salah satu nilai besaran dan jumlah nilai kedua besaran yang dibandingkan.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 99.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengingat kembali tentang perbandingan.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang dapat diselesaikan dengan perbandingan.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan perbandingan bila diketahui selisih nilai kedua besaran yang dibandingkan.
3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
4. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
5. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan perbandingan bila diketahui selisih nilai
kedua besaran yang dibandingkan.
6. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengingat kembali tentang skala.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan skala.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan skala.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
skala.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 102.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 97–104
2. Peta
3. Kapur berwarna
4. Penggaris
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Uraian
Contoh instrumen:
1. Umur Ayu : umur Ani = 2 : 3. Jika umur Ayu 12 tahun, berapa tahun umur Ani?
2. Uang Amir 2/3 uang Burhan. Jumlah uang mereka Rp35.000,00. Berapa rupiah uang mereka masing- masing?
3. Jarak kota A ke kota B dalam peta 2 cm. Skala peta 1 : 7.500.000. Berapa km jarak kota A ke kota B sebenarnya?
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika VI
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 6. Menggunakan sistem koordinat dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 6.1 Membuat de nah letak benda.
Indikator : 6.1.1 Menggambar letak benda.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar koordinat.
2. Siswa dapat menentukan letak benda dalam bidang koordinat.
B. Materi Ajar
Bidang koordinat
– Membuat denah letak benda
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang skala.
Motivasi : Memudahkan siswa membuat denah.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat membuat denah letak benda.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara membuat denah letak benda.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 110.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengingat kembali tentang skala.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan denah.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menggambar letak benda.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menggambar letak benda.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 111.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 109–112
2. Buku matriks
3. Gambar peta
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Jawablah pertanyaan di bawah ini.
1. Gambarlah denah ruang sekolahmu,
2. Buatlah gambarnya pada kertas berukuran 25 × 30 cm.
3. Berilah keterangan masing-masing ruangannya.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 6. Menggunakan sistem koordinat dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 6.2 Mengenal koordinat posisi sebuah benda
Indikator : 6.2.1 Menentukan letak titik pada sistem koordinat.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menjelaskan fungsi sistem koordinat.
2. Siswa dapat menentukan letak titik pada bidang koordinat.
B. Materi Ajar
Mengenal letak koordinat suatu benda
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang koordinat.
Motivasi : Banyak kegiatan yang berkaitan dengan koordinat.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menjelaskan fungsi sistem koordinat.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menjelaskan fungsi sistem koordinat.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 115.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Konsep tentang koordinat banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menunjukkan letak titik pada sistem koordinat.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan letak titik pada sistem koordinat.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 115.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
38 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006
2. Buku matriks
3. Koordinat
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Tuliskan koordinat titik-titik berikut.
7
Titik A(. . ., . . .)
6
C
D 5 Titik B(. . ., . . .)
4 Titik C(. . ., . . .)
3 A Titik D(. . ., . . .)
2
E
1 B Titik E(. . ., . . .)
–7 –6 –5 –4 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 Titik F(. . ., . . .)
–1
Titik G(. . ., . . .)
–2
Titik H(. . ., . . .)
•F –3 I
–4 Titik I(. . ., . . .)
H J
G –5 Titik J(. . ., . . .)
–6
–7
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI39
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 6. Menggunakan sistem koordinat dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 6.3 Menentukan posisi titik dalam sistem koordinat Kartesius.
Indikator : 6.3.1 Membaca gambar pada bidang koordinat Kartesius.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menunjukkan titik pada bidang koordinat Kartesius.
2. Siswa dapat menggambar bangun datar pada bidang koordinat Kartesius.
B. Materi Ajar
Menggambar bangun datar pada bidang koordinat
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang sistem koordinat.
Motivasi : Banyak kegiatan yang berkaitan dengan koordinat.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan letak titik pada bidang koordinat
Kartesius.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan letak titik pada bidang koordinat Kartesius.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 117.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Dengan membahas tugas rumah, akan memudahkan siswa menggambar bangun datar pada bidang koordinat Kartesius.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menggambar bangun datar pada bidang koordiT Kartesius.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menggambar bangun datar pada bidang koordinat
Kartesius.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 120.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 116–120
2. Bidang koordinat Kartesius
3. Buku matriks
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Gambarkan pada bidang koordinat Kartesius titik-titik berikut. Hubungkan titik-titik tersebut. Gambar apa yang terbentuk?
1. A(–8, 1); B(–2, 1); C(–2, 7); D(–8, 7)
2. E(1, 2); F(8, 2); G(8, 7); H(1, 5)
3. K(–7, –2); L(–3, –2); M(–5, –6); N(–1, –6)
4. P(4, –9); Q(7, –3); R(4, –1); S(1, –3)
Y
9
8
7
6
5
4
3
2
1
X
–8 –7 –6 –5 –4 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
–1
–2
–3
–4
–5
–6
–7
–8
–9
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.1 Menyajikan data ke bentuk tabel dan diagram gambar, batang, dan lingkaran.
Indikator : 7.1.1 Mengidentifikasi data.
7.1.2 Menulis dan membaca data dalam bentuk tabel.
7.1.3 Menulis dan membaca data dalam bentuk diagram batang.
7.1.4 Menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengidentifikasi data.
2. Siswa dapat menulis dan membaca kata dalam bentuk tabel.
3. Siswa dapat menulis dan membaca data dalam bentuk diagram batang.
4. Siswa dapat menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
B. Materi Ajar
Menyajikan data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengingat kembali tentang data.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasi dengan baik, maka akan memudahkan siswa dalam menulis dan
membaca data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menulis dan membaca data dalam bentuk tabel.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara memenulis dan membaca data dalam bentuk tabel.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 123.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Konsep ini akan membantu siswa dalam menulis dan membaca data dalam bentuk diagram batang.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara menulis dan membaca dia gram batang.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menulis dan membaca diagram batang.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 125.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Konsep ini dapat membantu siswa dalam menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menemukan cara menulis dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menulis dan membaca data dalam bentuk diagram
lingkaran.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 125.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 123–125
2. Diagram batang dan diagram lingkaran
3. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
1. Kumpulkan data tentang hasil ulangan Matematika kelas VI.
2. Sajikan data tersebut ke dalam bentuk:
a. tabel,
b. diagram batang,
c. diagram lingkaran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI4
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.2 Menentukan rata-rata hitung dan modus sekumpulan data.
Indikator : 7.2.1 Menentukan nilai rata-rata sekumpulan data.
7.2.2 Menentukan modus sekumpulan data.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengolah data.
2. Siswa dapat menentukan nilai rata-rata sekumpulan data.
3. Siswa dapat menentukan nilai modus sekumpulan data.
B. Materi Ajar
Mengolah data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Siswa mengamati data.
Motivasi : Dengan mengamati data, siswa diharapkan mampu mengolah data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat mengolah data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengolah data.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengamati diagram.
Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, banyak kegiatan sehari-hari yang dapat diselesaikan
dengan diagram.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai rata-rata sekumpulan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menyelesaikan nilai rata-rata sekumpulan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 127.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
44 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
--------------------------------------- 21
Pertemuan Ketiga (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: 1. Membahas tugas rumah.
2. Mengamati diagram.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai modus sekumpulan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan nilai modus sekumpulan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 126–128
2. Diagram batang dan diagram lingkaran
3. Tabel
4. Penggaris
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Uraian
Contoh instrumen:
Satu kompi pramuka terdiri atas 60 anak.
15 anak tingginya 125 cm
15 anak tingginya 130 cm
10 anak tingginya 135 cm
20 anak tingginya 140 cm
Tentukan:
a. Tinggi rata-ratanya.
b. Nilai modusnya.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI45
--------------------------------------- 22
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.3 Mengurutkan data termasuk menentukan nilai tertinggi dan terendah.
Indikator : 7.3.1 Menentukan nilai tertinggi sekumpulan data.
7.3.2 Menentukan nilai terendah sekumpulan data.
Alokasi Waktu : 5 × 35 menit (2 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menentukan nilai tertinggi sekumpulan data.
2. Siswa dapat menentukan nilai terendah sekumpulan data.
B. Materi Ajar
Mengolah data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (2 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengamati sekumpulan data.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menentukan nilai tertinggi dan terendah
sekumpulan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menentukan nilai tertinggi dan terendah sekumpulan
data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Mengingat kembali tentang pengolahan data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat mengurutkan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara mengurutkan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
46 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
--------------------------------------- 23
E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 126–128
2. Sekumpulan data
3. Diagram
4. Kapur berwarna
F. Penilaian
Teknik : Tes tertulis
Bentuk instrumen : Uraian
Contoh instrumen:
Berikut ini data besar iuran sukarela dari 20 anak.
200, 250, 150, 350, 350
400, 200, 350, 150, 500
200, 400, 350, 300, 300
450, 200, 350, 250, 300
a. Berapa rupiah iuran terendah?
b. Berapa rupiah iuran tertinggi?
c. Urutkanlah mulai dari iuran yang terendah.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI47
--------------------------------------- 24
Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : 7. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data.
Kompetensi Dasar : 7.4 Menafsirkan hasil pengolahan data
Indikator : 7.4.1 Menemukan nilai terendah data.
7.4.2 Menemukan nilai tertinggi data.
7.4.3 Mengurutkan data.
7.4.4 Menenmukan nilai rata-rata.
7.4.5 Menemukan modus data.
7.4.6 Menuliskan dan membaca diagram.
Alokasi Waktu : 10 × 35 menit (3 kali pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan nilai terendah data.
2. Siswa dapat menemukan nilai tertinggi data.
3. Siswa dapat mengurutkan data.
4. Siswa dapat menemukan nilai rata-rata.
5. Siswa dapat menemukan modus data.
6. Siswa dapat menulis dan membaca diagram.
B. Materi Ajar
Pengolahan data
– Menafsirkan hasil pengolahan data
C. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok, demonstrasi, penemuan, dan tugas.
D. Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengamati sekumpulan data.
Motivasi : Dengan mengolah data, siswa diharapkan dapat menentukan nilai terendah dan nilai tertinggi
data.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai terendah, nilai tertinggi, dan
mengurutkan data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menentuka nilai tertinggi, nilai terendah, maupun
mengurutkan data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Kedua (4 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Mengamati sekumpulan data.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan data.
48 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas VI
--------------------------------------- 25
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menemukan nilai rata-rata dan modus data.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menemukan nilai rata-rata dan modus data.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 128.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
Pertemuan Ketiga (3 × 35 menit)
Pendahuluan
Apersepsi: Membahas tugas rumah.
Motivasi : Banyak kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan diagram.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Dengan berdiskusi kelompok, siswa diharapkan dapat menulis dan membaca diagram.
3. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi.
4. Dengan demonstrasi, guru menunjukkan cara menulis dan membaca diagram.
5. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat pada buku sumber Matematika VI, karangan Nur
Akhsin dan Heny Kusumawati, halaman 131.
Penutup
1. Dengan bimbingan guru, siswa membuat rangkuman.
2. Siswa dan guru melakukan refleksi.
3. Guru memberi tugas rumah.
E. Alat dan Sumber Belajar
Buku Matematika VI, karangan Nur Akhsin dan Heny Kusumawati, tahun 2006, halaman 126–131
F. Penilaian
Teknik : Tes perbuatan
Bentuk instrumen : Uji petik kerja produk
Contoh instrumen:
Nilai hasil ulangan 20 anak sebagai berikut.
6, 7, 8, 5, 5, 6, 7, 7, 8, 9
7, 6, 5, 7, 6, 7, 7, 9, 8, 7
1. Sajikan data dalam bentuk tabel.
2. Tentukan nilai terendahnya.
3. Tentukan nilai tertingginya.
4. Tentukan nilai rata-ratanya.
5. Tentukan modusnya.
6. Urutkan dari nilai yang terendah.
7. Gambarlah dalam bentuk diagram batang.
8. Gambarlah dalam bentuk diagram lingkaran.
Langganan:
Postingan (Atom)
Wawasan IPS
Bukan Omong Kosong
rENUNGAN
Summary:ersys
SEPULUH CIRI ORANG BERPKIR POSITIF
1. MELIHAT MASALAH SEBAGAI TANTANGAN
Bandingkan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat maka dia akan berpikir hidupnya adalah menjadi orang yang paling sengsara di dunia.
2. MENIKMATI HIDUP
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati
3. PIKIRAN TERBUKA UNTUK MENERIMA SARAN DAN IDE
Pikiran terbuka membutuhkan kebesaran hati dan tentu kesabaran. karena dengan begitu, akan ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.
4. MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF SEGERA SETELAH PIKIRAN ITU TERLINTAS DI BENAK
Suatu kendala yang sebetulnya bisa diatasi dengan kepala dingin jika sudah dilandasi dengan pikiran negatif ternyata hanya akan menimbulkan masalah baru.
5. MENSYUKURI APA YANG DIMILIKI
Hindari berkeluh kesah tentang apapun yang tidak dimiliki karena justru akan menjadi beban. sebaliknya jadikan hal itu sebagai motivasi untuk meraih hidup yang diharapkan.
6. TIDAK MENDENGAR GOSIP YANG TAK MENENTU
Sudah pasti gosip erat sekali dengan berpikir negatif. karena itu sebisa mungkin jauhi gosip-gosip yang tak jelas asalnya.
7. TIDAK MEMBUAT ALASAN TETAPI AMBIL TINDAKAN
NATO ( No Action, Talk Only ) itu adalah ciri khas orang berpikir negatif. maka ambilah tindakan dan buktikan bahwa anda bisa mengatasi masalah sebagai orang yang berpikir positif.
8. MENGGUNAKAN BAHASA YANG POSITIF
Saat kita berkomunikasi dengan orang lain gunakan kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme sehingga dapat memberikan semangat terhadap lawan bicara kita
9. MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH YANG POSITIF
Diantara bahasa tubuh yang lain senyum merupakan wujud dari berpikir positif karena akan menimbulkan kesan bersahabat dan akan menjadi lebih akrab dengan suasana.
10. PEDULI PADA CITRA DIRI
Itu sebabnya, mereka berusah tampil baik bukan hanya di luar tetapi juga di dalam.
Itulah sepuluh tanda orang berpikir positif semoga artikel diatas bermanfaat untuk anda. jadilah orang yang berpikir positif dalam menyelesaikan masalah sehingga kita tidak akan terbebani dengan hidup ini.
10 ciri orang berpikir positif Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/social-sciences/1901760-10-ciri-orang-berpikir-positif/
Summary:ersys
SEPULUH CIRI ORANG BERPKIR POSITIF
1. MELIHAT MASALAH SEBAGAI TANTANGAN
Bandingkan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat maka dia akan berpikir hidupnya adalah menjadi orang yang paling sengsara di dunia.
2. MENIKMATI HIDUP
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati
3. PIKIRAN TERBUKA UNTUK MENERIMA SARAN DAN IDE
Pikiran terbuka membutuhkan kebesaran hati dan tentu kesabaran. karena dengan begitu, akan ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.
4. MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF SEGERA SETELAH PIKIRAN ITU TERLINTAS DI BENAK
Suatu kendala yang sebetulnya bisa diatasi dengan kepala dingin jika sudah dilandasi dengan pikiran negatif ternyata hanya akan menimbulkan masalah baru.
5. MENSYUKURI APA YANG DIMILIKI
Hindari berkeluh kesah tentang apapun yang tidak dimiliki karena justru akan menjadi beban. sebaliknya jadikan hal itu sebagai motivasi untuk meraih hidup yang diharapkan.
6. TIDAK MENDENGAR GOSIP YANG TAK MENENTU
Sudah pasti gosip erat sekali dengan berpikir negatif. karena itu sebisa mungkin jauhi gosip-gosip yang tak jelas asalnya.
7. TIDAK MEMBUAT ALASAN TETAPI AMBIL TINDAKAN
NATO ( No Action, Talk Only ) itu adalah ciri khas orang berpikir negatif. maka ambilah tindakan dan buktikan bahwa anda bisa mengatasi masalah sebagai orang yang berpikir positif.
8. MENGGUNAKAN BAHASA YANG POSITIF
Saat kita berkomunikasi dengan orang lain gunakan kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme sehingga dapat memberikan semangat terhadap lawan bicara kita
9. MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH YANG POSITIF
Diantara bahasa tubuh yang lain senyum merupakan wujud dari berpikir positif karena akan menimbulkan kesan bersahabat dan akan menjadi lebih akrab dengan suasana.
10. PEDULI PADA CITRA DIRI
Itu sebabnya, mereka berusah tampil baik bukan hanya di luar tetapi juga di dalam.
Itulah sepuluh tanda orang berpikir positif semoga artikel diatas bermanfaat untuk anda. jadilah orang yang berpikir positif dalam menyelesaikan masalah sehingga kita tidak akan terbebani dengan hidup ini.
10 ciri orang berpikir positif Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/social-sciences/1901760-10-ciri-orang-berpikir-positif/